
Kate membuka matanya perlahan. Kepalanya benar-benar terasa berat ditambah dengan rasa mual, membuat dia merasa semakin lemah. Saat sadar sepenuhnya Kate melihat Simon dan Kira ada disana.
"Apa yang terjadi..??" Tanya Kate sembari bangun dan duduk di ranjang itu lalu memegang kepalanya yang terasa berat.
"Simon.. Kak Kira.. kenapa kalian diam saja..?? Apa tadi aku pingsan..??" Tanya Kate saat tidak mendapatkan jawaban. Dilihatnya Simon dan Kira sejenak saling menatap.
"Kate, apa kamu sudah merasa baikan..??" Tanya Simon sambil menyelipkan rambut Kate kebelakang telinganya.
"Masih sedikit pusing tapi aku tidak apa-apa." Jawab Kate.
"Tadi dokter sudah memeriksamu. Kebetulan karena kebetulan hari ini jadwal kunjungan dokter kandungan kak Kira." Kata Simon.
"Lalu apa yang dia katakan..??" Tanya Kate penasaran.
Simon dan Kira tampak kembali saling menatap. Lalu Kira yang tadinya duduk diujung ranjang mendekat pada Kate dan menggenggam tangannya.
"Kate, kamu hamil." Kata Kira sembari tersenyum.
"Aaa.. apaaa..??" Hamil..??" Tanya Kate tidak percaya. Kira kembali tersenyum dan mengangguk.
"Benar, Kate. Perkiraan dokter usia kandunganmu 7 minggu." Kata Kira lagi.
"Tolong katakan itu tidak benar." Pinta Kate dengan wajah putus asa. Kira mengernyitkan dahi melihat reaksi Kate.
"Itu benar, Kate." Sahut Simon.
"TIDAAAKK..!! AKU TIDAK MAU..!! AKU TIDAK MAU MENGANDUNG ANAK BA**NGAN ITU..!!" Teriak Kate histeris sambil memukul-mukul perutnya.
"Kate, apa yang kamu lakukan..??!! Hentikan..!!" Seru Kira sambil berusaha menahan tangan Kate yang terus memukuli perutnya.
"Aku tidak mau anak ini..!! Aku tidak mau darah ba**ngan itu mengalir dalam darah keturunanku. Aku tidak mau..!!" Teriak Kate ditengah tangis histerisnya.
"Kate, hentikan..!!" Simon menahan kedua tangan Kate hingga wanita itu benar-benar tidak berkutik.
"Kenapa dia selalu menyiksaku..??!! Apa tidak cukup dia menghancurkan hidupku selama ini..??!! Aku hanya ingin lepas darinya dan hidup dengan baik. Tapi kenapa justru benihnya tumbuh di rahimku..!!" Seru Kate putus asa.
Simon menarik tubuh Kate dan memeluknya erat untuk menenangkannya. Kate terus menangis dalam pelukan Simon sambil terus berusaha untuk memukul perutnya.
"Kate, katakan sebenarnya apa yang terjadi..??" Tanya Kira setelah Kate tenang, tapi wanita itu hanya diam dengan tatapan menerawang. Airmatanya terus mengalir dalam diam.
"Kate, katakan sesuatu. Biar aku membantumu." Pinta Simon.
"Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu kawatir." Jawab Kate tanpa menjawab Simon.
"Kate, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi anak ini tidak bersalah." Kata Kira mengingatkan.
Kate menunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia kembali menangis dengan suara memilukan
"Kate." Panggil Simon. Kate mengangkat kepala dan mengusap wajahnya kasar untuk menghapus airmatanya.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakiti anak ini. Sudah banyak kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tidak mau membuat kesalahan lainnya lagi. Seperti yang sudah aku bilang, aku bukanlah seorang pembunuh. Jadi aku tidak mungkin menghilangkan nyawa darah dagingku sendiri." Kata Kate sambil tersenyum getir dan mengelus lembut perutnya yang masih rata.
"Maafkan aku harus menanyakan ini, Kate. Tapi kamu tahu siapa ayah anak ini..??" Tanya Kira hati-hati. Kate mengangguk.
"Orang yang telah menghancurkan aku 10 tahun yang lalu. Selama itu pula aku tidak pernah bisa lepas dari cengkeramannya. Dan sekarang, saat aku mulai memiliki keberanian untuk lepas darinya dan menata hidupku agar lebih baik. Ada benihnya yang tumbuh di rahimku. Mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah bisa lepas darinya." Jawab Kate masih terisak.
"Siapa orang itu, Kate..??" Tanya Simon. Kate kembali menundukkan kepalanya.
"Kate, kamu tidak perlu takut. Kami bisa menjaga diri." Kata Kira meyakinkan. Kate tampak diam sejenak.
"Oom Arian. Dialah ayah dari anak ini." Sahut Kate kembali terisak.
"Arian..?? Arian pamanmu..??!!" Seru Kira tidak percaya dan Kate kembali mengangguk.
"Sejak kecil aku memang sangat dekat dengan oom Arian. Dia sangat memanjakan aku. Sampai akhirnya 11 tahun yang lalu, saat umurku 17 tahun oom Arian memperk**a aku. Karena terlalu takut dengan ancaman oom Arian aku tidak berani mengadu. Aku hanya bisa diam dan terpaksa harus terus bertemu oom Arian karena dia sering datang ke rumah. Dan dia selalu menggunakan kesempatan itu untuk terus mengulangi perbuatannya. Karena kawatir dengan perubahanku, orangtuaku mengirim aku untuk belajar ke Italia, dengan harapan aku akan membaik karena suasana baru. Awalnya aku mengira telah terlepas dari cengkeraman oom Arian. Tapi ternyata dia justru semakin menjadi. Oom Arian semakin sering menemuiku selama aku tinggal disana. Dan bila aku berani menolak, oom Arian tidak segan untuk menyiksaku. Bahkan saat kejadian oom Lucas tewas, dia sedang di Italia dan menyiksaku karena menolaknya. Sejak itu aku selalu mencari lelaki setiap kali oom Arian menyentuhku. Aku berharap mereka akan bisa menghapus jejak oom Arian dari tubuhku. Karena bagaimanapun dia adalah pamanku. Hal itu membuatku semakin jijik dengan diriku sendiri. Oom Arian tahu semua kelakuanku, tapi tidak pernah mempermasalahkannya selama aku terus bersamanya dan selalu ada setiap kali menginginkanku. Saat pertama kali bertemu Shaka, oom Arian sebelumnya terus menghabiskan waktunya denganku selama seminggu. Dan entah kenapa saat itu aku merasa Shaka bisa melepaskan aku dari oom Arian. Tapi kemudian saat kita bertemu di acara reuni, aku baru sadar kalau aku tidak akan pernah bisa lepas darinya. Dia bilang akan membantuku mendapatkan Shaka, asal aku membantu dia mendapatkanmu. Tapi dia juga berkata tetap tidak akan pernah melepaskan aku. Setelah insiden di gedung Scarlett aku mulai mengumpulkan keberanian untuk lepas dari oom Arian dan selalu mencari cara untuk menghindarinya. Tapi saat terakhir bertemu dengan oom Arian, entah kenapa dia tidak menggunakan pengaman dan melepas benihnya ke dalam rahimku. Setelah itu aku tidak melakukannya dengan siapapun karena aku memang bertekat untuk memperbaiki diri. Tapi sekarang.." Kata Kate dengan suara tercekat.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan..?? Aku tidak bisa pergi dan lari darinya, karena keluargaku sedang membutuhkan aku. Tapi kalau tidak pergi, aku hanya akan memberi aib bagi keluargaku. Dan aku tidak ingin kembali jatuh dalam cengkeramannya. Aku tidak mau." Suara Kate terdengar begitu putus asa. Tangisnya kembali meledak.
Wajah Kira mengeras karena geram mendengar penuturan Kate. Dia tidak pernah menyangka dibalik sikap Kate yang seperti wanita penggoda, ternyata dia tengah menyembunyikan luka yang begitu besar.
Meski terlihat dekat, tapi sebenarnya Kira dan keluarganya tetap memberi batas karena masih tidak mempercayai Kate yang selama 2 minggu terakhir, sejak hari dia meminta maaf, terus mendekati mereka untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu. Dan sekarang mendengar kisah Kate yang begitu menyakitkan membuat Kira tidak terima. Bagaimanapun dia juga seorang wanita. Berada di posisi Kate sangatlah tidak mudah. Apalagi semua itu dilakukan oleh orang yang seharusnya menjaga dan melindungi Kate karena dia adalah darah dagingnya sendiri.
"Kate, menikahlah denganku." Kata Simon tiba-tiba.
"Simon..??" Sahut Kate terkejut. Kira pun tidak kalah terkejutnya mendengar permintaan Simon.
"Ya. Menikahlah denganku. Aku akan bertanggungjawab atas dirimu dan anak yang kamu kandung. Dia akan menjadi anakku. Anak kita. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kalian dengan nyawaku." Kata Simon tanpa ragu. Dia terlihat begitu bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.
"Tidak..!! Simon, apa kamu gila..??!! Apa kamu lupa siapa aku..??!!" Seru Kate tidak percaya.
"Aku tahu. Aku sadar kalau aku dan keluargaku hanyalah pelayan dalam keluargamu. Tapi aku janji akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaanmu dan anak-anak kita." Sahut Simon meyakinkan Kate.
"Bukan itu, Simon. Justru aku yang tidak pantas untukmu. Kamu tahu sendiri bagaimana aku..?? Jangan korbankan hidupmu hanya demi wanita rusak sepertiku. Mungkin kamu merasa hanya sebagai pelayan dalam keluargaku karena turun temurun keluargamu telah mengabdi pada kami. Tapi aku tidak pernah menganggapmu dan keluargamu seperti itu. Jadi jangan korbankan hidupmu apalagi karena merasa harus melindungi atasan keluargamu." Kata Kate.
"Tidak, Kate. Aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu sejak kita kecil. Tapi aku sadar akan posisiku dan keluargaku, karena itu aku tidak berani mendekatimu. Pikirmu kenapa aku mau menjadi asisten pribadimu, sedangkan aku sudah memiliki bisnis sendiri yang sudah cukup mapan..?? Itu karena aku mencintaimu dan ingin terus menjagamu, Kate. Tolong percayalah padaku." Kata Simon memohon.
"Jangan lakukan ini, Simon. Kamu bukan hanya membuang masa depanmu demi sampah sepertiku, tapi juga menempatkan dirimu dan keluargamu dalam bahaya. Aku tidak mau egois." Sahut Kate terisak. Simon menangkup wajah Kate dengan kedua tangannya.
"Apa kamu lupa bahwa selama ini keluargaku yang selalu menjaga kalian..?? Itu artinya kami sangat mampu menjaga diri kami sendiri. Kate, menikahlah denganku. Aku akan membuatmu bebas dari cengkeraman Arian. Aku janji." Pinta Simon. Kate terpaku dan menatap ke dalam mata Simon.
"Kate, percaya padaku. Akan lebih menyenangkan kalau kita hidup bersama orang yang mencintai kita. Mungkin perasaan itu belum tumbuh dalam hatimu. Tapi kalau Simon benar-benar tulus mencintaimu, dia pasti akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Dan perlahan perasaan itu pasti akan tumbuh. Lagipula anakmu akan membutuhkan sosok ayah. Kamu tidak mau kan anakmu tumbuh dengan Arian sebagai ayah yang membesarkannya..??" Kata Kira lembut untuk memberi pengertian pada Kate. Membuat wanita itu menggeleng dengan cepat.
"Simon, apa kamu bersungguh-sungguh dengan apa yang kamu ucapkan..?? Kamu janji akan menjaga dan mencintai Kate juga anaknya..??" Tanya Kira tegas kepada Simon. Mata Kira menatap tajam pada Simon untuk mencari jawaban.
"Aku bersungguh-sungguh, kak. Aku janji akan menjaga Kate. Juga menyayangi anaknya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membahagiakan mereka." Kata Simon tanpa ragu.
"Kate, kamu dengar itu..?? Bagaimana denganmu..?? Apa kamu akan menerima Simon..??" Tanya Kira sambil mengelus lembut kepala Kate yang terlihat begitu rapuh.
Kate terus menatap ke dalam mata Simon dan melihat kesungguhan lelaki itu. Dia dapat merasakan Simon yang mencintainya. Kate menunduk lalu mengangguk perlahan.
"Bagaimana, Kate..??" Tanya Kira untuk memastikan.
"Iya. Aku bersedia, kak." Jawab Kate sembari terisak. Bahunya berguncang keras karena tangis.
Simon yang mendengar jawaban Kate segera menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya.
"Terima kasih, Kate. Terima kasih. Aku mencintaimu. Terima kasih karena telah menerimaku." Kata Simon sambil mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Kate.
Kate yang masih sibuk menangis tidak sanggup mengatakan apapun dan hanya bisa mengangguk dalam pelukan Simon. Kira yang mendengar jawaban Kate menghela napas lega. Tapi dia masih merasa geram dengan apa yang terjadi pada Kate.
"Arian..!! Kamu bukan hanya mengusik keluargaku tapi bahkan tega merusak keponakanmu sendiri. Aku bahkan belum bisa memaafkan perbuatanmu dan Lucas yang sekarang membuat anak-anak dalam kandunganku dalam bahaya. Aku akan pastikan kamu tidak bisa mengganggu keluargaku dan Kate lagi." Geram Kira dalam hati.