(Family) Bound

(Family) Bound
Nambah Lagi..??



Luna pulang setelah makan malam bersama keluarga Edo. Dia sangat senang karena keluarga Edo menyambutnya dengan sangat baik meski tahu keadaan dia seperti apa. Ternyata keluarga itu tidak pernah mempermasalahkan status maupun kedudukan.


“Ed, boleh aku menanyakan sesuatu..??” Tanya Luna.


“Apa itu..??” Tanya Edo lagi.


“Nama ayahmu Rahardian. Tapi kenapa nama belakangmu Tanzil dan Dit-dit memakai nama Permana..?? Dan aku juga heran kenapa orangtuamu terlihat masih begitu muda..??” Tanya Luna setelah memberanikan diri.


Edo terkekeh mendengar Luna yang tampak takut saat bertanya.


“Sebenarnya agak rumit. Sebelum menikah dengan daddy, mommy menikah dengan mendiang pamanku. Dia ayah kandung Dit-dit, Namanya Pierre Permana. Pamanku seorang tentara dan tewas dalam serangan di Lebanon saat mommy sedang mengandung Dit-dit. Sedangkan ayahku adalah adik dari Pierre. Karena melakukan kesalahan, papa di penjara dan menitipkanku pada mommy dan daddy. Sebenarnya aku masih punya kakek yang tinggal di Jerman, ayah Pierre dan papaku. Tapi ayah kandungku tidak bisa mempercayai kakekku untuk merawatku yang saat itu masih kecil dan sakit-sakitan. Karena itu nama keluargaku dan Dit-dit berbeda dengan Rania, Satria, dan Nara. Sebenarnya daddy ingin menambahkan nama Rahardian pada Dit-dit, tapi opa keberatan. Kenapa daddy masih terlihat muda..?? Karena memang dia masih sangat muda. Usia daddy baru 32 tahun, dia menikahi mommy saat masih seusiaku sekarang, 20 tahun. Sedangkan mommy usianya 10 tahun lebih tua dari daddy. Tapi kamu lihat sendiri kan mommy masih terlihat awet muda. Banyak orang mengira mommy masih seusia daddy.” Jawab Edo sambil terkekeh.


“Tidak mungkin. Bagaimana bisa Oom Shaka menikah dengan tante Kira di usia semuda itu..?? Apalagi tante Kira 10 tahun lebih tua.” Tanya Luna tidak percaya.


“Mereka pertama bertemu saat daddy masih duduk di kelas 3 SMA, usianya baru 17 tahun. Tapi daddy langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan mommy dan mati-matian berusaha merebut hati mommy yang waktu itu masih terjebak dalam duka berkepanjangan karena kematian oom Pierre. Setelah berjuang selama 3 tahun, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa dan ditambah lagi harus menghadapi pertentangan dari orangtuanya, daddy akhirnya berhasil menikahi mommy saat usianya 20 tahun. Raven Adventure adalah usaha yang mulai dirintis daddy saat masih kelas 3 SMA, setelah bertemu dengan mommy. Daddy waktu itu sudah bertekat akan menikahi mommy, jadi dia langsung memulai bisnisnya dengan harapan besar saat mommy menerima cintanya dia sudah mampu memberikan nafkah karena ingin langsung menikahi mommy.” Lanjut Edo.


“Woooooww..!! Pantas saja mereka terus terlihat mesra, mereka begitu saling mencintai.” Sahut Luna takjub.


“Ya. Aku pun sampai sekarang mengagumi bagaimana mereka saling mencintai. Aku belajar banyak dari mereka, Al.” Kata Edo.


"Apa mereka pernah bertengkar..??" Tanya Luna.


"Sering sekali. Tapi hanya sekedar perdebatan kecil, tidak lebih. Mereka tahu kapan harus berhenti atau mengalah." Jawab Edo.


“Kamu beruntung memiliki mereka, Ed. Dan aku lihat keluargamu sangat menyayangimu.” Kata Luna.


“Ya. Aku memang sangat beruntung, Al.” Sahut Edo dengan mengembangkan senyumnya.


****


Shaka dan Kira sedang bergelung di atas ranjang mereka. Meski hari minggu, tapi kegiatan hari itu cukup melelahkan untuk Kira. Kedatangan Luna hari itu membuat suasana rumah lebih ramai dari biasanya. Seperti kebiasaan mereka selama ini, Kira akan selalu tidur dalam pelukan Shaka. Tapi malam ini ada yang berbeda. Saat hampir terlelap dalam pelukan suaminya tiba-tiba tidur Kira terusik karena mencium bau tidak sedap. Bau itu begitu menyengat sampai-sampai membuatnya mual. Kira yang sudah tidak tahan akhirnya bangun dan bergegas lari ke kamar mandi lalu memuntahkan semua isi perutnya. Shaka yang ikut terbangun panik saat mendengar istrinya terus muntah.


“Sayang, kamu kenapa..??” Tanya Shaka kawatir. Dipijatnya tengkuk Kira sembari memegang rambut panjang istrinya.


“Tidak tahu, Bie. Tadi saat tidur tiba-tiba aku mencium bau yang sangat memualkan. Aku benar-benar tidak tahan dibuatnya.” Jawab Kira.


“Dimana kamu mencium bau itu..??” Tanya Shaka lagi.


“Di kamar, Bie.” Jawab Kira.


“Aneh.. aku tidak mencium bau apapun. Tapi nanti aku coba periksa lagi.” Kata Shaka sambil membantu Kira berdiri.


Saat berada begitu dekat dengan Shaka tiba-tiba Kira mencium bau itu lagi dan kembali muntah.


“Sayang, kamu kenapa muntah lagi..??” Tanya Shaka semakin panik.


“Jangan dekat-dekat, Bie..!!” Seru Kira.


“Apa..??” Tanya Shaka terkejut.


“Kamu bau. Benar-benar bau. Astaga, Bie. Apa seharian ini kamu tidak mandi..??!!” Seru Kira lagi.


“Yang benar saja, tentu saja aku mandi. Bukannya kamu sendiri yang menyiapkan air untukku mandi dan juga baju gantiku..?? Lagipula tidak ada yang salah dengan bau tubuhku.” Kata Shaka sambil mengendus-endus tubuhnya sendiri.


“Tapi kamu sangat bau, Bie. Bau yang tadi tercium olehku berasal dari tubuhmu.” Kata Kira dengan cemberut.


“Yaa Tuhan, sayang. Baiklah, aku akan pakai parfum setelah ini.” Kata Shaka sewot karena tidak terima dikatakan bau oleh Kira.


“Tidak mau..!! Malam ini kamu tidur di sofa..!!” Perintah Kira.


“Haaaahh..!! Sayang, ayolah jangan sekejam itu. Kamu tahu sendiri tidurku tidak nyenyak kalau tidak memelukmu. Setelah ini aku akan mandi lagi dan pakai parfum, oke.” Pinta Shaka.


“Tidak mau tahu. Pokoknya kamu tidur di sofa.” Kata Kira tidak mau kalah.


Wanita itu beranjak kembali ke kamarnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Sayang.” Panggil Shaka.


Shaka mencoba mendekati Kira tapi istrinya justru menjauh dan terus menepis tangannya. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tidak rela tidur tanpa memeluk istrinya. Akhirnya dengan perasaan dongkol Shaka mengambil bantal dan selimut lalu tidur di sofa. Shaka terus memandang tubuh Kira yang terbungkus selimut. Dia masih bingung kenapa tiba-tiba saja istrinya mengusir dia dari tempat tidur. Karena malam yang semakin larut dan kantuk yang menyerangnya sejak tadi, Shaka akhirnya tertidur lelap.


Shaka terbangun saat merasa sesuatu menusuk-nusuk pipinya. Dengan mata yang masih terasa berat, Shaka berusaha membuka matanya. Dilihatnya Kira tengah berjongkok di depannya dengan wajah cemberut. Istrinya tampak terus menusuk-nusuk pipinya dengan jari telunjuknya.


“Ada apa..??” Tanya Shaka masih dengan perasaan dongkol.


“Aku tidak bisa tidur, Bie. Kenapa kamu malah tidur disini..?? Apa kamu marah sama aku..??” Tanya Kira.


Shaka mendengus kesal karena semakin tidak mengerti dengan istrinya. Bukankah Kira sendiri yang tadi menyuruhnya tidur di sofa..??!! Shaka yang masih kesal memilih tidak menjawab pertanyaan Kira dan berbalik memunggungi istrinya. Baru mau memejamkan mata Shaka dibuat terkejut karena mendengar istrinya menangis. Laki-laki itu pun segera berbalik dan duduk.


“Sayang, kamu kenapa lagi..??” Tanya Shaka keheranan.


“Hiks.. hikss.. hikss.. beneran kan kamu marah sama aku, Bie. Makanya kamu milih tidur di sofa, huhuhuhuhuuuuu..” Tangis Kira semakin keras.


“Sayang, kamu bicara apa..??!! Bukannya kamu sendiri yang tadi.. sudahlah.. lupakan saja.” Shaka tidak melanjutkan perkataannya karena melihat Kira memandangnya dengan wajah memelas.


“Tu kan tambah marah. Kamu malah bentak-bentak aku. Huhuhuuuuuu..” Kira kembali menangis seperti anak kecil. Mata Shaka membulat melihat istrinya yang malam ini terus bersikap aneh.


“Sayang sudah yaaaa... jangan nangis lagi. Tadi aku tidak sedang membentakmu. Sekarang kita tidur ya. Hari sudah semakin larut.” Kata Shaka mencoba membujuk Kira lalu menuntun istrinya untuk kembali tidur di atas ranjang mereka.


Meski Shaka masih terus bertanya-tanya dengan sikap istrinya yang mendadak aneh, tapi setidaknya malam ini dia merasa tenang karena bisa tidur dengan memeluk Kira seperti biasanya. Shaka memandang Kira yang tidur seperti bayi. Wajah wanita itu terlihat menggemaskan, terlebih lagi setelah drama di sepanjang malam ini. Beberapa kali Shaka mencubit hidung Kira dan mengecup bibirnya pelan karena saking gemasnya. Tapi istrinya itu sama sekali tidak terganggu. Setelah beberapa saat akhirnya Shaka menyusul Kira ke alam mimpi.


Paginya drama pun kembali berlanjut. Entah kenapa Kira yang biasanya tengah sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk keluarganya. Pagi itu terus berdiri di depan pintu mengawasi halaman rumah tetangga depan mereka.


"Nyonya, sarapan sudah siap." Kata bi Lastri yang hari itu menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka.


"Bi, tolong panggilin Dit-dit ya." Pinta Kira.


"Baik, Nyonya." Sahut bi Lastri. Tak lama Dit-dit pun tampak menyusul Kira di halaman depan rumah.


"Tolong petikin jambu air." Kata Kira tanpa melepas pandangan dari halaman tetangga mereka.


"Haaaaahh..!! Sekarang, ma..??!!" Tanya Adit terkejut.


"Iyaaa.. sekarang..!!" Jawab Kira. Dit-dit sejenak saling memandang.


"Ya udah kita petikin dulu, ma." Kata Radit sambil mengajak Adit beranjak ke halaman samping rumah mereka.


"Kalian mau kemana..??" Tanya Kira keheranan.


"Ke samping. Mau petik jambu kan..??" Tanya Radit balik.


"Ccckk.. Mama ga suruh kalian petik yang disana. Tapi yang di halaman rumah tetangga depan kita." Decak Kira kesal.


"Haaaaahh..!! Ma, ngapain minta punya tetangga..??!! Kita kan punya sendiri di kebun samping..?? Buahnya bahkan lebih besar dan lebih manis." Protes Adit.


"Ga mau tau..!! Pokoknya kalian harus petikin yang punya tetangga depan. Sekarang..!!" Sahut Kira tidak mau dibantah.


"Ya udah dech, Dit. Mending kita buruan, daripada ntar malah telat." Kata Radit mengalah.


Adit akhirnya mengikuti Radit meski dengan bersungut-sungut. Tak lama Shaka menyusul Kira di depan rumah karena tidak menemukan istri dan 2 anaknya di dalam.


"Sayang, kamu ngapain disini..?? Mana Dit-dit..??" Tanya Shaka sambil memandang berkeliling mencari kedua anaknya.


"Aku lagi tungguin Dit-dit. Mereka lagi petik jambu air." Jawab Kira tanpa melepas pandangan dari rumah tetangga mereka.


Shaka yang merasa curiga mengikuti arah pandangan Kira. Matanya membulat saat melihat Dit-dit tengah sibuk memanjat pohon jambu yang ada di halaman tetangga depan mereka.


"Sayang, ngapain minta jambu punya tetangga..?? Kita kan punya sendiri di samping..??" Tanya Shaka tidak habis pikir.


"Aku lagi pingin yang punya tetangga depan. kayaknya lebih enak." Jawab Kira dengan mengedikkan bahunya.


Shaka mendengus kesal karena pagi-pagi istrinya kembali bertingkah aneh. Dit-dit kembali dengan membawa sekantung jambu air hasil memetik dari halaman tetangga mereka. Kira langsung menyambutnya dengan wajah berbinar dan bahagia.


"Waaaah.. anak-anak mama pintar sekali. Terima kasih ya, sayang." Kata Kira sambil mencium pipi kedua anaknya satu persatu saking bahagianya.


"Mama iiiiiiihh.. Udah gede juga masih dicium-cium." Protes Radit yang sedari kecil memang tidak suka dicium.


Kira tidak mempedulikan protes anaknya dan langsung masuk begitu saja ke dalam rumah. Saat sarapan entah kenapa Kira terus menatap lekat wajah Edo sambil mengerutkan dahinya seolah sedang berpikir keras. Shaka yang melihat pun semakin keheranan dengan tingkah Kira. Setelah sarapan, seperti biasa keluarga itu bersiap untuk melakukan aktifitas masing-masing. Tapi saat Edo menghampiri Kira untuk berpamitan, tiba-tiba wanita itu meminta Edo untuk menundukkan kepala.


"Aaaaaahh..!! Mommy, apa yang kau lakukan..??!!" Seru Edo karena tiba-tiba Kira meraih kepalanya dan terus mengacak-acak rambutnya yang telah disisir rapi.


"Sayang, ada apa lagi ini..??!!" Seru Shaka yang semakin kebingungan.


"Entahlah. Tiba-tiba saja sejak tadi aku ingin sekali mengacak-acak rambut Edo. Maafin mommy ya, sayang." Kata Kira penuh sesal sambil mengelus kepala Edo. Tepatnya, kembali mengacak-acak rambut Edo.


"Iyaaa.. Iyaaaa... mommy..!!" Seru Edo sambil berusaha menghentikan Kira.


"Terima kasih, Ed. Satria, Rania, Nara. Ayo berangkat sekarang." Kira memanggil ketiga anaknya yang masih bengong melihat tingkah ibu mereka.


Shaka yang bingung sekaligus kesal dengan tingkah aneh istrinya sejak semalam cuma bisa berkacak pinggang dan mendengus kesal. Radit menepuk punggung Shaka lalu membisikkan sesuatu. Tiba-tiba mata Shaka langsung membulat dan wajahnya berbinar cerah. Dia bergegas menyusul Kira yang baru akan memasuki mobil.


"Sayang, nanti siang jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu dan kita akan ke Orchid." Kata Shaka masih dengan senyum bahagianya.


"Ngapain, Bie..?? Aku kan tidak sakit." Protes Kira.


"Udah ga usah bantah. Pokoknya nanti siang kita ke Orchid. Oke..!!" Sahut Shaka dengan terkekeh pelan. Kira mencebik kesal dan mengangguk.


Seperti yang dikatakan Shaka, saat jam makan siang lelaki itu pulang lalu membawa Kira ke Orchid Hospital. Kira yang tidak merasa sakit menjadi kesal karena suaminya memaksa dia untuk periksa. Tapi dia tidak berani membantah karena melihat wajah Shaka yang begitu serius.


Sesampainya di Orchid mereka tidak perlu antri karena ternyata Shaka telah terlebih dulu membuat janji khusus dengan dokter Mira, dokter kandungan langganan mereka. Kira semakin heran karena Shaka membawanya periksa kandungan. Tapi kemudian Kira terdiam. Dia baru ingat sudah lama tidak kedatangan tamu bulanan. Awalnya dia mengira kalau sudah menopause mengingat usianya yang sudah melewati kepala empat. Karena itu dia ragu apakah memang dia benar-benar hamil.


"Waaaaaah.. Selamat bu Kirana.. Pak Shaka.. sebentar lagi bakal nambah baby-nya. Usia kandungan sudah 10 minggu, bu." Kata dokter Mira memberi selamat.


"Kamu dengar itu, sayang..?? Ternyata benar kamu hamil lagi." Seru Shaka bahagia. Dia langsung memeluk Kira dan terus menciumi wajahnya bertubi-tubi.


"Jadi beneran saya hamil, dok..?? Bukan karena menopause..??" Tanya Kira masih tidak percaya.


"Benar, bu. Tapi karena usia bu Kirana 42 tahun, ibu harus ekstra hati-hati. Untuk kelahiran nantinya juga disarankan dengan operasi caesar. Tapi saran saya, lebih baik ini yang terakhir ya, bu. Baiknya setelah ini bu Kirana steril saja. Karena mengingat usia bu Kirana, tidak baik untuk kesehatan ibu dan juga bayi kalau setelah ini kembali mengandung. Saya hanya memberi saran, untuk keputusan tetap di tangan pak Shaka dan ibu Kirana." Kata dokter Mira.


"Baik, dok. Kami akan membicarakan lagi nanti di rumah. Terima kasih, dok." Kata Shaka.


"Bie, darimana kamu tahu kalau aku sedang hamil..??" Tanya Kira saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Dari Radit. Tadi saat mereka meminta ijin untuk memetik jambu, tetangga kita mengatakan kalau mungkin saja kamu lagi ngidam. Makanya minta yang aneh-aneh." Jawab Shaka membuat Kira tertawa cekikikan.


"Lucu yaaaa.. Aku yang hamil tapi malah tidak menyadarinya, padahal kandungan sudah hampir 3 bulan. Sedangkan tetangga depan kita, tanpa melihatku dia sudah tahu kalau aku hamil." Kira tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Benar juga. Tapi kamu harus hati-hati dan jaga kesehatan baik-baik ya, sayang. Ingat apa kata dokter Mira tadi." Kata Shaka mengingatkan.


"Siap, Bie." Sahut Kira dengan bersandar pada bahu Shaka yang tengah menyetir.


********************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza