
Luna dan Ratna terkejut saat melihat siapa wanita yang telah menyela pembicaraan mereka. Seorang wanita di usia akhir empat puluhan tapi masih terlihat cantik dan anggun. Dia mengenakan dress ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya namun tetap terlihat elegan. Rambutnya yang dicat warna plum dicepol rapi. Dia tampak dikawal oleh lima orang bertubuh besar.
"Apa kabarmu, Ratna..?? Ternyata kamu masih bertemu dengan anakmu ini. Seingatku kalian sudah lama tidak saling bicara." Cibir wanita itu.
"Bagaimana hubungan kami bukanlah urusanmu, Frida." Kata Ratna tenang.
"Ya, tentu. Ngomong-ngomong kebetulan sekali kita bertemu disini, Luna. Aku memang sedang membutuhkanmu." Kata Frida sinis.
"Ciiiih.. sudah tidak ada harta ayah yang tersisa padaku. Untuk apa lagi kamu mencariku..??!!" Seru Luna.
"Kamu memiliki sesuatu yang sedang aku butuhkan." Kata Frida tanpa melepas pandangan dari Luna.
"Berhenti mengganggu putriku, Frida..!! Sudah cukup kamu terus menyiksanya selama ini." Kata Ratna tegas.
Ratna menarik tangan Luna dan menyembunyikan tubuh putrinya di belakang tubuhnya.
"Tidak perlu kawatir, kali ini aku tidak akan menyiksanya. Sebaliknya aku akan membuat dia senang." Sahut Frida sambil terkekeh pelan.
"Apa maksudmu..??!!" Tanya Luna curiga.
"Keuangan perusahaan sedang buruk. Begitu buruk sampai ada empat cabang klinik yang terpaksa aku tutup." Kata Frida kesal.
"Aku yakin itu semua pasti karena gaya hidupmu yang begitu boros." Cibir Luna.
"Lalu apa hubungannya denganku..?? Toh semua aset ayah sudah kamu ambil alih." Lanjut Luna.
"Kami sedang negosiasi dengan Phoenix Group agar mau berinvestasi. Tapi cukup sulit karena bidang usaha yang berbeda dan mereka tahu bagaimana buruknya management keuangan klinik. Lalu ada seorang pria, dia adalah Direktur Keuangan di Phoenix Group. Dia bilang bisa membantuku membujuk CEO mereka untuk menanam investasi besar. Tapi dia ingin aku menemukan seorang gadis perawan untuk melayaninya selama seminggu. Aku sudah pusing karena beberapa hari ini tidak menemukan yang dia mau. Dan karena kita bertemu, kamu pasti bisa membantuku. Bukankah.. kamu masih perawan..??" Kata Frida tanpa beban.
"Kamu pikir apa aku ini..??!! Aku bukan pe**cur..!!" Seru Luna hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
"Dengar.. aku tidak peduli. Yang aku tahu kamu bisa membantuku mendapatkan apa yang aku inginkan." Sahut Frida tetap tenang.
"Dasar wanita ja**ng..!! Pikirmu putriku barang yang bisa kamu serahkan pada siapa saja sesukamu..??!!" Seru Ratna marah.
"Apa pedulimu..?? Toh selama ini kamu telah meninggalkannya." Kata Frida.
"Bawa dia..!!" Perintah Frida sambil memberi tanda pada para pengawalnya. Salah seorang pria terlihat berjalan menghampiri Luna.
"Jangan mendekat..!!" Seru Ratna sambil menghadang pria itu.
"Frida..!! Jangan harap kamu bisa membawa putriku..!!" Seru Ratna lagi.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan..?? Lapor polisi..?? Atau meminta bantuan pada suamimu yang hanya pegawai rendahan..??" Cibir Frida.
"Tunggu apa lagi..??!!" Seru Frida kembali mengulang perintahnya.
Laki-laki itu dengan mudah mendorong Ratna ke samping dan menarik tangan Luna.
"Lepaskan aku..!! Jangan sentuh aku, bre**sek..!!" Seru Luna sembari memberontak dan berusaha melepaskan diri. Ratna yang melihat pun tidak tinggal diam. Dia berusaha membantu Luna melepaskan diri.
"TOLOOOONG..!!" Teriak Ratna hingga semakin menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Beberapa orang tampak mulai mendekat tapi kemudian mundur setelah dihalau para pengawal Frida. Mereka akhirnya memilih tidak ikut campur untuk menghindari masalah. Frida yang kesal karena Ratna terus berteriak akhirnya menampar wajah Ratna lalu menghempaskan tubuh wanita itu hingga terjatuh ke tanah.
"IBUUU..!!" Teriak Luna panik. Tapi tidak berdaya karena cengkeraman tangan pengawal Frida.
PLAAAAAKK..!!
Luna menampar keras wajah pengawal Frida dengan tangannya yang bebas. Lelaki itu terkejut hingga tanpa sadar genggamannya mengendur. Luna langsung melepaskan tangannya dan berlari menghampiri Ratna.
"Ibu..!! Ibu tidak apa-apa...??" Tanya Luna terisak sambil memegang wajah ibunya. Mata Ratna berkaca-kaca mendengar Luna memanggilnya ibu.
"Cepat bawa dia..!!" Teriak Frida mulai tidak sabar.
Ratna yang melihat dua pengawal Frida kembali mendekat segera menarik tubuh Luna dan mendekapnya erat hingga membuat mereka kesulitan untuk membawa Luna. Keempat lelaki itu akhirnya terus menghujani tubuh Ratna dengan pukulan sampai akhirnya tubuhnya mulai melemah. Salah seorang pengawal Frida berhasil menarik tubuh Luna dari dekapan Ratna.
"IBUUU..!! IBUUU..!!" Teriak Luna terus memanggil ibunya.
Ratna terus menggenggam tangan Luna. Meski dengan tenaga yang begitu lemah, dia tetap berusaha mempertahankan Luna.
"Aaaaaargh..!!" Teriak Ratna kesakitan saat Frida menginjak tangannya yang menggenggam tangan Luna hingga akhirnya terlepas.
"IBUUU..!!" Teriak Luna histeris saat dilihatnya Ratna mulai tidak sadar.
Frida dan para pengawalnya menyeret tubuh Luna hingga memasuki mobil yang telah disiapkan lalu bergegas meninggalkan tempat itu. Orang-orang disekitar mereka tampak takut untuk mendekat. Beberapa orang yang nekat menolong pun tampak terkapar setelah beradu tenaga dengan para pengawal Frida. Seorang pengawal Frida tampak tinggal lalu memasuki cafe tempat Luna dan Ratna berbincang.
Ratna berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Perlahan dia berdiri lalu tampak tertatih menuju Orchid Hospital. Ratna tidak menghiraukan orang-orang yang terpekik melihat keadaannya yang terluka di sekujur tubuh. Dia bahkan mengabaikan petugas medis yang berusaha membantunya.
Ratna terus berjalan cepat menuju kamar President Suite. Tanpa permisi Ratna langsung masuk hingga mengejutkan orang-orang di dalamnya. Ratna menghambur pada Edo yang terkejut melihat keadaannya.
"Tante, apa yang terjadi..??!! Dimana Aluna..??!!" Tanya Edo terkejut melihat tubuh Ratna penuh luka.
"Edo, tolong Luna. Ibu tirinya menculik Luna dan akan memaksanya melayani lelaki hidung belang..!! Tolong Luna. Aku mohon tolong putriku..!!" Seru Ratna histeris sebelum pingsan.
Yudha yang kebetulan sedang ada disana segera menekan tombol darurat dan memberi pertolongan pertama. Hans pun tampak segera menghubungi seseorang.
****
Luna mengerjapkan mata dan melihat sekelilingnya. Dia menyadari tengah berada di sebuah kamar. Dilihatnya langit sudah berubah gelap artinya dia sudah cukup lama ada disana.
Luna perlahan duduk dan terkejut saat melihat pakaiannya telah berganti dengan sebuah lingerie tipis yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Luna terkesiap saat merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia melihat beberapa tanda merah di tubuhnya. Dan sedikit merasa lengket di bagian bawah tubuhnya. Luna segera menyibak selimut dan sedikit bernapas lega karena tidak melihat bercak darah di sprei putih itu.
Dia menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dilihatnya seorang lelaki berusia akhir tiga puluhan keluar dari pintu itu hanya dengan mengenakan boxer. Dada bidang dan perut sixpack-nya terekspos dengan sempurna tapi justru membuat Luna semakin panik.
"Akhirnya kamu bangun juga. Aku sudah lama menunggumu." Kata lelaki itu dengan seringai menakutkan. Matanya tampak menelusuri setiap inchi tubuh Luna dengan penuh na**u.
Luna melompat dari atas tempat tidur dan bergerak menjauh dari lelaki asing di hadapannya. Lelaki itu perlahan mendekat dengan tawa pelan namun terdengar menakutkan di telinga Luna.
"Ayolah, sayang. Kita bersenang-senang dulu. Aku janji untuk yang pertama akan melakukannya dengan pelan dan lembut." Kata lelaki itu masih dengan seringainya. Dia tampak benar-benar tidak sabar ingin segera menguasai Luna.
"Aku tidak sudi..!! Aku bukan pe**cur..!!" Seru Luna dengan suara bergetar karena rasa takut dan juga amarah. Pria itu justru tertawa senang melihat reaksi Luna.
"Bagus. Tetaplah seperti itu. Aku justru sangat menyukainya." Kata pria itu dengan terkekeh. Matanya terus menatap lekat pada tubuh Luna yang terlihat dari lingerie tipis yang dikenakan gadis itu.
"Lebih baik kamu kemari agar kita bisa segera bermain." Kata lelaki itu lagi. Dia semakin mendekat dan berusaha meraih tubuh Luna yang terus menghindar.
"Lebih baik aku mati daripada menjadi pe**curmu..!!" Seru Luna lagi.
*Mati..?? Kenapa kamu lebih memilih mati daripada bersenang-senang..?? Ayolaaah.. kamu pasti akan menyukainya." Bujuk lelaki itu lagi.
"Toh tadi aku sudah sedikit men****pi tubuhmu. Maaf. Tangan dan mulutku sudah tidak sabar menjelajah. Rasamu benar-benar manis." Kata Galih sambil menyeringai dan menatap ke pa**dara dan bagian bawah tubuh Luna. Membuat gadis itu mulai gemetar.
"Tapi kamu tidak perlu kawatir. Kita belum sampai di puncak permainan karena aku menunggumu terbangun." Kata lelaki itu dengan mata yang semakin menggelap.
"Bohoooong..!!" Seru Luna terkejut. Tubuhnya bergetar karena tangis putus asa. Tiba-tiba dia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Aku yakin kamu bisa melihat dan merasakannya saat terbangun tadi. Jadi bagaimana kalau kita melanjutkannya..??" Kata lelaki itu lagi sambil meraih tubuh Luna yang lengah karena belum pulih dari rasa terkejutnya.
"Lepaskan aku..!! Lepas..!!" Teriak Luna histeris sambil terus memberontak.
"Setelah aku mendapatkanmu dengan susah payah..?? Jangan mimpi..!!" Desis lelaki itu sebelum mengangkat tubuh Luna lalu melemparnya ke atas ranjang dan langsung menindihnya.
"TIDAAAKK..!! Lepaskan aku..!!" Teriak Luna panik.
"Diam..!!" Seru lelaki itu dengan tatapan penuh ancaman. Luna terdiam sejenak saat mendengar bentakan lelaki itu.
"Namaku Galih. Jangan pernah lupakan itu." Bisik Galih sebelum mulai men***bu tubuh Luna.
Luna yang tersadar kembali berteriak dan memberontak. Membuat Galih cukup kewalahan karena meski tidak begitu kuat, tapi tenaga Luna diatas wanita pada umumnya.
"Aku bilang diam..!!" Bentak Galih sambil menampar Luna dua kali.
Sesaat Luna terdiam karena merasa kepalanya pening akibat tamparan Galih. Tapi tak berapa lama dia kembali memberontak.
"Singkirkan tanganmu, bre**sek..!!" Teriak Luna saat tangan Galih mulai menjelajah.
Luna yang pernah ikut berlatih bersama keluarga Shaka berhasil menendang perut Galih hingga membuat lelaki itu terjungkal dari ranjang lalu bergegas berlari. Tapi baru beberapa langkah Galih berhasil menghadangnya. Luna yang merasa mustahil untuk kabur tiba-tiba melihat pisau pembuka amplop di atas tumpukan surat yang ada di meja kamar itu.
"Berhenti..!! Atau aku akan membunuhmu." Desis Luna sambil mengacungkan pisau ke arah Galih.
Galih hanya tersenyum sinis dan terus mendekat dengan wajah dingin.
"Pikirmu bisa melukaiku dengan menggunakan pisau kecil itu..??" Cibir Galih.
Luna menyadari bahwa dia hanya akan memberi sedikit luka yang tidak berarti pada tubuh Galih. Apalagi dengan tenaganya yang tidak seberapa.
"Kamu benar. Tapi lebih baik aku mati daripada harus menjadi pe**curmu..!!" Seru Luna lalu membalikkan arah pisau dan mengiris pergelangan tangan kirinya tanpa ragu.
"Bre**sek..!! Apa yang kamu lakukan..??!!" Seru Galih yang terkejut dengan tindakan nekat Luna. Dia maju dan meraih tubuh Luna yang mulai melemah.
"Kamu pikir aku akan melepasmu begitu saja..?? Aku akan tetap memilikimu meski hanya berupa cangkang tanpa nyawa." Desis Galih ke telinga Luna lalu kembali men***bu tubuh gadis itu.
"Hentikan..!! Lepaskan aku..!!" Teriak Luna diantara rasa sakitnya. Tapi Galih terlihat tidak peduli, dia justru mencengkeram kuat tangan Luna yang terluka.
BRAAAAAKK..!!
Tiba-tiba ada seseorang yang mendobrak pintu. Terlihat Edo, Yudhi, dan beberapa orang di belakang mereka menyerbu masuk ke dalam kamar. Edo yang melihat Galih tengah menindih tubuh Luna di lantai tampak meradang.
"Ba**ngan..!!" Seru Edo sambil berjalan cepat ke arah Galih.
Edo langsung menarik tubuh Galih dan memukulnya. Galih tidak tinggal diam dan melakukan perlawanan tapi akhirnya tidak berdaya menghadapi Edo yang tengah mengamuk. Begitu berhasil menjatuhkan Galih, Edo terus menghajarnya tanpa ampun. Hans yang sejak tadi diam akhirnya menghentikan anaknya sebelum benar-benar membunuh Galih.
"Edward, hentikan..!!" Seru Hans sambil menahan tubuh Edo yang masih berusaha meraih tubuh Galih yang sudah terkapar tidak berdaya.
"Ed, kita harus segera membawa Luna ke rumah sakit..!!" Seru Hans menyadarkan putranya.
Edo menoleh ke arah Luna lalu terbelalak melihat gadis itu tidak sadar dengan tubuh terluka dan bersimbah darah. Dilihatnya Yudhi tengah berusaha menghentikan pendarahan di pergelangan tangan Luna. Edo bergegas menghampiri Luna dan langsung mengangkatnya. Dia berlari secepat mungkin menuju mobil yang masih terparkir di depan villa. Hans dan Yudhi mengikuti Edo lalu duduk di bagian depan mobil. Yudhi yang berada di kursi kemudi memacu mobil secepat mungkin menuju rumah sakit terdekat.
"Al, buka matamu. Aku mohon bertahanlah." Isak Edo sambil memeluk erat tubuh Luna.
"Sayang, aku mohon bangunlah. Jangan menakutiku. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu dan menjagamu. Tapi aku mohon jangan hukum aku. Bertahanlah, Al. Aku mencintaimu." Kata Edo sambil terus menciumi wajah Luna yang pucat.
Hans menoleh ke belakang dan melihat putranya yang terus terisak sambil memeluk erat tubuh Luna yang tidak sadarkan diri. Kemarahan pun mulai menyelimutinya. Yudhi yang tengah fokus menyetir melirik Hans dan melihat perubahan wajah lelaki itu.
"Aku sudah mendapatkan ibu tirinya dan orang-orang kita aku perintahkan untuk mengamankan lelaki tadi sebelum diserahkan ke polisi." Kata Yudhi. Hans menatap Yudhi dengan tatapan dingin.
"Serahkan mereka padaku." Kata Hans dengan suara berat. Yudhi tampak mengangguk.
"Aku serahkan keputusan kepadamu." Sahut Yudhi.
********************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza