
Shaka mengerang merasakan sakit di kepalanya. Dia baru saja terbangun. Leo yang ada di dekatnya berusaha membantu Shaka duduk meski dia sendiri juga sedang terluka. Alex terlihat memeriksa luka di kepala Shaka. Memastikan luka itu tidak terbuka kembali.
Sudah dua hari Shaka dan kedua temannya disekap. Mereka bahkan tidak tahu siapa pelakunya. Sehari sekali ada 2 orang yang datang ke sel tempat mereka disekap untuk mengantar makan malam dan air. Shaka dan kedua temannya tidak bisa berkutik karena kedua orang itu selalu ditemani pengawal bersenjata.
"Gue gapapa." Kata Shaka pada kedua temannya.
"Gue kawatir sama luka di kepala lo. Luka ini harusnya dijahit." Sahut Alex yang tengah memeriksa luka di kepala Shaka.
Kepala Shaka tampak dibalut oleh kain seadanya yang berasal dari robekan baju Alex dan Leo.
"Lo berdua juga lagi pada luka." Kata Shaka lagi.
"Gue sama Alex cuma memar, Ka. Beda sama lo yang dapet luka di kepala." Sahut Leo sambil melihat miris pada luka di kepala Shaka.
"Makasih. Tapi gue udah baikan." Kata Shaka tulus.
"Terus terang gue kawatir sama Justin. Gue yakin kalo ini ulah Fabian." Kata Alex.
"Justin pasti masih aman. Tu anak selalu dikelilingi banyak orang. Dari para member, manager, fans, paparazzi, belum lagi pengawal dari keluarga Wongsonegoro. Fabian ga bakal berani gegabah." Sahut Shaka.
"Gue justru kepikiran Kira. Sekarang ini mungkin dia udah mulai kemoterapi. Lo tahu sendiri gimana efek kemo. Belum lagi urusin Bara sama Dara." Lanjut Shaka lirih. Kepalanya tertunduk memikirkan istri dan anaknya.
"Kita pasti bakal keluar dari sini. Kumpul sama keluarga kita lagi." Kata Leo menghibur Shaka.
Mereka langsung terdiam dan menatap waspada ke arah pintu sel. Ini bukan waktunya makan malam, jadi siapapun yang datang pastinya tidak datang untuk mengantarkan makanan. Terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang mendekat. Shaka menatap tajam pada laki-laki yang berdiri paling depan.
"Fabian." Desis Shaka.
"Ternyata kamu masih mengingatku." Kata Fabian sambil terkekeh pelan.
"Harusnya kalian tidak mencampuri urusanku. Jadi sekarang kalian tanggung akibatnya." Kata Fabian.
"Karena memang kamu harus bertanggungjawab atas perbuatanmu..!!" Seru Shaka.
"Kenapa kamu mengirim ancaman dan memaksaku berpisah dari istriku..??" Geram Shaka.
"Semua karena Rosi dan ibunya." Jawab Fabian.
"Apa maksudmu..??" Tanya Shaka.
"Tiga tahun lalu aku tidak sengaja bertemu Rosi yang tengah lari dari kejaran rentenir. Saat itu aku tahu kalau ternyata dia bekerja di tempatmu. Awalnya aku masih merasa tenang, karena pikirku dia tidak mencari tahu tentang kematian Vino, karena saat kejadian itu dia masih kecil. Tapi ternyata, kamu juga menerima ibunya untuk bekerja denganmu. Kamu bahkan membawa dia masuk ke dalam rumahmu. Sebagai perawat istrimu yang sakit-sakitan." Jawab Fabian.
"Aku mulai merasa was-was, berpikir mereka sengaja mendekatimu untuk membalasmu. Karena saat itu aku memang menyalahkanmu atas kematian Vino. Dan kalau sampai terjadi, aku yakin kamu pasti akan menyelidiki kasus itu. Rencanaku sebenarnya adalah menyingkirkanmu sebelum kamu mengetahui tentang kejadian itu. Tapi berurusan dengan keluarga Rahardian dan Hardisiswo sekaligus benar-benar ide yang buruk. Karena itu aku mengirimkan teror untuk memisahkanmu dari istrimu dengan memanfaatkan situasi antara kamu, Kate, dan Arian. Pikirku mereka berdua pasti akan melakukan segala cara untuk memisahkan kalian. Dan kamu akan berpikir bahwa mereka yang mengirim semua teror itu. Intinya, semakin buruk perpisahanmu dan Kirana, maka semakin buruk pula hubunganmu dengan keluarga Hardisiswo. Tak disangka, Arian dengan bodohnya melakukan kesalahan sampai membuat Adam turun tangan dan langsung membuat dia tidak bisa berkutik. Arian benar-benar takut berurusan dengan kakak iparmu itu." Kata Fabian kesal.
Shaka terdiam dan baru menyadari bahwa memang teror yang diterimanya mulai berdatangan setelah Kira sakit dan dia mempekerjakan suster Hani.
"Kamu benar-benar ba**ngan pengecut. Harusnya kamu langsung menghadapi aku." Geram Shaka.
"Yaaaa.. Dan harusnya sejak dulu aku menyingkirkanmu. Kalau saja itu terjadi, Rosi dan ibunya tidak akan membeberkan tentang kematian Vino dan kalian tidak akan mengusikku lagi..!!" Seru Fabian.
"Yang membuatku kesal adalah dengan terkuaknya kasus itu, membuat rencana yang aku susun dengan susah payah akhirnya menjadi berantakan..!! Semua karena kalian..!!" Raung Fabian.
"Maksud lo rencana apa..??!! Apa hubungannya sama gue dan temen-temen gue..!!" Seru Leo.
"Karena sejak awal targetku adalah Justin." Kata Fabian dingin dengan sorot kebencian di matanya.
"Tahu kenapa akhirnya aku memilih untuk membiarkan kalian hidup..?? Karena kalian sangat berarti untuk Justin. Dia akan melakukan apapun untuk kalian, bahkan jika artinya dia harus menyerahkan nyawanya. Kalian adalah kelemahan terbesar Justin." Lanjut Fabian dengan seringai menakutkan.
"Heeeeeh.. lo jangan coba-coba usik Justin..!!" Kali ini Alex meradang. Kedua tangannya mencengkeram jeruji besi yang menghalangi kebebasannya.
"Dia memang belum pernah bertemu denganku. Tapi aku sangat membenci dia." Desis Fabian.
"Jangan coba-coba sentuh Justin. Atau lo bakal bayar ribuan kali lipat..!!" Ancam Leo. Fabian tertawa melihat kepanikan tiga pria dihadapannya.
"Sekarang aku tahu kenapa Justin sangat menyayangi kalian. Tapi itu bagus, artinya kalian akan melancarkan rencanaku. Aku sudah terlalu lama bersabar dan menunggu. Dan kalian hampir saja mengacaukan semua rencanaku. Jadi, sekarang ini sepertinya aku harus segera bergerak." Sahut Fabian lalu memberi tanda pada anak buahnya untuk membawa Shaka, Leo, dan Alex.
*****
Justin terus merasa gelisah. Sudah dua Shaka, Leo, dan Alex dinyatakan hilang karena diculik tapi belum terungkap siapa pelakunya. Meski kuat dugaan Fabian adalah dalang dibalik hilangnya ketiga temannya, polisi masih belum bisa melacak keberadaannya.
Dua hari terakhir Justin menginap di rumah kakeknya. Mereka memaksanya tinggal disana karena kawatir dengan keselamatan Justin. Andrew juga membatalkan semua jadwal Justin sampai situasi dinyatakan aman. Julian dan Andrew membantu Yudha untuk menjaga Kira di rumah sakit dan anak-anaknya di rumah. Sedangkan Pasha tetap menjalankan tugasnya mengurus kegiatan member yang lain.
"Justin, turunlah. Makan malam sudah siap." Panggil Wahyuni yang sekarang kembali memakai nama Anindhita.
"Iya, bu. Sebentar lagi aku turun." Sahut Justin.
Justin meraih HP dan membawanya turun. Sejak teman-temannya dinyatakan hilang dia tidak pernah jauh dari benda itu. Justin selalu berharap akan ada kabar baik yang datang mengenai keberadaan ketiga temannya.
Hendra hanya bisa mendengus kesal saat melihat Justin meletakkan HP di atas meja makan. Dia tidak pernah suka kalau ada yang sibuk dengan benda itu saat ada acara kumpul apalagi makan malam bersama keluarganya. Tapi dia menahan diri karena tahu alasan Justin terus membawa benda itu bersamanya.
"Sudah ada kabar mengenai ketiga temanmu..??" Tanya Hendra.
"Belum. Keluarga mereka masih berusaha melacak keberadaan Fabian." Jawab Justin.
"Aku yakin mereka pasti baik-baik saja. Kita doakan yang terbaik untuk mereka." Sahut Anindhita.
"Lebih baik kita perketat penjagaan disini. Bukan hanya security tapi juga pengawal. Kita punya banyak orang untuk melakukannya." Kata Anindya.
"Aku tidak mau. Rumah ini pasti akan terasa seperti penjara. Lagipula aku rasa mereka tidak sebodoh itu sampai nekat menyerbu ke rumah ini demi mendapatkan Justin." Kata Hendra menolak.
"Fabian orang yang nekat. Apalagi saat dia merasa tersudut. Apapun akan dia lakukan." Sahut Anindya dingin.
"Kenapa setiap kali kita membicarakan tentang Fabian aku selalu merasa kalau kamu mengenalnya. Bukan hanya sekedar urusan dengan klien." Tanya Hendra penuh selidik.
"Apa oom mengenal Fabian..??" Tanya Justin.
Anindya terdiam sejenak lalu menghela napas panjang. Dia tampak enggan menjawab ayahnya dan Justin.
"Dulu aku mengenal ibunya. Kami sempat menjalin hubungan saat SMA hingga kuliah, sebelum aku bertemu dengan mendiang istriku." Jawab Anindya dengan raut wajah datar.
"Siapa wanita itu..?? Kenapa aku tidak tahu mengenai dia..??" Tanya Hendra.
"Bukankah waktu itu ayah terlalu sibuk..??" Sindir Anindya hingga membuat Hendra terdiam.
"Sudahlah itu tidak penting. Dia hanya masa laluku." Sambung Anindya cepat.
BRAAAAKK..!!
Tiba-tiba terdengar pintu utama terbuka dengan keras hingga membuat keluarga itu terkejut. Justin baru akan berdiri, bermaksud menghampiri asal suara untuk mencari tahu. Tapi tiba-tiba Fabian masuk ke ruangan mereka bersama orang-orangnya. Justin terkejut saat melihat mereka menghempaskan tubuh ketiga temannya hingga tersungkur dengan keras di lantai.
Fabian melihat ke arah Justin dan berjalan pelan menghampirinya. Dia berhenti kira-kira 3 langkah dari Justin lalu tersenyum sinis.
"Akhirnya kita bertemu juga, Justin." Sapa Fabian lalu menoleh ke arah Anindya.
"Aku datang. Ayah." Kata Fabian yang mengejutkan semua orang disana.