
Edo tampak termenung, suasana hatinya benar-benar tidak menentu. Pagi itu dia mendapat kabar bahwa Hans, ayahnya, akan bebas dalam waktu 20 hari. Dari yang dia dengar, setelah bebas Hans akan tinggal di Indonesia untuk beberapa lama kemudian menyusul Peter untuk tinggal di Jerman.
Edo tidak menyangkal kalau dia sangat merindukan ayahnya. Sosok yang begitu menyayanginya hingga berbuat nekat karena tidak ingin kehilangan dirinya. Tapi dia juga sangat menyayangi keluarga yang telah membesarkannya. Sangat berat bagi Edo untuk berpisah dari keluarga asuhnya.
"Ed, lo napa..??" Tanya Aris yang sudah duduk di depan Edo.
"Gapapa." Jawab Edo singkat.
"Lo ga usah bohong, Ed. Lo kira kita baru kenal sehari dua hari..??" Kata Bryan.
"Gue cabut dulu." Sahut Edo tanpa menjawab pertanyaan kedua sahabatnya.
Bryan dan Aris saling memandang dan hanya bisa menatap Edo yang semakin menjauh dengan banyak pertanyaan dalam benak mereka.
Luna baru bersiap untuk mulai berkeliling jualan saat Edo datang. Dia terkejut melihat pemuda itu datang lebih awal karena setahunya Edo hari ini ada kuliah sampai sore.
"Edo, kok kamu sudah datang..?? Bukannya kamu bilang hari ini ada kuliah sampai sore..??" Tanya Luna. Tapi Edo hanya diam dan langsung memeluk erat tubuh Luna.
"Ed..??" Panggil Luna.
"Biar gini dulu, Al. Please." Kata Edo sambil mengeratkan pelukannya. Dia merasa lebih tenang saat memeluk Luna.
"Ada apa..??" Tanya Luna setelah Edo melepaskan pelukannya.
Edo terdiam dan menatap lekat wajah Luna. Dibimbingnya Luna duduk di tikar yang ada di kamar itu.
"Al, apa kamu mencintaiku..??" Tanya Edo tanpa melepas pandangannya dari Luna.
"Kamu bicara apa, Ed..?? Tentu saja aku mencintaimu." Jawab Luna.
"Apapun keadaanku dan latar belakangku..??" Tanya Edo lagi, membuat Luna semakin tidak mengerti.
"Ya. Aku mencintaimu apapun adanya dirimu." Jawab Luna.
"Sebenarnya ada apa..??" Tanya Luna.
"Kamu ingat dulu aku pernah mengatakan aku dirawat mommy dan daddy karena papa dipenjara..??" Tanya Edo dan Luna mengangguk.
"Papa dipenjara karena berusaha membunuh Dit-dit. Daddy dan mommy yang saat itu mengandung Rania juga sampai terluka parah. Bahkan mommy hampir terbunuh." Kata Edo.
"Yaa Tuhan, Ed. Bagaimana bisa seperti itu..??" Pekik Luna sambil menutup mulutnya.
"Ibu kandungku punya penyakit jantung bawaan dan meninggal saat melahirkan aku. Aku juga terlahir dengan penyakit yang sama. Selama 12 tahun awal hidupku aku benar-benar berjuang untuk bertahan hidup. Saat usiaku 9 tahun kondisiku benar-benar menurun dan harus segera menjalani tranplantasi jantung. Sebenarnya waktu papa sempat berpikir untuk bunuh diri dan memberikan jantungnya untukku. Tapi ternyata hasil pemeriksaan menyatakan bahwa jantung papa tidaklah cocok untukku. Papa yang sangat takut kehilangan aku menjadi begitu putus asa. Dia nekat menculik Dit-dit setelah tahu mereka memiliki kecocokan organ denganku. Waktu itu papa berniat mengorbankan salah satu dari mereka untuk menjadi donor jantungku. Mommy dan daddy terluka parah saat Dit-dit diculik. Mommy yang tengah hamil tua akhirnya dioperasi untuk menyelamatkan Rania. Waktu itu bahkan mommy sempat dinyatakan tewas. Setelah Dit-dit berhasil diselamatkan dan papa ditangkap, papa meminta tolong mommy dan daddy untuk mengasuhku karena tidak bisa mempercayai opa. Dan terlepas dari apa yang telah dilakukan papa, mereka menerimaku dengan tangan terbuka bahkan melimpahiku dengan kasih sayang. Mereka juga terus berusaha keras untuk kesembuhanku, hingga akhirnya aku mendapatkan donor saat usiaku 12 tahun. Mereka terus merawatku tanpa sekalipun mengungkit kesalahan papa." Kata Edo menjelaskan.
"Sekarang kamu tahu betapa mengerikannya kejahatan yang dilakukan papa. Apa kamu masih mau menerimaku..??" Tanya Edo dengan tatapan penuh arti.
"Ed, apa yang dilakukan papamu memang sangat mengerikan. Tapi jangan lupa, dia nekat melakukan itu karena sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu. Lagipula aku mencintaimu apa adanya, Ed. Lagipula kesalahan itu papa mu yang melakukannya. Bukan kamu." Jawab Luna dengan menggenggam erat tangan Edo.
"Terima kasih, Al." Kata Edo saat melihat kesungguhan di mata Luna.
"Aku sedang bingung, Al. Dalam waktu 20 hari papa akan bebas. Untuk sementara papa akan tinggal disini, tapi setelah itu papa akan menyusul ke Jerman untuk tinggal bersama Opa. Aku sangat menyayangi papa, Al. Kangen juga sama papa, apalagi selama dipenjara papa ga pernah mengijinkan aku kesana. Dan papa juga telah mengorbankan begitu banyak hal demi aku. Tapi disisi lain, aku juga sangat menyayangi keluargaku disini. Aku juga berat kalau harus berpisah dari mereka. Begitu juga sebaliknya. Apa yang harus aku lakukan, Al..?? Aku harus ikut papa yang sangat menyayangiku dan telah melewatkan 11 tahun masa hidupku. Atau tetap tinggal bersama keluarga yang telah merawat dan menyayangiku..??" Tanya Edo dengan wajah putus asa. Luna hanya diam karena dia pun tidak tahu harus melakukan apa bila ada di posisi Edo.
"Ed, pikirkanlah dulu baik-baik. Kamu masih punya waktu 20 hari untuk memutuskan. Cobalah bicarakan pada mommy, daddy, dan juga papamu." Jawab Luna sambil menggenggam erat tangan Edo. Pemuda itu menghela napas panjang dan tatapannya menerawang.
****
Edo sampai di rumah sesaat sebelum makan malam. Dilihatnya seluruh keluarganya telah berkumpul di meja makan. Kira tampak lebih pucat dari biasanya, tapi wanita itu tetap berusaha mengurus keluarga besarnya.
"Mom.. mommy sakit..??" Tanya Edo kawatir.
"Mommy tidak apa-apa, Ed." Jawab Kira sembari tersenyum hangat.
"Kak, buruan duduk. Udah laper ni." Protes Satria yang diantara mereka paling hobi makan. Edo bergegas duduk di kursinya.
"Eyang masih di rumah oom Yudhi, mom..??" Tanya Edo.
"Iya, Ed. Eyang putri dan eyang kakung jadinya menginap disana. Katanya masih kangen sama Alvian dan Shafa." Jawab Kira. Hari itu Edna dan Darius mengunjungi Yudhi dan istrinya karena kangen dengan anak-anak mereka.
"Memang mereka menginap berapa hari, sayang..??" Tanya Shaka.
"Aku tidak tahu." Jawab Kira.
Keluarga Rahardian makan malam seperti biasa. Selalu ada keceriaan dan keributan di antara mereka. Edo terus tertawa dan memandang keluarganya bergantian. Dia selalu menyukai saat-saat keluarganya berkumpul.
Pandangan Edo terhenti saat memergoki Kira terus melihatnya dengan tatapan sendu. Wanita kesayangannya malam itu terlihat muram meski ikut tertawa bersama keluarganya. Edo teringat saat Peter datang untuk memintanya tinggal bersama. Saat itu Kira menangis semalaman karena takut kehilangan dia.
Malamnya, saat kelima adiknya sudah masuk ke kamar untuk istirahat. Edo melihat Kira masih duduk seorang diri di bangku taman belakang. Shaka yang biasanya menemani Kira, tengah sibuk di ruang kerjanya.
"Mom, sudah malam. Kenapa belum tidur..??" Tanya Edo.
Kira menoleh dan tersenyum pada Edo. Dia merentangkan tangan memanggil Edo untuk mendekat lalu memeluknya. Tubuhnya tenggelam dalam pelukan Edo yang memang setinggi Shaka.
"Mommy masih belum mengantuk, Ed." Kata Kira.
"Lebih baik mommy duduk di dalam. Angin diluar dingin, nanti mommy sakit." Tegur Edo.
"Mommy suka suasana malam di taman ini. Rasanya menyenangkan dan menenangkan." Sahut Kira.
"Baiklah. Tapi jangan kelamaan. Aku tidak mau mommy sakit lagi." Perintah Edo. Kira terkekeh mendengar Edo yang mulai keluar bawelnya dan suka mengatur.
"Mom.. aku sayang banget sama mommy. Mommy adalah ibuku, wanita pertamaku, dan cinta pertamaku." Kata Edo sambil mengeratkan pelukannya.
"Mommy tahu itu, Ed. Mommy juga sayang sekali sama kamu. Sangat menyayangimu." Sahut Kira lalu melepas pelukannya dan menangkup wajah Edo dengan kedua tangannya hingga membuat pandangan mereka bertemu.
"Dengarkan mommy baik-baik, Ed. Dimanapun kamu berada. Apapun keadaanmu. Edward Henry Tanzil akan selalu menjadi putra sulung Shaka Maulana Rahardian dan Kirana Adichandra Hardisiswo. Meski namamu Tanzil. Kamu adalah bagian dari keluarga Rahardian. Dan akan selalu menjadi seorang Rahardian. Selalu ingat dan cam kan itu baik-baik..!!" Tegas Kira dengan suara tercekat dan mata berkaca-kaca.
Edo terisak mendengar perkataan Kira. Dia kembali memeluk erat tubuh Kira. Edo tahu, meski berat Kira iklas bila akhirnya dia harus melepas Edo kembali pada Hans, ayahnya. Karena sebagai ayah kandung, Hans memang yang paling berhak atas diri Edo.
Kira tahu sebenarnya Edo menyayangi dan sangat merindukan Hans. Selama ditahan, Hans tidak mengijinkan Edo untuk datang menjenguknya karena tidak ingin putranya melihat dia dalam seragam penjara. Hans takut hal itu akan membuat Edo terbebani dan merasa bersalah. Hal itu membuat Edo harus terus menahan rindunya pada ayahnya.
"Terima kasih, mom. Terima kasih. Aku sangat menyayangi mommy dan daddy." Kata Edo masih terisak.
"Mommy tahu kamu memang belum mengambil keputusan. Tapi apapun keputusanmu nanti, ingatlah bahwa papamu melakukan kesalahan karena dia sangat menyayangimu. Dia rela memberikan hidupnya untukmu. Sayangi dan jaga dia dengan baik, Ed." Pesan Kira.
"Baik, mom. Aku akan selalu menyayangi papa. Sama seperti aku menyayangi mommy dan daddy." Sahut Edo.
Edo semakin bimbang. Dia tidak tahu harus mengambil keputusan apa. Baik Hans maupun keluarganya sama-sama berarti. Dan Edo menyayangi mereka sama besarnya.
********************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza