(Family) Bound

(Family) Bound
Aku Kembali



Setelah dari rumah sakit, Shaka singgah ke rumah Adrian untuk membersihkan diri. Shaka tidak ingin menemui keluarganya dalam keadaan kacau, karena hanya akan membuat mereka semakin kawatir. Dia juga telah menceritakan semuanya kepada Adrian, Adam, dan Rendra. Sama seperti dia, reaksi awal mereka pun terkejut saat mendengar drama rumit dalam keluarga Wongsonegoro.


Shaka meminta keluarganya untuk mencabut gugatan pada Fabian karena penculikan yang dia lakukan atas dirinya dan kedua temannya. Tapi untuk kasus Vino, semua dia serahkan kepada suster Hani dan Rosi. Untuk kasus Vino tuntutan yang bisa dilakukan adalah kekerasan berlebih. Karena pada dasarnya, Vino meninggal disebabkan oleh euthanasia yang diajukan oleh suster Hani sendiri.


Shaka berlari masuk ke dalam rumah karena tidak sabar ingin bertemu anak-anaknya. Meski sering mengeluhkan keributan yang setiap hari mereka buat, nyatanya justru hal itulah yang membuat Shaka sangat merindukan anak-anaknya.


"Papaaaaaaaaaa..!!" Nara yang pertama kali melihat kedatangan Shaka langsung berlari menghambur ke pelukan ayahnya.


"Princess papa." Dengan sigap Shaka meraih tubuh kecil Nara dan menggendongnya.


Shaka terus memeluk dan mencium Nara yang langsung menangis dalam pelukannya. Satria dan Rania pun sama. Mereka langsung memeluk Shaka dan menangis bahagia melihat ayah mereka kembali dengan selamat. Dan Nara semakin keras menangis karena ketakutan saat melihat perban di kepala Shaka.


Edo dan Dit-dit yang lebih besar masih bisa mengendalikan diri. Meski mereka juga sangat ingin memeluk Shaka, tapi ketiganya memilih memberi kesempatan pada tiga adik kecil mereka.


"Bagaimana kabar kalian..?? Hmmm..??" Tanya Shaka sembari bergantian memeluk Edo dan Dit-dit.


"Kami baik, pa. Kak Edo selalu menjaga kami selama papa dan mama pergi." Jawab Radit.


"Terima kasih, Ed. Kamu sudah menjaga adik-adikmu dengan baik." Kata Shaka sambil memeluk erat tubuh Edo.


"Kepala papa kenapa..??" Tanya Adit kawatir.


Selain Edo, kelima anak yang lain memang tidak tahu kalau Shaka terluka saat penculikan terjadi.


"Hanya luka kecil. Kalian tidak perlu kawatir." Jawab Shaka sambil menepuk pelan bahu Adit.


"Sudah jam segini. Kenapa kalian belum tidur..??" Tanya Shaka saat melihat jam dinding menunjukkan waktu jam 11.45 dini hari.


"Mereka semua menunggu daddy. Bahkan Nara tidak mau tidur meskipun sudah mengantuk." Jawab Edo sambil melihat ke arah Nara yang menguap lebar dalam gendongan Shaka.


"Hei, princess. Papa sudah pulang. Princess tidur dulu ya." Kata Shaka sambil menepuk pelan punggung Nara yang menyandarkan kepala ke bahunya.


"Nara..??" Panggil Shaka saat tidak mendapatkan jawaban dari putri kecilnya.


"Nara sudah tidur, pa." Bisik Satria.


"Dia pasti benar-benar sudah mengantuk." Kata Shaka yang tersenyum bahagia melihat wajah damai Nara.


"Biar aku yang menidurkan Nara di kamarnya. Papa istirahat saja dulu." Kata Radit sembari meraih tubuh Nara. Shaka mencium kening Nara sebelum Radit membawanya kekamar gadis kecil itu.


"Satria.. Rania.. kalian juga tidur ya." Kata Shaka sambil mengelus rambut Satria.


Satria menoleh ke arah Adit dan Edo. Adit lalu menepuk pelan bahu Satria dan menunjuk arah kamar mereka dengan dagunya.


"Ayo aku temani kamu tidur." Kata Adit lalu mengikuti langkah Satria.


"Aku tidur nanti saja. Papa sudah makan..?? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk papa." Tanya Rania.


Shaka tersenyum. Gadis kecilnya setiap hari bersikap semakin dewasa.


"Tentu papa mau. Papa sangat lapar. Tapi setelah menyiapkan makan papa, kamu harus tidur. Peralatan biar besok saja dicuci." Jawab Shaka.


Shaka memang sangat lapar. Selama disekap mereka hanya mendapat jatah makan sekali sehari saat makan malam. Dan hari sebelumnya dia juga belum mendapatkan jatah makan karena saat makan malam mereka sudah berada di rumah keluarga Wongsonegoro. Tadi dia menolak tawaran istri Adrian untuk makan karena tidak sabar ingin cepat pulang.


Rania dengan cekatan menyiapkan makan malam untuk ayahnya. Rupanya dia langsung memasak saat mendengar Shaka akan pulang. setelah selesai menyiapkan makan Rania pun masuk ke kamarnya. Radit berjalan menghampiri Shaka dan Edo yang duduk di meja makan.


Edo dan Radit saling memandang saat melihat Shaka makan dengan cepat dan lahap. Tidak seperti kebiasaannya selama ini yang selalu makan dengan tenang.


"Kapan terakhir kali daddy makan..??" Tanya Edo penasaran. Shaka menoleh pada kedua anaknya dan tersenyum.


"Hampir dua hari lalu." Jawab Shaka santai lalu kembali melanjutkan makannya. Edo dan Radit tercengang mendengar jawaban Shaka.


"Apa..??!!" Seru mereka hampir bersamaan.


"Selama disekap kami hanya diberi makan sehari sekali saat makan malam. Kebetulan semalam ada kejadian hingga kami tidak sempat makan. Tapi karena kejadian itu papa jadi bisa pulang." Shaka berbicara seolah apa yang terjadi bukanlah hal yang menakutkan.


"Minum susu ini, pa." Kata Adit sambil meletakkan segelas susu hangat di hadapan Shaka.


Rupanya dia sudah kembali dari kamar saat Shaka mulai bercerita. Adit pun langsung ke dapur dan membuat susu untuk ayahnya.


"Jam berapa besok kemoterapi dilakukan..??" Tanya Shaka.


"Jam 9 pagi." Jawab Edo.


"Lebih baik papa istirahat dulu setelah itu baru temui mama. Papa datang sekarang pun mama pasti sudah tidur." Kata Radit seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Shaka.


"Nanti jam 7 kami juga mau ke rumah sakit buat menemani mama kemoterapi. Papa bisa kesana lebih dulu. Tapi untuk sekarang lebih baik papa istirahat." Kata Adit ikut menimpali.


"Mereka benar, dad. Apalagi efek paska kemo akan membuat mama kesakitan. Daddy pasti butuh tenaga ekstra untuk membantu menjaga mama. Jadi lebih baik daddy istirahat dulu." Kata Edo. Shaka terdiam mendengar nasihat ketiga putranya.


"Baiklah. Kalau begitu sekarang kalian tidur. Papa juga akan tidur dulu setelah ini." Kata Shaka.


"Daddy ke kamar duluan. Biar aku sama Dit-dit yang beresin." Sahut Edo. Dia membereskan sisa makan Shaka dengan dibantu oleh Dit-dit.


*****


Shaka membuka perlahan pintu kamar president suite. Dilihatnya Kira masih tertidur. Tak jauh dari ranjang Kira, Edna dan Darius tengah tidur berpelukan di ranjang yang disiapkan rumah sakit. Dia memang sudah tidak sabar ingin bertemu Kira. Meskipun sangat lelah, dia tetap tidak bisa tidur. Akhirnya dia memutuskan untuk ke rumah sakit meski waktu masih menunjukkan pukul 04.20 pagi.


Perlahan Shaka mendekati box bayi. Dilihatnya Dara masih tertidur pulas sementara Bara terjaga. Bayi laki-laki itu terlihat memainkan bibirnya dengan lucu. Dia terus memutar pandangannya seolah tengah menjaga ibu dan saudari kembarnya.


Shaka mencium Dara, lalu menggendong Bara sebentar sambil terus menciuminya. Tak lama, Bara kembali tertidur seolah yakin keadaan telah aman setelah ayahnya datang. Shaka duduk di samping ranjang Kira dan menggenggam tangannya. Dia mengelus pelan kepala Kira lalu mencium lembut kening istrinya.


Kira yang merasa terusik perlahan membuka matanya. Setelah benar-benar sadar Kira terpaku, tidak percaya melihat Shaka berada dihadapannya.


"Bie..??" Panggil Kira lirih dengan tatapan tidak percaya.


"Hai, sayang. Aku kembali. Aku pulang." Kata Shaka. Dia menghapus airmata Kira yang mulai turun.


"Bie, ini benar kamu..?? Kamu sudah pulang..??" Kata Kira lagi sambil memeluk erat tubuh suaminya. Tangis Kira meledak karena bahagia.


"Iya, sayang. Ini aku. Aku sudah pulang." Sahut Shaka ikut terisak. Shaka memeluk erat tubuh Kira dan terus menciumi kepala istrinya.


"Shaka..??" Panggil Darius.


Darius terbangun karena mendengar suara isakan. Disampingnya Edna juga terbangun dan berusaha untuk sadar sepenuhnya.


"Shaka..!! Sayang..!! Kapan kamu kembali..??!!" Pekik Edna sembari menghampiri dan memeluk menantunya.


"Semalam, ma." Jawab Shaka sambil membalas pelukan Edna. Darius mendekati Shaka dan memeluknya.


"Kamu benar-benar tidak sabaran. Pagi-pagi buta kami sudah datang kesini." Kata Darius.


"Aku tidak bisa tidur karena semalaman terus memikirkan Kira." Sahut Shaka.


"Papa sudah tahu kalau Shaka ditemukan..??" Tanya Kira.


"Semalam Adam dan Rendra memberi kabar. Tapi kamu sudah tidur. Jadi papa bermaksud memberitahu pagi ini. Tapi ternyata dia sudah datang duluan." Kata Darius kesal.


"Kepalamu kenapa, Bie..??" Tanya Kira yang tengah mengelus perban di kepala Shaka.


"Hanya sedikit terluka. Sebentar juga sembuh." Kata Shaka menenangkan Kira.


"Apa sakit..??" Tanya Kira dengan tatapan kawatir.


"Rasa sakitnya hilang setelah aku bertemu lagi denganmu." Jawab Shaka lalu mengecup lembut bibir pucat Kira.


"Aku mencintaimu dan aku merindukanmu." Bisik Shaka sambil terus mencium wajah Kira, mengabaikan kehadiran kedua mertuanya di ruangan itu.


"Dasar menantu ga ada sopan-sopannya.Ada mertua cuma dianggap nyamuk." Sungut Darius kesal.


"Apaan sich, pa..?? Udah ayo buruan sholat subuh. Keburu waktunya habis." Ajak Edna.


"Iya.. iyaaa.." Sahut Darius.


"Kamu mau sekalian sholat, sayang..??" Tanya Shaka. Kira tersenyum dan mengangguk.


Mereka berempat sholat berjamaah dengan Shaka sebagai imamnya. Kira tidak henti-hentinya mengucap syukur karena Shaka kembali dengan selamat. Ketakutannya saat kehilangan Pierre masih membekas sampai sekarang. Kira tidak yakin akan bisa bertahan kalau sampai terjadi sesuatu pada Shaka hingga akhirnya kehilangan suaminya.