
Edo melajukan mobilnya dengan cepat. Dia tengah bersama Luna saat Kira menelponnya dan mengatakan bahwa ayahnya telah datang. Setelah memarkirkan mobilnya secara asal di halaman rumah, Edo segera berlari masuk. Dia melihat orangtuanya, Darius, dan Edna tengah berbincang dengan seorang pria yang mungkin seusia Kira.
Edo berjalan mendekati pria yang masih memunggunginya. Suasana di ruangan itu mendadak hening, perhatian semua orang tertuju padanya. Pria itu tampak menoleh padanya dan perlahan berdiri. Sejenak mereka saling menatap dengan perasaan haru. Meski Hans terakhir bertemu putranya saat anak itu masih berusia 9 tahun, dia tetap dapat mengenali pemuda yang berdiri dihadapannya. Pemuda itu begitu mirip dengannya saat masih muda tapi memiliki mata biru gelap seperti Jenna, mendiang istrinya. Sedangkan Edo, tentu saja dia tidak akan melupakan wajah ayah yang selalu dirindukannya.
"Edward..??" Panggil Hans dengan suara tercekat.
"Papa." Sahut Edo sembari menghambur dalam pelukan ayahnya.
Dua pria beda generasi itu saling memeluk erat dan menangis untuk menumpahkan kerinduan yang terus menyiksa mereka selama hampir 12 tahun.
"Biar papa melihatmu, nak. Yaa Tuhan, kamu benar-benar sudah dewasa. Lihatlah dirimu sekarang. Kamu tampan sekali. Dan kamu bahkan lebih tinggi dari papa." Kata Hans pandangan yang menyusuri tubuh Edo dengan tatapan haru dan bangga.
"Tapi papa tetap lebih tampan dariku." Sahut Edo lalu kembali memeluk Hans.
"Papa apa kabar..?? Aku kangen banget sama papa." Kata Edo kembali terisak dalam pelukan ayahnya.
"Papa baik, nak. Papa juga kangen banget sama kamu. Maafkan papa, Ed. Maafkan papa." Sahut Hans.
Semua orang di ruang keluarga menatap haru pada dua orang yang telah terpisah begitu lama. Kira terus menggenggam erat tangan Shaka. Dia bahagia melihat pertemuan Hans dan Edo. Tapi di saat bersamaan juga timbul rasa takut akan perpisahan yang telah nampak di depan mata. Dia sangat menyayangi Edo. Meski dia rela melepaskan pemuda itu kembali pada Hans, tetap saja terasa berat untuknya.
Setelah pertemuan mengharukan antara Hans dan Edo, mereka makan malam bersama di ruang makan besar. Suasana hangat keluarga benar-benar menyelimuti mereka meski tentu saja tetap diisi dengan keributan diantara keenam anak Rahardian.
Hans merasakan hatinya begitu hangat. Terakhir kali dia merasakan kehangatan keluarga adalah saat mendiang istrinya masih hidup. Sebelum itu dan sesudah kepergian Jenna, hidup Hans terasa dingin dan hampa. Hans terus menatap Edo yang terlihat begitu bahagia. Dia tertawa saat melihat bagaimana putranya begitu bawel pada adik-adiknya, tapi disaat bersamaan juga terlihat begitu menyayangi dan memanjakan mereka.
Tiba-tiba muncul keraguan dalam hati Hans. Sebagai seorang ayah tentu saja dia ingin bersama dengan Edo, apalagi mereka terpisah begitu lama. Tapi dia juga takut jika ternyata hal itu akan merenggut kebahagiaan putranya.
Dahi Hans berkerut saat melihat wajah Kira yang begitu pucat dan tampak lemah. Sebenarnya sejak dia datang Hans sudah melihat Kira yang terlihat sedikit pucat. Tapi dia mengira itu karena Kira yang tengah hamil. Hans mulai kawatir karena sekarang dia melihat Kira yang sangat pucat.
"KIRAAAA..!!" Seru Shaka saat tiba-tiba tubuh Kira roboh di sampingnya.
"Mommy..!!" Seru Edo bergegas menghampiri Kira yang sudah tidak sadar.
"Ed, tolong panggil suster Hani." Kata Shaka sambil mengangkat tubuh Kira dan membawanya ke kamar mereka.
"Apa yang terjadi..??!!"" Tanya Hans terkejut.
"Nanti kami jelaskan." Kata Darius sambil menenangkan kelima anak Kira bersama Edna.
Tak lama Edo memasuki kamar Shaka bersama Hans dan suster Hani. Wanita paruh baya itu tampak menangani Kira dengan cekatan. Setelah memeriksa kondisi Kira, suster Hani mengambil sample darah Kira dan menyimpannya karena akan ada orang yang mengambilnya untuk diperiksa. Suster Hani lalu menghubungi salah satu dokter yang menangani Kira.
"Tekanan darah bu Kirana sangat rendah. Saya akan memasang infus dan memberikan obat untuk membantu menaikkan tekanan darahnya. Tapi bila hasil lab darah bu Kirana tidak baik, kemungkinan beliau perlu tranfusi darah." Kata suster Hani dengan menghela napas berat.
"Seiring dengan bertambahnya usia kandungan bu Kirana hal ini akan semakin sering terjadi." Lanjut suster Hani seakan memperingatkan.
Shaka duduk di samping Kira sambil terus menciumi tangan wanita itu. Dia hanya bisa menahan tangis sembari terus menatap wajah Kira dan sesekali mengelus kepala istrinya.
Hans terhenyak melihat raut wajah Shaka yang terlihat begitu putus asa. Hans mengenalinya karena seperti itulah dia saat Jenna sakit dan kondisinya terus memburuk.
"Ed, apa mommy-mu sakit..??" Tanya Hans.
"Iya, pa. Dan dokter hanya bisa terus berusaha menjaga kondisi mommy agar tetap stabil sampai mereka menemukan jalan keluar untuk menolong mommy." Jawab Edo dengan suara tercekat. Mata Edo terus memandang Shaka dan Kira dengan tatapan sedih.
"Aku akan kembali ke ruang makan. Anak-anak pasti sedang ketakutan." Kata Edo sembari beranjak meninggalkan kamar Kira dengan diikuti Hans.
Sesampainya di ruang keluarga, Edna tampak kewalahan membujuk Nara yang terus menangis. Gadis kecil itu sangat terkejut saat melihat ibunya tiba-tiba pingsan dihadapannya. Edo bergegas mengambil Nara dari gendongan Edna.
"Eyang, biar Nara sama aku saja." Kata Edo.
"Hei, princess.. jangan menangis lagi. Mommy tidak apa-apa." Kata Edo sambil mengayun-ayun tubuh kecil Nara.
"Tapi tadi mama jatuh." Kata Nara di sela tangisnya.
"Iya, tapi mommy sudah baik. Kalo princess nangis terus nanti tidak ada pangeran yang datang gimana..??" Bujuk Edo sambil menghapus air mata Nara. Perlahan gadis kecil itu mulai berhenti menangis.
"Papa..!! Dimana Kira..??!!" Tanya Yudha yang tampak berlari kecil menghampiri Darius.
"Dikamarnya bersama Shaka." Jawab Darius.
"Hans..?? Itu kamu..??" Tanya Yudha terkejut.
"Ya. Aku bebas pagi ini." Jawab Hans dengan tersenyum ramah pada Yudha.
"Tunggulah disini. Banyak yang harus kita bicarakan. Aku harus melihat Kira terlebih dulu." Kata Yudha sebelum bergegas ke kamar Shaka dan Kira.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Darius sambil menggelengkan kepala.
Tak lama Yudha kembali ke ruang keluarga bersama Shaka. Edna dan Rania tengah menjaga Kira. Sementara Dit-dit berusaha mengalihkan perhatian Satria dan Nara dengan mengajak mereka bermain di kamar.
Shaka, Darius, Yudha, Edo, dan Hans duduk bersama di ruang keluarga. Hans yang masih tidak mengerti apa yang terjadi merasa kebingungan.
"Sebenarnya apa yang terjadi..?? Kirana sakit apa..??" Tanya Hans kawatir sekaligus penasaran.
"Hans, Kira sakit karena kejadian 11 tahun yang lalu. Saat penculikan Dit-dit." Jawab Yudha.
"Apa..??!!" Sahut Hans terkejut.
"Saat kejadian itu Kira kehilangan banyak darah. Dan selama tidak sadar Lucas terus mencecokinya dengan obat yang membuat kondisinya terus menurun. Meski saat itu kondisi Kira membaik. Tapi ternyata obat itu memiliki efek jangka panjang. Secara perlahan obat itu membuat kesehatan Kira terus menurun." Kata Yudha.
"Yaa Tuhan.. apa yang sudah aku lakukan..??!!" Kata Hans dengan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia semakin merasa bersalah setelah mengetahui keadaan Kira.
"Hans, tolong katakan padaku. Obat apa yang telah diberikan Lucas pada Kira..?? Dulu aku sudah mencoba mencari tahu dengan memeriksa darah Kira. Tapi aku tidak mengenali jenis zat yang terkandung di dalamnya. Aku perlu tahu apa yang terkandung di dalamnya agar bisa memberikan obat yang tepat untuk Kira." Tanya Yudha dengan penuh harap.
"Maaf, Yudha. Tapi aku benar-benar tidak tahu. Hubunganku dengan Lucas dulu hanya sebatas kerjasama untuk mendapatkan Dit-dit dan Baskara yang ingin menyingkirkanmu." Jawab Hans. Yudha langsung terlihat lemas mendengar jawaban Hans.
"Kamu sudah coba bertanya pada Baskara..??" Tanya Hans.
"Sudah. Dan dia terus tutup mulut. Sampai akhirnya aku menekan dia dan Baskara pun mengatakan kalau sebenarnya dia tidak tahu. Baskara hanya menerima obat itu tanpa banyak bertanya." Kata Yudha.
"Kalian sudah coba cari tahu melalui sepupu Lucas..??" Tanya Hans.
"Sepupu..?? Lucas punya sepupu..??" Shaka balik bertanya.
"Ya. Setahuku mereka sangat dekat. Dan sepupunya itu adalah tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Lucas. Dulu dia yang menghubungiku saat pertama kali menawarkan Dit-dit sebagai donor organ. Dan setelah Lucas dipenjara, orang itu terus menjalankan bisnis haram mereka. Dia juga yang terus menjadi penghubungku selama Lucas dipenjara. Karena itu Lucas tetap memiliki kekuasaan meski mendekam didalam sel. Tapi yang aku dengar, saat kejadian tewasnya Lucas dia sedang berada di luar negeri. Aku tidak tahu apakah dia sudah kembali atau menetap disana untuk menghindari kejaran polisi." Kata Hans.
"Siapa nama orang itu..??" Tanya Darius.
"Arian. Arian Hutama." Jawab Hans cepat.
"Arian..?? Anak bungsu keluarga Hutama..??" Tanya Yudha.
"Benar. Dia pernah mengatakan bahwa ibunya adalah adik dari ayah Lucas. Dan kakak sulungnya menikah dengan penerus keluarga Herlambang. Tentu saja keluarganya tidak ada yang tahu mengenai bisnis haram yang dia jalankan bersama Lucas." Jawab Hans.
"Keluarga Herlambang pemilik Scarlett group..??" Tanya Shaka dingin.
"Benar." Jawab Hans cepat.
"Siaaaaaalll..!!" Desis Shaka. Benaknya tiba-tiba seakan menyatukan kepingan-kepingan puzzle menjadi satu.
"Daddy..??" Panggil Edo saat dilihatnya Shaka menunduk dan meremas erat rambutnya dengan kedua tangan.
Shaka masih menunduk dan tertawa kecil. Tawa yang entah kenapa terdengar menakutkan di telinga mereka.
"Bodoh..!! Shaka, kamu benar-benar bodoh..!!" Geram Shaka pada dirinya sendiri.
Shaka bangkit dari duduknya. Dia tampak memandang berkeliling dengan raut wajah mengerikan. Lelaki itu tiba-tiba mengamuk dan melempar barang-barang yang ada di ruang keluarga.
"Baj**gan..!! Bre**sek..!! Gue habisin lo Arian..!! Aaaargh..!!" Raung Shaka sambil terus menghancurkan ruang keluarganya.
"Shaka..!! Hentikan..!!" Seru Darius.
"Arian..!! Gue bakal hancurin hidup lo..!!" Raung Shaka dengan suara menggelegar.
"Shaka, Apa yang kamu lakukan..??!! Hentikan..!!" Seru Yudha sambil berusaha menghentikan Shaka dengan dibantu Edo dan Hans. Tapi rupanya Shaka yang tengah diselimuti amarah benar-benar susah ditaklukkan.
"Shakaaa..!!" Seru Adam yang ternyata datang setelah mendengar kabar tentang Kira dari Yudha. Meski cukup lama, Adam akhirnya dapat melumpuhkan Shaka.
Adam terkejut melihat amarah Shaka. Sejak pertama bertemu Shaka, dia dan keluarganya tidak pernah melihat Shaka seperti ini. Adam merasa seolah melihat sisi lain Shaka yang selama ini tertidur.
"Shaka, aku mohon tenanglah. Kamu akan menakuti anak-anakmu." Kata Hans mencoba menyadarkan Shaka.
Mendengar Hans berbicara mengenai anak-anaknya membuat Shaka seketika tersadar. Dia memandang sekeliling dan bernapas lega saat dilihatnya tidak ada satupun anaknya berada disana. Meski bisa dipastikan saat ini mereka mungkin tengah meringkuk ketakutan di kamar mereka karena mendengar keributan yang dia buat. Shaka menoleh ke arah Edo, dilihatnya pemuda itu menatapnya dengan kawatir.
"Maafkan daddy, Ed. Maaf daddy membuatmu takut." Kata Shaka dengan memeluk Edo erat.
Edo hanya diam dan membalas pelukan Shaka. Dia pernah sekali melihat Shaka marah saat menghajar Kate dan Herman. Tapi tidak semarah ini.