
Adam berjalan dengan diiringi Yudhi di dalam lobby gedung Hutama Corp milik keluarga Arian Hutama. Tubuh tegapnya yang tinggi besar terlihat menonjol diantara orang-orang dalam lobby itu. Adam berjalan dengan tenang, terlihat berwibawa meski wajahnya terlihat begitu dingin.
Yudhi yang berjalan di samping Adam hanya diam sambil sesekali melirik kakak sulungnya. Dia tahu Adam sedang murka karena ulah Arian yang berani menculik Satria dan menyebabkan kondisi Kira kembali turun.
"Kami ingin bertemu Arian Hutama." Kata Yudhi pada petugas resepsionis.
"Apakah sebelumnya sudah ada janji..??" Tanya gadis itu sambil menatap Yudhi tanpa berkedip. Diusianya yang menginjak 41 tahun, Yudhi justru terlihat semakin tampan dan menarik.
"Katakan Adam dan Yudhi Hardisiswo dari Phoenix Group ingin bertemu." Jawab Yudhi tegas.
Mendengar nama Hardisiswo dan Phoenix group membuat gadis itu terkejut dan gugup. Dia bergegas meraih telpon untuk mengabarkan kedatangan Adam dan Yudhi. Setelah menutup telponnya gadis itu tampak memberi tanda pada salah satu petugas security untuk datang.
"Pak Arian menunggu pak Adam dan Pak Yudhi di ruangannya. Security akan mengantar anda berdua. Silakan." Kata gadis itu sopan.
"Terima kasih." Kata Yudhi singkat setelah menoleh sejenak ke arah security.
Adam dan Yudhi berjalan mengikuti security yang mengantar mereka ke ruangan Arian. Adam tersenyum sinis saat melihat deretan angka yang tertera pada panel lift khusus CEO. Gedung itu terdiri dari 14 lantai. Jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan gedung pusat Phoenix Group yang mencapai 50 lantai.
Phoenix group memiliki banyak anak perusahaan dan masing-masing memiliki banyak cabang baik di dalam maupun luar negeri. Hampir semua anak perusahaan terpusat di gedung itu hingga Adam dan Yudhi lebih mudah mengawasinya. Hanya Orchid Hospital dan 17 anak perusahaan yang kantor pusatnya terpisah dari gedung itu. Itupun karena pusat usaha mereka ada di luar pulau Jawa atau luar negeri.
Adam dan Yudhi berjalan masuk ke dalam ruangan Arian setelah petugas security itu membukakan pintu. Arian terlihat duduk tenang di kursi kebesarannya.
"Adam.. Yudhi.. akhirnya kita bertemu lagi." Kata Arian sambil berjalan menuju sofa dan memberi tanda pada Adam juga Yudhi untuk duduk.
"Langsung saja pada intinya. Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi." Kata Adam dingin.
"Masih sama seperti dulu. Tidak sabaran." Cibir Arian.
"Dan kamu juga masih sama bodohnya seperti dulu. Tidak pandai memilih lawan." Balas Adam sinis. Arian mengetatkan rahangnya saat mendengar jawaban Adam.
"Apa kamu ingat saat SMA dulu aku pernah menghajarmu dan memintamu berhenti mengganggu Kira..?? Tapi otak bodohmu tidak menerima pesanku dengan baik sampai akhirnya aku menghancurkan perusahaan ini." Kata Adam dingin dengan tatapan mata yang berkilat marah.
"Saat itu aku hanya pemuda 24 tahun yang sedang belajar untuk menggantikan ayahku sebagai CEO. Tapi aku bisa menghancurkan keluargamu dengan mudah bahkan tanpa campur tangan ayahku. Aku masih ingat saat ayahmu datang dan memohon padaku untuk melepaskan keluarga kalian." Cibir Adam.
"Jadi kamu mengancamku lagi..??" Tanya Arian dingin.
"Aku hanya memperingatkanmu." Jawab Adam.
"Dengar. Selama ini aku diam karena Shaka tidak mengijinkan aku untuk ikut campur. Dan selama itu pula kamu punya banyak kesempatan untuk berhenti. Tapi rupanya dengan bertambahnya usia otakmu justru bertambah bebal." Lanjut Adam. Mata elangnya tidak lepas sedikitpun dari Arian. Membuat nyali lawannya diam-diam menciut.
"Kamu pasti tahu kalau aku bukan lagi pemuda ingusan yang kamu hajar 26 tahun lalu." Balas Arian menyembunyikan ketakutannya.
"Kalau yang kamu maksud adalah bisnis ilegal dan para preman peliharaanmu, pikirmu aku tidak bisa mengatasi semua itu..??" Tanya Adam dengan seringai menakutkan.
"Ingat. Bahkan Lucas, sepupu yang juga bos mu pernah dua kali kalah dariku. Bahkan pada akhirnya dia mati dan keluarganya berantakan. Kenapa kamu pikir aku tidak bisa melakukannya padamu..?? Aku sangat mampu untuk menghancurkan setiap orang yang memiliki darah keluarga Miller dan Hutama. Membuat mereka hidup di jalanan dan para wanita hidup sebagai pe**cur. Dan kali ini, aku tidak akan berbelas kasih dengan mengampuni satupun dari kalian. Termasuk kakak sulungmu, Vanessa dan putrinya yang tengah mengandung anakmu. Tidak peduli meski keluarga Janssen akan melindungi mereka. Bagiku menghancurkan keluarga Herlambang dan Janssen akan menjadi bonus. Meski aku tidak akan suka untuk melakukannya." Lanjut Adam dengan tatapan penuh ancaman.
"Ba**ngan..!! Jangan berani sentuh Kate..!!" Seru Arian sambil meraih tubuh Adam dan mencengkeram kerah bajunya.
Yudhi yang duduk disamping Adam dengan sigap menarik tangan Arian lalu mengunci tangannya dan menekan kepala lelaki itu ke atas meja hingga tidak berkutik.
"Bre**sek..!! Lepaskan aku..!!" Seru Arian sembari berusaha melepaskan diri.
"Beri aku alasan untuk melepasmu. Kamu hanyalah laki-laki bre**sek yang terus mengusik kakakku sejak kita SMA. Dan harusnya kamu bersyukur, Arian. Karena aku yang menjatuhkanmu. Kalau kak Adam yang melakukannya, pastinya kamu akan kehilangan tanganmu saat ini juga." Desis Yudhi.
"Aaaaaaaargghh..!!" Teriak Arian kesal dan menahan rasa sakit. Matanya tampak berkilat karena amarah dan juga rasa takut.
Adam hanya tertawa pelan dengan wajah mengerikan. Dia mencengkeram kepala Arian dan menariknya hingga menengadah dan bertatap muka dengannya. Yudhi terus menahan tubuh Arian sambil berjaga-jaga jika kakaknya mengamuk. Dia sangat tahu bagaimana Adam saat sudah benar-benar murka. Siapapun tidak akan bisa lepas dari genggamannya dan pasti akan bernasib buruk.
"Sekarang pilihan ada di tanganmu Arian. Berhenti mengusik keluargaku atau melihat kehancuran seluruh keluarga Miller dan Hutama..??" Tanya Adam dengan terus menatap tajam pada Arian.
"Bahkan jika kamu mengandalkan koneksi dan anak buahmu yang ada di luar negeri. Hanya dengan satu kali telpon kepada keluarga Ivanov, besok kamu akan mendengar kabar bahwa semua orang yang kamu kenal menghilang." Lanjut Adam penuh ancaman. Mata Arian terbelalak mendengar Adam menyebut nama keluarga Ivanov.
"Apa hubunganmu dengan keluarga Ivanov..??" Tanya Arian dengan suara tercekat.
"Mereka keluarga ibuku." Jawab Adam dengan senyum miring.
Wajah Arian berubah pucat saat mendengar ancaman Adam. Dia tidak menyangka Edna adalah anak dari keluarga Ivanov yang menjadi legenda di Rusia.
Tidak banyak yang tahu mengenai latar belakang Edna karena dia dan saudara-saudaranya lahir dan tumbuh di negara ini. Pada umumnya orang hanya tahu bahwa ayah Edna adalah ekspatriat yang bekerja pada salah satu perusahaan di Indonesia kemudian jatuh cinta pada ibunya yang orang pribumi, menikah, dan memiliki beberapa anak. Kakek Edna menyembunyikan putranya di Indonesia karena saat itu banyak ancaman yang datang kepada anak-anak keluarga Ivanov di Rusia.
Alasan hubungan Darius dan Edna ditentang oleh dua pihak keluarga pun karena keluarga Ivanov yang pernah menjadi salah satu pemimpin mafia besar di Rusia. Keluarga Hardisiswo tidak bisa menutup mata pada masa lalu keluarga Ivanov, meski kakek Edna sudah benar-benar berhenti setelah memiliki anak. Sedangkan keluarga Edna tidak menyetujui hubungannya dengan Darius karena merasa terhina setelah melihat penolakan keluarga Hardisiswo.
Saat marah, kelima anak Hardisiswo mewarisi sisi gelap keluarga Edna. Mereka tidak akan segan menyakiti lawan-lawan mereka. Tapi Adam dan Rendra yang paling menakutkan saat mengamuk, mereka benar-benar tidak pandang bulu saat harus menghancurkan lawan-lawan mereka. Terutama Rendra. Sifatnya yang sabar dan cenderung pendiam membuat orang tidak bisa menebak apa yang bisa dia lakukan.
"Kenapa kamu diam..?? Kesempatanmu hanya sekarang. Karena setelah aku keluar dari ruangan ini, aku tidak akan melepas satupun keturunan Miller dan Hutama." Tanya Adam sekali lagi sambil mencengkeram kuat wajah Arian yang tubuhnya masih dikunci oleh Yudhi.
"Ampuni aku. Tolong lepaskan keluargaku. Mereka adalah orang-orang baik yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku mohon." Pinta Arian dengan wajah putus asa.
"Kamu akan melepaskan Kira dan keluarganya..??" Tanya Adam dengan tatapan dingin yang seakan mampu mencabut nyawa Arian saat itu juga.
"Aku akan melepaskan mereka dan tidak akan mengusik mereka lagi." Jawab Arian dengan suara bergetar.
"Bagus. Dan jangan libatkan mereka dalam urusanmu dengan keluarga Herlambang. Aku memang jijik denganmu yang telah merusak darah dagingmu sendiri. Tapi itu urusan pribadimu dengan mereka. Aku tidak akan ikut campur. Setelah ini perusahaan Shaka akan tetap menjalin kerjasama dengan mereka. Dan itu juga urusan diantara mereka. Kalau kamu sampai mengusiknya. Kamu akan kembali berhadapan denganku. Mengerti..??" Desis Adam tepat dihadapan wajah Arian yang tengah kesakitan.
"Aku mengerti. Sekarang tolong lepaskan aku." Pinta Arian dengan suara bergetar.
Yudhi menoleh kepada kakaknya. Perlahan dia melepaskan Arian setelah menerima tanda dari Adam.
"Sekarang katakan padaku, obat apa yang dulu Lucas berikan saat Kira mengalami kecelakaan karena ulah kalian..??" Tanya Adam. Matanya masih menatap lekat pada Arian dengan penuh ancaman.
"Aku tidak tahu. Saat itu kami sedang mencoba membuat narkoba jenis baru. Narkoba kualitas tinggi dengan harga lebih murah. Tapi para peracik kami gagal. Saat melakukan percobaan setiap orang yang menggunakannya justru sakit. Awalnya mereka mengatakan bahwa narkoba itu sangat bagus. Mereka bahkan bisa merasakan tidur nyenyak. Tapi setelah itu mereka justru mulai sakit. Memang tidak ada yang mengalami gejala overdosis, tapi setelah itu tubuh mereka melemah. Ternyata meski memberi efek yang mereka harapkan, obat itu juga telah merusak sel darah mereka. Orang-orang itu bahkan mengalami gejala seperti Leukemia karena terus menggunakan obat tersebut. Tapi tetap saja, efek luar biasa dari obat itu membuat mereka mengabaikan semuanya. Mereka lebih memilih mati perlahan selama bisa menggunakan obat itu." Jawab Arian.
"Bre**sek..!! Bahkan tanpa obat ke**rat itu mereka akan tetap mati perlahan." Desis Yudhi.
"Tentu. Tapi tidak secepat itu. Kami akhirnya menghancurkan semuanya. Karena percuma saja kalau semua pembeli kami justru akan mati setelah menggunakannya. Yang ada kami justru akan bangkrut karena tidak ada yang membeli barang kami." Sahut Arian sinis.
"Jadi maksudmu kamu tidak tahu apa yang terkandung dalam benda terkutuk itu..??" Geram Adam.
"Aku tidak tahu. Tahu pun akan percuma karena tidak akan mengurangi efeknya. Tapi seingatku Kira hanya mendapatkannya selama 2 hari, itupun dalam dosis sangat kecil karena Lucas tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Karena itu efek obatnya muncul secara perlahan." Kata Arian.
"Berdoalah agar adikku selamat. Karena kalau tidak, aku akan membuatmu membayar semuanya." Kata Adam dingin sambil mencengkeram kerah baju Arian lalu kembali menghempaskannya.
"Satu lagi. Siapa orang yang selama ini mengirim ancaman pada keluarga Shaka..??" Tanya Adam.
"Bukan aku." Jawab Arian cepat. Adam hanya diam dan terus menatap lekat pada Arian dengan tatapan dingin.
"Aku rasa itu semua ulah sekretaris Shaka. Dia dan ibunya memiliki dendam kepada Shaka. Karena itu dia berusaha mendapat pekerjaan di perusahaan Shaka begitu juga dengan ibunya." Lanjut Arian.
"Rosi..??" Tanya Yudhi.
"Iya. Dulu sebelum bertemu Kira, Shaka adalah orang yang hidupnya berantakan. Hampir setiap hari dia dan kedua temannya menghajar orang tanpa alasan jelas. Suatu hari karena mabuk Shaka dan kedua temannya lepas kendali. Dia menghajar kakak Rosi hingga akhirnya koma selama beberapa tahun dan akhirnya meninggal 5 tahun yang lalu. Ibunya juga bekerja untuk Shaka dan keluarganya." Kata Arian menjelaskan.
"Siapa ibu Rosi..??" Tanya Yudhi lagi.
"Suster Hani. Perawat yang selama ini merawat Kira." Jawab Arian. Wajah Adam tampak menegang.
"Apa aku bisa mempercayaimu..??" Tanya Adam dingin.
"Dengar. Setelah bertemu dengan Kira di acara reuni aku juga menyelidiki orang-orang kepercayaan Shaka, termasuk Fahri dan Rosi karena mereka yang menggantikan Shaka dalam kerjasama dengan Scarlett. Semua itu karena aku dan Kate sedang mencari celah untuk memisahkan Shaka dan Kira. Saat itulah aku menemukan kejanggalan dalam informasi mengenai Rosi karena ternyata dia telah mengganti seluruh identitasnya. Aku sengaja tidak mengatakan pada Kate tapi terus mengawasi Rosi dari jauh. Saat itulah aku tahu tentang masa lalu mereka. Percayalah..!! Aku tidak berbohong..!!" Jawab Arian.
"Kali ini aku melepasmu dan akan memastikan informasi yang kamu berikan. Kalau ternyata kamu berbohong, aku akan menghabisimu sampai tidak bersisa." Kata Adam.
"Kamu boleh memastikannya sendiri. Aku memang tidak berbohong." Sahut Arian.
"Lihat saja nanti." Kata Adam sambil menepuk pelan pipi Arian.
"Kak, kita harus pergi sekarang. Ada meeting yang harus kita hadiri." Tegur Yudhi.
Adam diam dan kembali menatap Arian sejenak, lalu tanpa mengatakan apapun berjalan ke arah pintu keluar dengan di ikuti Yudhi.
*******************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza