(Family) Bound

(Family) Bound
Kapan Menikah..??



"Assalamualaikum." Justin mengucap salam. Hari ini dia senggang dan ingin mengunjungi ibunya.


"Walaikumsalam." Sahut ibu Justin sambil menoleh ke arah pintu.


Senyum bahagia langsung menghiasi wajah wanita yang masih tampak cantik di usianya yang tidak lagi muda.


"Justin..!! Anak ibu hari ini pulang rupanya." Seru Wahyuni sambil memeluk tubuh putranya.


"Aku kangen banget sama ibu." Kata Justin sambil mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di puncak kepala ibunya.


"Bagaimana kabar putra ibu..?? Kenapa masih belum membawa calon menantu ibu..??" Cecar Wahyuni. Justin hanya tertawa pelan mendengar tuntutan ibunya.


"Alhamdulillah kabarku baik, bu. Ibu masak apa..?? Aku lapar." Jawab Justin sambil berjalan ke arah meja makan.


"Cckkk.. Jangan mengalihkan pembicaraan. Kali ini ibu tidak akan melepaskanmu begitu saja." Sungut Wahyuni kesal tapi tetap sambil mengambilkan makanan untuk anak semata wayangnya.


"Waaaah.. tumis kangkung sama ayam goreng..!!" Seru Justin sambil menggosokkan kedua tangan saking semangatnya, mengabaikan wajah ibunya yang ditekuk karena tidak mendapatkan jawaban dari putranya.


"Selamat makaaann..!!" Seru Justin.


"Eeeeh..!!" Justin tertegun saat tangan yang akan menyuapkan makanan ditahan oleh ibunya.


"Jawab dulu pertanyaan ibu. Kapan kamu akan membawa calon menantu buat ibu." Tanya Wahyuni sambil menatap tajam pada putranya.


"Sedang diusahakan." Jawab Justin sambil buru-buru menyuapkan makanan saat dirasa ibunya lengah.


"Maksudnya..?? Kamu sudah punya calon..??" Tanya Wahyuni bersemangat. Justin hanya mengangguk sambil terus menyuapkan makanan.


"AKHIRNYAAAAA..!!" Seru Wahyuni nyaris berteriak. Justin yang sedang mengunyah makanannya tersedak karena terkejut mendengar jeritan ibunya.


"Ini... minum dulu." Kata Wahyuni sambil menyodorkan air pada Justin.


"Ibu apa-apaan sich..??!!" Protes Justin.


"Tidak usah protes. Ibu terlalu senang karena anak ibu akhirnya mau menikah. Apa kamu tahu kalau ibu sudah tidak sabar gendong cucu..??" Seru Wahyuni sambil memukul pelan bahu Justin yang terus melanjutkan makannya.


"Bukannya ibu sudah punya banyak cucu..??" Sahut Justin setelah menelan makanannya.


"Itu kan anak teman-temanmu. Walaupun ibu sudah menganggap mereka seperti anak sendiri, tapi tetap saja ibu ingin punya cucu dari kamu." Wahyuni balik protes pada putranya. Justin hanya bisa menggaruk kepalanya sambil mendengus kesal.


"Jadi.. siapa gadis itu..?? Dari mana asalnya..?? Dari keluarga mana..?? Aaaah.. tidak.. tidak.. tidak masalah dia berasal dari mana ataupun keluarganya. Yang penting dia gadis baik dan mencintaimu." Cecar Wahyuni tidak sabar.


Justin meletakkan sendok dan garpunya karena sudah selesai makan lalu menenggak habis minuman yang ada di hadapannya. Dia menggaruk pelipisnya karena bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan ibunya. Akhirnya dia menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai bicara.


"Bu, aku belum bisa mengajak dia untuk menemui ibu." Kata Justin.


"Kenapa..??" Tanya Wahyuni penasaran.


"Aku sedang berusaha meyakinkan orangtuanya." Jawab Justin.


"Apa orangtuanya tidak setuju dengan hubungan kalian..??" Kejar Wahyuni.


"Aku hanya sedang meyakinkan mereka kalau aku serius dan tidak main-main dengan keinginanku menikahi dia." Jawab Justin lagi.


"Sebenarnya siapa nama gadis itu..??" Tanya Wahyuni penuh curiga. Entah kenapa dia merasa gelagat aneh dari putranya.


"Aku akan mengatakan semuanya pada ibu, tanpa menutupi apapun. Tapi ibu harus janji akan menunggu sampai aku selesai berbicara. Dan ibu akan menerima semua informasi ini dengan pikiran terbuka." Pinta Justin.


Setelah berbicara dengan Shaka dan Kira, Justin memang berencana untuk berterus-terang pada ibunya karena ingin semua berjalan dengan lancar. Baginya, restu ibu adalah segalanya.


Wahyuni menatap Justin dengan penuh selidik. Tapi melihat wajah putranya yang terlihat serius, dia pun akhirnya mengangguk. Justin lalu berdiri dan menuntun ibunya untuk duduk di ruang keluarga bersamanya.


"Ibu pasti tahu Shaka kan. Salah satu teman baikku." Tanya Justin hati-hati. Wahyuni kembali mengangguk dengan perasaan semakin was-was.


"Gadis yang aku maksud adalah putri sulung Shaka dan kak Kira." Lanjut Justin.


Mata Wahyuni terbelalak karena terkejut. Dia langsung berdiri dan melepas sebelah sandalnya.


"Justiiiinn..!! Bisa-bisanya kamu jatuh cinta pada anak kecil seperti Rania..!!" Seru Wahyuni sambil memukul tubuh Justin bertubi-tubi menggunakan sandalnya.


"Aduuuuuh.. aduuuuuh.. ampun, ibu..!! Astaga, bu. Dia sudah beranjak remaja..!!" Seru Justin sambil berusaha menghindari pukulan ibunya.


"Berapa umur Rania..??!!" Tanya Wahyuni.


"12 tahun." Jawab Justin tergagap.


"Berapa umurmu..??!!" Seru Wahyuni dengan suara semakin keras.


"31 tahun." Jawab Justin semakin tergagap.


"Kamu dengar sendiri perkataanmu tadi..!! Beda usia kalian 19 tahun. Dan demi Tuhan, Justin. Rania masih 12 tahun. Pantas saja Shaka dan Kira tidak yakin denganmu. Lagian mau umur berapa kamu menikahinya..??!!" Seru Wahyuni sambil menarik gemas telinga putranya.


"Aduuuuuh.. aduuuuuh.. ampun, bu..!! Dengarkan aku dulu..!!" Seru Justin sambil berusaha melepas tangan ibunya.


"Sekarang jelaskan..!!" Perintah Wahyuni pada anaknya. Dia kembali duduk di depan Justin yang masih mengelus telinganya yang memerah karena dia jewer.


"Aku sudah bicara pada Shaka dan kak Kira. Awalnya reaksi mereka sama dengan ibu. Tapi akhirnya mereka memberi kesempatan padaku untuk membuktikan ucapanku. Semua akan tetap berjalan seperti biasanya. Aku juga tidak akan mengikat Rania dengan Ikatan apapun, dia akan tetap menjalani hidupnya seperti anak-anak seusianya. Setelah usianya 20 tahun atau setidaknya sampai dia lulus SMA, baru aku akan menikahinya. Itu pun kalau dia menerima lamaranku. Kalau ternyata dia menolak, aku tidak boleh memaksa Rania untuk menerimaku." Jelas Justin panjang lebar.


"Astaga, Justin." Desah Wahyuni sambil memijat pelipisnya pelan.


"Bu, aku serius dengan perasaanku. Aku juga serius dengan keinginanku menikahi Rania." Kata Justin sambil menatap lekat wajah ibunya.


Justin bangkit dari duduknya lalu berlutut di depan Wahyuni. Dia menggenggam erat kedua tangan ibunya dan menatap pada kedua mata wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Bu.. Ibu sudah lama tidak bertemu Rania kan..?? Dia sekarang sudah terlihat semakin dewasa, bu. Dia begitu cantik. Rania juga gadis yang mandiri dan pandai mengurus keluarganya. Apa ibu tahu, sejak kak Kira sakit dia yang mengambil alih sebagian tugas ibunya untuk mengurus keluarganya..?? Dia juga cerdas dan pemberani. Melihat Rania yang seperti itu aku menjadi takut, bu. Takut kalau pada akhirnya dia tidak akan pernah menyadari perasaanku dan memilih laki-laki lain." Lanjut Justin.


"Tapi Rania masih kecil, nak. Dia belum tahu apa-apa. Dan bagaimana kalau saat waktu yang ditentukan tiba, ternyata dia mencintai laki-laki lain..??" Tanya Wahyuni.


"Maka aku akan melepaskannya, bu. Aku tahu resiko yang aku hadapi. Tapi aku sudah siap. Aku memang mencintai Rania, bukan berarti aku akan memaksa dia untuk membalas perasaanku." Jawab Justin.


"Lalu bagaimana denganmu..??" Tanya Wahyuni kawatir.


"Ckkk.. meski kamu terus menolak, tapi ternyata darah tetap lebih kental daripada air. Buktinya kamu mengulang kisah kakekmu. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya." Cibir Wahyuni.


"Maksud ibu .??" Tanya Justin sambil menautkan kedua alisnya.


"Kakekmu. Ayah ibu. Dia juga menikahi putri sahabatnya. Ibuku. Perbedaan usia mereka bahkan 25 tahun. Kakekmu waktu itu nekat menghamili nenekmu yang baru berusia 19 tahun hanya demi mendapatkan restu dari sahabatnya." Dengus Wahyuni kesal. Justin mengangkat kedua alisnya mendengar penjelasan Wahyuni.


"Jangan berani bertindak kurang ajar pada gadis kecil itu..!! Atau ibu sendiri yang akan membuatmu menyesal..!!" Seru Wahyuni.


"Astagfirullah, ibuuu.. segitu tidak percayanya sama anak sendiri. Aku memang cinta sama Rania, pingin nikahin dia. Tapi bukan berarti aku akan mengikuti jejak Hendra Wongsonegoro dalam mendapatkan cintanya." Sungut Justin kesal karena disamakan dengan kakeknya.


"Kakek, Justin. Bagaimanapun juga dia itu ayahku. Artinya dia juga kakekmu." Tegur Wahyuni.


"Iyaaa.. iyaaa.. kakek." Sahut Justin kesal. Entah kenapa mulutnya terasa gatal mengucapkan kata KAKEK.


"Lagian ya, bu. Perjuangan kakek sampai seperti itu demi cintanya. Tapi kenapa kakek tidak setuju dengan hubungan ibu dan ayah..?? Harusnya kakek lebih tahu bagaimana perasaan ibu dan ayah." Tanya Justin. Wahyuni hanya terdiam mendengar pertanyaan Justin.


"Sudahlah, bu. Jangan dibahas lagi." Kata Justin saat melihat tatapan ibunya yang menerawang.


"Jadi karena ini kamu minta bantuan orang-orang kakek untuk menyelidiki kasus Shaka..??" Tanya Wahyuni mengalihkan pembicaraan.


"Darimana ibu tahu..??" Tanya Justin sambil menautkan kedua alisnya.


"Ibu sudah menganggap Shaka seperti anak ibu sendiri. Setelah kamu bercerita tentang masalah yang dihadapi Shaka, ibu meminta bantuan kakek dan oom Anin untuk menyelidiki. Ternyata kamu juga meminta bantuan pada orang-orang yang kakek utus untuk menjagamu." Jawab Wahyuni.


Justin berdecak kesal. Dia tidak suka ibunya meminta bantuan pada kakeknya dan Anindya, adik ibunya.


"Jangan merajuk dulu. Ibu melakukan ini karena sayang pada Shaka dan ibu percaya dengan dia. Apalagi Shaka bakal jadi calon besan ibu. Ibu tidak rela kalau sampai calon menantu ibu disebut sebagai anak pembunuh." Kata Wahyuni.


"Jadi ibu setuju kalau aku menunggu Rania..??" Tanya Justin dengan wajah berbinar.


"Pastikan calon menantu ibu tidak jatuh ke tangan laki-laki lain. Kalau itu sampai terjadi, ibu akan membuat hidupmu tidak tenang dengan terus mengingatkan tentang kebodohanmu setiap kali kita bertemu." Ancam Wahyuni sadis.


Justin hanya tertawa pelan mendengar perkataan ibunya. Wahyuni memang benar-benar menuruni sifat keluarga Wongsonegoro yang terkenal blak-blakan dan tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Baiklah. Aku akan berusaha. Jadi sekarang bagaimana hasil penyelidikan ibu..??" Tanya Justin.


"Orang-orang kakekmu bekerja lebih cepat dari para pengawalmu ataupun teman-temanmu. Mereka sudah mendapatkan daftar pegawai yang bekerja di Orange Clock saat kejadian itu. Sekarang mereka sedang berusaha mendapatkan rekaman CCTV." Jawab Wahyuni.


"Dimana daftar itu..??" Tanya Justin tidak sabar.


"Sabarlah. Daftar itu ada di kamar ibu." Jawab Wahyuni sambil berjalan menuju kamarnya. Tak lama dia keluar sambil membawa map berwarna biru.


"Ini daftar orang-orang itu lengkap dengan profil mereka dan alamat mereka sekarang." Kata Wahyuni sambil menyodorkan map itu kepada Justin.


Justin menerima map itu dengan wajah berbinar. Dia segera membuka map berwarna biru itu lalu membaca daftar itu dengan seksama.


"Kapan mereka bisa mendapatkan rekaman CCTV-nya..??" Tanya Justin.


"Hmmm..untuk itu kakekmu punya syarat." Jawab Wahyuni setelah berdehem. Justin mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Wahyuni.


"Hari Rabu minggu depan kakek ingin kita semua makan malam bersama. Kakek, ibu, oom Anin, dan.. kamu." Kata Wahyuni.


"Ibu tahu sendiri kan bagaimana sibuknya aku. Bahkan untuk mengunjungi ibu hari ini aku harus benar-benar meluangkan waktu." Jawab Justin dingin.


"Ibu tahu. Dan entah bagaimana caranya kakekmu tahu jadwalmu. Kakek tahu kalau hari Rabu depan setelah jam 8 malam kamu tidak ada jadwal lagi." Sahut Wahyuni. Justin tetap terdiam.


"Jangan keras kepala. Kita berdua tahu orang-orang kakekmu pasti lebih cepat mendapatkan apa yang kamu butuhkan." Tegur Wahyuni.


"Akan aku pikirkan." Jawab Justin dingin.


"Baiklah. Kamu istirahat dulu. Ibu akan bereskan sisa makanmu tadi." Kata Wahyuni.


Justin mengangguk dan berjalan ke arah kamarnya. Sesampainya di kamar Justin segera menghubungi teman-temannya.


"Ada apa..??!!"


"Woooi.. ngapain telpon..??!!"


"Gimana, bro..??!!" Sahut Shaka, Alex, dan Leo bersamaan.


Justin segera menjauhkan HP dari telinganya. Tiba-tiba dia menyesal melakukan telpon group. Apalagi suara Leo yang selalu terdengar menggelegar sampai menyakiti telinganya.


"Diem dulu bisa ga..??" Kata Justin kesal.


"Udah lo langsung omong aja ada apaan..??" Kata Alex.


"Aku sudah dapat daftar pegawai yang bekerja di Orange Clock di waktu kejadian." Jawab Justin.


"Yang bener lo, Tin..??!!" Seru Shaka.


"Beneran..!! Kita bisa langsung bergerak. Besok aku free dari jam 2 siang. Kita mau jalan..??" Tanya Justin.


"Okeee.. besok gue kosongin semua jadwal gue." Jawab Shaka cepat.


"Gue juga." Jawab Alex dan Leo hampir bersamaan.


"Kalau begitu besok jam setengah 3 kita kumpul di rumah Shaka." Kata Justin.


"Kenapa ga di markas aja sich..?? Lebih deket dari kantor gue." Protes Leo.


"Heleeeeh.. palingan Justin mau kecengin calon bininya dulu." Cibir Alex.


"Besok lo kudu waspada, Ka. Calon mantu mau apelin anak lo." Goda Leo sambil tertawa keras.


"Sialan lo pada..!! Itu anak gue yang lo omongin..!!" Sembur Shaka yang justru membuat kedua temannya tertawa semakin keras.


"Ya udah. Pokoknya besok kita kumpul di rumah Shaka. Bye." Kata Justin sebelum menutup telponnya.