
Radit menepuk kepala Adit yang tengah tertidur di mejanya. Saat ini pelajaran Fisika tengah berlangsung dan Adit yang merasa bosan memilih tidur di tengah pelajaran. Radit yang duduk sebangku dengan Adit beberapa kali menyikut tubuh Adit tapi kembarannya itu sepertinya benar-benar larut dalam dunia mimpi. Bahkan pak Burhan, guru Fisika mereka sudah berdiri di dekat Adit dan terus memanggilnya. Tapi Adit tidur seperti orang yang tengah mati suri, hingga akhirnya Radit menepuk kepala Adit dengan cukup keras.
“Aduuuuuuhh..!! Lo apaan sich..??!!” Seru Adit yang sepertinya lupa tengah berada di kelas.
“Gue lagi selamatin nyawa lo.” Desis Radit sambil menunjuk ke arah belakang Adit dengan dagunya.
Perlahan Adit menengok dan langsung nyengir saat melihat pak Burhan tengah berkacak pinggang di belakangnya.
“Pak Burhan, hehehehe..” Panggil Adit cengengesan.
“Sudah sampai mana mimpinya tadi, Dit..??” Tanya pak Burhan menyindir.
“Baru sampe gerbang sekolah aja, pak. Baru mau lompat pager udah dibangunin.” Jawab Adit asal. Radit yang mendengar langsung mendorong kepala Adit pelan.
“Maju ke depan dan selesaikan semua soal yang tertulis di white board..!!” Seru pak Burhan semakin kesal.
Adit pun berdiri dan berjalan ke arah white board. Tidak butuh waktu lama untuknya menyelesaikan seluruh soal lengkap dengan rumus dan jawaban. Adit menoleh dan menyeringai melihat wajah kesal pak Burhan. Laki-laki itu menggeram karena Adit mengerjakan seluruh soal dengan benar. Tadinya dia berencana akan memarahi Adit habis-habisan di depan kelas karena salah menjawab soal. Tapi anak itu bahkan bisa menyelesaikannya dengan cepat dan tepat.
Pak Burhan lupa bahwa sejak kelas 1 SMA baik Radit maupun Adit selalu bergantian menduduki peringkat 1 di sekolah. Meski kedua anak itu sering membuat masalah, kadang cabut dari sekolah dan membolos, sering ikut tawuran, dan jarang memperhatikan saat pelajaran. Baik Radit maupun Adit adalah anak-anak cerdas yang mewarisi otak encer Kira. Bedanya Radit lebih mudah diatur dan adakalanya memperhatikan saat pelajaran yang diminatinya berlangsung. Sedangkan Adit selalu seenaknya dan lebih susah diatur hingga seringkali membuat guru-gurunya kesal.
“Adit, saya tahu kamu cerdas. Bahkan tanpa memperhatikan pelajaran saya pun kamu sudah bisa mengerti dan mengerjakan semua soal dengan benar. Tapi ingat, kamu sudah kelas 3 dan semester depan harus menjalani ujian kelulusan. Sedangkan selama ini yang kamu dan Radit lakukan hanyalah terus membuat masalah. Kalau kamu tidak mulai serius dengan hidupmu sendiri, mau jadi apa kamu di masa depan..?? Kamu tidak bisa hanya mengandalkan wajah tampan dan otak cerdasmu itu. Mengerti..??!!” Cecar pak Burhan.
Adit terdiam mendengar setiap perkataan pak Burhan. Dia bisa saja membalas pak Burhan, tapi dia sendiri sedang malas berdebat. Adit sangat tahu masa depan seperti apa yang dia inginkan. Hanya saja dia masih ragu untuk mengungkapkannya.
“Terserah pak Burhan saja mau bilang apa.” Kata Adit lalu beranjak keluar kelas.
“ADIT..!!” Teriak pak Burhan marah karena merasa diabaikan oleh muridnya.
“Maaf, pak Burhan. Saya permisi dulu.” Pamit Radit menyusul Adit.
“Adit.. Adit..!!” Seru Radit memanggil Adit.
“Kalo lo nyusul cuman buat ceramahin gue, mendingan lo pergi sekarang..!!” Sahut Adit.
“Lo kenapa sich..?? Akhir-akhir ini kelakuan lo semakin aneh aja.” Tanya Radit.
“Bukan urusan lo..!!” Jawab Adit kasar.
“Adit..!! Gue nanya baik-baik ke lo..!!” Seru Radit.
“Gue lagi mau sendiri dan lagi ga mau denger ceramah dari siapapun termasuk lo..!!” Seru Adit semakin sengit lalu pergi meninggalkan Radit yang terdiam.
Malamnya Radit dan Adit sama-sama diam. Bahkan hari itu mereka tidak pulang bersama seperti kebiasaan mereka selama ini. Kira sampai terkejut karena kedua putranya itu meski sering ribut tapi sejak kecil tidak pernah terpisahkan. Dan sekarang mereka seperti tengah saling mogok bicara.
“Kalian kenapa..??” Tanya Edo keheranan.
“Gapapa.” Jawab Dit-dit bersamaan.
Kedua remaja itu terkejut dan sejenak saling memandang lalu masing-masing melempar pandangan ke arah lain.
“Kalian lagi berantem..??” Tanya Shaka.
“Ga, pa.” Dit-dit kembali menjawab bersamaan, membuat Rania dan Satria terkikik geli.
“Trus kenapa kalian dari tadi diem-dieman..??” Tanya Shaka lagi.
“Lagi males aja.” Lagi-lagi Dit-dit menjawab bersamaan.
“Lo bisa ga sich ga ikutin omongan gue mulu..!!” Kata Adit sinis.
“Mana ada gue ikutin omongan lo. Yang ada lo terus-terusan ngikut omongan gue..!!” Seru Radit.
“Ciiih.. masih ga ngaku.” Sungut Adit.
“Mau lo tu apa sich..??!! Lo sengaja mau ajakin gue ribut..??!! Gue ladenin kalo emang itu mau lo..!!” Tanya Radit marah.
“Okeee..!! Lo pikir gue takut..?? Haaaahh..!!” Raung Adit.
“STOP..!! Kalian ini apa-apaan..??!! Kenapa tiba-tiba kalian ribut begini..??!!” Seru Kira.
Bukannya menjawab Dit-dit justru menjauh dari meja makan menuju kamar mereka.
“Mau apa lo..??!!” Tanya Radit sengit.
“Ke kamar gue. Napa..??!!” Jawab Adit tidak kalah sengit.
“Asal lo inget aja, itu juga kamar gue..!! Dan gue mau kesana, jadi mendingan lo minggir daripada kita beneran ribut..!!” Kata Radit.
“Suka-suka gue..!! Kamar.. kamar gue.” Sahut Adit lalu berjalan cepat masuk ke kamar mereka dan mengunci pintu sebelum Radit sempat menyusul.
“Adit..!! Buka pintunya lo bre**sek..!!” Seru Radit sambil menggedor pintu kamar mereka keras-keras.
“ADIT..!! Buka pintunya..!! Jangan sampe gue dobrak ni pintu trus hajar lo di dalam..!!” Raung Radit saat tidak mendapat respon dari Adit.
“ADIT..!!” Raung Radit lebih keras dari sebelumnya.
“Aaaaaarrgghh..!! Bre**sek..!!” Bukannya menjawab pertanyaan Kira, Radit justru berteriak dan memukul keras pintu kamarnya lalu beranjak pergi masuk ke kamar tamu. Terdengar pintu kamar yang dibanting keras oleh Radit.
“”Ma, kak Radit sama kak Adit beneran marahan yaa..??” Tanya Rania keheranan karena tidak pernah melihat kedua kakaknya begitu marah.
“Sudah biarkan mereka sendiri dulu. Sekarang kita makan malam ya.” Sahut Kira sambil mengelus lembut kepala Rania.
Baik Kira maupun Shaka sejenak saling memandang dengan tatapan bertanya-tanya, lalu berjalan menuju meja makan bersama anak-anak mereka yang lain.
Saat tengah malam Adit keluar kamar karena lapar. Dia berjalan ke arah dapur lalu bertemu Radit yang rupanya juga tengah kelaparan karena melewatkan makan malam. Sejenak mereka terdiam dan saling menatap, lalu Radit beranjak meninggalkan dapur tanpa mengatakan apapun. Radit berjalan melewati Adit seolah dia tidak ada disana.
“Gue minta maaf.” Kata Adit saat Radit mulai pergi meninggalkan dapur.
“Maafin gue udah kasar sama lo.” Kata Adit lagi.
Meski baru beberapa jam, Adit benar-benar sudah tidak tahan harus berjauhan dengan Radit.
“Lo yang paling tahu, Dit. Kalo gue selalu siap bantuin setiap kali lo punya masalah. Tapi sekarang ini bukannya bicara sama gue, lo malah seenaknya lampiasin semua ke gue yang ga tahu apa-apa..!!” Sungut Radit kesal.
“Maafin gue, Dit.” Kata Adit lirih sambil menundukkan kepala. Radit menghela napas panjang mendengar permintaan maaf Adit.
“Lo laper..??” Tanya Radit yang dijawab anggukan oleh Adit.
“Tunggu sini, gue panasin sisa makan malam tadi.” Kata Radit sambil beranjak ke dapur.
Meski hanya beda beberapa menit, sejak kecil Radit selalu menjaga Adit dan lebih sering mengalah karena merasa dia yang lebih tua. Setelah Radit memanaskan makanan, kedua remaja itu tampak makan dengan lahap tanpa mengatakan apapun. Adit pun membantu Radit membereskan sisa makanan mereka dan mencuci peralatan makan.
“Seteleh lulus gue pingin masuk akademi militer, Dit.” Kata Adit tanpa menoleh, tangannya terus membilas peralatan makan yang telah dicuci.
Radit yang tengah mengelap piring pun menghentikan kegiatannya dan langsung menoleh ke arah Adit.
“Lo serius..??” Tanya Radit.
“Gue serius. Itu sudah jadi cita-cita gue sejak SD. Tapi lo tahu sendiri gimana mama kan, Dit. Mama masih trauma karena kematian papa dulu. Apalagi 4 tahun lalu Oom Rendra sempat kritis gara-gara terluka parah waktu ditugaskan ke perbatasan.” Kata Adit dengan nada putus asa.
“Karena itu lo akhir-akhir ini terus bersikap aneh dan uring-uringan..??” Tanya Radit tapi Adit hanya diam seolah mengiyakan.
“Dalam beberapa bulan kita sudah ujian nasional, Dit. Setelah lulus kita harus segera menentukan langkah kita berikutnya. Kalo emang ini yang benar-benar lo inginkan, segera bicarakan sama mama dan papa.” Kata Radit.
“Lo ga keberatan gue gabung militer, Dit..??” Tanya Adit.
“Jujur aja berat buat gue, mengingat sejak kecil kita selalu bersama. Gue pasti bakal kesepian selama lo di akademi, ga ada yang diajak ribut lagi. Tapi gue juga sadar, dengan bertambahnya umur kita, cepat atau lambat dan mau tidak mau kita harus mengambil jalan hidup kita masing-masing.” Jawab Radit.
“Terima kasih, Dit. Lo mau kan bantuin gue omong sama mama..??” Kata Adit sambil menepuk pelan bahu Radit.
“Tentu saja.” Sahut Radit.
“Lo sendiri gimana, Dit..??” Tanya Adit.
“Sebenarnya ga jauh-jauh amat dari lo, Dit. Cuman gue masih dilema soalnya punya 2 keinginan. Yang pertama gue pingin kuliah kedokteran. Gue kepikiran mau kuliah di Jerman karena teknologi kesehatan disana yang sudah sangat maju. Sekalian pingin nemenin opa Peter walaupun hanya selama kuliah disana. Tapi gue juga pingin masuk akademi kepolisian. Gue belum putusin mana yang bener-bener gue mau.” Jawab Radit.
“Kayaknya kita berdua sama-sama cari mati, Dit. Mama pasti bakal ga ijinin gue masuk militer dan kemungkinan juga bakal ngamuk denger lo mau gabung akademi polisi.” Sahut Adit terkekeh.
“Iya juga sich. Jangan-jangan kita langsung disekap mama biar ga kemana-mana.” Kata Radit tertawa pelan.
Kedua remaja itu lalu terdiam dan tampak bersamaan menghela napas panjang.
“Lo ga kepikiran buat terusin perusahaan Papa, eyang, atau opa Peter..??” Tanya Adit lagi.
“Ga, Dit. Selain memang ga berminat, gue juga tahu diri. Satria, Rania, Nara, dan calon baby dalam kandungan mama jelas lebih berhak untuk meneruskan bisnis papa. Perusahaan eyang biar saja diurus anak-anak Oom Adam dan Oom Yudhi. Karena mereka yang selama ini bekerja keras memajukan perusahaan. Sedangkan untuk perusahaan opa, aku rasa kak Edo yang lebih pantas meneruskannya, karena kak Edo yang sejak lahir langsung diakui sebagai cucu keluarga Tanzil. Lagian selama ini yang orang tahu, putra opa Peter hanyalah Oom Hans. Tidak ada yang mengenal nama Pierre Permana dalam keluarga itu. Jadi bagaimana mungkin ada seorang Raditya Leandro Permana dan Aditya Keandro Permana tiba-tiba muncul sebagai cucu Peter Tanzil dan meneruskan perusahaan keluarga itu..??” Jawab Radit sambil menghela napas panjang. Adit tersenyum getir mendengar penuturan Radit. Tidak bisa dipungkiri bahwa posisi mereka serba salah diantara ketiga keluarga itu.
Dit-dit kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Baik Kira maupun Shaka memang tidak pernah menutupi masa lalu mereka kepada anak-anak mereka. Dan meskipun dulu Dit-dit masih terlalu kecil, tapi sedikit banyak mereka mengerti akan kemelut yang pernah terjadi dalam keluarga mereka dulu. Karena itu diam-diam mereka sebenarnya menjadi sungkan dan merasa tidak memiliki hak penuh atas ketiga keluarga itu. Dit-dit tahu meski mereka adalah cucu dari keluarga Tanzil, tapi tetap saja mereka merasa tidak berhak. Apalagi saat mengetahui bahwa sebelumnya almarhum ayah mereka bahkan tidak pernah diketahui keberadaannya oleh Peter. Meskipun Shaka dan Kira menyayangi Dit-dit tanpa membedakan dengan anak-anak yang lain, mereka juga menyadari bagaimanapun Shaka bukanlah ayah kandung mereka. Sedangkan perusahaan keluarga Hardisiswo, selama ini Adam dan Yudhi yang telah bekerja keras mengurus perusahaan keluarga. Rasanya tidak pantas kalau tiba-tiba mereka mengatakan ingin menjadi bagian dari Phoenix Group.
“Kapan lo mau bicara ke mama soal rencana masuk akademi..??” Tanya Radit.
“Belum tahu. Gue belum nemu moment yang tepat. Tapi gue bener-bener berharap bisa bicara sama mama dalam waktu dekat. Lo sendiri gimana, Dit..?? Jawab Adit.
“Sama. Gue juga lagi nunggu waktu yang tepat sambil menimbang keputusan gue.” Sahut Radit.
Kedua remaja itu sejenak tampak kembali merenung. Seakan tengah menyusun rencana untuk membuat orangtua mereka menyetujui keinginan mereka.
********************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza