
BUUUUUGG..!! BUUUUUGG..!! BUUUUUGG..!!
“Dasar Bre**sek..!! Lo pikir gue takut sama kalian..??!!” Raung Adit sambil terus menghajar 3 remaja seusianya. Tak jauh dari tempatnya Radit juga tengah sibuk berkelahi dengan 4 orang remaja dengan seragam putih abu-abu.
Tampak tidak seimbang memang, tapi nyatanya ketujuh remaja itu justru malah kewalahan menghadapi Dit-dit yang sudah ditempa ilmu bela diri sejak TK hingga sekarang. Kedua remaja 16 tahun itu terus menghajar lawan-lawan mereka tanpa ampun.
Tak jauh dari tempat mereka berkelahi seorang anak lelaki tengah meringkuk dan menangis ketakutan. Anak itu tampak 2-3 tahun lebih muda dari Dit-dit. Banyak makanan kecil berserakan di sekitarnya dan penyangga kaki yang rusak teronggok tak berdaya di dekat anak itu. Keadaan anak lelaki itu tampak begitu mengenaskan. Bajunya koyak disana-sini dan nampak luka di wajah juga beberapa bagian tubuhnya. Tubuhnya basah kuyup dengan bau yang tidak sedap.
Tak berapa lama lawan Dit-dit kocar-kacir. Beberapa tampak mengerang dijalanan dengan menahan sakit sedang mereka yang masih bisa berdiri langsung berlari menyelamatkan diri. Para remaja itu bergegas menaiki mobil mewah mereka dan meninggalkan tempat itu. Napas Dit-dit tersengal-sengal setelah perkelahian yang bisa dibilang cukup melelahkan. Adit terus mengawasi lawan mereka yang masih tertinggal sedangkan Radit segera mendekati anak yang masih tampak menangis ketakutan.
“Hei, kamu tidak apa-apa..??” Tanya Radit kawatir.
Perlahan Radit mencoba meraih tangan anak lelaki itu. Tapi anak itu tetap meringkuk dan menyembunyikan wajahnya karena ketakutan. Tubuhnya tampak bergetar karena rasa takut yang masih menyelimutinya.
“Jangan takut, kami tidak akan menyakitimu. Kamu sudah aman sekarang. Anak-anak itu sudah pergi.” Kata Radit masih berusaha menenangkan anak lelaki di depannya.
Anak itu mengangkat wajahnya dan menatap Radit. Dilihatnya remaja yang telah menolongnya tersenyum hangat. Senyum yang bisa menenangkannya.
“Siapa nama kamu..??” Tanya Radit.
“Darma.” Jawab anak itu lirih dengan suara bergetar.
“Darma, namaku Radit dan itu saudaraku Adit. Kamu jangan takut ya. Kami disini untuk menolongmu.” Kata Radit lagi. Darma mengangguk pelan.
Perlahan Radit menyentuh bahu Darma dan membantunya berdiri. Tapi Darma kembali luruh, Radit menahan tubuh anak itu agar tidak jatuh ke tanah. Radit baru menyadari kaki Darma yang kecil sebelah dan lengan kiri anak itu juga tampak patah.
“Radit, gimana..?? Dia gapapa kan..??” Tanya Adit sambil berjalan menghampiri saudara kembarnya.
“Sepertinya dia masih terlalu shock. Anak ini juga tampaknya terluka. Lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja, Dit.” Jawab Radit sambil terus menahan tubuh Darma agar tidak jatuh ke tanah.
“Kamu jaga dia, biar aku yang cari taxy.” Kata Adit lalu berlari ke arah jalan untuk menghentikan taxy.
Setelah Adit mendapatkan taxy Radit menggendong Darma di punggungnya dan membawa anak itu ke kursi penumpang, sedangkan Adit duduk di sebelah supir taxy tersebut.
“Pak, tolong ke orchid Hospital.” Kata Adit pada supir taxy yang tampak berusia paruh baya.
Supir taxy itu memacu mobilnya secepat mungkin. Sesekali dia melirik kebelakang melalui kaca depan mobilnya. Dia tampak gusar saat melihat kondisi Darma yang tengah duduk bersama Radit di kursi belakang dalam keadaan mengenaskan. Setelah sampai di Orchid hospital Radit bergegas keluar dan membawa Darma ke Instalasi Gawat Darurat sementara Adit mengurus pembayaran taxy yang mereka tumpangi.
“Ga usah, dek. Bawa aja buat adek.” Tolak supir taxy itu saat Adit menyodorkan uang.
“Loh.. kenapa, pak..??” Tanya Adit terkejut.
“Saya punya anak perempuan seusia anak tadi, dengan kondisi yang sama. Memang anak saya cacat, tapi tetap saja saya tidak terima kalau ada yang menyakitinya. Dan pastinya berharap akan ada orang-orang seperti adek berdua yang mau menolongnya saat dalam kesulitan. Anggap saja ini ucapan terima kasih saya, dek.” Kata supir taxy itu tulus.
“Tapi, pak..” Adit masih berusaha membantah.
“Terima kasih, pak.” Kata Adit menyerah.
Sebelum keluar dari taxy Adit sempat membaca kartu identitas supir tersebut dan nomor lambung taxy yang ditumpanginya. Adit berlari menyusul Radit ke Instalasi Gawat Darurat. Sesampainya disana dia melihat terjadi keributan. Rupanya anak-anak yang Dit-dit hajar tadi juga berobat ke Orchid hospital dan kali ini dengan didampingi orangtua mereka. Sialnya mereka bertemu dengan Radit dan Darma.
“Dasar berandalan miskin..!! Berani-beraninya kalian melukai anak-anak kami..!! Dan kamu anak cacat. Pasti kamu yang sudah memfitnah anakku..!! Kalian pasti bekerjasama untuk mencoreng nama baik anak-anak kami.” Raung seorang wanita sambil meraih tubuh Darma dan mencakar tubuh kecilnya yang tidak berdaya. Radit segera menolong Darma lalu menyembunyikan anak itu di belakang tubuhnya untuk melindungi dari amukan wanita yang terus berusaha menyerang.
“Tante..!! Kenapa tante menuduh kami tanpa alasan..??!! Anak-anak kalian yang sudah melukai anak ini..!! Apa tante tidak lihat luka-luka di sekujur tubuh Darma..!!” Seru Radit tidak terima tapi masih berusaha untuk tetap sopan.
“Heeeh.. berandalan miskin. Mana mungkin anakku berbuat seperti itu..??!! Aku Sherly Hendrawan, kami dari keluarga terhormat dan bermartabat. Anak-anak ini sudah dididik dengan baik. Lagipula apa pentingnya anak miskin seperti dia..??!! Ini pasti hanya akal-akalan kalian untuk menghancurkan reputasi mereka..!!” Tuduh Sherly sambil menunjuk wajah Radit.
“Heh.. nenek tua..!! Kalian sejak tadi terus bicara tentang martabat, tapi kelakuan kalian ga ada martabatnya sama sekali” Sahut Adit tanpa berbicara sopan seperti Radit.
“Anak kurang ajar..!! Berani-beraninya kamu ngatain kami nenek tua..!! Apa orangtuamu tidak mengajari sopan-santun haaaah..!!” Raung Sherly lagi.
“Justru karena orangtua kami mengajari sopan santun makanya kami tidak menampar mulut kalian.” Sahut Adit yang semakin emosi.
“Dasar anak miskin tidak tahu diri..!! Panggil orangtua kalian kesini..!! Biar aku ajari mereka caranya mendidik anak dengan benar..!!” Raung Sherly.
“Tidak masalah. Justru kalian yang perlu belajar dari orangtua kami bagaimana mendidik anak dengan benar. Biar kelakuan mereka ga brutal kayak tadi..!! Dan kenapa dari tadi kamu ngatain kami miskin..?? Apa kalau kami miskin trus kalian bisa seenaknya..??” Sahut Adit masih tidak mau kalah sementara Radit tampak menelpon seseorang setelah meminta dokter untuk menangani Darma.
“Sombong sekali kamu. Kamu pikir kami tidak tahu kalau kalian menghajar anak-anak kami waktu lagi di halte nunggu bis..?? Dan aku lihat tadi kalian kesini naik taxy. Hanya orang miskin yang pergi kemana-mana naik bis. Bahkan naik taxy tadi pun aku yakin kalian ga bakal bisa makan seminggu.” Cibir Sherly menghina Adit dan Radit.
“Ciiiih.. dasar kalian manusia yang buta sama harta. Setidaknya dengan naik bis kami bisa menolong anak ini dari kelakuan brutal anak-anak kalian.” Jawab Adit santai.
“Sudah, Dit. Jangan kebawa emosi. Sebentar lagi papa datang.” Kata Radit sambil menepuk pundak Adit untuk menenangkan saudara kembarnya itu.
Sekilas Dit-dit melihat ke arah anak-anak yang tadi mereka hajar. Ketujuh anak itu terlihat tersenyum mengejek karena merasa mendapat perlindungan dari orangtua mereka.
“Baguslah. Aku dan teman-temanku juga sudah memanggil suami kami. Aku jamin, kalian akan menyesal sudah berurusan dengan keluarga kami. Asal kalian tahu saja. Suamiku adalah Bagus Hendrawan, direktur PT. Daya Guna yang menjadi bagian RHD Group. Dan suami teman-temanku ini juga memiliki jabatan penting dalam group itu. Orang miskin seperti kalian pasti hanya akan dibuat menangis oleh mereka.” Kata Sherly dengan sombong. Sementara Dit-dit tampak terkejut mendengar penuturan Sherly.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza