(Family) Bound

(Family) Bound
Sisi Gelap Shaka



Paginya Kira terlihat lebih baik, tapi masih terlihat lemah dan infus masih terpasang di tangannya. Saat Shaka tengah mandi Kira menerima e-mail dari orangnya. Senyumnya mengembang penuh kelegaan saat melihat isi pesan itu. Dilihatnya video rekaman CCTV yang menunjukkan kejadian sebenarnya dari foto-foto yang dia terima. Kira mengirim video itu sebagai balasan pada nomer yang telah mengirimnya pesan.


“TERIMA KASIH KARENA SUDAH BERSUSAH PAYAH MEMBERI PERTUNJUKAN MENARIK UNTUKKU. SUNGGUH MENYENANGKAN MELIHAT BAGAIMANA SUAMIKU MEMPERLAKUKAN WANITA JA**NG SEPERTIMU, KATE.” Pesan Kira untuk pengirim foto.


Senyumnya mengembang sempurna saat melihat tanda bahwa pesannya telah dibaca.


“Sayang, kamu kenapa senyum-senyum sendiri..??” Tanya Shaka yang melihat Kira tersenyum sembari melihat HP-nya.


Kira yang terkejut segera meletakkan HP-nya di atas nakas di samping tempat tidurnya.


“Tidak apa-apa, Bie. Kamu sudah selesai..?? Maaf hari ini aku tidak bisa membantumu bersiap.” Sahut Kira dengan wajah penuh penyesalan.


“Tidak apa-apa, sayang. Kamu istirahatlah.” Kata Shaka sembari mengenakan pakaiannya dan bersiap. Tak lama terdengar suara Edo memanggil.


“Ada apa, Ed..??” Tanya Shaka setelah membuka pintu.


“Bagaimana keadaan mommy, dad..??” Tanya Edo cemas.


“Dia sudah lebih baik. Masuklah.” Jawab Shaka sembari membuka pintu lebar agar Edo bisa masuk.


“Mau kemana, mom..??” Tanya Edo saat melihat Kira berusaha berdiri dari ranjangnya.


“Aku perlu ke kamar mandi.” Jawab Kira.


“Aku akan membantumu.” Kata Shaka lalu mengangkat tubuh Kira. Edo membantu mereka dengan membawa kantong infus.


Saat Kira ke kamar mandi, Shaka mengambil HP Kira dan membukanya. Matanya terbelalak saat melihat pesan yang masuk ke HP istrinya. Shaka mengeraskan rahangnya menahan amarah. Meski dilihatnya Kira tidak mempercayai foto-foto yang dikirimkan padanya, tapi Shaka yakin inilah penyebab kondisi Kira drop semalam.


Shaka teringat tingkah aneh Kira sehari sebelumnya. Alih-alih marah pada Shaka saat menerima foto-foto itu, istrinya tetap mempercayainya tapi juga merasa tidak percaya diri dan merasa kurang sebagai seorang istri.


“Ada apa, dad..??” Tanya Edo saat melihat wajah Shaka memerah menahan marah.


“Apa ada hubungannya dengan kondisi mommy semalam..??” Tanya Edo lagi karena tidak mendapatkan jawaban.


“Tidak apa-apa, Ed.” Jawab Shaka berbohong lalu kembali meletakkan HP Kira ke posisi semula. Edo masih menatap Shaka dengan tatapan bertanya-tanya.


****


Shaka memarkirkan mobilnya lalu berjalan cepat memasuki gedung kantor Scarlett Group. Wajahnya tampak mengeras dan dingin. Shaka terus berjalan tanpa mempedulikan orang-orang yang menyapanya. Dia membuat keributan saat dua petugas security mencegahnya naik karena tidak tahu apa keperluannya. Shaka menghajar 2 pria itu sampai tidak berdaya.


“Dad..!!” Seru Edo memanggil Shaka.


Lelaki itu hanya menoleh sejenak dan menatap tajam pada Edo sebelum kembali berjalan ke arah lift khusus direktur tanpa mengatakan apapun.


Edo berusaha mengikuti Shaka karena kawatir terjadi sesuatu pada lelaki itu. Tadi setelah mengantarkan ketiga adiknya ke sekolah, Edo melihat mobil Shaka. Seharusnya setelah mengantarkan Dit-dit ke sekolah, Shaka langsung menuju kantornya. Tapi Edo melihat Shaka melaju ke arah berlawanan. Edo sengaja mengikuti Shaka karena teringat raut wajah Shaka pagi tadi yang penuh amarah.


Edo ingat Scarlett Group adalah salah satu rekanan perusahaan Shaka. Tapi perusahaan itu juga adalah tempat dimana wanita yang menjebak Shaka berada. Shaka terus berjalan ke arah ruangan Kate tanpa menghiraukan panggilan sekretaris wanita itu.


“Dimana, Kate..??!!” Seru Shaka karena tidak menemukan Kate di ruangannya.


“Bu Kate sedang ada meeting dan tidak bisa diganggu, pak.” Jawab Vera dengan suara bergetar ketakutan.


Shaka bergegas ke ruang meeting dan masuk tanpa mengetuk terlebih dulu hingga mengejutkan semua orang dalam ruangan tersebut. Dia mengedarkan pandangannya mencari Kate. Dilihatnya wanita itu tengah duduk tidak jauh dari Herman dan memandangnya dengan wajah ketakutan. Shaka berjalan cepat menghampiri Kate. Wanita itu berdiri dan berjalan mundur berusaha menjauhi Shaka.


PLAAAAAAKK..!!


Shaka menampar keras wajah Kate hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur ke lantai. Edo terkejut melihat Shaka yang menampar Kate. Sejauh dia mengenal Shaka, semaeah apapun lelaki itu tidak pernah bertindak kasar apalagi main tangan pada wanita. Karena itu dia lebih memilih diam karena yakin Shaka pasti punya alasan kuat melakukannya.


“SHAKAAAA..!!” Raung Herman tidak terima.


Shaka tidak peduli, dia langsung mencengkeram rambut Kate lalu menariknya hingga membuat wanita itu kembali berdiri.


“Shakaaa..!! Lepaskan..!! Sakiiiiittt..!!” Teriak Kate kesakitan sembari berusaha melepaskan tangan Shaka dari rambutnya.


“Shaka, lepaskan adikku..!!” Seru Herman sambil berjalan cepat mendekati Shaka dan Kate.


“DIAM..!! JANGAN IKUT CAMPUR..!!” Raung Shaka dengan suara menggelegar.


Kate semakin ketakutan karena tidak pernah melihat seseorang yang begitu menakutkan seperti Shaka sekarang.


“Kenapa kamu bertindak kasar pada adikku..??!!” Seru Herman sengit.


“Bre**sek..!! Lepaskan dia..!!” Seru Herman sambil melayangkan tinjunya.


Shaka menghempaskan keras tubuh Kate hingga kembali jatuh lantai. Dia menangkis pukulan Herman dan langsung menghajarnya dengan membabi-buta. Orang-orang yang ada disana berusaha menghentikan Shaka tapi dicegah oleh Edo.


“Jangan ikut campur kalau masih sayang dengan nyawa kalian.” Seru Edo dingin dengan tatapan bengis.


Edo menampakkan sisi gelap yang diwarisinya dari Peter dan Hans Tanzil. Membuat orang-orang itu berpikir 2 kali untuk menolong Herman dan Kate.


“Shaka..!! Shaka..!! Aku mohon hentikan..!! Jangan sakiti kakakku..!!” Jerit Kate memohon.


Shaka berhenti saat dilihatnya Herman tidak berdaya. Dia menatap Kate dengan tatapan membunuh lalu kembali menampar keras wajahnya dan mencengkeram rambutnya hingga membuat wanita itu menjerit kesakitan.


“Dulu aku bersedia bekerjasama denganmu karena kamu berjanji menjauhkan adikmu dariku dan keluargaku. Tapi nyatanya apa yang terjadi..??!! Wanita ja**ng ini kemarin menjebakku lalu mengirim foto-foto palsu itu pada istriku. Gara-gara kelakuannya, istriku nyaris meregang nyawa..!!” Raung Shaka pada Herman.


Membuat lelaki itu terkejut dan memandang adiknya dengan tatapan tidak percaya.


“Dan kamu wanita murahan..!! Istriku dan anak-anak dalam kandungannya saat ini tengah berjuang untuk bisa tetap bertahan hidup. Tapi demi memenuhi kegilaanmu kamu bahkan tega membuat nyawa mereka terancam. Kalau kamu masih tetap nekat dan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, aku bersumpah akan menguburmu hidup-hidup di depan mata keluargamu dan membuat hidup mereka hancur..!!” Raung Shaka pada Kate lalu menghempaskannya hingga terjatuh di depan Herman.


“Aku membatalkan seluruh kerjasama perusahaan kita hari ini juga. Dan ingat. Kalau wanita ja**ng ini masih berani mengusik keluargaku, aku tidak segan untuk mengirim dia ke neraka dengan tanganku sendiri. CAMKAN ITU..!!” Seru Shaka kepada Herman sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


Edo berjalan mendekati Kate dan Herman. Wajah dan matanya terlihat begitu dingin membuat wajah tampannya tampak menakutkan. Edo menatap Kate dan Herman dengan seringai mengerikan. Dia meraih wajah Kate dan mencengkeramnya kuat.


“Gue Edward Tanzil. Anak angkat dari dua orang yang terus lo usik. Bersiaplah menghadapi kehancuran lo dan keluarga lo. Karena gue ga akan pernah tinggal diam saat ada orang yang mengusik mereka.” Desis Edo lalu melepaskan Kate dan menyusul Shaka.


Setelah itu salah seorang lelaki yang mengikuti meeting berjalan mendekati Herman dan Kate yang sudah berdiri di samping kakaknya dengan kepala menunduk karena malu. Lelaki itu tampak sekilas melirik Kate dengan tatapan sinis.


“Maaf, sepertinya untuk saat ini kami masih perlu mempertimbangkan rencana kerjasama kita. Pihak kami akan memberi kabar secepatnya. Permisi.” Kata lelaki itu yang ternyata adalah perwakilan dari perusahaan rekanan.


Herman memandang Kate yang masih menangis dan duduk di salah satu kursi.


PLAAAAAAKK..!!


Kali ini Herman sendirilah yang menampar Kate.


“Berapa kali kubilang jauhi Shaka dan keluarganya..!! Tapi ternyata demi kegilaanmu kamu tega membahayakan nyawa orang lain dan bahkan mengorbankan keluargamu sendiri. Kamu telah mempermalukan keluargamu, Kate. DAN KITA SEMUA AKAN HANCUR KARENA ULAHMU..!!” Raung Herman.


Aaaaaarrrgghh..!!” Teriak Herman sembari menendang kursi di hadapannya hingga terbalik. Membuat Kate menjerit ketakutan karena terkejut.


“Kak, aku tidak tahu Kirana ternyata sedang sakit. Aku akui aku memang wanita ja**ng, kak. Tapi aku bukan pembunuh.” Kata Kate berusaha menjelaskan dengan berurai air mata.


“Tetap saja kamu telah mengusik keluarga itu, Kate..!!” Seru Herman kepada adiknya.


“Sekarang aku tidak mau tahu. Kamu harus memperbaiki semuanya..!!” Raung Herman sebelum meninggalkan ruang meeting.


Herman pergi meninggalkan Kate yang menangis. Dia keluar dan membanting pintu ruangan itu dengan keras. Kate menangis tergugu di tempatnya. Sejak pagi dia sudah merasa was-was saat Kira membalas pesannya dan mengirim video full pertemuannya dengan Shaka.


Kate memang sengaja memakai nomor baru yang akan digunakannya untuk mengirim foto-foto yang diambil Arian. Tapi ternyata Kira tidak percaya begitu saja dan bahkan mendapatkan rekaman CCTV entah darimana. Saat itu juga Kate langsung membuang nomer yang dia pakai untuk menghubungi Kira.


Kate duduk termangu di salah satu kursi di ruang meeting. Dia baru menyadari kebodohannya yang mengira Shaka dan Kira akan berpisah saat itu juga. Kenyataannya justru nasib Kate dan keluarganya yang saat ini tengah diujung tanduk.


Pintu ruang meeting tampak dibuka oleh seseorang. Rupanya Simon datang untuk melihat keadaan Kate. Dia memang tidak ikut meeting karena Herman memintanya menangani masalah di salah satu hotel Scarlett Group yang ada di kota Surabaya. Dia baru tiba di bandara saat mendengar kejadian yang dialami Kate. Simon menghela napas panjang. Meski dia tahu Kate salah dan bahkan pantas diperlakukan seperti itu, tetap saja dia tidak tega melihat langsung kondisi Kate yang begitu menyedihkan.


“Kate.” Panggil Simon sembari duduk di kursi yang ada di samping wanita itu.


“Apa kamu juga akan menamparku..??” Tanya Kate lirih dengan mata menerawang, tampak air mata mulai turun di pipinya.


“Ayo kita ke dokter Kate. Luka-lukamu harus diobati.” Kata Simon tanpa menghiraukan pertanyaan Kate.


Tangannya terulur menangkup wajah Kate dan menghapus air matanya lalu perlahan mengelus pipi kate yang tampak mulai lebam dan membengkak.


“Aku memang wanita ja**ng, Simon. Tapi aku bukan pembunuh. Bahkan dulu saat kejadian di hotel aku mengatakan pada Shaka akan mencelakai istrinya, tapi aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya ingin menangkap Kirana untuk mengancam Shaka dan membuatnya menurutiku. Aku bukan pembunuh, Simon. Aku benar-benar tidak tahu Kirana tengah sakit.” Kata Kate mulai terisak.


“Tuhan, apa yang telah aku lakukan..??” Kata Kate lagi dengan tangis yang mulai keras.


“Tenanglah, Kate. Aku percaya kamu bukan pembunuh. Saat dalam perjalanan kemari aku meminta orangku untuk mencari tahu keadaan Kirana. Dia memang sakit, Kate. Dan saat ini dia sedang mengandung hingga tubuhnya semakin melemah. Semalam kondisinya sempat drop, tapi sekarang dia dan kandungannya baik-baik saja. Jadi sekarang tenanglah.” Kata Simon dengan suara lembut untuk menenangkan atasannya itu.


Tiba-tiba Kate menghambur dalam pelukan Simon dan menangis keras. Simon terkejut tapi akhirnya dia membalas pelukan Kate. Dipeluknya tubuh wanita itu dengan erat, berharap dapat sedikit meringankan bebannya.