(Family) Bound

(Family) Bound
Panik



"Sayang, ayo makan lagi." Bujuk Shaka yang tengah menyuapi Kira dengan telaten.


"Aku benar-benar sudah kenyang, Bie." Sahut Kira dengan wajah cemberut.


"Tapi seharian kamu cuma makan sedikit, sayang. Makan lagi yaaa.." Bujuk Shaka lagi.


"Kalau terlalu kenyang perutku mual, Bie." Kata Kira dengan wajah memelas. Shaka akhirnya tidak tega dan meletakkan piring di atas nakas.


"Baiklah. Tapi nanti kamu harus makan lagi." Kata Shaka. Kira hanya diam dan mengangguk.


Shaka memberikan obat Kira, lalu membantunya berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia meraih tangan Kira dan menggenggamnya erat sambil terus mengelus lembut kepala istrinya. Sudah empat hari Kira dirawat dan sejak itu pula Shaka tidak pernah beranjak pergi dari sisi Kira. Dia menyerahkan semua urusan pekerjaan pada Fahri dan Rosi, sedangkan Edna dan Maudy, istri Rendra, membantunya menjaga anak-anak.


"Istirahatlah, Bie. Sejak aku dirawat kamu sama sekali tidak pulang. Ada dokter dan perawat yang disini menjagaku." Kata Kira lirih.


"Aku tidak apa-apa. Disini ada ranjang nyaman untuk aku istirahat." Kata Shaka sambil tersenyum hangat.


"Maafkan aku selalu merepotkan dan membuatmu kawatir." Kata Kira penuh sesal.


"Jangan katakan itu. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Sekarang berhenti berpikiran yang tidak-tidak dan istirahatlah." Sahut Shaka lalu mencium tangan Kira.


"Apa Edo akan datang lagi..??" Tanya Kira.


"Dia bilang akan kembali setelah mengantarkan Luna pulang." Jawab Shaka.


"Bie, aku tahu Hans lebih berhak atas diri Edo dan aku tidak punya hak untuk menahan dia tinggal bersama kita. Tapi tetap saja berat untukku melepaskan Edo." Kata Kira dengan suara tercekat.


"Edo belum memutuskan apapun, sayang. Dan Hans juga belum tahu berapa lama dia akan tinggal disini. Dia masih ingin membantu untuk menyelesaikan permasalahan kita. Tapi aku yakin. Meski Edo memilih untuk ikut bersama Hans dan Oom Peter, dia tidak akan melupakan kita." Sahut Shaka.


"Aku harap begitu, Bie. Aku hanya tidak bisa membayangkan berpisah dengan tiga putraku disaat bersamaan. Sebentar lagi Dit-dit akan lulus. Setelah itu Adit akan tinggal di akademi, Radit juga akan kuliah kedokteran di Jerman. Artinya dia akan tinggal bersama papa Peter dan Hans. Kalau Edo juga memilih pergi, aku tidak tahu bagaimana menjalani hidupku nantinya." Kata Kira mulai terisak.


"Sayang, anak-anak kita sudah dewasa. Sudah waktunya mencari jalan kehidupan mereka sendiri. Aku pun berat melepaskan mereka. Tapi aku juga tidak ingin menutup mata atas kehidupan mereka. Dulu kita pernah berada di posisi mereka. Saat harus memilih berpisah dengan keluarga untuk mengejar impian kita." Bujuk Shaka menenangkan istrinya.


"Kamu tahu..?? Dulu setelah lulus SMA, aku dan saudara-saudaraku memilih untuk tinggal terpisah dari rumah utama. Mama selalu menangis setiap ada dari kami yang pergi. Terutama saat kak Rendra masuk akademi dan aku terus memilih untuk mengejar beasiswa keluar negeri. Saat itu papa selalu mendukung kami karena ingin anak-anaknya hidup mandiri. Tapi sekarang aku tahu bagaimana perasaan mama dan papa saat itu. Aku yakin sebenarnya papa saat itu juga merasa berat melepaskan kami." Kata Kira dengan tatapan menerawang.


"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang kamu harus segera sehat. Anak-anak sudah sangat merindukan keberadaanmu di rumah. " Kata Shaka.


CEKLEKK..!!


Kira dan Shaka menoleh saat mendengar suara pintu dibuka. Terlihat Edo memasuki ruangan dengan membawa beberapa barang kebutuhan Shaka. Kira bergegas menghapus airmatanya.


"Ed, kamu sudah mengantarkan Luna..??" Tanya Shaka.


"Sudah, Dad. Tadi aku sekalian menemani Luna makan siang, setelah itu pulang sebentar untuk mengambil beberapa keperluan daddy." Kata Edo sembari mengulurkan barang bawahannya kepada Shaka.


"Tolong jaga mommy-mu. Daddy mandi sebentar." Kata Shaka yang dijawab anggukan oleh Edo.


Edo melihat kepada Kira. Dilihatnya wajah Kira yang masih terlihat agak sembab. Edo berjalan mendekati ranjang Kira dan duduk di kursi yang tadi diduduki Shaka.


"Bagaimana perasaan, mommy..?? Apakah lebih baik..??" Tanya Edo.


"Mommy sudah jauh lebih baik, Ed. Sudah tidak sabar pingin pulang. Mommy bosan disini." Kata Kira lirih. Dia masih terlihat lemah dan pucat.


"Bersabarlah, mom. Oom Yudha bilang kalau kondisi mommy tetap stabil, mommy akan pulang dalam waktu 2-3 hari." Sahut Edo.


"Bagaimana adik-adikmu di rumah..??" Tanya Kira.


"Mereka semua baik. Mommy tidak perlu kawatir. Besok aku akan mengajak mereka semua kesini. Hari ini mereka semua ada kegiatan, jadi tidak bisa datang." Jawab Edo.


"Tapi biasanya pulang sekolah Dit-dit mampir sebentar. Kenapa hari ini mereka tidak datang..??" Tanya Kira lagi. Dia benar-benar merindukan semua anaknya meski mereka datang setiap hari.


"Tadi pagi Dit-dit bilang hari ini ada kelas tambahan. Ujian akhir semakin dekat, jadi semakin sering diadakan kelas tambahan untuk kelas 3." Jawab Edo.


"Bagaimana dengan yang lain..??" Kira kembali bertanya dengan penuh harap.


Baru akan menjawab tiba-tiba terdengar suara orang membuka pintu. Edo dan Kira menoleh dan melihat Arian tengah berdiri di ambang pintu. Kira langsung duduk dan menarik tangan Edo agar menjauh dari Arian untuk melindunginya. Sedangkan Edo yang tidak pernah bertemu Arian hanya bisa keheranan melihat reaksi Kira.


"Mom..!!" Seru Edo panik saat dilihatnya Kira turun dari ranjang tanpa mempedulikan tangannya yang terluka karena jarum infus.


"Berani-beraninya kamu menampakkan batang hidungmu. Katakan apa maumu..??!!" Desis Kira sambil menatap tajam pada Arian. Dia berdiri di depan Edo, seperti induk singa yang tengah melindungi anaknya.


Arian tersenyum miring melihat Kira. Meski sakit dan lemah, wanita itu tetap terlihat kuat di hadapan lawannya.


"Kamu memang luar biasa, Kirana. Karena itu aku selalu ingin mendapatkanmu." Kata Arian.


"Terus terang aku terkejut saat mengetahui wanita yang ingin dihabisi Lucas, dan wanita yang membuat Lefi jatuh cinta, ternyata adalah wanita yang selama ini aku cari. Bedanya, saat Lefi jatuh cinta padamu dia berubah dan selalu berusaha melindungimu. Meski itu artinya dia mengkhianatiku dan Lucas. Sedangkan aku, yang aku pedulikan hanyalah bagaimana mendapatkanmu." Lanjut Arian.


"Sayangnya dulu saat Lucas menangkapmu, aku justru dibuat sibuk menawarkan kedua anakmu. Dan saat penculikan mereka, orang-orangku terlalu bodoh. Mereka akhirnya meninggalkanmu karena tidak berhasil membuka pintu mobil." Kata Arian dingin.


"Ke**rat..!! Siapa kamu..??!!" Seru Edo tidak terima. Kira menahan lengan Edo yang mulai berjalan maju agar tidak mendekat pada Arian.


Edo yang merasa bahwa Arian orang yang berbahaya akhirnya mengganti posisi dengan berdiri di depan Kira untuk melindunginya.


"Terakhir aku melihatmu, kamu hanyalah bocah kecil sakit-sakitan. Kamu bahkan tidak bisa terlalu lama beranjak dari tempat tidurmu. Tapi lihatlah dirimu sekarang. Mereka benar-benar mengurusmu dengan baik." Sahut Arian lalu tersenyum sinis.


"Apa kamu tidak punya kerjaan sampai terus sibuk mengejar istri orang lain..??" Tanya Shaka dengan suara tenang dan dingin.


Shaka yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut saat melihat keberadaan Arian di kamar Kira. Dilihatnya Kira yang terus berusaha menahan Edo untuk melindunginya dari Arian. Dengan tenang Shaka berjalan mendekati Arian dan berdiri dihadapannya. Edo yang berdiri tidak jauh dari mereka bersama Kira, dapat merasakan aura menakutkan dari kedua pria dihadapannya.


"Apa maumu..??!!" Tanya Shaka dingin dengan suara berat menakutkan.


"Berbicara dengan kalian." Jawab Arian.


"Bagus. Kita memang perlu bicara." Kata Shaka lagi.


"Aku mencintai Kate. Tapi kakakku tidak mengijinkan aku menikahinya. Bantu aku mendapatkan dia, maka aku akan melepaskan Kira." Kata Arian.


"Apa kamu pikir aku tidak mampu untuk mempertahankan dan melindungi istriku..??" Tanya Shaka sinis dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


"Tentu. Tapi untuk berapa lama..??" Arian bertanya balik. Shaka tetap diam seakan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Arian.


"Jujur saja, aku masih memiliki keinginan untuk mendapatkan Kira. Tapi di satu sisi aku juga menginginkan Kate serta anak dalam kandungannya. Dan aku harus bisa memiliki mereka." Kata Arian sambil menatap lekat pada Kira yang berdiri di belakang Edo.


Shaka yang melihat itu berdiri lebih dekat dan menghalangi pandangan Arian dari Kira.


"Apa kamu tahu alasan kakakmu melarang untuk menikahi Kate..?? Karena kalian adalah paman dan keponakan kandung. Itu artinya kalian sama saja dengan ayah dan anak. Apa kamu tidak mengerti..??" Tanya Shaka dingin.


"Aku tidak mau tahu. Bagiku yang terpenting adalah aku mencintai Kate. Bahkan bila seandainya dia anakku pun aku tidak peduli." Kata Arian dengan wajah dingin.


"Dasar gila..!!" Seru Kira.


"Hei.. tenanglah, sayang. Aku tidak ingin keadaanmu memburuk." Sahut Arian dengan seringai di wajahnya.


"Tutup mulutmu dan pergi dari sini..!!" Desis Shaka.


"Aku belum selesai." Kata Arian sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Bukan aku yang meneror kalian. Itu sama sekali bukan gayaku. Bahkan saat Kate mengirim foto-foto mu, aku hanya melakukannya karena Kate memohon padaku untuk tidak menggunakan kekerasan. Tapi untuk bunga-bunga itu, memang aku pelakunya." Lanjut Arian dengan tersenyum sinis.


"Lalu siapa pelakunya..??" Tanya Shaka dingin.


"Aku rasa ada baiknya untukmu mulai mengingat setiap kesalahanmu di masa lalu. Dan lihatlah orang-orang di sekitarmu." Jawab Arian sambil terkekeh dingin. Shaka mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Arian.


"Sekarang aku akan pergi. Tapi sebelum itu, aku sarankan kalian segera pergi ke dermaga barat pelabuhan. Aku menyuruh orangku untuk meninggalkan Satria disana." Kata Arian sambil tersenyum miring. Membuat Shaka, Kira, dan Edo terkejut.


"Apa kamu sedang membual..??" Tanya Shaka


"Aku melakukannya untuk berjaga-jaga kalau kalian memberiku kesulitan saat datang kemari. Tidak aku sangka ternyata semua berjalan dengan begitu mudah." Jawab Arian.


"Ke**parat..!! Kamu apakan anakku..??!!" Seru Kira mulai terisak. Tampak Edo berusaha menahan Kira yang ingin menghampiri Arian.


"Jangan takut. Aku tidak menyakiti dia. Hanya membuat anak itu sedikit takut. Salahkan pengawal kalian yang lengah. Tapi aku akui. Orangku cukup kewalahan menangani Satria meski usianya baru 8 tahun." Sahut Arian dengan tersenyum sinis lalu beranjak keluar kamar. Shaka terus mengawasi sampai Arian benar-benar hilang dari pandangannya.


"MOMMY..!!" Seru Edo.


Shaka menoleh dan melihat Kira yang pingsan dengan tangan yang terus mengeluarkan darah karena terluka oleh jarum infus.


Shaka bergegas mengangkat tubuh Kira dan meletakkannya di atas tempat tidur sementara Edo menekan tombol darurat. Setelah meletakkan tubuh Kira, Shaka meraih HP-nya dengan tangan bergetar. Hilang sudah ketenangan yang sejak tadi dia tunjukkan.


"Dimana Satria..??!!" Tanya Shaka.


"Maaf, pak. Tuan muda hilang dan kami sedang mencarinya." Sahut suara di seberang sana.


"Dasar bodoh..!! Kenapa kalian bisa lengah..??!!" Raung Shaka lalu menutup telponnya.


Shaka kembali menelpon seseorang saat dokter dan perawat datang untuk menangani Kira. Yudha ikut datang karena kawatir setelah mendengar ada panggilan darurat dari kamar Kira.


"Kak Adam, tolong bantu aku. Arian menculik Satria dan meninggalkan dia di dermaga sebelah barat pelabuhan." Kata Shaka panik.


"Apa..??!! Bre**sek..!! Aku akan segera mengerahkan orangku untuk mencari Satria. Kamu tenanglah. Bagaimana Kira..??" Sahut Adam.


"Dia pingsan. Kondisinya kembali menurun setelah bertemu Arian dan mendengar Satria diculik." Kata Shaka lagi.


"Sialaaan..!! Dia benar-benar mencari masalah denganku." Desis Adam.


"Kamu jangan kawatir. Aku akan membawa Satria kembali dengan selamat. Kamu tetap disana dan jaga Kira." Kata Adam lagi.


"Terima kasih, kak Adam." Kata Shaka lalu menutup telponnya.


Shaka menatap Kira yang baru selesai ditangani. Yudha yang sudah mendengar apa yang terjadi dari Edo bergegas menghampirinya.


"Apa benar Arian datang dan Satria diculik..??" Tanya Yudha seolah tidak percaya. Shaka hanya mengangguk dan meraih tangan istrinya yang tergolek lemah.


"Sial..!!" Umpat Yudha.


"Tenanglah. Dia pasti akan ditemukan." Kata Yudha.


"Bagaimana keadaan Kira..??" Tanya Shaka.


"Tekanan darahnya menurun drastis, ditambah lagi tangannya terluka karena jarum infus yang terlepas. Tapi kondisinya sudah kembali stabil." Jawab Yudha menenangkannya.


Shaka, Edo, dan Yudha tetap tinggal di kamar Kira untuk menunggu kabar dari Adam. Hans menyusul setelah mendapat kabar dari Edo. Dia langsung menempatkan beberapa pengawal untuk berjaga di kamar Kira.


Setelah menunggu selama hampir tiga jam, akhirnya mereka bisa bernapas lega. Adam, Yudhi, dan orang-orang mereka berhasil menemukan Satria setelah beberapa lama mencari. Anak itu tidak sadarkan diri di bangku belakang sebuah mobil. Dia ditinggalkan seorang diri di salah satu sudut dermaga itu.