(Family) Bound

(Family) Bound
Luka Lama



Luna baru saja menjenguk Kira. Sudah empat hari Kira dirawat dan dia baru datang sekarang karena Edo bersikeras melarangnya untuk datang sendiri, sedangkan pemuda itu begitu sibuk dengan kuliahnya dan membantu merawat Kira.


Luna berjalan beriringan bersama Edo di sepanjang koridor rumah sakit. Edo terus menggenggam erat tangan Luna, menenangkan gadisnya yang terlihat kesal karena beberapa wanita tampak terus menatapnya penuh minat.


"Apa setiap kamu datang kemari mereka selalu melihatmu seperti itu..??" Sungut Luna kesal. Rasanya dia ingin memasang topeng untuk menyembunyikan wajah tampan Edo.


"Abaikan saja. Yang penting aku hanya mencintaimu." Kata Edo sambil terkekeh pelan. Dia senang melihat Luna cemburu.


"Bagaimana aku bisa mengabaikannya..?? Dihadapanku mereka terang-terangan menatap ulat buluku. Apa mereka tidak melihat kita bergandengan tangan..??!! Menyebalkan." Kata Luna semakin bersungut-sungut.


"Tunggu sebentar." Kata Luna menghentikan langkahnya lalu mengambil kacamata hitam yang terselip di kantong kemeja Edo.


"Ada apa, Al..??" Tanya Edo. Luna memasangkan kacamata itu dan terdiam sejenak, lalu buru-buru melepasnya lagi dengan wajah yang kesal.


"Pikirku kalau kamu memakai kacamata hitam wajahmu tidak akan terlalu terlihat. Tapi kenapa kamu malah terlihat semakin tampan..!!" Seru Luna dengan menghentakkan kakinya. Edo tertawa melihat Luna yang merajuk.


"Kamu malah tertawa, Ed. Jangan-jangan kamu senang jadi pusat perhatian gadis-gadis itu..??" Sungut Luna semakin kesal.


"Apa yang bisa aku lakukan, sayaaaangg..?? Aku tidak bisa melarang semua orang menggunakan mata mereka. Lagian aku tertawa bukan karena senang mereka perhatikan. Tapi karena senang melihatmu cemburu." Kata Edo masih tertawa pelan.


"Siapa juga yang cemburu..??" Sahut Luna dengan mengalihkan wajahnya yang merona dari Edo.


""Beneran ga cemburu..?? Berarti ga cinta dong..?? Kalo gitu gapapa kan aku ajak jalan salah satu dari cewek itu..??" Goda Edo. Mata Luna membulat mendengar perkataan kekasihnya.


"Begitu..?? Baiklah. Silakan saja. Tapi jangan pernah berharap bisa ketemu aku lagi..!!" Seru Luna sambil menghempaskan tangan Edo dan berlari meninggalkan pemuda itu.


Edo tidak menyangka Luna akan menganggap serius gurauannya dan menjadi marah. Dia panik dan berlari mengejar Luna yang semakin menjauh.


"Al..!! Tunggu..!! Aluna..!!" Seru Edo memanggil Luna. Tapi gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya dan terus berlari.


BRUUUUUUKK..!!


Karena berlari tanpa memperhatikan jalan, Luna menabrak seseorang hingga terpental dan terjatuh.


"Aluna..!!" Seru Edo.


Edo berlari lebih cepat dan membantu gadis itu berdiri, tapi dengan cepat Luna menepis tangannya lalu bergegas membantu wanita yang ditabraknya.


"Maaf..!! Apa anda baik-baik saja..??" Tanya Luna sambil membantu wanita itu.


"Luna..??" Panggil wanita itu.


Luna menoleh karena familiar dengan suaranya. Gadis itu langsung melepas pegangan tangannya. Wajahnya berubah dingin lalu beranjak pergi meninggalkan wanita itu. Edo yang tidak mengerti ada masalah apa, ikut mengejar gadisnya.


"Luna..?? Aluna..!! Tunggu ibu, nak." Seru wanita itu sambil berlari mengejar Luna. Luna berhenti dan berbalik dengan cepat lalu memandang wanita itu dengan sengit.


"Ibu..?? Sekarang kamu menyebut dirimu sebagai ibuku..??!! Hei, nyonya Ratna Danuarta yang terhormat..!! Apa kamu lupa dulu kamu sendiri yang selalu menolak untuk aku panggil ibu..??!!" Seru Luna sengit.


"Luna, maafkan ibu." Kata wanita itu terisak.


"Maaf..?? Untuk apa..?? Karena meninggalkan aku bersama ayahku dan istri barunya yang terus menyiksaku..?? Atau karena meninggalkan aku demi laki-laki selingkuhanmu..??!!" Seru Luna semakin sengit. Wajah dan mata gadis itu begitu dipenuhi kebencian. Edo tertegun karena tidak pernah melihat gadisnya seperti itu.


"Maaf.. untuk semuanya." Kata Ratna dengan kepala menunduk dalam. Bahunya berguncang keras karena menangis.


"Pergi dari hadapanku dan anggap kita tidak pernah bertemu. Bukankah kamu sudah bahagia dengan laki-laki itu..??" Kata Luna dingin.


"Ibu tahu telah bersalah denganmu. Tapi ibu menyesal. Ibu sayang padamu, nak. Tolong maafkan ibu." Pinta Ratna memohon. Luna tertawa sumbang mendengar permintaan ibunya.


"Begitu besar rasa sayangmu sampai tega meninggalkan aku. Kemana saja kamu selama mereka terus menyiksaku..??!! Setelah ayahku meninggal, istrinya merebut semua harta ayah dan menendangku ke jalanan. Aku berkeliaran di jalanan dan hidup seperti gelandangan. Aku kelaparan dan tidak memiliki tempat bernaung. Tapi kamu lihat..?? Meski aku harus bekerja keras seorang diri aku mampu bertahan tanpamu ataupun harta dari ayahku. Jadi jangan pernah menemuiku lagi apalagi dengan alasan kasih sayangmu. Karena bagiku semua itu omong kosong..!!" Kata Luna lalu berjalan cepat meninggalkan ibunya dan Edo yang masih terpaku di tempatnya.


"Al, tunggu." Kata Edo.


"Lepaskan aku..!!" Seru Luna sambil menepis tangan Edo dan menatap tajam pada pemuda itu lalu kembali melangkah.


"Aluna." Panggil Edo lagi.


"Jangan dekati aku..!! Kamu dan wanita itu sama saja. Mudah sekali berpaling dan mengatakan maaf..!!" Kata Luna sengit.


"Al, tunggu..!! Dengar.. aku minta maaf. Tadi aku hanya bercanda." Kata Edo benar-benar panik.


Edo mulai kewalahan karena Luna yang terus berusaha melepas genggaman tangannya. Dia pun akhirnya menarik tubuh Luna dan mendekapnya erat hingga gadis itu tidak dapat bergerak.


Dulu butuh waktu yang cukup lama untuk Edo meluluhkan hati Luna hingga mau memaafkannya. Edo tidak mau kalau sampai kembali kehilangan Luna hanya karena candaan konyol.


"Bercanda..?? Bagiku itu sama sekali tidak lucu, Ed..!! Sekarang lepaskan aku..!!" Seru Luna masih berusaha lepas dari dekapan Edo.


"Maafkan aku, Al. Aku tidak akan mengulanginya. Tolong jangan marah lagi." Kata Edo tanpa melepas dekapannya.


Perlahan Luna berhenti memberontak dan mulai menangis dalam pelukan Edo. Pemuda itu mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di atas puncak kepala Luna.


Edo membawa Luna ke cafe yang ada di dalam kompleks rumah sakit untuk memberi waktu bagi gadis itu menenangkan diri. Luna masih terdiam dan menundukkan kepalanya sambil sesekali menghapus airmatanya. Kedua tangannya masih menggenggam erat mug yang berisi coklat hangat.


Edo menatap lekat wajah Luna. Dia tidak pernah menyangka hidup gadis itu begitu sulit. Dan bahkan sempat terlantar di jalanan sebelum dia menemukannya.


"Maafkan aku. Kamu jadi harus mendengar pertengkaranku dengan wanita itu." Kata Luna setelah menghela napas panjang.


"Maksudmu ibumu..??" Sahut Edo. Luna hanya terdiam.


"Dia dan ayahku menikah karena dijodohkan. Saat itu ibuku sudah mempunyai kekasih. Meski ayahku selalu memperlakukan dia dengan baik, ternyata tetap tidak bisa menghapus perasaannya pada kekasihnya itu. Bahkan kelahiranku selalu dianggap sebagai sebuah kesalahan olehnya. Sampai akhirnya saat umurku 8 tahun dia sudah tidak tahan dan memilih pergi bersama kekasihnya, meninggalkan aku dan ayahku. Sejak itu ayah tidak pernah lagi bersikap hangat ataupun sayang padaku. Meski tidak pernah menyakiti aku, tapi ayah tidak pernah mengacuhkanku. Dan setelah menikah lagi, istrinya terus memperlakukan aku dengan buruk. Entah ayahku memang tidak tahu atau menutup mata, tapi dia tidak melakukan apapun. Dan setelah ayah meninggal, Istrinya mengambil semua harta ayah dan mengusirku. Aku sempat hidup di jalanan karena tidak memiliki tujuan. Untunglah saat itu istri ayah tidak mengetahui tentang tabungan pribadiku. Meski tidak banyak, tapi berarti untukku. Akhirnya aku menemukan kontrakan yang terjangkau olehku meski sangat jauh dari kota. Tapi setidaknya aku mempunyai tempat bernaung." Kata Luna.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya saat kita berkencan dulu..??" Tanya Edo.


"Apa kamu lupa..?? Waktu itu kamu sibuk berusaha menyingkirkan aku dari hidupmu. Bahkan kencan itu terjadi karena kamu ingin bebas dariku." Cibir Luna. Edo terdiam karena apa yang dikatakan Luna memang benar.


"Aku memang bodoh. Sejak awal aku mencintaimu tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Dan justru baru mengakuinya setelah kamu pergi. Maafkan aku." Kata Edo sambil menggenggam erat kedua tangan Luna.


"Lupakan, Ed. Itu sudah berlalu." Kata Luna.


"Kamu memaafkan aku..??" Tanya Edo dan Luna mengangguk.


"Jadi apa kamu akan memaafkan ibumu..??" Tanya Edo lagi.


"Jangan bicarakan wanita itu sekarang." Kata Luna dingin.


"Ibumu.. wanita itu ibumu, Al. Kesalahan apapun yang dilakukannya, dia tetap ibumu. Tidak ada yang bisa memutus hubungan darah. Apalagi antara ibu dan anak." Sahut Edo.


"Mudah untukmu mengatakan itu. Kamu tidak pernah ada di posisiku." Cibir Luna.


"Ya, karena setelah kelahiranku aku tidak sempat merasakan kasih sayang seorang ibu. Mungkin kalau papa tidak melakukan kesalahan, mommy tidak akan pernah hadir dalam hidupku, dan aku tidak akan pernah merasakan seperti apa kasih sayang seorang ibu." Sahut Edo.


Luna menatap Edo dengan perasaan bersalah. Dia telah membuka luka Edo yang kehilangan ibunya saat dia lahir.


"Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu." Kata Luna penuh sesal.


"Sepertinya kamu tidak mengerti maksud perkataanku, Al. Aku mengatakan itu bukan karena tersinggung. Tapi karena aku ingin kamu tahu. Bahwa ada kalanya sebuah kesalahan membawa kita pada kebahagiaan. Saat sebuah kesalahan terjadi, bahagia atau tidak semua tergantung bagaimana kita menjalani hidup setelahnya. Papaku melakukan kesalahan yang sangat besar dan tentu saja tidak termaafkan. Tapi mommy dan daddy memutuskan untuk memaafkan papa, bahkan mengasuh aku. Anak dari orang yang membuat mommy, Rania, dan Dit-dit hampir terbunuh. Dan justru karena keputusan itu hidup kami bahagia. Aku bahagia. Karena mendapatkan seorang ibu. Cobalah bicara pada ibumu dan maafkan dia. Pasti sulit menerima dia kembali. Tapi setidaknya maafkan ibumu. Agar tidak ada beban lagi dalam hatimu, Al." Kata Edo panjang lebar.


Luna terdiam dan merenungkan setiap perkataan Edo. Karena meski marah dan kecewa, sebenarnya dia pun sangat merindukan ibunya.