(Family) Bound

(Family) Bound
Bekal Makan Siang



Edo berjalan santai menuju kelasnya. Meski hanya memakai celana blue jeans dan kemeja coklat lengan panjang yang dilipat sampai siku, dia tetap menarik perhatian orang-orang di sekitarnya terutama kaum hawa. Penghuni gedung fakultas teknik memang mayoritas laki-laki. Bahkan di angkatan Edo hanya ada 3 gadis, itu pun beda jurusan dengan Edo yang mengambil jurusan teknik mesin. Tapi karena sosok Edo, banyak gadis dari fakultas lain yang menyambangi gedung teknik dengan berbagai alasan. Semua itu hanya cara mereka untuk mencoba menarik perhatian seorang Edo. Meski sampai detik ini Edo tidak menanggapi satupun dari gadis-gadis yang mendekatinya. Dia hanya bersikap ramah sekedarnya tanpa memberi harapan apapun.


Edo tersenyum ramah pada tiap orang yang menyapanya. Tak jauh dari kelasnya nampak 2 sahabatnya telah menunggu, Bryan dan Aris.


“Hai, bro. Akhirnya lo dateng juga.” Sapa Bryan dengan suara lega.


“Bisa berabe kalo lo ga dateng, Ed. Lo tau sendiri gimana killer-nya bu Otih. Tapi kalo ada kamu di kelas jadi ilang garangnya. Apalagi kalo lo duduk depan.” Sahut Aris menimpali.


“Lo pikir gue pawang..??” Sungut Edo.


“Emang lo kan pawangnya bu Otih.” Sahut Bryan sambil tergelak.


“Lo ga inget bu otih pernah ngamuk ga jelas di kelas gara-gara kirain kamu ga dateng..?? Padahal waktu itu lo cuman telat. Tapi begitu lo dateng sikap bu Otih langsung berubah drastis. Jadi selembut permen kapas di pasar malam.” Sahut Aris ikut menimpali.


“Masih mending permen kapas kali, Ris. Ada manis-manisnya gitu.” Kata Bryan membalas Aris.


“Hai, Edo.” Sapa seorang gadis cantik yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Edo dan langsung bergelayut manja di lengan pemuda itu.


“Mau apa lagi dia..??” Gumam Edo dalam hati sambil menatap jengah pada Aluna yang terus bergelayut di lengannya.


Aluna Pratiwi Huda, mahasiswi jurusan Sastra Inggris yang gigih mengejar Edo sejak semester pertama. Gadis cantik putri tunggal keluarga Huda. Keluarga itu memiliki bisnis klinik kecantikan yang cukup terkenal di ibukota. Meski klinik itu belum membuka cabang diluar ibukota, tapi sudah memiliki setidaknya 9 cabang. Sebenarnya Aluna adalah gadis yang baik dan lemah lembut. Tapi bila sudah berurusan dengan sosok Edo, Luna sudah memutuskan semua urat malunya.


Setiap hari Luna datang ke gedung fakultas teknik untuk mencari Edo. Pemuda itu seringkali merasa risih karena kadang yang dilakukan gadis itu hanyalah menatap wajahnya atau menggodanya habis-habisan. Kalau dikisah lain para lelaki yang gencar menggoda wanita sampai wajah mereka memerah. Disini justru si gadis yang dengan percaya diri terus menggoda Edo sampai merasa malu.


“Pagi-pagi calon bini lo udah dateng aja, Do.” Sindir Bryan.


“Apaan sich lo..!!” Seru Edo sambil melotot ke arah Bryan, sedangkan Bryan hanya terkekeh melihat reaksi Edo.


“Kamu ngapain pagi-pagi kesini..??” Tanya Edo ketus sambil melepas belitan tangan Luna.


“Biasaaa.. Aku bawain bekal makan siang buat kamu nanti. Kamu jam 12.30 ada jam kosong kan..?? Tapi karena aku sendiri ada kelas tambahan jadi aku kasi sekarang saja.” Jawab Luna sambil menyodorkan kotak bekal pada Edo.


Edo menatap tajam pada kotak bekal yang disodorkan Luna. Selama hampir 1 tahun kuliah Edo selalu makan siang dengan ditemani Aluna karena gadis itu terus membawakan bekal makan siang untuknya dan selalu berhasil memaksa menemaninya makan siang.


“Kok malah bengong. Ini ambil.” Kata Luna sambil meraih tangan Edo dan meletakkan kotak bekal di genggaman tangan pemuda itu. Sedangkan Edo terus menatap kotak bekal ditangannya dengan perasaan tidak menentu.


“Aku pergi dulu. Nanti jangan kangen ya, sayang..!!” Kata Luna sambil mengecup cepat pipi Edo. Pemuda itu dan kedua temannya terbelalak melihat kelakuan Luna yang nekat.


“Aluna, apa-apaan kamu ini..??!!” Seru Edo yang terkejut dengan kelakuan Luna. Sementara gadis itu hanya tertawa cekikikan sambil berlalu meninggalkan Edo dan kedua temannya yang terus mentertawakan pemuda itu.


“Waaaahh.. pagi-pagi sudah dapat rejeki nomplok kamu, Do.” Goda Aris setelah berhenti tertawa.


“Rejeki nomplok apaan..??!! Ternoda dech pipi mulus gue yang masih virgin.” Sungut Edo sambil mengusap kasar pipinya, membuat kedua temannya semakin tergelak melihat reaksi Edo.


“Kenapa kalian masih disini..?? Apa kalian tidak mau ikut kelas saya..??” Tanya seseorang menghentikan tawa tiga sekawan itu.


“Pak Bowo..??” Sapa Bryan tergagap.


“Kok pak Bowo disini..??” Tanya Edo.


“Mulai sekarang saya yang mengampu kelas ini karena bu Otih akan segera diangkat sebagai wakil dekan.” Jawab pak Bowo dingin.


Wajah Edo dan ketiga kawannya memucat. Pak Bowo terkenal sebagai dosen yang bukan hanya killer tapi pelit nilai. Sudah menjadi rahasia umum bahwa nilai B adalah nilai tertinggi yang akan diberikan oleh pak Bowo. Laki-laki paruh baya itu selalu beralasan bahwa nilai A adalah nilai sempurna dan kesempurnaan itu hanya milik TUHAN.


****


Luna tengah berjalan meninggalkan gedung teknik saat beberapa gadis menyeretnya ke toilet perempuan. Mia dan Jessica yang menyeret Luna menghempaskan tubuh gadis itu hingga jatuh ke lantai sedang 2 lainnya tampak berjaga di luar pintu toilet.


"Heeeeeeh..!! Cewek ga tau malu. Berani-beraninya lo deketin Edo..!!" Teriak gadis yang bernama Mia.


"Memang kamu siapanya Edo..?? Setauku Edo belum punya pacar. Jadi siapapun berhak deketin dia. Bahkan aku tidak keberatan kalau kamu deketin Edo. Kita bersaing secara adil. Terlepas siapa gadis yang nantinya dia pilih, itu terserah dia. Kenapa kamu kebingungan..?? Apa jangan-jangan selama ini kamu justru terusan dicuekin Edo..??" Cibir Luna.


"Diem lo..!! Gue emang belum jadian sama Edo, tapi nanti pasti dia bakal terima gue. Lo lupa kalo gue cewek populer di jurusan kita..??!! Jadi mending lo nyerah sekarang juga..!!" Seru Mia lagi.


"Ciiiih.. Miaaaaa.. Miaaaaa.. belum jadian tapi udah ngaku-ngaku. Ga takut diketawain kucing lewat..??" Jawab Luna tidak peduli.


PLAAAAAKK..!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Luna. Tapi Luna kembali menatap pada 2 gadis di hadapannya dengan sinis. Mia dan Jessica semakin geram karena ternyata gadis kurus di hadapan mereka tidak mudah ditindas. Dia meraih rambut Luna dan menariknya keras.


"Aaaaaargh..!!" Teriak Luna.


Tapi Luna tidak menyerah begitu saja. Gadis itu meraih rambut panjang Mia dan menariknya lebih keras hingga akhirnya Mia melepaskan cengkeramannya dan berusaha lepas dari Luna.


"Aaaargh..!! Sakiiitt..!!" Teriak Jessica.


"Sekarang tahu kan apa yang tadi aku rasakan saat kalian menarik rambutku..??" Geram Luna lalu menghempaskan tubuh Mia dan Jessica.


Luna merapikan penampilannya yang jadi berantakan karena ulah Mia dan Jessica lalu pergi keluar dari toilet meninggalkan 2 gadis yang masih terlihat kesal. Dua gadis yang berjaga dipintu tampak terkejut saat melihat Luna keluar dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa..??" Tanya Luna dengan menatap tajam pada mereka. Dua gadis itu berlari masuk ke dalam toilet sedangkan Luna berjalan menjauh.


****


Edo duduk di salah satu bangku yang ada di taman fakultas. Dia terdiam menatap kotak bekal yang diberikan Luna untuknya dengan perasaan tidak menentu. Selama ini Luna terus gigih mengejarnya dan selalu membuatnya kesal dengan segala tingkah laku yang sering membuatnya malu. Tapi masalahnya, Edo sudah terlanjur terbiasa makan siang dengan ditemani Luna. Meski selalu ada keributan, tapi setidaknya Luna selalu memastikan Edo menghabiskan bekal yang dia siapkan untuknya. Perlahan Edo memegang pipinya yang pagi tadi dicium oleh Luna. Tanpa sadar dia tersenyum saat mengingat gadis itu dengan berani mencuri ciumannya.


“Aluna Pratiwi Huda. Kamu benar-benar mencari masalah.” Gumam Edo dalam hati.


“Lo ngapain bengong..??” Tanya Bryan yang sudah duduk di samping Edo.


“Lo ngapain disini..?? Bukannya lo ada kelas..??” Tanya Edo heran.


“Dosennya ga dateng.” Jawab Bryan santai.


“Itu bekal yang dikasi Luna kan..?? Kok belom lo makan..??” Tanya Bryan lagi karena melihat Edo sudah membuka kotak bekal itu tapi hanya memandangnya saja.


“Belom laper.” Jawab Edo singkat.


“Belom laper apa kangen sama yang ngasi..??” Goda Bryan. Edo langsung menatap tajam pada Bryan dengan tatapan membunuh.


“Napa sich lo ga jadian aja sama Luna..?? Gue liat lo juga kayaknya naksir dia.” Kata Bryan.


“Ngaco lo ngomong..!! Ga ada ceritanya gue suka sama tu cewek absurd.” Sungut Edo.


“Tapi serius, Ed. Walopun kelakuan Luna suka ga jelas tapi dia cantik, cerdas, juga baik. Sama kamu aja dia jadi keliatan ga punya malu.” Sahut Bryan sambil tertawa kecil.


“Kayaknya lo suka sama dia. Napa ga lo aja yang jadian sama Luna.” Sungut Edo.


“Gue emang bengal dan playboy, tapi gue ga suka usik milik orang lain. Apalagi kalo itu milik sohib gue. Lagian apa lo ga sadar kalo sikap lo beda sama Luna..” Tanya Bryan.


“Beda gimana..?? Perasaan biasa aja.” Tanya Edo keheranan.


“Banyak cewek kejar dan coba deketin lo, tapi semua lo cuekin. Tapi sama Luna, lo selalu tanggapin walopun jutek dan ketus. Coba tanya sama hati lo, gimana perasaan lo ke Luna. Jangan sampai lo akhirnya nyesel, Ed.” Jawab Bryan panjang lebar. Edo terdiam dan merenungkan kata-kata Bryan.


“Masih ga lo makan..?? Kalo lo ga mau, gue aja yang makan.” Kata Bryan saat melihat Edo melamun sambil menyambar sebutir telur puyuh yang ada di kotak bekal.


“Bry, lo cari mati..!! Balikin tu telur puyuh..!!” Seru Edo sambil berusaha merebut kembali telur puyuh yang diambil Bryan.


Bryan yang melihat Edo akan merebut kembali telur puyuh yang telah dia ambil bergegas memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya cepat.


“Bry, lo beneran cari mati..!!” Seru Edo sambil memiting kepala Bryan.


Pergumulan konyol demi sebutir telur puyuh pun terjadi. Saat pergumulan itu semakin seru, tanpa sengaja mereka menyenggol kotak makan yang diletakkan Edo di bangku hingga seluruh isinya jatuh ke tanah. Kedua pemuda itu terbelalak melihat jatah makan siang Edo sudah hancur.


“Aduuuuh.. mampus..!! Beneran mati gue..!!” Rutuk Bryan dalam hati.


“Bro, soriiii.. gue beneran ga sengaja.” Kata Bryan sambil melangkah mundur saat melihat Edo menatapnya dengan tatapan membunuh.


“BRYAN SANDIKA..!! GUE ABISIN LO SEKARANG JUGA..!!” Raung Edo sambil mengejar Bryan yang berlari menjauh untuk menyelamatkan diri.


Adegan kejar-kejaran mengelilingi gedung fakultas teknik siang itu menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza