
Nara tampak mematut dirinya di depan cermin. Gadis kecil berusia lima tahun itu bergantian memandang bayangan dirinya di cermin dan foto keluarga yang ada di atas nakas kamarnya. Nara menghela napas panjang lalu menunduk dan terlihat kecewa entah karena apa. Rania yang baru saja selesai mandi heran melihat tingkah Nara.
“Nara, kamu kenapa..??” Tanya Rania yang melihat wajah sedih Nara.
“Gapapa, kak.” Jawab Nara cepat sambil menunduk lalu menggelengkan kepala.
“Ayo kita turun.” Ajak Rania.
Nara mengangguk dan mengikuti langkah Rania yang menggandeng tangannya. Di meja makan seluruh keluarga sudah berkumpul. Seperti biasa suasana begitu ramai. Apalagi saat Dit-dit mulai mengganggu ketiga adik mereka hingga memancing keributan. Tapi Nara yang biasanya kesal dan menangis hanya diam saja saat mulai diganggu. Dia bahkan membiarkan Adit yang dengan jahil mulai menarik-narik pelan kepang rambutnya.
“Eeh.. Nara. Tumben kamu diem saja, biasanya nangis.” Kata Radit keheranan.
“Laper.” Jawab Nara singkat tanpa berhenti melahap sarapannya.
“Mama, weekend nanti tolong ajari aku buat kue yaaa..” Pinta Rania.
“Tumben. Biasanya kamu paling males masuk dapur.” Kata Kira.
“Iiiiih.. mama.. aku mau mulai belajar masak, ma.” Sungut Rania cemberut.
“Memang kamu mau bikin apa sich, sayang..??” Tanya Kira.
“Chicken Pie sama Strawberry Cheesecake.” Jawab Rania.
“Kenapa tidak belajar resep yang mudah dulu, Ra..??” Tanya Kira lagi.
“Lagi pingin coba bikin itu, ma.” Jawab Rania lagi.
“Karena dua makanan itu kesukaan Oom Justin. Makanya mau belajar bikin, hehehehehe..” Gumam Rania dalam hati.
“Mama, aku juga mau ikut.” Kata Nara.
“Nara, kamu ada latihan tambahan untuk karate. Kapan-kapan saja yaaa..” Jawab Kira membuat Nara kembali terdiam.
“Sudah jangan ribut lagi..!! Kalau tidak segera berangkat nanti kalian telat.” Kata Shaka mengingatkan.
Acara sarapan keluarga Rahardian pun akhirnya selesai. Edo berangkat kuliah, Shaka ke kantor dan terlebih dulu mengantar Dit-dit ke sekolah. Sedangkan Kira mengantar Rania, Satria, dan Kinara. Pak Tarno, supir keluarga mereka, memang lebih difokuskan membantu bi Lastri untuk mengurus rumah.
Selama perjalanan Nara lebih banyak diam. Dia seringkali mencuri pandang pada Kira dan Rania yang duduk di depan. Ibu dan kakaknya memang selalu kompak. Orang-orang selalu mengatakan bahwa Rania sangat mirip ibunya, bahkan banyak sifat Kira yang menurun pada Rania. Belum lagi nama Rania yang artinya sama dengan nama ibu mereka, Kirania. Rania bahkan sering mengikat rambutnya ekor kuda sama seperti Kira. Sekarang pun Kira dan Rania sama-sama menguncir ekor kuda rambut mereka, sedang ibunya selalu menguncir dua rambutnya atau mengepangnya.
“Nara, kamu kenapa..??” Tanya Kira saat melihat Nara kembali menatapnya dan Rania dari kursi belakang.
“Gapapa, ma.” Jawab Nara singkat lalu mengalihkan pandangan ke arah jalan.
“Kenapa akhir-akhir ini kamu sering diam, Nara..?? Ada masalah di sekolah..??” Tanya Kira lagi saat dilihatnya putri kecilnya hanya terdiam dengan wajah dingin. Tapi gadis kecilnya itu hanya diam dan menggelengkan kepalanya pelan.
Sesampainya di sekolah, seperti biasa Kira turun dan mengantar Nara sampai depan gerbang sekolah. Rania yang melihat salah satu teman sekelasnya ikut mengantar adiknya ikut turun untuk menyapa.
“Jasmine..!!” Panggil Rania dengan berlari kecil ke arah temannya. Gadis yang dipanggil menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Rania.
“Kamu juga ikut antar adekmu, Ra..??” Tanya Jasmine.
“Iya, Jas. Tiap hari aku ikut mama antar Nara ke sekolah.” Kata Rania.
“Ma, ini Rania teman sekelasku.” Kata Jasmine memperkenalkan Rania pada mamanya yang tengah menurunkan standard motor matic yang dia naiki.
“Waaah.. kamu cantik sekali, sayang. Dan ini mama kamu ya..??” Sapa mama Jasmine.
“Benar, bu. Perkenalkan, saya Kirana. Mamanya Nara dan Rania.” Sahut Kira ramah.
“Jangan terlalu formal, mbak. Namaku Rianti. Panggil saja Rianti. Aku ibu Jasmine dan Ranu.” Kata Rianti ramah sambil memperkenalkan putranya yang satu TK dengan Nara. Kedua anak TK itu hanya terdiam dan saling melempar tatapan tajam seolah tengah bermusuhan.
“Kalian berdua mirip sekali. Sama-sama cantik.” Puji Rianti sambil bergantian melihat Kira dan Rania. Wajah Nara tampak semakin muram mendengar perkataan Rianti.
“Dan kamu juga lucu sekali, sayang. Imutnyaaaa..” Puji Rianti sambil mencubit pelan pipi gembil Nara dengan gemas, tapi gadis kecil itu hanya diam.
“Terima kasih, Rianti. Jasmine juga sangat cantik. Benar-benar mirip denganmu. Dan Ranu juga sangat tampan. Benar kan, Nara..??” Puji Kira tulus.
Sejak awal dia memang mengagumi kecantikan Jasmine dan Rianti, juga ketampanan Ranu yang sudah mulai terlihat. Baik Ranu maupun Nara sama-sama melengos saat Kira memuji Ranu. Kira dan Rianti heran melihat tingkah kedua anak mereka.
“Kalau bisa berjodoh, setelah dewasa aku ingin coba menjodohkan Jasmine dengan salah satu putraku. Atau Ranu dengan Nara saja yaa..?? Anak ini juga sangat tampan.” Gumam Kira.
“Ma, ayo cepat. Takut telat..!!” Teriak Satria dari dalam mobil.
“Maaf aku duluan, Ri. Masih harus antar Rania dan Satria ke sekolah. Kapan-kapan kita lanjut lagi ya.” Kata Kira.
“Tentu saja, Kirana. Kapan-kapan kita harus luangkan waktu untuk mengobrol.” Sahut Rianti penuh semangat.
“Oh yaaa.. Jasmine dan Rania kan sekelas. Bagaimana kalau Jasmine ikut aku saja, Ri..??” Tawar Kira saat melihat Rianti mengantar kedua anaknya dengan menggunakan motor.
“Aku takut merepotkan.” Kata Rianti sungkan.
“Tidak apa-apa. Toh tujuannya sama kan.” Sahut Kira.
“Hmmm.. baiklah. Minta tolong ya Kirana. Terima kasih sudah membantuku.” Jawab Rianti setelah berpikir sejenak.
“Jangan sungkan. Ini sama sekali tidak merepotkan.” Kata Kira.
Akhirnya Jasmine berangkat bersama Kira menuju sekolahnya, sedangkan Nara diantar Rianti hingga masuk gerbang bersama Ranu. Setelah Rianti benar-benar pergi Ranu menarik pelan kepang rambut Nara hingga membuat gadis kecil itu kesal.
“Aaaaah..!!” Teriak Ranu saat Nara menggigit tangannya.
“Sukurin..!! Makanya jangan suka tarik-tarik rambutku.” Sungut Nara kesal.
“Memangnya kenapa..?? Suka-suka aku..!!” Seru Ranu.
“Ini rambutku yang kamu tarik...!!” Sanggah Nara.
“Rambutmu jelek, kamu juga jelek. Tidak seperti kakak dan mamamu yang cantik.” Sahut Ranu kesal.
“Aaaah.. aaaaah..!!” Teriak Ranu lagi karena Nara kembali menggigit tangannya lalu meninggalkan dia begitu saja.
Nara berjalan ke arah kelasnya dengan menahan tangis. Ranu adalah orang kesekian yang selalu mengatakan ibu dan kakaknya mirip dan sama-sama cantik. Bahkan bocah lelaki itu seringkali mengganggu dan mengejeknya hingga membuat mereka sering ribut. Sampai sekarang selain orangtuanya tidak ada yang mengatakan bahwa dia cantik atau mirip dengan ibunya. Semakin lama Nara semakin kesal karena orang-orang itu terus membandingkan kecantikannya dengan sang kakak.
“Kamu kenapa sayang..?? Dari tadi lihatin mama seperti itu.” Tanya Kira yang menyadari tingkah aneh putri bungsunya.
“Gapapa, ma.” Jawab Nara cepat.
“Beneran..??” Tanya Kira lagi untuk memastikan. Nara hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan ibunya.
Kira hanya bisa menghela napas panjang karena tidak ingin terlalu memaksa putri kecilnya. Dia tidak ingin merusak mood Nara karena tiga hari lagi mereka akan merayakan ulang tahun Nara yang keenam. Putrinya itu butuh waktu lama untuk mengembalikan mood yang terlanjur rusak.
Tiga hari kemudian rumah keluarga Rahardian ramai karena tengah merayakan ulang tahun Nara. Seluruh keluarga Shaka dan Kira berkumpul. Nara terlihat manis dan menggemaskan dalam balutan kostum Elsa yang menjadi pilihannya. Rambutnya pun dikepang seperti putri favoritnya itu. Tapi Nara yang awalnya bersemangat kembali murung saat orang-orang terus memuji Rania. Kakaknya yang memang mudah bergaul pun membaur dengan mudahnya.
“Nara, ayo sini foto bareng.” Ajak Rania sambil meraih tangan Nara.
“Ga mau..!!” Jawab Nara ketus dan menepis tangan kakaknya.
“Eeeh.. kamu kenapa, Nara..?? Marah sama kakak..??” Tanya Rania keheranan. Nara hanya diam dan menggelengkan kepala.
Akhir-akhir ini Rania merasa Nara menjauhinya entah untuk alasan apa, padahal sebelumnya dia sangat dekat dengan Nara, apalagi mereka sekamar. Karena itu dia terus mencoba untuk mendekati Nara di acara ulang tahun ini.
“Kalau begitu ayo foto bareng.” Ajak Rania lagi dengan senyum manisnya.
“Hei, cantik ayo cepat kesini. Kamu juga princess ayo buruan.” Panggil Yudhi.
“GA MAU..!! SANA FOTO SAJA SAMA KAK RANIA..!!” Teriak Nara keras hingga mengejutkan semua orang yang hadir. Rania semakin bingung melihat Nara yang terlihat begitu marah padanya.
“Sayang..!!” Panggil Kira.
Nara mengabaikan panggilan Kira lalu berlari ke kamarnya dan membanting pintu keras. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang lalu menangis keras. Terdengar suara Kira mengetuk pintu beberapa kali dan memanggilnya, tapi Nara tetap mengabaikan panggilan itu.
“Nara, sayang. Mama masuk ya.” Kata Kira karena tidak mendapat jawaban dari Nara.
Kira membuka pintu kamar Nara dan melihat putri kecilnya tengah menelungkup diatas ranjang dan menangis. Perlahan Kira berjalan mendekati Nara lalu duduk di tepi ranjang. Dielusnya lembut kepala Nara untuk menenangkan putrinya yang tengah menangis.
“Nara.. kamu kenapa, sayang..?? Jangan bilang gapapa karena mama tidak mau lagi menerima jawaban itu.” Tanya Kira. Perlahan Nara bangun dan duduk berhadapan dengan Kira. Gadis kecil itu tampak masih menangis sesenggukan.
“Ma, kenapa aku tidak cantik..?? Kenapa aku tidak mirip mama..?? Mama juga lebih sayang sama kak Rania. Apa aku bukan anak mama..??” Tanya Nara polos tapi sarat kesedihan. Mata Kira membulat mendengar pertanyaan Nara.
“Hei, sayang. Kenapa berbicara seperti itu..?? Tentu saja kamu anak mama dan papa. Dan kamu adalah gadis kecil yang sangat cantik. Mama juga menyayangimu dan saudara-saudaramu sama rata.” Jawab Kira dengan menangkup lembut wajah Nara.
“Tapi kenapa orang-orang selalu bilang kalau kak Rania cantik dan mirip mama. Kak Satria juga mirip papa. Tapi aku sama sekali tidak mirip mama ataupun papa. Teman-teman di sekolah juga bilang kalau memang anak kandung pasti mirip orangtuanya. Mereka bilang aku bukan anak mama sama papa.” Kata Nara kembali menangis keras.
Kira menghela napas panjang lalu meraih tubuh kecil Nara dan memeluknya erat. Dia mengusap lembut punggung putrinya untuk menenangkan gadis kecil itu. Saat dirasanya Nara mulai tenang, Kira melepas pelukannya perlahan. Ditangkupnya wajah mungil Nara dengan kedua tangan hingga membuat pandangan mereka bertemu.
“Sayang, dengarkan mama. Kamu anak kesayangan mama dan papa. Kamu juga kesayangan kakak-kakakmu, terutama kak Rania. Memang benar wajah kak Rania mirip dengan mama, dan kak Satria mirip dengan papa. Tapi apa kamu pernah memperhatikan kalau kamu mirip eyang putri dan oma..??” Tanya Kira lembut yang dijawab gelengan oleh Nara.
Kira tersenyum dan membimbing Nara ke depan cermin yang ada di kamarnya lalu mengambil foto keluarga besar dalam bingkai di atas nakas.
“Lihat mata dan rambut oma, mirip kamu tidak..??” Kata Kira sambil bergantian menunjuk foto Vivi dan mata Nara.
Nara mengikuti jari ibunya lalu memandang ke arah cermin kemudian mengangguk.
“Sekarang lihat hidung dan bibir Nara, mirip eyang putri tidak..?? Kata Kira lagi sembari menunjuk foto Edna dan hidung Nara.
Nara kembali mengikuti jari Kira dan melihat pantulan dirinya di cermin, lalu mengangguk lagi.
“Lalu bentuk wajah Nara mirip mama. Lihat..??” Kata Kira dengan memeluk putri kecilnya dan menempelkan wajah mereka.
Nara kembali menatap cermin, melihat pantulan dirinya dan Kira. Setelah mengamati sejenak, Nara kembali mengangguk.
“Nara lihat kak Radit dan kak Adit..??” Tanya Kira lagi.
“Nara lihat rambut mama dan papa Pierre hitam kan..?? Kulit kami juga tidak putih. Tapi rambut kak Radit dan kak Adit berwarna coklat gelap juga berkulit putih karena mirip eyang putri."
Nara terdiam dan menunduk. Kira kembali memeluk Nara dan mengecup lembut pipi gembilnya.
“Sayang, tidak semua anak memiliki wajah yang mirip orangtua mereka. Ada kalanya mereka mirip kakek atau nenek. Kamu juga lebih mirip eyang putri dan oma, karena kamu cucu mereka, anak mama dan papa.” Kata Kira lagi.
“Tapi mama selalu menguncir rambut kak Rania seperti punya mama. Rambutku hanya dikepang atau kuncir 2. Orang-orang juga selalu bilang kak Rania cantik seperti mama, tapi aku cuma imut dan gemesin.” Kata Nara lagi. Kira terkekeh mendengar putri kecilnya.
“Sayang, mama menguncir kak Rania seperti itu karena memang dia terlihat lebih bagus dengan kuncir ekor kuda, lebih sesuai dengan karakter kak Rania. Alasan sama kenapa mama lebih sering menguncir 2 atau mengepang rambutmu. Karena kamu terlihat lebih bagus dengan 2 model itu, lebih sesuai dengan karaktermu, sayang. Bukan karena mama lebih sayang kak Rania. Orang lain memanggil kak Rania cantik karena dia sudah lebih besar. Tapi Nara selalu disebut imut dan menggemaskan karena memang seperti itulah dirimu, sayang. Juga lebih karena kamu masih kecil. Kamu sangat cantik, nak. Saat lebih besar orang-orang pasti juga akan memanggilmu cantik, seperti kak Rania. Sekarang mama tanya, Nara sebenarnya lebih suka kuncir 2 dan kepang atau kuncir ekor kuda..??” Tanya Kira. Nara terdiam dan tampak berpikir sejenak.
“Aku lebih suka kuncir 2 atau kepang, ma. Soalnya kuncir 2 terlihat lucu, dan kepang seperti princess Elsa.” Jawab Nara polos.
“Mulai besok nara ingin mama kuncir seperti biasa atau seperti kak Rania..??” Tanya Kira lagi.
“Tetap seperti biasa, ma.” Jawab Nara dengan tatapan memohon.
“Baiklah. Tapi kalau suatu saat Nara ingin dikuncir seperti kak Rania bilang sama mama ya, sayang.” Kata Kira dengan mengelus lembut wajah Nara.
“Maafkan Nara, ma.” Kata Nara sembari memeluk erat tubuh Kira.
“Maafkan mama juga ya, sayang. Jangan pedulikan lagi apa kata orang lain. Kamu anak mama dan papa. Kami juga sangat menyayangimu sama besarnya seperti pada kakak-kakakmu.” Sahut Kira sembari memeluk Nara.
“Terima kasih, ma.” Kata Nara semakin mengeratkan pelukannya.
“Sekarang kita turun ya, sayang. Mereka semua kangen sama princess kecil yang cantik, imut, dan menggemaskan ini.” Bujuk Kira.
Nara tersenyum dan mengangguk lalu membuka tangannya pertanda dia minta digendong. Kira tertawa pelan dan mencubit gemas pipi Nara sebelum meraih tubuh gadis kecilnya dalam gendongan dan membawanya turun.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza