
Edo tersenyum melihat wajah kesal Luna. Sejak bertemu Luna, setiap hari setelah selesai kuliah Edo datang dan terus mengekorinya kemanapun dia pergi. Pemuda itu seakan berubah menjadi ulat bulu yang selalu menempel padanya.
“Edo, berhenti mengikutiku..!!” Seru Luna kesal. Tapi pemuda itu justru nyengir tidak jelas.
“Siapa yang mengikutimu..?? Aku hanya ingin ke lapangan itu saja.” Jawab Edo santai.
“Kenapa kamu tidak naik mobilmu saja dan langsung pergi ke lapangan..??!!” Sahut Luna sewot.
“Karena jalan lebih sehat, Al. Apalagi kalau bareng pujaan hati. Kamu juga pasti akan semakin semangat berjualan karena ditemani laki-laki yang kamu cintai kan.” Kata Edo tanpa malu.
Luna tercengang melihat Edo yang berubah 180 derajat. Sekarang Luna tahu bagaimana perasaan Edo selama ini saat dia tanpa malu terus mendekatinya. Luna meletakkan keranjang makanannya lalu mendekati Edo dan menepuk-nepuk pipi pemuda itu pelan.
“Kamu beneran Edo..?? Katakan kamu siapa..?? Apa yang kamu lakukan pada Edo..??” Kata Luna sambil mencubit-cubit gemas kedua pipi Edo.
“Aduuuuh.. sakit, Al..!!” Kata Edo sambil menepis pelan kedua tangan Luna.
“Kamu bicara apa sich..?? Aku beneran Edo.” Sungut Edo sambil mengelus pipinya yang dicubit Luna.
“Apa 4 bulan ini kepalamu sempat terbentur..??” Tanya Luna sambil melihat ke arah kepala Edo seolah mencari tahu. Edo gemas dan menyentil dahi Luna dengan jarinya.
“Aaaaauch..!! Kenapa kamu menyentil kepalaku..??!!” Seru Luna sambil mengelus dahinya.
“Biar kamu sadar kalau ini beneran.” Kata Edo sambil tersenyum geli.
“Dasar cowok ga jelas.” Sungut Luna sambil beranjak meninggalkan Edo.
Edo kembali berjalan mengikuti Luna dari belakang. Luna yang sudah kehabisan kata-kata hanya bisa bersungut kesal. Dia sudah lelah setiap hari melakukan perdebatan yang sama dengan Edo. Akhirnya hari itu Luna menyerah dan membiarkan Edo melakukan apa yang dia mau. Dia tidak mau membuang tenaga dan waktunya mengusir ulat bulu tampan yang terus mengikutinya.
Luna terus berjalan menyusuri jalanan hingga sampai ke lapangan, sembari berjalan dia tak hentinya berteriak menawarkan dagangannya. Luna berusaha mengacuhkan Edo yang terus menatap lekat kepadanya. Jujur dia malu karena bertemu Edo dalam keadaan menyedihkan seperti sekarang. Tapi dia harus menyingkirkan rasa malunya dan tetap berjualan karena perlu uang untuk bertahan hidup.
Luna duduk lunglai di salah satu bangku lapangan. Dia menatap keranjang dagangannya dengan nanar. Begitu jauh dia berjalan berkeliling tapi dagangannya hanya berkurang sedikit. Dia mendengus kesal karena Edo menghilang tidak tahu kemana. Luna menghela napas panjang untuk menenangkan perasaannya. Tiba-tiba seseorang menyodorkan botol air mineral dingin di depan wajahnya.
“Minum dan istirahat dulu. Kamu pasti capek.” Kata Edo menyodorkan botol air mineral dingin.
“Terima kasih.” Jawab Luna singkat sambil meraih botol minuman itu lalu meminumnya hingga nyaris tidak bersisa.
Selama dua minggu dia menemani Luna, dagangan gadis itu bisa dibilang laris meski kadang tidak habis. Dan akibatnya, keluarganya harus rela menghabiskan semua makanan itu karena Edo akan memborong semua dan membawanya pulang. Edo menatap lekat wajah lelah Luna. Melihat begitu banyaknya makanan yang masih tersisa, Luna pasti menolak kalau Edo membeli semuanya. Edo mengedarkan pandangan. Dilihatnya beberapa gadis mencuri pandang padanya. Edo tersenyum lalu berdiri dan mengambil keranjang makanan Luna.
“Eeeeh.. mau dibawa kemana..??” Tanya Luna kebingungan.
“Kamu istirahat saja disini. Aku akan menggantikanmu berjualan.” Kata Edo sambil beranjak meninggalkan Luna.
“Edo, tunggu..!!” Panggil Luna berlari menyusul Edo.
“Hai, kakak cantik. Mau beli jajan..?? Ini enak semua loooh..” Kata Edo mendekati beberapa gadis yang tengah berkumpul. Tidak lupa dia mengembangkan senyum terbaiknya untuk mengambil hati gadis-gadis itu.
“Eeeeh.. iya.. jual apa saja, mas..??” Jawab salah seorang gadis tergagap. Wajahnya memerah melihat wajah tampan Edo.
“Ada gorengan, kue, juga beberapa makanan gurih dan manis lainnya, kak.” Kata Edo sambil membuka keranjang makanan dan memamerkan dagangan Luna.
Gadis-gadis itu tampak tertarik dan mengerumuni Edo untuk melihat dagangannya. Kerumunan itupun menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Dalam sekejap tubuh Edo mulai tidak terlihat karena dikelilingi para gadis dan ibu-ibu yang ingin membeli dagangannya. Luna hanya bisa terdiam dan membantu Edo melayani para pembeli. Dagangan Luna langsung habis tak bersisa. Daya tarik Edo membuat kaum hawa yang tengah berada di lapangan membeli dagangannya. Bahkan beberapa gadis dan ibu-ibu tanpa malu berani menggoda Edo hingga membuat Luna menjadi kesal, sedangkan Edo tampak terus tersenyum menanggapi mereka.
“Sepertinya kamu senang mendapat perhatian dari para gadis dan ibu-ibu itu.” Sungut Luna kesal saat mereka berjalan kembali ke rumah Luna.
“Kenapa..?? Kamu cemburu..??” Goda Edo dengan menahan senyumnya. Tangannya tetap menggandeng erat tangan Luna.
“Buat apa cemburu..?? Bukan urusanku.” Sahut Luna kesal.
“Trus kenapa wajahmu cemberut begitu..??” Tanya Edo sambil mencubit pipi Luna gemas.
“Aku tidak cemberut..!!” Jawab Luna sambil menepis tangan Edo.
“Kamu tidak perlu kawatir, Al. Selain mommy, wanita mana pun tidak akan bisa merebut hatiku dan menggantikanmu.” Kata Edo sambil mengacak pelan rambut Luna, membuat wajah gadis itu merona.
“Sudah sana pulang..!!” Perintah Luna saat mereka sampai di depan rumahnya.
“Kamu tidak suruh aku mampir dulu..?? Capek jalan keliling dari tadi, Al.” Rengek Edo.
“Salah siapa terus mengikutiku. Pulang dan istirahatlah di rumahmu yang nyaman. Rumahku terlalu kecil.” Sahut Luna ketus dengan wajah memerah dan memalingkan muka.
Edo tersenyum mendengar jawaban Luna yang begitu ketus. Dia tahu Luna malu dengan kondisi rumahnya sekarang, karena itu dia selalu keberatan setiap kali Edo akan mampir meski sebenarnya itu tidak masalah untuk Edo. Sebenarnya Edo juga masih penasaran kenapa keadaan Luna bisa seperti ini. Tapi dia berusaha menahan diri untuk bertanya karena dilihatnya Luna keberatan untuk membicarakan hal itu.
“Ikut aku.” Kata Edo menarik tangan Luna.
“Kita mau kemana, Ed..??” Tanya Luna berusaha mengikuti langkah Edo yang cepat tapi pemuda itu hanya diam.
“Temani aku makan. Aku lapar.” Jawab Edo setelah melajukan mobilnya.
“Kenapa harus mengajakku..?? Kamu bisa kan makan sendiri.” Sungut Luna kesal.
“Aku mau kamu menemaniku.” Kata Edo tanpa menghiraukan protes Luna.
“Ccckkk.. benar-benar menyusahkan.” Keluh Luna.
Edo melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah restoran seafood. Dia tahu Luna sangat menyukai seafood dari Raya. Edo membukakan pintu untuk Luna dan menggandeng tangan gadis itu saat memasuki restoran. Dia memesan meja untuk 2 orang. Wajah Luna seketika berbinar saat melihat kepiting dan udang kesukaannya ada di dalam daftar menu. Tapi seketika wajahnya kembali muram saat teringat dia tidak memiliki cukup uang untuk membelinya.
“Kenapa..?? Bukannya tadi kamu terlihat senang..??” Tanya Edo keheranan.
“Kamu ini bicara apa..?? Aku yang mengajakmu kemari, tentu saja aku yang akan membayarnya.” Kata Edo.
“Aku tidak mau banyak berhutang padamu.” Sahut Luna lalu menggigit bibir bawahnya.
“Aku tidak pernah meminjamkan uang sepeserpun untukmu. Lagipula selama membawakan aku makan siang apakah kamu menganggap itu sebagai hutang..??” Tanya Edo menatap tajam pada Luna, membuat nyali gadis itu menciut.
“Tidak. Aku ikhlas memberikannya untukmu.” Jawab Luna gugup.
“Kalau begitu jangan pernah menganggap ini sebagai hutang.” Kata Edo dingin. Luna hanya mengangguk dan menunduk tidak berani menatap Edo.
“Sekarang pesanlah apapun yang kamu mau. Jangan memikirkan soal harga.” Kata Edo tenang.
“Aku mau kepiting saos padang dan udang asam manis. Untuk minumnya jus strawberry.” Kata Luna cepat tanpa melihat kembali pada daftar menu.
Edo tersenyum karena tahu sebenarnya Luna sudah menentukan pilihan makanan saat menolaknya tadi. Dia memanggil pelayan dan memesan sejumlah makanan untuknya dan Luna. Tak lama kemudian pesanan datang dan wajah Luna berbinar saat melihat makanan kesukaannya. Luna mengambilkan makan untuk Edo, lalu tanpa diperintah Luna langsung melahap makanan dihadapannya dengan penuh semangat. Tiba-tiba Luna terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan makannya. Edo mengamati luna yang makan dengan wajah menunduk. Dilihatnya bahu Luna bergetar pelan menandakan gadis itu tengah menahan tangisnya.
“Al.” Panggil Edo. Luna tampak mengusap kasar wajahnya sebelum mengangkat kepalanya.
“Makan yang banyak. Makin hari aku lihat kamu makin kurus saja. Nanti aku tidak bisa mencubit pipi gembilmu.” Kata Edo sambil mengelap sisa saus di sudut bibir Luna lalu mencubit pelan pipinya.
“Itu karena aku sedang diet.” Jawab Luna bohong.
“Kamu sudah sekurus ini, untuk apa diet..?? Aku lebih suka gadis dengan tubuh berisi.” Sahut Edo pura-pura kesal.
Luna terdiam sejenak lalu menambahkan nasi ke dalam piringnya. Edo tersenyum karena Luna menurutinya untuk makan lebih banyak.
“Kamu kenapa tidak makan..??” Tanya Luna saat dilihatnya Edo berhenti makan.
“Aku sudah kenyang.” Kata Edo sambil menunjuk piring kosong dihadapannya dengan dagunya.
Luna menggelengkan kepalanya pelan karena kebiasaan Edo yang makan dengan sangat cepat sama sekali tidak berubah.
“Apa kamu bahkan mengunyah makanan itu, Ed..?? Berapa kali aku bilang. Kunyah makananmu perlahan sebelum menelannya. Cepat atau lambat itu akan mengganggu pencernaanmu.” Kata Luna kesal.
“Kalau begitu kamu harus sering menemaniku makan biar aku selalu ingat untuk mengunyah makananku perlahan.” Kata Edo dengan senyum manisnya.
“Iiish.. itu kan maumu.”Sungut Luna.
“Ini. Cobalah ini. Dan kunyahlah perlahan.” Kata Luna menyodorkan sendok yang berisi nasi dan udang asam manis.
Edo tersenyum lalu membuka mulutnya menyambut suapan dari Luna. Edo memejamkan mata dan mengunyahnya perlahan. Makanan itu terasa begitu lezat dimulutnya. Sepertinya bukan karena masakannya yang memang lezat, tapi karena Luna yang menyuapinya.
“Apa memang seenak itu, Ed..??” Tanya Luna keheranan lalu kembali menyuapkan makanan yang sama kedalam mulutnya untuk memastikan.
“Sebenarnya rasa masakan ini boleh juga.” Kata Luna manggut-manggut.
“Suapi aku lagi.” Pinta Edo yang lebih mirip sebuah perintah.
“Bukannya tadi kamu bilang sudah kenyang..??” Sahut Luna.
“Aku jadi lapar lagi. Ayo suapi.. Aaaaa..” Kata Edo sambil membuka mulutnya.
Luna terus menyuapi Edo dan tanpa disadari makanan yang ada di piringnya justru habis oleh Edo. Luna mendengus kesal karena tidak jadi makan udang asam manis kesukaannya. Harapannya hanya tinggal kepiting saos padang karena Edo tidak menyukai makanan pedas.
“Kamu yang menyuruhku makan banyak, tapi justru kamu sendiri yang menghabiskan makananku.” Protes Luna sambil mengupas kepiting pesanannya.
“Hehehe.. maaf..” kata Edo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Edo kembali mengantarkan Luna pulang setelah selesai makan malam. Tidak lupa dia membungkus udang asam manis untuk Luna karena gadis itu tidak sempat memakannya tadi. Edo terus menggandeng tangan Luna hingga sampai di depan rumah. Tidak lupa dia mengecup kening Luna saat berpamitan, Luna hanya terdiam karena sudah terbiasa dengan perlakuan Edo.
“Aluna.” Panggil Edo saat Luna akan masuk ke dalam rumah.
“Aku tahu kamu belum siap membicarakan tentang apa yang terjadi pada keluargamu. Tapi kapanpun kamu ingin membicarakannya, aku akan selalu siap untuk mendengar dan membantumu, Al.” Kata Edo dengan menatap lekat wajah Luna.
“Terima kasih, Ed.” Sahut Luna dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu tersenyum tipis sebelum menutup pintu rumahnya.
Edo masih berdiri di tempatnya tanpa melepas pandangan dari pintu rumah Luna. Pikirannya masih melayang pada gadis penghuni rumah kecil itu. Setelah 10-15 menit dilihatnya Luna memadamkan lampu rumah, tanda gadis itu akan segera beristirahat. Edo berjalan pelan menuju mobilnya. Dia masih terus memikirkan Luna. Bayangan Luna yang menahan tangis saat makan malam tadi begitu mengusik pikirannya.
“Aku akan menunggumu, Al. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk mempercayaiku dan kembali mencintaiku seperti dulu. Aku janji akan membuatmu bahagia agar senyummu kembali seperti dulu.” Janji Edo dalam hati.
Sejenak Edo menatap jalan kecil yang mengarah ke rumah Luna sebelum masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza