(Family) Bound

(Family) Bound
Aku menyayangimu



Shaka berhenti di rumah sakit pertama yang dia lihat. Setelah mobil berhenti, Fabian membawa keluar tubuh Anin dengan dibantu Justin. Beberapa petugas medis menghampiri dengan membawa brankar. Fabian yang masih panik ingin ikut menyusul ke dalam ruang tindakan tapi dicegah oleh salah seorang perawat.


Fabian duduk di ruang tunggu bersama Justin dan Shaka yang baru saja menyelesaikan administrasi. Laki-laki itu tampak beberapa kali mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Sesaat dia melihat ke arah Justin yang duduk disampingnya, lalu menyandarkan punggung dan kepalanya ke dinding.


"Kamu beruntung. Setidaknya pernah merasakan kasih sayang seorang ayah hingga usiamu 11 tahun. Ibumu juga sangat menyayangimu." Kata Fabian dengan tatapan menerawang ke tembok di depannya.


Justin dan Shaka yang mendengar Fabian menoleh ke arahnya.


"Sejak lahir aku tidak tahu siapa ayahku. Sedangkan ibuku setiap hari hanya sibuk bersenang-senang dengan lelaki yang berbeda. Ayah benar. Ibuku memang seorang ja**ng." Kata Fabian dengan suara tercekat.


"Setiap hari aku menerima cemoohan dari orang-orang di sekitarku. Saat itu aku tidak mengerti kenapa mereka begitu membenciku. Apa itu anak haram..?? Apa itu pe**cur, kenapa mereka memanggil ibuku seperti itu..?? Dan siapa itu ayah. Kenapa semua orang menanyakannya..??" Lanjut Fabian.


"Aku sangat senang saat suatu hari ibu mengajakku bertemu ayah untuk pertama kalinya. Meski awalnya terlihat canggung tapi ayah menyayangiku dan selalu melindungiku." Fabian tersenyum saat menceritakan hari pertama bertemu Anindya.


"Aku sangat senang. Aku tidak peduli meski orang-orang selalu mencemooh aku dan ibuku. Dan aku menjadi terlalu rakus. Aku tidak ingin ayah membagi kasih sayangnya. Setiap kali ayah bercerita tentangmu dan memperlihatkan fotomu yang diambil secara diam-diam, aku merasa takut. Aku takut ayah lebih menyayangimu daripada aku." Perlahan airmata Fabian mengalir turun.


"Ayah mulai jarang menemuiku setelah bertemu dengan Soraya dan menikahinya. Dulu aku kira karena ayah lebih menyayangi Soraya dan saat ayah mengatakan bahwa istrinya hamil, aku semakin takut ayah benar-benar akan membuangku. Karena itu aku membayar orang untuk merusak mobil yang biasa dipakai Soraya. Aku menguras semua tabunganku dan bahkan mengambil beberapa barang berharga milik ibuku untuk membayar orang itu. Aku tidak menyangka ayah juga akan ada di mobil Soraya." Kata Fabian semakin terisak.


"Setelah kematian Soraya aku pikir ayah akan kembali menyayangiku, tapi ternyata ayah justru benar-benar menjauhiku. Ayah sama sekali tidak datang menemuiku dan melarangku menunjukkan diri dihadapannya. Dan saat aku tahu kalau ayah masih mengawasi dan melindungimu dari kejauhan, aku kembali membencimu. Aku merasa kamu adalah penyebab utama ayah tidak menyayangiku lagi. Akhirnya aku menghabiskan hampir seluruh hidupku untuk membencimu. Dan sekarang aku tahu alasan ayah meninggalkan aku. Bukan karena ayah lebih menyayangi Soraya ataupun kamu, tapi karena ternyata aku bukan anaknya." Fabian tertawa pelan seolah tengah mentertawakan dirinya sendiri.


"Aku tidak pernah peduli dengan harta ataupun status keluarga Wongsonegoro. Aku memaksamu menandatangani dokumen peralihan karena aku pikir ayah akan melakukan apapun agar kamu tidak menderita. Dia akan mau kembali bersamaku asal aku berhenti menganggumu. Tapi lihatlah sekarang. Sepertinya ayah lebih memilih mati daripada melihatmu menderita dan kembali padaku. Aku pasti terlihat konyol kan..?? Laki-laki seusiaku biasanya sibuk mengejar cinta seorang wanita. Atau bahkan membina rumah tangga. Tapi aku justru sibuk mengejar kasih sayang ayah. Aku bisa mendapatkan cinta dari banyak wanita. Mereka bahkan dengan senang hati melempar diri padaku. Aku akui wajahku memang tidak terlalu tampan, tapi uangku selalu memikat mereka. Sedangkan kasih sayang ayah, tidak bisa aku temukan dimanapun." Lanjut Fabian.


"Meski singkat, kenangan indah bersama ayah selalu menari dalam benakku. Apalagi setelah ayah pergi tidak ada satupun laki-laki yang dibawa ibu menyayangiku. Mereka justru sibuk memukuli aku. Farah adalah anak dari salah satu pria itu. Yang dia tinggalkan bersama ibu setelah mereka berpisah. Nasibnya pun tidak jauh beda denganku. Tapi setidaknya ada Vino yang mencintainya." Kata Fabian kembali bermonolog lalu terdiam sejenak.


"Maafkan aku." Justin kembali menoleh ke arah Fabian dengan wajah terkejut demi mendengar permintaan maaf laki-laki itu.


"Tidak seharusnya aku membencimu atas sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu sadari. Kebencian yang membuat kita sama-sama terluka, dan membuatku kehilangan ayah. Maafkan aku. Setelah memastikan kondisi ayah, aku akan menyerahkan diri dan menebus semua kesalahanku. Aku lelah hidup dalam kebencian dan penantian tak berujung. Tolong jaga ayah untukku." Kata Fabian dengan wajah yang begitu pasrah.


"Aku memang sangat marah padamu. Tapi aku tidak pernah membencimu." Sahut Justin. Fabian menoleh dan menatap Justin tidak percaya.


"Hidupku sudah cukup melelahkan. Kamu tahu kan, dengan semua jadwal itu. Dan seperti yang kamu bilang tadi. Membenci itu melelahkan." Kata Justin santai sambil mengedikkan bahunya. Fabian hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Maaf.." Seorang perawat wanita menyapa mereka.


"Bapak bisa ikut saya sebentar ke ruang tindakan Instalasi Gawat Darurat. Saya lihat kepala anda terluka." Kata perawat itu pada Shaka.


Shaka mengelus kepalanya yang dibalut asal-asalan. Dia baru ingat kalau kepalanya terluka.


"Pergilah, Ka. Lukamu perlu ditangani." Perintah Justin.


"Apa saya bisa meminjam telpon..?? Saya perlu menghubungi keluarga saya." Tanya Shaka pada perawat itu.


"Tentu, pak. Silakan." Sahut perawat itu sambil berjalan dan menunjukkan arah pada Shaka.


"Justin..!!" Terdengar suara Hendra memanggil.


Dituntun oleh Anindhita dan Leo, pria itu tampak berusaha berjalan cepat dengan susah payah. Alex sendiri tampak berlari kecil menyusul mereka.


"Mana Anindya..??!! Mana anakku..??!!" Tanya Hendra dengan suara bergetar.


"Kakek, tenanglah. oom Anin sedang ditangani." Sahut Justin mencoba menenangkan Hendra.


"Kamu..!! Kenapa kamu melakukan ini..??!! Apa salah anak dan cucuku..??!! Kamu bahkan bukan anak Anindya, kenapa kamu memaksa dia untuk mengakuimu sebagai anaknya..!!" Seru Hendra dengan telunjuk yang menunjuk ke arah Fabian. Napas Hendra terengah karena menahan emosi.


"Kamu mau hartaku..??!! Ambil semuanya..!! Aku tidak peduli..!! Tapi tinggalkan anak dan cucuku..!! Jangan ganggu mereka lagi..!!" Seru Hendra sambil memukulkan tongkat jalannya ke tubuh Fabian. laki-laki itu hanya diam saja menerima amarah Hendra.


"Ayah, hentikan..!!" Anindhita dibantu Justin dan kedua temannya berusaha menghentikan Hendra yang tengah mengamuk.


"Tolong jangan ribut..!! Ini rumah sakit bukan pasar..!!" Seru salah seorang perawat berwajah galak yang datang bersama seorang security.


"Keluarga pasien Anindya..!!" Hendra baru akan menjawab saat mendengar seseorang menyebut nama anaknya.


"Saya ayahnya, Dok." Kata Hendra pada dokter wanita yang keluar dari ruang operasi.


Dokter tersebut tampak terkejut dan terdiam sejenak saat melihat Justin. Wanita itu lalu mengerjapkan mata dan sedikit menggelengkan kepala seolah berusaha menyadarkan diri.


"Ehhhmm.. Kondisi pasien stabil. Beruntung luka tusukan tidak dalam dan tidak mengenai organ vital. Untuk saat ini pasien masih belum sadar dan akan segera dipindahkan ke kamar rawat inap." Jawab dokter wanita itu dengan wajah tersipu.


"Terima kasih, Dok." Jawab Justin mengabaikan wajah dokter wanita itu yang memerah.


Justin sudah terbiasa menghadapi para wanita dengan reaksi seperti dokter itu. Sekali lihat saja dia tahu, dokter yang menangani operasi Anindya pasti mengenalinya sebagai salah satu member Autumn River. Bahkan bisa jadi dokter itu salah satu penggemarnya. Mungkin saja besok akan ada pemberitaan mengenai keberadaannya dan keluarga Wongsonegoro di rumah sakit itu. Tapi Justin tidak peduli.


Justin menoleh ke arah Fabian yang tengah terduduk di lantai dan menangis. Sepertinya dia lega mendengar kondisi Anindya baik-baik saja. Perlahan Justin mendekati Fabian lalu berjongkok disamping laki-laki itu. Justin menepuk pelan bahu Fabian.


"Tunggulah disini dulu. Setidaknya sampai oom Anin sadar. Aku rasa banyak yang harus kalian bicarakan. Setelah itu, terserah kamu mau melakukan apa." Kata Justin sambil berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Fabian.


"Terima kasih." Sahut Fabian sambil menerima uluran tangan Justin yang membantunya berdiri.


Tak lama setelah Anindya dipindahkan ke ruang perawatan Shaka, Alex, dan Leo pergi meninggalkan rumah sakit. Fabian terus duduk disamping ranjang Anindya. Semalaman dia tidak tidur karena menunggu Anindya sadar. Hendra yang awalnya terus mengusir Fabian akhirnya menyerah saat melihat dia dengan keras kepala tetap bertahan untuk berada di samping Anindya.


Wajah Fabian yang tampak lelah terlihat berbinar saat melihat Anindya mulai membuka matanya.


"Ayah." Panggil Fabian sambil menekan tombol di atas kepala ranjang lalu memegang wajah Anindya.


"Anin. Kamu sudah sadar, nak..??" Tanya Hendra yang langsung berjalan mendekat.


Anindhita dan Justin juga mendekati ranjang rawat Anindya yang terlihat tengah mencoba mengenali tempatnya berada. Anindya melihat pada Hendra, Anindhita, dan Justin.


"Ayah..?? Dimana aku..??" Tanya Anindya lirih.


"Di rumah sakit. Bocah ini langsung membawamu kemari setelah menusukmu." Jawab Hendra.


Anindya menoleh perlahan ke arah Fabian dan terdiam sejenak. Dia terus menatap Fabian yang terus menundukkan kepalanya. Seorang dokter dan dua perawat masuk ke kamar untuk memeriksa kondisi Anindya. Semua orang, terutama Fabian, menghela napas lega saat dokter mengatakan bahwa kondisi Anindya baik dan hanya perlu waktu untuk pemulihan.


"Tolong tinggalkan kami sebentar. Aku perlu bicara dengan Fabi." Pinta Anindya.


Fabian menatap Anindya dengan wajah terkejut saat mendengar laki-laki itu memanggilnya dengan nama yang biasa dia gunakan untuk memanggilnya saat kecil dulu. Anindhita dan Justin mengangguk lalu menggandeng Hendra yang masih tidak tenang meninggalkan Anindya berdua saja dengan Fabian.


"Maafkan aku." Kata Anindya setelah pintu ruangannya tertutup.


"Tidak. Anda tidak perlu minta maaf. Anda benar. Saya tidak berhak memanggil anda ayah apalagi menuntut kasih sayang anda." Kata Fabian dengan suara bergetar.


"Tolong. Tetap panggil aku ayah." Pinta Anindya. Fabian tampak terpaku mendengar permintaan Anindya.


"Bukankah sudah aku katakan kalau aku menyayangimu. Egoku terlalu tinggi untuk mengakuinya. Aku menjauh karena kecewa anak yang sudah terlanjur aku sayangi ternyata bukan anak kandungku. Dan rasa sayang itu semakin tertutup setelah aku tahu kalau aku tidak sempurna. Aku mencoba menerima anak dalam kandungan Soraya. Tapi rasanya lebih berat, karena aku sangat kecewa telah dikhianati oleh wanita yang aku cintai. Memang terdengar jahat. Tapi rasanya aku lebih bisa menerima kalau anak itu hasil per**saan." Anindya tertawa kecil dengan wajah menyedihkan.


"Sedangkan ibumu, kamu tahu pasti kalau aku tidak pernah mencintainya dan tidak pernah ada ikatan apapun diantara kami. Rasanya aku lebih bisa menerimamu daripada anak itu. Setidaknya ibumu tidak mengkhianatiku." Kata Anindya.


"Tapi rasa marah dan sedih karena kehilangan Soraya membuatku semakin menutup keinginanku untuk menemuimu. Saat ibumu benar-benar memenuhi permintaanku untuk menjauhkanmu dariku, aku sangat tersiksa. Karena aku sama sekali tidak bisa menemuimu. Tidak ada lagi yang memanggilku ayah. Panggilan yang begitu aku rindukan. Tapi lagi-lagi ego menahanku,. Aku yang memintamu pergi, jadi tidak mungkin aku memintamu kembali. Saat itu aku terus berharap kamu akan datang menemuiku. Tapi alih-alih menemuiku, kamu justru menyakiti orang lain karena merasa aku tidak menginginkanmu. Dan yang lebih buruk kamu terus berusaha menyakiti Justin. Dulu aku selalu memperlihatkan foto Justin dan membicarakan dia karena aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Kamu memiliki saudara. Dan aku ingin, saat permasalahan kak Dita selesai. Kalian akan bertemu, saling menyayangi, dan saling melindungi, layaknya saudara. Aku menghadang belati itu bukan karena aku lebih menyayangi Justin. Tapi karena aku tidak ingin dua anak yang aku harapkan untuk menjadi saudara akan saling menyakiti. Aku memang sangat menyayangi Justin. Tapi aku lebih menyayangimu, Fabi." Kata Anindya sambil menangis terisak.


Fabian menubruk tubuh Anindya dan menangis terisak dalam pelukan laki-laki itu.


"Semua salahku. Harusnya aku tidak membiarkan egoku menutup mata hatiku. Seharusnya aku tetap bersamamu meski aku tahu kamu bukan anakku. Semua kesalahpahaman ini tidak akan terjadi kalau saja aku menuruti kata hatiku. Maafkan aku, Fabi. Akulah yang telah membuatmu tersesat dan menghancurkan hidupmu dan orang-orang disekitarmu." Anindya mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu-sedu. Dia tidak peduli dengan sakit di tubuhnya karena pelukan itu.


"Tidak.. tidak.. ayah tidak salah. Ayah benar. Sebagai seorang anak harusnya aku menemui ayah dan meminta maaf. Harusnya aku datang dan mengatakan pada ayah kalau aku menyayangimu. Maafkan aku, ayah." Kata Fabian di sela tangisannya.


"Jangan lagi membenci Justin. Meskipun darah yang mengalir dalam tubuh kalian berbeda, tapi dia adalah adikmu. Aku ingin kalian saling menyayangi dan saling menjaga." Pinta Anindya.


"Tidak. Aku tidak lagi membenci Justin. Aku akan menyayangi dan menjaganya sebaik mungkin." Sahut Fabian cepat.


"Terima kasih, nak." Kata Anindya lalu kembali memeluk Fabian.


"Tapi aku tidak akan bisa bersama ayah untuk waktu yang lama. Aku harus menyerahkan diri dan bertanggungjawab atas semua kesalahanku. Aku ingin memulai lagi semuanya dari awal dengan cara yang benar." Kata Fabian. Anindya mengangguk pelan.


"Aku akan selalu bersamamu, Fabi. Aku akan melakukan apapun dan memberikan pengacara terbaik untuk bisa mengurangi hukumanmu. Karena aku tidak mau berpisah lebih lama lagi dengan putraku. Sudah cukup aku jauh darimu selama 20 tahun." Sahut Anindya sambil memegang erat bahu Fabian yang terus menunduk disampingnya. Fabian hanya bisa mengangguk karena dia masih tenggelam dalam tangisnya.