
"Mamaaaa..!! Satria mengambil HP-ku. Ini kan giliranku main HP." Terdengar suara Rania berteriak dan mengadu pada Kira.
"Kan tadi sudah aku bilang jam 11 mau aku pake. Tapi kak Rania sendiri yang ga buruan mulai pake HP-nya..!!" Sergah Satria membela diri.
"Tadi aku lagi bantuin eyang di dapur, Satriaaaaa..!! Makanya telat pake HP-nya. Jatahku main HP itu 3 jam, ini baru 2 jam udah kamu ambil..!!" Seru Rania.
"Tadi kan mama bilang jam 8 sudah boleh pake HP. Salah sendiri kak Rania ga buruan pake." Sahut Satria masih tidak terima.
"Kamu liat aku lagi sibuk, kenapa ga kamu pake dulu HP-nya. Giliran aku lagi pake, kamu main ambil aja..!!" Seru Rania lagi.
"Karena aku maunya pake jam 11. Aku udah bilang kak Rania kan kalo jam 11 aku janjian sama temen-temenku main game..!!" Seru Satria tidak mau kalah.
"Astaga. Apa kalian mau terus ribut perkara giliran main HP..??!!" Seru Kira kesal.
"Tapi kan giliranku 3 jam, ma. Ini belum selesai udah diambil sama Satria." Kata Rania kembali mengadu.
"Salah sendiri tadi kamu ga buruan pake..??!!" Bela Satria.
"STOP..!!" Teriak Kira mulai kesal. Kira diam sejenak dan nampak mengatur napasnya yang mulai tersengal.
"Ma.. mama gapapa..??" Tanya Rania kawatir. Satria tampak bergegas membantu ibunya duduk.
"Duduk..!!" Perintah Kira tegas.
Rania dan Satria langsung menurut dan duduk berdampingan di hadapan Kira.
"Dengar. Kalian tahu kenapa mama dan papa tidak membelikan kalian HP..??" Tanya Kira. Rania dan Satria tampak menggelengkan kepala.
"Alasan pertama karena kalian masih kecil. Mama dan papa lebih suka melihat kalian bermain dan berlarian di luar sana daripada sibuk dengan dunia semu yang kalian temukan di HP. Selain itu kalian juga belum bisa memilah mana yang boleh kalian lihat dan mana yang tidak boleh. Alasan lainnya karena mama dan papa ingin kalian belajar berbagi. Kalian baru perkara HP saja sudah seribut ini. Apalagi kalau untuk perkara yang lebih besar..??" Cecar Kira.
"Tapi, ma. Temen-temenku semua pada punya HP. Cuma aku dan Satria aja yang ga punya." Kata Rania yang diiyakan oleh Satria.
"Tanyakan pada kakak-kakak kalian, kelas berapa mereka baru boleh punya HP sendiri..?? Baik kak Edo, kak Radit, dan kak Adit mereka baru boleh punya HP sendiri setelah masuk kelas 1 SMA. Itupun mama dan papa harus melihat dan mempertimbangkan terlebih dulu. Apakah mereka sudah siap dan akan bijak dalam penggunaannya. Dan selama itu pula mereka tetap baik-baik saja dan bahkan mempunyai banyak teman. Teman di dunia nyata yang mereka temui secara langsung. Jadi kalau kalian memang benar-benar ingin punya HP sendiri. Bersabarlah sampai kalian masuk SMA. Dan sampai saat itu, kalian harus puas hanya bisa memakai HP yang sudah kami sediakan setiap weekend dan itupun bergantian..!!" Tegas Kira.
Rania dan Satria hanya menunduk dan tidak berani membantah Kira yang selalu garang setiap kali mengomeli anak-anaknya.
"Sekarang berikan HP itu..!!" Perintah Kira. Satria mengulurkan tangannya untuk memberikan HP kepada ibunya.
"Rania, hari ini kamu sudah main HP-nya. Dan kamu Satria, kamu baru boleh main HP setelah makan siang dan itu pun hanya selama 2 jam." Kata Kira tegas.
"Kenapa abis makan siang sich, ma..??" Tanya Satria dengan wajah cemberut.
"Kamu lihat jam berapa sekarang..!!" Perintah Kira. Satria menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 11.35.
"Sebentar lagi Dhuhur dan juga waktunya makan siang. Jadi sekarang kalian berdua siap-siap untuk membersihkan diri dan tunggu adzan Dhuhur setelah itu kalian sholat dan kita makan siang..!!" Perintah Kira.
"Baik, ma." Sahut Rania dan Satria hampir bersamaan kemudian beranjak meninggalkan Kira. Kedua anak itu masih terlihat ribut di belakang Kira.
Kira memijit pelipisnya pelan. Setiap weekend hampir selalu terjadi keributan antara Rania dan Satria karena berebut HP. Kira dan Shaka memang sengaja memberikan fasilitas HP pada anak-anak mereka setelah masuk SMA. Mereka ingin anak-anak mereka lebih menikmati masa kecil dengan bermain dan belajar mengenali lingkungan sekitar mereka. Meski begitu Shaka dan Kira menyediakan 1 HP keluaran terbaru untuk digunakan secara bergantian saat weekend. Tapi meski Kira telah mengatur jadwal penggunaan HP itu, tetap saja terjadi keributan. Dan keributan kali ini benar-benar menyulut emosi Kira karena selain tubuhnya yang tengah sakit, juga dia sedang banyak pikiran.
"Sayang, kamu kenapa..??" Tanya Shaka kawatir saat melihat Kira memijat pelipisnya. Lelaki itu duduk disamping Kira dan mengamati wajah istrinya.
"Aku tidak apa-apa, Bie. Biasalah Rania sama Satria ribut karena HP." Jawab Kira sambil menyandarkan kepalanya di dada Shaka.
"Pak.. Bu.. Maaf ada tamu diluar mau ketemu." Kata Bi Inah, pelayan baru yang sekarang membantu Bi Lastri.
"Siapa, Bi..??" Tanya Shaka.
"Namanya Hans, pak." Jawab Bi Inah.
"Hans..??" Gumam Kira terkejut. Sejenak Shaka dan Kira tampak saling memandang.
"Tolong suruh dia masuk, bi." Perintah Shaka.
"Bukankah Hans baru bebas 14 hari lagi, Bie..??" Tanya Kira resah.
"Sayang, tenanglah." Kata Shaka sambil mengelus punggung istrinya pelan untuk menenangkannya.
"Shaka.. Kira.." Terdengar suara Hans memanggil mereka.
Shaka dan Kira menoleh ke arah Hans. Dilihatnya lelaki 44 tahun itu tengah berdiri dihadapan mereka dengan senyum hangatnya. Wajah Hans tampak begitu tenang, sorot matanya terlihat teduh. Meski Hans mendekam dalam penjara selama hampir 12 tahun, tapi lelaki itu tetap terlihat tampan dan gagah.
"Hans, apa kabarmu..??" Shaka menghampiri sambil mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan Hans. Kemudian kedua lelaki itu tampak berpelukan layaknya sahabat yang lama tidak bertemu. Kira yang tersadar dari keterkejutannya pun bergegas menyambut Hans.
"Alhamdulillah kami baik, Hans. Duduklah." Jawab Kira sembari mempersilahkan Hans untuk duduk.
"Syukurlah." Kata Hans sambil duduk.
"Bagaimana bisa kamu sudah datang..?? Maaf, tapi tempo hari kamu bilang akan bebas 14 hari lagi dari sekarang kan." Tanya Shaka.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja pagi ini mereka membebaskan aku tanpa memberitahu alasannya. Karena itu aku tidak sempat memberi kabar pada siapapun." Jawab Hans.
"Kenapa bisa begitu..??" Tanya Shaka heran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Hans dengan mengedikkan bahunya.
"Sudahlah. Yang penting sekarang kamu sudah bebas. Bagaimana perasaanmu, Hans..??" Tanya Kira.
"Tentu saja aku senang akhirnya bisa menghirup udara bebas. Tapi aku juga merasa sedikit aneh karena sudah terbiasa dengan rutinitas dalam penjara. Yang pasti aku perlu beradaptasi karena begitu banyak perubahan diluar sini." Jawab Hans panjang lebar.
"Pelan-pelan saja, Hans. Dan kamu tidak perlu kawatir, kami pasti membantumu." Kata Shaka.
"Terima kasih." Sahut Hans lalu menghela napas panjang.
"Boleh aku bertemu Edward..??" Tanya Hans penuh harap.
Sejenak Shaka dan Kira saling memandang. Shaka menggenggam erat tangan Kira seolah meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tentu. Tapi Edo sekarang sedang keluar untuk bertemu kekasihnya." Kata Kira.
"Kekasih..?? Jadi putraku sudah mengenal cinta." Kata Hans terkejut sekaligus takjub. Dia baru menyadari putranya telah tumbuh dewasa.
"Benar. Mereka saling mencintai. Setiap hari putra kita menemui gadis itu dan terus mengekorinya. Kadang gadis itu merasa kesal dan memberi julukan ulat bulu pada Edo." Sahut Shaka terkekeh.
"Kalau begitu dia pastinya ulat bulu paling tampan. Buktinya gadis itu tetap bersamanya." Kata Hans lalu tertawa kecil.
Setitik air mata tampak membasahi pelupuk mata Hans. Lelaki itu buru-buru menghapusnya dengan kasar.
"Maaf. Aku hanya tidak percaya Edward sekarang sudah dewasa. Karena kebodohanku aku jadi melewatkan begitu banyak hal dalam kehidupan Edward. Tapi aku bersyukur karena kalian telah merawatnya dengan sangat baik. Bahkan kalian sampai mengakuinya sebagai anak karena sangat menyayanginya. Dan aku benar-benar berterima kasih untuk itu. Maafkan aku yang telah banyak menyakiti kalian. Rasanya meski aku terus mengucapkan maaf dan terima kasih tetap tidak akan bisa membayar semuanya." Kata Hans dengan wajah penuh sesal.
"Sudahlah, Hans. Lupakanlah.. Itu masa lalu. Sebagai seorang ayah aku juga bisa memahami perasaanmu. Dan kami juga sangat menyayangi Edo, jadi berhentilah mengatakan maaf ataupun terima kasih." Sahut Shaka. Hans hanya bisa menundukkan kepala dan mengangguk.
"Kira, kamu hamil lagi..??" Tanya Hans yang baru menyadari perut buncit Kira. Lelaki itu tampak terkejut.
Kira tertawa kecil melihat reaksi Hans. Selama Hans dipenjara Kira dan Shaka memang sering menjenguk untuk melihat keadaannya dan memberitahu perkembangan Edo. Selama itu Hans melihat saat Kira mengandung Satria dan Nara. Hans juga tahu sebelumnya Kira memiliki 2 anak dengan Pierre dan 1 anak lagi yang lahir saat dia menculik Dit-dit.
"Benar. Aku hamil kembar lagi. Jadi setelah ini kami akan mempunyai 8 anak." Jawab Kira sambil terkekeh.
"Astaga. Kalian benar-benar bersemangat untuk membuat keluarga besar. Untunglah Edward menjadi keluarga besar kalian, jadi dia tidak kesepian." Kata Hans yang membuat mereka bertiga tertawa.
"Edo tidak pernah kesepian. Justru dia selalu bersemangat menjaga adik-adiknya. Kamu harus lihat sendiri bagaimana bawelnya Edo saat mulai mengatur mereka." Sahut Kira lagi.
"Dimana anak-anak kalian yang lain..??" Tanya Hans sambil mengedarkan pandangan. Dia memang sayup-sayup mendengar suara riuh di salah satu sudut rumah itu.
Kira tampak terdiam sejenak seolah tengah mencari keberadaan anak-anaknya melalui apa yang dia dengar.
"Sepertinya Dit-dit dan Satria sedang heboh main game. Rania mungkin di kamarnya. Dan Nara sedang asik bermain di halaman." Kata Kira sambil menunjuk jendela yang mengarah ke halaman.
Terlihat Nara sedang asik bermain dengan tubuh belepotan tanah. tampak beberapa ember kecil dan sekop plastik di sekitarnya. Entah apa yang sedang dilakukan gadis kecil itu disana. Hans tertawa kecil melihat Nara.
"Hans, untuk sekarang kamu akan tinggal dimana..??" Tanya Shaka.
"Selama disini aku akan tinggal di salah satu apartment kami. Tempat itu tidak jauh dari sini." Jawab Hans.
"Untuk hari ini menginaplah disini, Hans. Biar anak-anak juga mengenalmu." Kata Kira.
"Benar, Hans. Biar mereka juga mengenalmu. Bagaimanapun kamu adalah paman mereka." Shaka menimpali.
"Baiklah. Selama itu tidak merepotkan kalian." Jawab Hans setelah tampak berpikir sejenak.
"Tentu saja tidak. Kami malah senang." Sahut Shaka.
Hans tersenyum dan menoleh ke arah pintu. Dia merasa gelisah karena sudah tidak sabar untuk bertemu putranya. Sejak datang dia beberapa kali melihat ke arah pintu berharap Edo pulang dan menemuinya. Disisi lain Hans juga merasa takut. Tidak tahu bagaimana nanti reaksi Edo saat bertemu dengannya. Mengingat begitu besar kesalahannya. Ditambah lagi Hans yang selalu melarang Edo untuk menemuinya. Apapun itu, Hans sudah siap menghadapinya. Baginya yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan anak yang telah lama dia rindukan.