(Family) Bound

(Family) Bound
Bintang Kehidupan



"Shaka..!!"


Shaka menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Ternyata Alex datang bersama tiga orang lainnya. Salah satunya adalah seorang pria WNA yang merupakan rekan kerja Alex.


"Hi.. I'm Jason. I heard about your wife from Alex. I'm really sorry to hear that. (Hai.. Saya Jason. Saya mendengar tentang istri anda dari Alex. Saya ikut sedih mendengarnya)" Kata Jason langsung menghampiri Shaka dan memperkenalkan diri.


"I'm Shaka, Alex's bestfriend. I'm so grateful for your willing to help us. (Saya Shaka, sahabat Alex. Saya benar-benar berterima kasih karena Anda bersedia membantu kami)." Jawab Shaka dengan fasih.


"Naaaaah.. forget it. It's my pleasure. I'm a family man and I love my wife so much. I couldn't imagine if this happened to her. (Sudahlah.. jangan dipikirkan. Aku senang bisa membantu. Aku memiliki keluarga dan aku juga sangat mencintai istriku. Aku tidak bisa membayangkan kalau hal ini sampai terjadi padanya)." Sahut Jason.


"Thank you. (Terima kasih)." Kata Shaka.


Shaka menghampiri dua orang lainnya dan mengucapkan terima kasih pada mereka karena bersedia membantu keluarganya. Ketiga orang itu bergegas mengikuti perawat yang menuntun mereka ke ruang donor darah.


Malam itu ruang tunggu kamar operasi ramai dengan orang-orang yang menyayangi Kira dan Shaka. Orangtua Kira dan keempat saudaranya, beserta Angel, istri Adam dan Amanda, istri Yudha. Kedua kakak Shaka, Adrian dan Alena. Edo, Hans, suster Hani, Rosi, Leo, dan Alex. Justin datang bersama Julian, Pasha, dan member Autumn River lainnya karena dia mendapatkan kabar tepat saat konser mereka malam itu berakhir. Mereka semua datang untuk memberi dukungan pada Kira dan Shaka. Setiap orang diruangan itu tidak berhenti berdoa untuk keselamatan Kira dan kedua anaknya.


"Kira pasti akan baik-baik saja. Dulu bahkan maut sempat menghampirinya, tapi dia berhasil bertahan demi kamu dan anak-anak kalian. Kali ini pasti dia juga akan bertahan." Kata Julian berusaha menguatkan Shaka.


"Ya. Kira harus selamat. Dia sudah berjanji padaku akan berjuang untuk bisa bertahan. Kak Julian tahu kan Kira adalah orang yang selalu menepati janji. Jadi dia pasti akan bertahan. Iya kan, kak..??" Sahut Shaka dengan wajah penuh harapan dan juga ketakutan.


"Kita doakan saja semua berjalan lancar." Kata Julian sambil menepuk pelan bahu Shaka.


Tak lama terdengar suara tangis bayi dan disusul tangisan berikutnya. Semua orang bernapas lega dan saling memeluk karena bahagia atas kelahiran kedua bayi Kira. Edna langsung menghampiri Shaka lalu memeluknya untuk mengucapkan selamat. Wanita itu bahkan tidak bisa berhenti menangis karena terharu.


"Keluarga pasien Kirana." Panggil seorang perawat.


"Saya suaminya, sus." Jawab Shaka sambil berjalan cepat mendekati perawat itu.


"Selamat, pak. Anaknya kembar, sepasang laki-laki dan perempuan." Kata perawat itu sambil tersenyum. Dibelakangnya muncul dua orang perawat yang menggendong dua bayi yang dibungkus selimut berwarna biru dan merah muda.


"Ini anak-anaknya, pak. Tampan dan cantik seperti orangtua mereka." Kata salah satu perawat yang menggendong kedua bayi itu.


Shaka meraih bayi perempuannya dan menggendong dengan hati-hati. Airmatanya tidak berhenti mengalir karena merasa bahagia dengan kelahiran kedua anaknya. Setelah Shaka membacakan adzan untuk putrinya dan menciumi wajah bayi itu, Shaka memberikannya kepada Edna yang ingin menggendong lalu beralih pada putranya. Shaka kembali membacakan adzan untuk bayi laki-lakinya lalu tersenyum saat menatap bayi dalam gendongannya dan bayi perempuan dalam gendongan Edna.


"Selamat datang, Aldhebaran Althaf Rahardian dan Adara Alethea Rahardian. Nama kalian memiliki arti yang sama, bintang kehidupan. Dan itulah kalian. Bintang yang akan selalu bersinar indah dalam kehidupan kami. Membimbing kami dan menunjukkan arah menuju kebahagiaan yang semakin sempurna pada kami." Bisik Shaka dengan suara tercekat kepada anaknya lalu beberapa kali menciumi kedua malaikat kecil yang hadir di tengah kabut hitam yang sedang melingkupi keluarga mereka.


Shaka dan Edna lalu mengembalikan kedua bayi itu pada perawat untuk dibawa ke ruang bayi.


"Bagaimana keadaan istri saya, sus..??" Tanya Shaka penuh harap.


"Tolong lakukan apapun untuk menolong istri saya, sus." Pinta Shaka dengan wajah putus asa.


"Kami akan berusaha, pak. Mari kita semua berdoa agar bu Kirana berhasil bertahan." Sahut suster tersebut.


"Terima kasih, sus." Kata Shaka.


Perawat itu kembali masuk ke dalam ruang operasi sedangkan Shaka kembali bergabung bersama keluarga dan teman-temannya di ruang tunggu.


"Jadi lo sama Kira memang sudah siapin nama buat anak-anak kalian..??" Tanya Leo berusaha memecah suasana suram di ruang tunggu. Shaka tersenyum dan menatap Leo.


"Gue sama Kira udah siapin nama untuk kembar laki-laki, kembar perempuan, juga untuk sepasang seperti Aldhebaran dan Adara." Jawab Shaka lalu matanya kembali menatap nanar pada lampu di atas pintu ruang operasi. Berharap akan segera mendengar kabar baik mengenai istrinya.


*****


Kira berusaha membuka matanya yang terasa berat. Sayup-sayup dia mendengar suara Shaka yang terus memanggilnya dan membisikkan kata cinta. Perlahan Kira membuka mata dan aroma khas rumah sakit memasuki indera penciumannya.


Wajah Shaka adalah pemandangan pertama yang dilihat Kira. Laki-laki itu tampak meraih sesuatu yang berada di atas kepala ranjang Kira. Shaka mengelus kening Kira lalu mendekatkan wajahnya, tampak kelegaan luar biasa tersirat di wajah suaminya.


"Hai.." Bisik Shaka di atas bibir Kira lalu menempelkan dahi mereka dan mulai terisak.


"Yaa Tuhan.. syukurlah.." Kata Shaka lalu menciumi wajah Kira.


"Bagaimana perasaanmu..?? Ada yang sakit..??" Tanya Shaka. Kira hanya bisa menggeleng lemah.


"Jangan paksa dirimu. Kamu masih terlalu lemah." Kata Shaka sambil mengelus wajah Kira.


"Ba.. yi.. nya.." Kata Kira lirih. Setetes air mata turun dari sudut matanya.


"Mereka baik-baik saja, sayang. Aldhebaran dan Adara sangat sehat." Kata Shaka menenangkan istrinya.


Kira tersenyum samar. Dia bahagia. Apalagi secara tidak langsung Shaka memberitahu bahwa bayi mereka sepasang lelaki dan perempuan. Dokter Hafidz, salah satu dokter yang ikut menanganinya selama ini tampak memasuki ruangan bersama 2 orang perawat. Shaka memberi ruang pada dokter itu untuk memeriksa kondisi Kira. Mata Kira kembali terasa berat dan perlahan menutup. Sayup-sayup dia dapat mendengar perbincangan antara dokter dan Shaka.


"Kondisi bu Kirana untuk saat ini baik-baik saja. Secara keseluruhan kondisi vitalnya bagus. Setelah kondisinya benar-benar pulih kita bisa memulai kemoterapi dan segera melakukan cangkok sumsum tulang belakang." Kata dokter Hafidz.


Kira kembali terlelap tapi dia merasa bahagia mendengar penjelasan dokter Hafidz. Dia bahagia karena kedua anaknya baik-baik saja. Sekarang waktunya bagi dia berjuang untuk tetap hidup. Demi orang-orang yang dia sayangi. Demi keluarganya. Mereka masih membutuhkan dia, apalagi sekarang ada dua bintang kehidupan yang pastinya akan sangat bergantung padanya. Juga demi suami yang begitu mencintainya dan dicintainya.