(Family) Bound

(Family) Bound
Menikahlah Denganku



"Lebih baik kamu kemari agar kita bisa segera bermain."


"Lebih baik aku mati daripada menjadi pe**curmu..!!"


"Toh tadi aku sudah sedikit men****pi tubuhmu. Maaf. Tangan dan mulutku sudah tidak sabar menjelajah. Rasamu benar-benar manis."


"Lepaskan aku..!! Lepas..!!"


"TIDAAAKK..!! Lepaskan aku..!!"


"Namaku Galih. Jangan pernah lupakan itu."


"TIDAAAAAAAAKK..!!" Luna terbangun sambil berteriak. Napasnya terengah seolah dia baru saja berlari marathon.


Kilatan kejadian saat dia hampir diper**kosa oleh Galih seakan melekat dalam ingatannya. Luna terus menggelengkan kepala, tangannya menutup telinganya seolah berharap tidak akan suara apapun yang masuk ke dalam pendengarannya. Tapi suara Galih seakan terus menggaung dalam telinganya membuat Luna merasa laki-laki tengah ada di dekatnya.


Luna mengedarkan pandangannya. Dia tahu saat ini tengah berada di ruang President Suite tempat dia dirawat, dan Edo ataupun Ratna, ibunya, sedang tidak ada disana. Harusnya besok dia sudah boleh pulang. Tapi entah kenapa membayangkan keluar dari kamarnya sekarang dia begitu ketakutan. Ingatannya saat bertemu Frida dan akhirnya diculik oleh wanita itu pun terus membayanginya. Luna takut saat dia keluar dari kamar itu akan ada orang lain yang akan kembali menyakitinya.


"Yaa Allah, aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Aku terus ketakutan dan merasa kotor. Apa yang harus aku lakukan..??!!" Keluh Luna dalam hati sambil menangis pilu.


Luna terus terisak dan mengayunkan tubuhnya yang bergetar. Kedua tangan Luna memeluk tubuhnya seolah melindungi dirinya sendiri dari bahaya. Meski terlihat membaik, tapi nyatanya Luna menyembunyikan semua rasa takutnya karena tidak ingin membebani orang-orang yang menyayangi dia.


Pertahanan Luna runtuh saat dokter mengatakan bahwa dia sudah diperbolehkan pulang. Yang artinya Luna harus keluar dari kamar yang membuatnya merasa aman. Luna terus terpikirkan hal buruk apa saja yang akan terjadi padanya saat keluar dari kamar itu.


"Aku tidak mau.. Aku tidak mau.. Aku takut.." Kata Luna lirih ditengah isakannya.


Luna berjalan tertatih menuju kamar mandi. Berusaha menyeret kakinya yang terasa begitu lemah karena menopang tubuhnya yang terus bergetar. Setelah mencapai kamar mandi, Luna berusaha mengunci pintunya. Tangannya yang bergetar hebat membuat dia kesulitan bahkan untuk sekedar memutar kunci.


Luna tetap gagal mengunci kamar mandi. Tubuhnya luruh di depan pintu kamar mandi itu dan tangisnya terdengar semakin pilu. Luna merangkak menuju bath-up tangannya meraih kran air dan mengisi bak itu lalu dia merebahkan tubuhnya di bak yang terlihat besar dan mewah.


Perlahan Luna menutup mata, membiarkan tubuhnya perlahan tenggelam saat air mulai memenuhi bath-up. Napas Luna mulai tercekat, tapi dia tetap bertahan di tempatnya meski tubuhnya mulai lemah dan kesadarannya perlahan menghilang.


"Aluna..??!!"


Sayup-sayup Luna mendengar suara Edo yang berada di luar kamar mandi tengah memanggilnya. Luna tersenyum. Kalau benar ini saat terakhirnya, suara Edo adalah suara terakhir yang ingin dia dengar. Betapa dia ingin melihat wajah tampan pemuda itu.


"AL..!!"


Luna mendengar Edo berteriak keras memanggil namanya. Dia bisa merasakan beberapa langkah kaki bergegas mendekatinya. Saat kesadarannya mulai menghilang Luna merasakan sepasang tangan kokoh merenggut tubuhnya keluar dari air. Dia dapat mendengar Ratna menangis histeris dan juga suara Hans yang sepertinya tengah berusaha menenangkan ibunya.


"Al, apa yang kamu lakukan..??" Tanya Edo dengan suara bergetar.


Pemuda itu baru akan mengangkat tubuh Luna saat Luna mencengkeram tangannya, berusaha menghentikan dia.


"Tolong biarkan aku mati. Aku sudah tidak tahan lagi, Ed." Pinta Luna lirih.


Meski lemah dan setengah sadar, Luna dapat merasakan tubuh Edo menegang.


"Jangan harap. Kecuali kamu ingin melihat aku mati bersamamu." Sahut Edo dingin sebelum mengangkat tubuh basah Luna.


Edo meletakkan tubuh Luna di atas ranjangnya bersamaan dengan dokter Lingga dan beberapa perawat yang setengah berlari mendekatinya. Rupanya Hans segera menekan tombol darurat saat melihat keadaan Luna dan dokter Lingga yang ternyata sepupu Luna dari pihak ibu kebetulan adalah dokter yang menangani gadis itu.


"Beri kami ruang untuk melakukan tindakan." Kata dokter itu tegas.


Hans menarik tangan Edo yang masih membeku di tempatnya berdiri. Lalu membawa putranya duduk bersama dia dan Ratna di sofa yang ada di ruangan itu.


"Aku tidak akan bisa hidup kalau sampai dia pergi, Pa." Kata Edo dengan suara bergetar. Matanya terus memandang ke arah dokter Lingga dan perawat yang tengah menolong Luna.


"Tenanglah, Ed. Luna pasti baik-baik saja." Kata Hans menenangkan putranya.


Tak lama dokter Lingga menghampiri mereka. Dia tampak menghela napas lega dan tersenyum.


"Luna baik-baik saja. Untuk saat ini kondisinya stabil. Dia hanya lemas karena hampir tenggelam di dalam bath-up dan juga terguncang. Sekarang kita hanya perlu menunggu Luna sadar. Tapi saran saya, akan lebih baik segera mendapatkan bantuan untuk Luna. Trauma atas peristiwa yang dia alami harus segera diatasi." Kata dokter Lingga.


"Terima kasih, nak." Sahut Ratna sambil memeluk Luna.


"Jangan katakan itu, Bi. Luna adalah adikku juga. Memang seharusnya aku membantunya." Sahut Lingga sambil membalas pelukan Ratna dan menatap Edo yang terlihat membuang napas lega.


*****


Pandangan Luna tampak menerawang. Tatapannya lurus ke arah kolam kecil yang ada di taman rumah sakit. Luna tersenyum saat sadar dari lamunannya dan mendengar suara Edo yang duduk disampingnya dan tengah membacakan buku untuknya.


Sejak percobaan bunuh dirinya yang gagal, Luna benar-benar tidak pernah dibiarkan sendiri. Edo, Ratna, bahkan keluarga Shaka bergantian menjaganya. Untuk urusan toilet pun akan selalu ada Ratna dan seorang pengawal perempuan yang akan mengawasinya di dalam kamar mandi.


Luna jadi merasa jengah dengan semua penjagaan itu. Dia juga tidak enak hati karena Luna tahu saat ini keluarga Shaka tengah menghadapi masalahnya sendiri. Tapi sekarang mereka juga harus membantu Edo untuk menjaganya. Bahkan Edo yang ingin membantu Shaka hanya bisa memantau dari jauh karena harus terus menjaga dan mengawasi Luna. Hans akhirnya membagi orang-orangnya. Sebagian dia kerahkan untuk membantu Shaka dan Kira, sebagian untuk membantu Edo menjaga dan mengawasi Luna.


"Al, kamu lihat apa..??" Tanya Edo yang terlihat asik melihat ke arah kolam.


"Ikan-ikan itu terlihat begitu lincah bergerak kesana kemari." Jawab Luna sambil terus menatap ikan-ikan yang tengah berebut makanan.


"Kamu suka..?? Aku bisa meminta orang membuatkannya untukmu di rumah ibu." Tawar Edo.


Setelah kejadian yang menimpa Luna, keluarga Ratna bersikeras untuk membawa Luna ke rumah mereka setelah diijinkan pulang. Apalagi setelah percobaan bunuh diri Luna.


Luna terkejut karena Ardi, suami Ratna yang selama ini begitu dia benci karena telah merebut ibunya, ternyata menyayanginya. Dia juga tidak menyangka kedua anak Ratna dan Ardi yang masih berusia sepuluh dan tujuh tahun ternyata mengenalinya. Selama ini Ratna dan Ardi selalu memperlihatkan foto Luna dan memperkenalkan dia sebagai kakak mereka. Sedangkan Luna selalu berpikir bahwa ibunya tidak menyayanginya.


Luna menoleh ke arah Edo dan tersenyum. Perlahan dia mengangkat tangannya dan mengusap lembut wajah tampan kekasihnya.


"Aku akan sangat senang. Tapi tolong bicarakan dulu dengan ibu dan oom Ardi. Karena itu rumah mereka. Jangan memaksa kalau ternyata mereka keberatan." Jawab Luna.


"Tentu. Aku akan bicarakan pada mereka. Kalau mereka tidak keberatan, aku akan segera memulainya. Agar kolam itu selesai sebelum kamu pulang ke rumah mereka." Kata Edo dan dijawab anggukan oleh Luna.


"Terima kasih, Ed." Kata Luna.


"Jangan katakan itu. Kamu tahu kan aku akan melakukan apapun untukmu, Al." Sahut Edo sambil mengecup tangan Luna yang mengelus wajahnya.


"Aku mencintaimu, Al. Sangat mencintaimu. Dan aku sudah memutuskan akan segera menikahimu setelah kamu pulang dari rumah sakit. Aku akan meminta papa, daddy, dan mommy untuk segera melamarmu." Kata Edo. Mata Luna melebar dan wajahnya memucat mendengar perkataan Edo.


"Kenapa, Al..?? Apa kamu tidak ingin menikah denganku..??" Desak Edo.


"Aku merasa tidak pantas untukmu, Ed." Kata Luna sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Al..?? Bukankah sudah aku katakan Galih tidak pernah memilikimu. Seandainya benar terjadi pun aku tidak peduli. Aku akan tetap menerimamu apapun keadaanmu. Aku mencintaimu, Al." Kata Edo sambil menangkup wajah Luna.


"Dan menghabiskan sisa hidupmu dengan wanita yang sudah setengah gila, Ed..?? Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padaku bahkan setelah semua terapi itu. Bisa saja aku tidak membaik tapi justru menjadi benar-benar gila. Karena aku terus tersiksa dengan setiap ingatanku akan kejadian itu." Isak Luna.


"Meski akhirnya kamu benar-benar gila. Aku akan tetap mencintaimu, Al. Katakan aku egois. Tapi aku tidak bisa kehilangan kamu." Kata Edo tegas. Luna menepis tangan Edo dan memalingkan wajahnya.


"Lupakan saja semua tentang hubungan kita, Ed. Meski sulit aku yakin kamu pasti bisa melupakanku. Bukankah sebelum ini hidupmu bahkan damai saat aku tidak ada..??" Kata Luna.


"Dulu. Saat aku menjadi laki-laki paling bodoh di dunia. Tapi sekarang saat aku menyadari perasaanku aku tidak bisa berpisah darimu, Al. Jadi aku akan tetap menikahimu, tidak peduli kamu setuju atau tidak." Sahut Edo tidak mau ditolak.


"Edward..!!" Seru Luna tidak percaya.


"Eeeehhmm.." Terdengar suara deheman seseorang mengejutkan mereka.