(Family) Bound

(Family) Bound
Wanita Berdarah Dingin



Simon memandang heran pada HP-nya saat melihat banyaknya missed call dan pesan yang masuk dari Eva. Dia baru saja memasuki wilayah kota dan baru mendapatkan sinyal setelah meninggalkan lokasi proyek. Simon meminggirkan mobilnya untuk menelpon Eva.


“Selamat malam, pak Simon.” Kata Eva.


“Selamat malam, Eva. Sebenarnya ada apa..?? Kenapa Kate masih ribut mengenai draft itu. Bukankah dia sendiri yang menyuruh Fahri untuk menyusulku..??” Tanya Simon keheranan.


“Tadi bu Kate mengatakan ingin melihat permasalahan draft itu secara langsung dan meminta untuk bertemu dengan pak Shaka karena pak Fahri dan pak Simon tidak bisa dihubungi.” Kata Eva.


“Apa..?? Jadi Kate bertemu pak Shaka..??” Tanya Simon terkejut.


“Benar, pak. Mereka bertemu di restoran Classy yang ada di hotel Scarlett jalan XXX.” Jawab Eva.


“Baiklah. Terima kasih.” Kata Simon sebelum menutup telponnya.


Simon memacu cepat mobilnya menuju hotel tempat Kate bertemu Shaka. Perasaannya tidak enak. Dia tahu bagaimana Kate. Gadis itu terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan dan akan menjadi terobsesi sampai dia mendapatkan kemauannya. Kate bahkan tidak akan segan menggunakan cara licik untuk mendapatkannya. Ini juga alasan Herman menunjuknya sebagai asisten Kate. Dia berharap Simon setidaknya dapat mengendalikan Kate saat mulai lepas kendali tanpa membuat orang lain mengetahui sisi gelap adiknya.


“Aaaaargh..!! Siaaaall..!!” Seru Simon sambil memukul kemudi mobilnya. Dia benar-benar merasa kecolongan.


“Kate pasti sengaja mengirim Fahri menjauh karena tahu Shaka akan mengajak asistennya saat bertemu dia.” Gumam Simon geram.


Setelah sampai hotel, Simon berlari menuju restoran tempat Kate bertemu Shaka tapi tidak menemukan mereka disana. Simon tengah berjalan menuju meja resepsionis saat melihat Kira berlari ke arah lift. Wanita itu terlihat begitu panik.


“Bu Kirana..!!” Panggil Simon sambil berlari menghampiri Kira yang tengah menunggu lift.


“Ada apa, bu..?? Kenapa anda terlihat panik..??” Tanya Simon.


“Suamiku dalam masalah, aku harus segera menolongnya.” Kata Kira sambil terus memencet tombol naik berharap pintu lift segera terbuka. Tangannya tampak bergetar karena ketakutan.


“Dimana pak Shaka..??” Tanya Simon lagi.


“Dia bilang di kamar President Suite.” Jawab Kira.


“Saya akan menemani anda kesana. Tolong tunggu sebentar.” Kata Simon lalu berlari ke arah meja resepsionis. Simon kembali dengan membawa access card kamar itu.


"Terima kasih." Kata Kira yang dibalas senyuman oleh Simon. Laki-laki itu sesekali mencuri pandang ke arah Kira, mengagumi wanita yang ada di sampingnya.


"Mereka benar-benar saling mencintai. Aku harap nantinya akan bisa seperti mereka bersama pasangan hidupku." Gumam Simon dalam hatinya


Simon dan Kira bergegas masuk ke dalam lift lalu menekan tombol lantai tempat kamar itu berada. Mereka langsung berlari ke arah kamar President Suite. Sayup-sayup terdengar teriakan di dalam kamar itu dan Simon segera membuka pintu kamar menggunakan access card yang dia bawa. Mereka terkejut saat melihat beberapa orang berkerumun di depan pintu kamar mandi. Kate terus berteriak seperti orang kesetanan dan tampak 4 pria tengah berusaha membuka pintu itu.


“Apa yang sedang kalian lakukan..?!!” Seru Simon dengan suara menggelegar.


Kate terkejut melihat Simon dan Kira sudah ada di kamar itu.


“Bukan urusanmu..!!” Teriak Kate histeris.


“Kate, dimana Shaka..?? Dimana suamiku..??” Tanya Kira berusaha tetap tenang.


“Untuk apa aku mengatakannya padamu..??!! Aku tidak akan menyerahkan Shaka..!!” Sahut Kate.


“CATHERINE AYUDYA HERLAMBANG..!!” Raung Simon yang sudah kehabisan kesabaran.


“Segera singkirkan mereka..!!” Perintah Kate yang semakin gelap mata.


“Shaka..!! Keluar atau aku akan membunuh istrimu..!!” Teriak Kate histeris.


“Bie, jangan buka pintunya..!! Aku baik-baik saja..!!” Seru Kira sambil berjalan mendekati kamar mandi.


Tiba-tiba salah seorang pengawal Kate menarik tangan Kira. Dengan cepat Kira melepaskan diri dan menjatuhkan pria bertubuh besar itu. Simon dan Kate terbelalak melihat Kira yang dengan mudahnya menjatuhkan pria itu. Ketiga pria lainnya mendekat untuk membantu teman mereka, lagi-lagi Kira dengan lincahnya melakukan perlawanan. Meski keempat pria itu tidak mengusai bela diri, tapi menjatuhkan empat pria bertubuh besar juga bukan perkara mudah. Tak lama kemudian beberapa petugas security tampak memasuki kamar itu. Rupanya keributan disana menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka hingga memanggil petugas keamanan. Para petugas itu tertegun saat melihat seorang wanita tengah sibuk melumpuhkan 4 pria seorang diri. Setelah selesai dengan keempat pria itu Kira berjalan mendekati Kate dengan tatapan dingin.


“Jangan mendekat..!! Kamu wanita gila..!! Apa maumu..??!! Simon, kenapa kamu diam saja..??!! Tolong aku..!!” Seru Kate sambil berjalan mundur karena ketakutan.


Simon hanya diam saja ingin melihat apa yang akan dilakukan Kira pada Kate.


Kira meraih pergelangan tangan Kate dan menariknya hingga tubuhnya mendekat, membuat tatapan mereka bertemu. Tatapan mata Kira tampak begitu dingin dan bengis. Kate berusaha melepaskan diri tapi genggaman tangan Kira begitu kuat. Simon masih terpaku ditempatnya melihat aksi Kira lalu kemudian tersadar saat melihat beberapa petugas keamanan yang datang. Mereka akan mendekat untuk menolong Kate tapi dicegah oleh Simon.


“Sakit..!! Lepaskan aku..!!” Rengek Kate kesakitan.


“Lihat aku, wanita ja**ng..!! Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan pada suamiku. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, aku pasti akan menghancurkanmu dan keluargamu..!! Ingat itu karena aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku..!!” Desis Kira dingin dengan tatapan penuh intimidasi.


Simon terdiam melihat bagaimana Kira membuat Kate menggigil ketakutan. Wanita anggun, lembut, dan ramah yang pernah dia temui di kantor Shaka seolah menghilang dan berubah menjadi seorang wanita berdarah dingin yang bisa menghancurkan bahkan melenyapkan siapapun.


“Simon, tolong aku.” Rengek Kate ketakutan.


“Bu Kirana.” Panggil Simon menyadarkan Kira dari amarahnya.


Kira menghempas tubuh Kate kuat hingga membuat gadis itu terjatuh ke lantai dengan keras.


“Lebih baik kamu singkirkan dia dari hadapanku sebelum aku benar-benar menghancurkannya.” Kata Kira dingin tanpa melepaskan pandangan dari Kate dengan tatapan membunuh.


“Bawa mereka semua keluar dari sini..!! Dan jangan sampai kalian melepaskan Kate apapun yang terjadi. Aku yang akan bertanggung jawab..!!” Perintah Simon tegas.


Para petugas security bergegas membawa keluar Kate dan keempat pengawalnya. Dua orang memegang Kate karena gadis itu terus berteriak dan memberontak. Tampak beberapa petugas security membubarkan kerumunan orang yang berdiri di depan pintu karena penasaran. Setelah semua orang pergi Kira dan Simon mendekat ke kamar mandi untuk melihat keadaan Shaka.


“Bie, ini aku. Tolong buka pintunya, Bie.” Kata Kira dengan wajah kawatir.


“Bie, aku mohon buka pintunya. Jangan membuatku takut.” Kata Kira mulai terisak karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada Shaka.


Simon terus menatap Kira yang telah kembali menjadi wanita lembut dan terlihat lemah. Tak lama terdengar suara seseorang membuka kunci dan kancing pintu dari dalam kamar mandi. Perlahan pintu terbuka, Kira dan Simon terkejut melihat Shaka yang basah kuyup dengan bertelanjang dada. Tubuh Shaka terlihat menggigil dengan napas tersengal.


Tiba-tiba Shaka memeluk erat tubuh Kira dan mel**at bibirnya dengan buas tanpa mempedulikan kehadiran Simon di kamar itu. Kira memukul-mukul punggung Shaka dengan panik tapi seolah tidak berpengaruh pada suaminya. Simon tersenyum karena mengerti apa yang terjadi kemudian langsung pergi meninggalkan kamar dan menutup rapat pintunya. Tidak lupa dia meninggalkan access card dan memasang tanda “PLEASE DO NOT DISTURB” di pintu kamar itu.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza