
"Hei.. tetaplah terjaga. Jangan tidur." Kata Justin sambil sedikit menggoncang tubuh anak dalam pangkuannya.
"Sakiiitt.." Kata anak itu lirih.
"Aku tahu. Tapi kamu harus tetap sadar. Mengerti..??!!" Kata Justin tegas.
"Siapa namamu..??" Tanya Justin untuk membuat anak itu tetap sadar.
"Wira.. Mahawira." Jawab anak itu terbata-bata.
"Nama yang bagus. Kamu tahu artinya itu..?? Pahlawan besar, itu arti namamu. Artinya kamu adalah seorang pejuang. Jadi kamu harus terus berjuang dan tidak boleh menyerah. Kamu dengar itu..!!" Kata Justin lagi. Wira hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Justin.
"Berapa umurmu, Wira..??" Tanya Justin lagi.
"Sepuluh tahun." Jawab Wira semakin lemah.
"Hei.. setelah kamu sembuh aku akan mengajakmu berlibur kemanapun kamu mau. Jadi tetap buka matamu. Bertahanlah..!!" Seru Justin.
Shaka menghentikan mobilnya di depan pintu IGD rumah sakit terdekat. Wira sudah tidak sadar saat mereka sampai rumah sakit. Justin bergegas keluar dan menggendong Wira.
"Tolooong..!! Dokteeerr..!!" Teriak Justin memanggil pertolongan. Sementara Shaka tampak berlari mencari dokter jaga yang ada di tempat itu.
Tampak seorang dokter laki-laki dan perawat berlari mendekat saat Justin meletakkan tubuh Wira ke brankar terdekat. Dokter yang masih tampak begitu muda langsung memeriksa tanda vital dari anak tersebut.
"Apa yang terjadi..?? Kenapa bisa seperti ini..??" Tanya dokter itu.
"Ada seorang pria yang menganiaya anak ini. Saya dan teman-teman menolong dia." Sahut Justin.
"Pelakunya..??" Tanya dokter itu lagi.
"Sudah diamankan dua teman kami." Jawab Shaka.
"Tolong tunggu di luar. Kami butuh ruang untuk memberi pertolongan." Kata perawat yang membantu dokter jaga.
Shaka dan Justin menurut. Mereka menjauh dari brankar dan menunggu di kursi yang tidak jauh dari pintu IGD.
"Shaka, biarkan aku membuat perhitungan dengan ba**ngan itu." Kata Justin dingin.
"Gue ga pernah liat lo semarah ini." Tanya Shaka tanpa basa-basi.
"Laki-laki pengecut seperti Doni memang perlu diberi pelajaran. Aku ga akan melepas dia begitu saja." Geram Justin.
Shaka memaklumi perasaan Justin. Sebelum bertemu Andrew hidup Justin sangat keras setelah kematian ayahnya. Dia sempat berjualan koran di jalanan untuk membantu ibunya. Saat itu Justin merasakan bagaimana kerasnya hidup di jalanan. Karena itu setelah sukses Justin mendirikan rumah singgah dan rumah belajar gratis untuk anak-anak jalanan di beberapa kota. Bahkan Shaka, Leo, Alex, dan keluarga mereka turut menjadi donatur tetap untuk mendukung program itu.
"Kita akan kasi pelajaran buat Doni. Tapi sekarang yang terpenting keselamatan Wira." Sahut Shaka menenangkan Justin.
Tirai yang menutup ruang tempat Wira ditangani terbuka. Dua orang perawat mendorong brankar dan membawa Wira.
"Bagaimana, dok..??" Tanya Shaka tidak sabar.
"Lukanya parah. Banyak bekas pukulan hampir di sekujur tubuhnya. Kami akan melakukan rontgent untuk melihat apakah ada tulang yang patah atau tidak." Jawab dokter itu sebelum berjalan menyusul perawat yang membawa Wira.
"Maaf. Siapa yang akan bertanggungjawab untuk anak ini..??" Tanya seorang perawat.
"Saya, sus." Jawab Justin dan Shaka bersamaan.
"Saya yang akan bertanggungjawab atas seluruh biaya perawatan anak ini, sus." Lanjut Justin cepat.
"Baiklah. Tolong segera urus administrasi di loket depan." Kata perawat itu.
"Baik, sus. Terima kasih." Sahut Justin.
Justin bergegas ke kantor administrasi sementara Shaka masih tetap menunggu kabar dari dokter yang menangani Wira.
"Bagaimana, Ka..?? Sudah ada kabar lagi mengenai Wira..??" Tanya Justin sekembalinya dari kantor administrasi.
"Ada 2 tulang rusuk yang patah, juga retak di tulang betis kaki kiri. Setidaknya dia harus dirawat selama 2 -3 minggu." Jawab Shaka.
"Bre**sek..!!" Umpat Justin.
"Kalau lo mau, Wira bisa dipindah ke Orchid setelah dia stabil. Akan lebih mudah untuk menjaga dia disana karena tidak begitu jauh dari apartment lo. Gue bisa bicara sama Yudha buat urus semuanya." Kata Shaka.
"Aku rasa itu lebih baik. Tolong bantu aku mengurus semuanya." Jawab Justin.
"Ga masalah." Kata Shaka lalu dia menelpon Yudha untuk meminta bantuan.
Justin dan Shaka berjalan memasuki sebuah rumah tua milik keluarga Leo. Di dalam salah satu ruangan Doni terlihat duduk di lantai. Tubuhnya yang tadi dihajar Shaka mulai terlihat lebam.
Shaka berdiri tepat di depan Doni. Justin yang sejak tadi menahan marah langsung menendang Doni hingga terjungkal dari duduknya lalu mulai melayangkan pukulan bertubi-tubi. Alex dan Leo yang terkejut menatap keheranan ke arah Shaka yang hanya menggelengkan kepala. Tanda untuk kedua temannya untuk tidak ikut campur.
"Vino. Apa yang terjadi pada Vino malam itu..??" Tanya Shaka dingin.
Doni yang kepayahan menatap pada Shaka dan teman-temannya dengan wajah ketakutan.
"Lo ga akan dapat apa-apa kalo gue mati." Ancam Doni. Dia bergantian melihat pada Shaka dan ketiga temannya dengan wajah ketakutan.
Bukk..!! Bukk..!! Bukk..!!
Justin kembali melayangkan pukulan ke tubuh Doni. Wajah Justin terlihat gelap dan dingin.
"Kalo lo mati, gue bisa cari info dari orang lain. Sekarang lo pilih. Mati di tangan orang itu atau mati di tangan gue." Shaka mengancam balik.
"Cuma gue yang tahu kejadian sebenarnya. Gue juga punya bukti-buktinya. Jadi ga akan dapat informasi dari orang lain." Kata Doni.
Bukk..!! Bukk..!! Bukk..!!
Kali ini Justin menendang tubuh Doni hingga bergulingan di lantai.
"Informasi ga cuma didapat dari orang, Don. Apa lo lupa kalo kekuasaan gue dan temen-temen gue bisa buat dapetin apa yang gue mau. Mungkin bakal butuh waktu, tapi pasti dapat. Itu artinya nyawa lo ga segitu berharganya buat gue." Sahut Shaka.
"Dan gue akan jadi salah satu orang yang dengan senang hati lenyapin manusia sa**ah macam lo..!!" Seru Leo menimpali.
Dia dan Alex tampak berdiri di samping Shaka dengan kedua tangan di saku celananya. Seringai mengerikan tampak di wajah Leo. Seolah dia sudah tidak sabar untuk ikut memukuli Doni.
"Lo denger itu..?? Dan kalo biasanya Justin bakal jadi orang yang menghentikan gue sama temen-temen gue. Kali ini dia justru bersemangat buat abisin lo. Karena lo udah bikin dia marah dengan menyiksa bocah ga berdosa macam Wira." Kata Shaka.
"Lo udah rasain sendiri kan. Dari tadi Justin benar-benar bersemangat hajar lo." Lanjut Shaka.
"Sekarang gue tanya lagi sama lo. Apa yang sebenarnya terjadi sama Vino..??" Tanya Shaka.
"Fabian yang bunuh Vino." Jawab Doni dengan suara bergetar. Alex langsung tanggap, dia segera mengaktifkan recorder di HP-nya.
"Lo yakin Fabian yang bunuh Vino..??" Tanya Shaka.
"Beneran. Gue disana waktu itu. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri." Jawab Doni berusaha meyakinkan.
"Kenapa Fabian bunuh Vino..?? Dan kenapa gue yang dituduh..??" Tanya Shaka lagi.
"Fabian marah karena Vino ternyata pacaran sama Farah, adiknya. Cewek yang mau dia deketin sama lo. Sebenarnya Farah keberatan setiap kali Fabian suruh dia deketin lo. Tapi dia terlalu takut dengan Fabian. Sampe akhirnya Farah hamil anak Vino. Mereka takut akan mendapat amukan dari Fabian dan akhirnya berusaha kabur berdua. Tapi ternyata mereka ketahuan dan tertangkap sebelum berhasil keluar dari kota ini. Fabian yang marah menyekap Farah dan memaksa Vino buat ngejebak lo. Dia tahu Farah ga akan pernah bisa diandalkan buat mengikat lo. Jadi dia mencari cara lain buat mengendalikan lo. Tapi ternyata Vino juga gagal. Setelah itu Vino menolak buat ngejebak lo lagi dan waktu itu dia berusaha melarikan Farah tapi dia tertangkap. Fabian terus memukuli Vino dan akhirnya dibuang dijalanan. Ternyata Vino masih hidup dan malah pulang ke rumahnya. Beberapa hari kemudian ibunya Vino datang nemuin gue dan minta penjelasan. Akhirnya gue bilang kalo lo yang pukulin Vino sampe mati. Dan keterangan gue diperkuat sama orang-orang yang kebetulan liat lo hajar Vino." Jawab Doni panjang lebar.
"Lo emang ba**sat..!! Bisa-bisanya kalian fitnah gue bunuh Vino..!!" Raung Shaka.
"Dimana Farah dan anaknya..??" Tanya Alex penasaran.
"Waktu gagal kabur bareng Vino, Farah berhasil kabur. Lima tahun lalu Fabian ga sengaja mengetahui keberadaan Farah. Tapi ternyata dia udah mati karena sakit waktu anaknya berumur 9 tahun. Fabian ga mau tahu tentang anak itu. Tapi diam-diam gue tetap lacak keberadaan anak itu. Buat jaga-jaga kalo suatu saat gue butuh dia." Jawab Doni.
"Dimana anak itu sekarang..??" Tanya Justin.
"Di salah satu rumah singgah punya lo. Dia sempat hidup di jalanan sampe akhirnya ditemukan salah satu pengelola rumah singgah punya lo. Namanya Alvaro, umurnya 15 tahun. Dia ada di rumah singgah lo yang ada di Bogor dan jadi salah satu anak yang aktif bantu pengelola untuk mengatasi anak-anak jalanan yang datang kesana." Jawab Doni lagi. Justin tampak mengeraskan rahangnya saat mendengar penjelasan Doni.
"Gimana caranya kamu bisa lepas dan selamat dari Fabian..??" Tanya Shaka sambil mencengkeram kuat wajah Doni yang mulai membengkak.
"Gue ambil rekaman CCTV saat kejadian. Gue juga rekam seluruh pembicaraan gue sama Fabian waktu bahas soal kejadian itu. Gue pake itu buat peras Fabian. Dia ga berani usik gue karena gue bilang kalo semua bukti itu ada di tangan orang lain. Dan dia akan serahkan semua ke polisi kalo sampe ada apa-apa sama gue." Jelas Doni.
"Dimana semua bukti itu..??" Tanya Shaka.
"Kalo lo pikir cara yang lo pake ke Fabian bakal ngaruh ke gue, lo salah besar." Lanjut Shaka saat dilihatnya Doni hanya terdiam.
"Semua bukti itu sebenarnya masih ada sama gue. Gue sembunyiin di rumah orangtua gue." Jawab Doni.
"Sekarang lo kasi tahu dimana tepatnya lo sembunyiin semua bukti itu. Kalo sampe lo bohong, abis riwayat lo." Ancam Leo yang dijawab anggukan oleh Doni.
"Apa alasan Fabian mau ngejebak gue..??" Tanya Shaka setelah Doni memberi petunjuk dimana tepatnya semua bukti itu disembunyikan.
"Gue ga tahu. Yang pasti ga ada hubungannya sama duit. Gue cuma tahu kalo ini berkaitan sama salah satu temen lo, tapi gue ga tahu yang mana." Jawab Doni cepat.
Shaka dan ketiga temannya saling memandang dengan tatapan bertanya-tanya. Siapa sebenarnya teman Shaka yang dimaksud Fabian..?? Apakah diantara Leo, Alex, dan Justin..?? Ataukah teman lainnya..?? Dan apa yang Fabian inginkan dari orang itu..??