(Family) Bound

(Family) Bound
Sahabat Menantu



Shaka keluar dari kamar mandi dan melihat Kira yang tengah duduk di salah satu kursi yang ada di balkon kamar mereka. Setelah Justin berbicara dengan mereka, Kira mengurung diri di kamar. Dia bahkan memilih untuk makan malam di kamarnya, membuat keluarganya bertanya-tanya akan sikap Kira.


Shaka mendekati Kira hingga membuyarkan lamunan istrinya. Dia menarik perlahan tubuh Kira hingga berdiri lalu duduk di kursi itu dan memangku istrinya.


"Kamu masih memikirkan permintaan Justin tadi..??" Tanya Shaka sambil menyelipkan rambut Kira ke belakang telinga.


"Aku hanya bingung harus mengatakan apa. Semua ini begitu tiba-tiba dan mengejutkan." Jawab Kira sambil menatap lekat wajah Shaka.


"Menurutmu kita harus bagaimana, Bie..??" Tanya Kira.


"Sejujurnya..??" Shaka balik tanya dan dijawab anggukan oleh Kira.


"Meski awalnya terkejut dan tidak terima, tapi setelah aku tenang. Aku justru berpikir, mungkin setelah Rania dewasa aku akan lebih tenang kalau menyerahkan dia pada Justin." Lanjut Shaka. Dia tersenyum saat melihat Kira mengernyitkan dahi.


"Memang perbedaan usia Justin dan Rania sangat jauh. Tepatnya 19 tahun. Tapi bukankah banyak pasangan yang bersatu karena hal yang sama..?? Seperti kita. Dan percayalah, sampai detik ini aku tidak pernah sedikitpun menyesali keputusanku untuk terus mengejarmu dan akhirnya menikahimu. Karena aku sangat bahagia. Begitu bahagia hingga kadang rasanya dadaku begitu sesak." Kata Shaka sambil menempelkan dahi mereka lalu mengecup kening Kira.


"Saat mama menentang hubungan kita, aku sempat dipaksa untuk bertemu beberapa gadis yang akan dijodohkan denganku. Dari sekian banyak gadis, memang beberapa adalah gadis baik-baik. Mereka menghargai keputusanku yang menolak mereka dan tetap memilihmu. Sisanya... Mereka hanya gadis yang mengejar harta dan status. Dari sana aku belajar bahwa usia tidak menentukan berhasil tidaknya sebuah hubungan." Lanjut Shaka.


"Kita berdua sudah lama mengenal Justin dan sangat mengenal pribadinya. Dia pria yang baik. Kita semua tahu bagaimana kacaunya kehidupan di dunia hiburan. Bahkan Fikri pun sempat tersesat. Untung saja Fikri segera bertemu Tantri yang dengan sabar menuntunnya kembali dan akhirnya mereka menikah. Tapi Justin, aku bisa melihat bagaimana dia selalu bisa menjaga dirinya. Dan tidak bisa dipungkiri. Meski dia member termuda, justru dia yang selama ini terus menjaga kakak-kakaknya di dalam group. Dia bahkan menjagaku, Leo, dan Alex. Kamu ingat bagaimana dia dulu bahkan mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan Rania saat Lucas ingin membunuh kalian..??" Tanya Shaka.


Tubuh Kira mendadak menegang saat mengingat kenangan buruk itu. Shaka yang menyadari hal itu lalu memeluk erat tubuh Kira untuk menenangkannya.


"Sekarang katakan. Apakah salah kalau aku berpikir bahwa akan lebih baik jika nantinya aku melepas gadis kecilku pada pria seperti Justin..??" Tanya Shaka sambil melepas pelukannya dan menatap dalam mata Kira.


"Sekarang katakan apa yang ada dalam pikiranmu." Pinta Shaka saat dilihatnya Kira tetap diam.


"Aku juga berpikir sama sepertimu, Bie. Karena akupun sangat mengenal Justin. Tapi aku selalu teringat Arian dan Kate. Terus terang itu membuatku ragu." Jawab Kira.


"Hei, sayang.. lihat aku. Arian dan Justin adalah orang yang jauh berbeda. Hubungan mereka pun tidak sama. Arian adalah paman kandung Kate, mereka berbagi darah yang sama. Tapi Justin dan Rania, meski mereka dekat seperti layaknya paman dan keponakan. Tapi mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Arian dengan tega merusak Kate tanpa sepengetahuan keluarganya. Tapi Justin, saat menyadari perasaannya dia langsung datang kepada kita untuk bicara baik-baik. Aku bisa melihat, meski Justin mencintai Rania. Dia tidak mempunyai niat untuk merusak gadis kecil kita." Kata Shaka.


"Rania masih terlalu muda. Aku ingin dia tumbuh dan menjalani hidup seperti gadis-gadis seusianya." Sahut Kira lirih.


"Aku tahu. Aku rasa Justin juga menginginkan hal yang sama. Karena itu dia tidak menuntut apapun." Kata Shaka lagi.


"Hmmmm.. Dan meminta ijin untuk menikahi Rania setelah usianya 20 tahun." Sungut Kira.


"Aku juga berusia 20 tahun saat menikahimu. Dan aku tidak pernah merasa kehilangan masa mudaku apalagi menyesal." Kata Shaka sambil terkekeh.


"Kita biarkan saja semua berjalan seperti sebelumnya. Kita lihat bagaimana nanti setelah usia Rania 20 tahun. Kalau Justin tetap pada pendiriannnya Dan Rania juga setuju, aku akan merestui mereka. Tapi yang pasti, mulai sekarang aku akan mengawasi teman baikmu itu. Awas saja kalau dia berani macam-macam dengan putriku." Sahut Kira dengan nada mengancam. Shaka tertawa mendengar ancaman istrinya.


"Tentu saja. Aku akan menjadi orang pertama yang menghajarnya kalau sampai berani menyakiti apalagi menyentuh putriku." Janji Shaka lalu mengecup bibir Kira.


*****


Shaka dan ketiga temannya kembali berkumpul. Baik Shaka maupun Justin tetap bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun. Mereka kembali datang untuk membahas mengenai perkembangan penyelidikan kasus Vino.


"Sulit bener deketin Fabian. Dia selalu diiringi pengawal kemanapun dia pergi. Bahkan ke toilet pun dia dikawal." Gerutu Leo.


"Bagaimana dengan rekaman CCTV..??" Tanya Shaka.


"Orang-orang gue masih berusaha. Selain karena kejadian itu sudah sangat lama, juga karena kemungkinan rekaman CCTV di saat tanggal kejadian telah dipindahkan atau dihapus." Jawab Alex.


"Rata-rata pekerja di Orange Clock saat ini baru bergabung sekitar 10 tahun, jadi mereka tidak tahu menahu tentang kejadian 16 tahun yang lalu." Kata Leo menimpali.


"Kalau begitu Fabian satu-satunya harapan kita. Dia orang yang bisa menjelaskan kejadian sebenarnya di malam itu." Sahut Shaka.


"Kita harus membuat daftar orang-orang yang bekerja di Orange Clock saat itu dan menemukan mereka. Menurutku akan lebih mudah bertanya dan membujuk orang-orang itu." Justin yang sejak tadi menyimak akhirnya ikut berbicara.


"Selain Vino, gue ga kenal pegawai lainnya. Itupun karena Vino yang hampir setiap kami datang selalu bertugas melayani kami." Sahut Shaka.


"Karena lo cuma fokus sama minuman dan curhatan lo." Cibir Leo.


"Gue bakal suruh orang-orang gue tarik data karyawan Orange Clock selama 20 tahun terakhir." Kata Alex mengabaikan perdebatan antara Shaka dan Leo.


"Aku akan mengirim orang untuk terus mengawasi gerakan Fabian. Entah kenapa aku merasa dia yang paling tahu kejadian sebenarnya." Kata Justin yang membuat ketiga temannya keheranan.


"Lo sekarang punya anak buah..??" Tanya Shaka mewakili suara hati Leo dan Alex.


"Bukan orangku, tapi orang-orang dari keluarga ibu." Jawab Justin.


"Maksud lo..??" Tanya Leo semakin penasaran.


Justin terdiam sejenak dan memandang wajah ketiga sahabatnya bergantian. Dia tampak menimbang sesuatu dalam pikirannya.


"Mereka memaksaku untuk memaafkan mereka dan menerima harta warisan dari kakek. Singkatnya mereka memaksaku untuk meneruskan perusahaan milik keluarga itu. Karena ternyata aku adalah satu-satunya keturunan mereka. Adik ibu pernah mengalami kecelakaan bersama istrinya yang tengah hamil besar. Istri dan anak dalam kandungannya tewas di tempat sementara adik ibu sempat koma selama 3 bulan. Dan setelah itu dia divonis mandul oleh dokter." Jelas Justin dengan wajah datar dan tatapan dingin.


"Kenapa lo ga pernah cerita..??" Tanya Shaka.


"Menurutku itu tidak penting. Aku juga tidak pernah menganggap mereka keluargaku." Jawab Justin dingin.


"Siapa nama keluarga ibumu..??" Tanya Alex hati-hati.


Justin terdiam sejenak lalu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Alex.


"Wongsonegoro." Jawab Justin singkat.


"Perusahaan yang bergerak di bidang keamanan itu..??!!" Seru Leo tidak percaya dan dijawab anggukan oleh Justin.


"Aku dengar perusahaan itu berada di peringkat dua dalam hal keamanan. Sistem keamanan yang mereka tawarkan sangat canggih dan terjamin. Orang-orang yang mereka pekerjakan sebagai penyelidik dan bodyguard sewaan pun terkenal bagus." Kata Alex takjub.


"Kalau kamu mau silakan saja ambil alih posisiku sekalian dengan semua warisan yang mereka tawarkan. Aku sama sekali tidak keberatan bahkan akan sangat berterima kasih." Sahut Justin.


"Gila loooo..!! Ga gitu juga kaliiiii..!!" Sungut Alex.


"Tapi setahu gue, sekitar 30 puluh tahun lalu putri sulung keluarga Wongsonegoro tewas dalam kecelakaan saat berlibur menggunakan yacht pribadi keluarganya. Kalo ga salah namanya Anindhita Wongsonegoro." Lanjut Alex. Justin tersenyum sinis mendengar perkataan sahabatnya.


"Saat ibu bersikeras menolak perjodohan untuk semakin melancarkan bisnis keluarganya, ibu memilih pergi dari rumah dan menikah dengan ayah. Keluarganya memutus semua akses keuangan ibu bahkan untuk tabungan pribadinya. Mereka pikir itu akan membuat ibu kewalahan dan kembali lalu menerima perjodohan itu. Tapi ternyata ibu benar-benar menerima ayah apa adanya dan bersedia hidup susah bersama pria yang dia cintai. Bahkan setelah ayah meninggal, ibu memilih banting tulang untuk membesarkan aku dan memenuhi kebutuhanku, daripada harus mendatangi keluarganya. Saat keluarga ibu tahu bahwa cara mereka tidak mempan, mereka membuat rekayasa kecelakaan dan membuat ibu seolah meninggal dan jasadnya tidak pernah ditemukan karena hilang dilautan. Semua itu mereka lakukan karena merasa menganggap ibu telah menjadi aib bagi keluarga Wongsonegoro. Sejak itu ibu merubah namanya menjadi Wahyuni Anggara, mengikuti nama suaminya." Kata Justin dengan mata berkaca-kaca.


"Apa sekarang lo bakal ganti nama jadi Justin Anggara Wongsonegoro..??" Tanya Shaka.


"Tidak. Seperti yang kalian katakan, Anindhita Wongsonegoro tewas dalam kecelakaan kapal. Aku adalah putra dari Aksara Anggara dan Wahyuni Lestari Anggara. Ayahku seorang guru yang mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Dan ibuku adalah penjahit rumahan." Jawab Justin tegas.


"Meski jumlah harta yang mereka tawarkan sangat fantastis, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Aku sudah bisa menghasilkan uangku sendiri. Meski tidak sebanyak yang mereka tawarkan, tapi lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ibu dan aku." Lanjut Justin.


"Trus gimana caranya lo bisa punya anak buah..??" Tanya Leo keheranan.


"Walaupun aku selalu menolak, mereka tetap mengirim orang-orang untuk menjaga dan mengawasiku. Aku memang selalu mengacuhkan mereka. Tapi mereka selalu menuruti setiap perintahku, kecuali untuk meninggalkan aku sendiri." Jelas Justin sambil mengedikkan bahu.


"Lo yakin ga mau coba bicara dulu dengan keluarga ibumu..??" Kata Shaka.


"Kenapa..?? Kamu mau berubah pikiran dan mencoretku dari daftar calon menantu karena aku menolak status sebagai pewaris keluarga Wongsonegoro..??" Tanya Justin sambil menatap Shaka dan menaikkan sebelah alisnya.


"Sialan loooo..!! Status dan harta keluarga gue ga bakalan habis walaupun menantu gue bukan dari golongan tajir..!!" Seru Shaka sambil menendang sebelah kaki Justin.


"Trus..??" Tanya Justin kebingungan.


"Bagaimana pun juga mereka keluarga ibumu. Bisa jadi sebenarnya selama ini ibumu menahan rindu pada keluarganya." Tegur Shaka.


Justin hanya mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya.


"Tunggu dulu. Apa maksudnya Justin calon menantu lo..??" Tanya Alex sambil melihat Shaka dan Justin bergantian.


Shaka dan Justin terdiam lalu saling memandang dengan tatapan penuh arti.


"Woooooiii..!! Mendadak bisu lo semua..??!!" Seru Leo tidak sabar karena dia juga penasaran.


Shaka menyikut perut Justin karena kesal lalu berdehem sebelum menjawab kedua sahabatnya.


"Tempo hari Justin bicara ke gue dan Kira. Dia minta ijin mau nikahin Rania setelah usianya 20 tahun." Kata Shaka sambil menatap sinis pada Justin.


"APA..??!!" Seru Leo dan Alex bersamaan.


"Tunggu.. tunggu..!! Jadi cewek yang tempo hari lo ceritain tu Rania..?? Makanya lo waktu itu lo minta Shaka yang bantu siapin pernikahan lo sama tu cewek." Tanya Alex sambil menatap horor ke arah Shaka dan Justin. Kedua sahabatnya itu mengangguk hampir bersamaan.


"Gila lo pada..!! Wooooii..!! Rania baru kelas 6 SD dan lo udah bikin rencana buat nikahin tu anak, tin..??!!" Seru Alex saking terkejutnya.


"Gue sama Kira udah bicara soal ini dan setuju sama permintaan Justin. Tapi dengan syarat Rania tetap akan menjalani kehidupannya seperti anak-anak seusianya. Dan Justin juga tidak boleh melarang kalau akhirnya Rania jatuh cinta dengan pria lain. Kalau di usia yang ditentukan Rania bersedia menikah sama Justin, mereka baru akan menikah." Sahut Shaka.


"Jadi maksud lo, sahabat lo ini juga bakal jadi mantu lo..??!!" Tanya Leo sambil menunjuk wajah Justin hingga membuat pria itu kesal.


"Ya." Jawab Shaka singkat.


Mendadak suasana di ruangan itu menjadi hening. Tiba-tiba saja Leo dan Alex tertawa keras bersamaan, mengabaikan wajah kesal Shaka. Sedangkan Justin terlihat masa bodoh dengan tingkah kedua sahabatnya.