
Kira memeluk Adit dengan erat. Hari ini Adit akan berangkat ke Magelang dengan ditemani Rendra dan keluarganya. Kira ingin bisa ikut menyertai hingga ke gerbang akademi, tapi Yudha melarang Kira karena harus menjaga kondisi kesehatan untuk persiapan penanaman sel punca. Shaka pun sama, dia tidak bisa ikut karena bukan hanya harus menjaga Kira, tapi juga harus merawat Bara dan Dara. Belum lagi ada perusahaan yang juga perlu dia urus.
"Jaga diri baik-baik disana. Kehidupan di akademi sangat keras, bertahan dan lakukan yang terbaik untuk meraih impianmu." Pesan Kira sembari menangkup wajah Adit.
"Iya, ma. Selama mama dan papa terus doain, aku pasti berhasil. Mama tidak perlu kawatir, anak mama ini kan jagoan." Sahut Adit berusaha mencairkan suasana.
"Kak, titip Adit ya." Kata Shaka.
"Jangan kawatir, Ka. Aku yakin Adit pasti baik-baik saja. Dan aku rasa dia dan Radit sama-sama mewarisi sifat pemberani almarhum ayah mereka. Kamu tahu, dulu Pierre dikenal sebagai prajurit paling pemberani di kesatuan kami, bahkan cenderung nekat. Dia juga pandai mengatur strategi, karena itu karirnya melesat cepat. Aku lihat adit juga sama. Walaupun sejauh ini strategi yang dia susun seputar tawuran dan permainan game." Kata Rendra membuat Shaka tergelak.
"Aku selalu yakin kalau Adit akan baik-baik saja. Sebaliknya, aku justru memikirkan para pengajar di akademi itu. Setidaknya mereka tidak akan memanggilku ke akademi karena ulahnya kan." Sahut Shaka.
Keduanya tertawa keras membayangkan bagaimana para pengajar dan senior di akademi dalam menghadapi Adit. Shaka tersenyum karena teringat, baik dia maupun Kira seringkali dipanggil sekolah karena ulah Dit-dit. Beruntung mereka sangat cerdas dan berprestasi.
Adit mendekati Satria dan membungkuk untuk mensejajarkan diri dengan adiknya. Dia tersenyum dan menggenggam erat bahu Satria.
"Sekarang kamu harus membantu papa dan kak Edo menjaga keluarga kita. Ingat. Jangan pernah takut selama kamu benar. Boleh takut saat kamu salah, tapi beranilah untuk mengakui kesalahanmu dan bertanggungjawab. Itu yang selalu papa dan mama katakan pada kita. Tetap simpan itu baik-baik dalam hatimu. Kamu pemberani, Sat." Kata Adit. Satria mengangguk tanpa ragu
"Aku pasti akan menjaga keluarga kita, kak." Sahut Satria tegas.
Adit memeluk Satria dan menepuk pelan punggung pria kecil itu. Dia lalu beralih pada Nara yang terus menangis dalam pelukan Rania.
"Hei, princess. Jangan menangis terus. Kak Adit memang pergi jauh, tapi masih akan pulang. Nanti setiap kali pulang kak Adit pasti akan bawakan oleh-oleh. Princess jangan menangis lagi yaaa.." Bujuk Adit sembari menggendong Nara dan menghapus air mata adik kecilnya.
"Ga mau oleh-oleh. Maunya kak Adit sama kak Radit." Kata Nara sesenggukan.
"Princess cantik. Kak Dit-dit kan tetap pulang. Nanti kalau kak Dit-dit pulang kita main bareng ya." Bujuk Adit lagi.
"Janji..??" Kata Nara sambil menyodorkan kelingkingnya.
"Janji." Sahut Adit lalu menautkan kelingking mereka. Adit menurunkan Nara dan memeluk Rania.
"Titip mama, papa, kak Edo, dan adik-adik kita. Jaga dan rawat mereka baik-baik, Ra." Pesan Adit. Rania tersenyum dan menatap Adit dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu. Kak Adit tidak perlu kawatir. Yang penting kak Adit jaga diri baik-baik selama di akademi." Kata Rania lalu mendekatkan wajahnya.
"Jangan biarkan mereka macam-macam sama kak Adit." Bisik Rania pelan tapi tegas. Adit tergelak mendengar perintah Rania.
"Tentu. Kamu tahu sendiri kan gimana aku." Sahut Adit percaya diri.
Setelah berpamitan dengan keluarganya, Adit dan Rendra sekeluarga memasuki gerbang keberangkatan. Mereka akan menaiki penerbangan ke Jogja lalu menginap disana sebelum Rendra mengantarkan Adit ke akademi yang ada di Magelang.
Shaka merangkul bahu Kira erat. Dia tahu saat ini Kira pasti bersedih karena kedua putranya pergi jauh. Sedangkan Edo memutuskan untuk sementara tetap tinggal di Indonesia karena ingin mengembangkan bengkel miliknya yang semakin ramai.
*****
Shaka duduk di kursi yang ada di samping ranjang Kira. Berkali-kali dia terus mencium jemari tangan istrinya. Dia terus tersenyum untuk menyembunyikan kekawatirannya. Setelah rangkaian kemoterapi Kira dinyatakan berhasil dan kondisinya terus stabil, lusa Kira akan menjalani tindakan untuk penanaman sel punca.
Setidaknya dengan adanya sel punca dari tali pusat Bara dan Dara, Kira tidak perlu melakukan pencangkokan tulang sumsum yang menyakitkan. Shaka berharap ini adalah titik akhir perjuangan mereka dan akan membawa hasil yang baik.
"Apa yang kamu pikirkan, Bie..??" Tanya Kira saat melihat Shaka melamun.
"Tidak ada. Hanya saja tiba-tiba aku teringat danau tempat kita dulu pernah berjanji untuk bertemu. Danau dimana aku berjanji untuk menunggumu." Jawab Shaka.
"Danau itu. Sudah lama sekali kita tidak kesana." Kata Kira.
"Ya. Terakhir kesana, kita piknik saat Nara berusia satu tahun. Saat itu Dit-dit nekat berenang di danau." Sahut Shaka lalu tertawa bersama Kira. Shaka terdiam dan menatap Kira.
"Sayang, setelah kamu menjalani penanaman sel punca. Aku akan melakukan vasektomi." Kata Shaka. Kira terkejut mendengar perkataan Shaka.
"Bie, jangan. Aku tidak setuju." Sergah Kira.
"Maafkan aku, sayang. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan berubah pikiran." Kata Shaka lembut tapi tegas. Tangannya terus mengelus wajah Kira.
Kira lalu duduk hingga tatapan mereka bertemu. Shaka menangkup wajah Kira dan mengelusnya perlahan.
"Aku mencintaimu. Aku hanya tidak ingin setelah ini kamu hamil lagi dan kembali sakit seperti sekarang." Kata Shaka menjelaskan.
"Tapi kamu masih muda, Bie. Sedangkan aku, diusiaku sekarang hanya menunggu waktu sampai aku mengalami menopause. Karena itu aku menolak untuk steril. Jadi jangan lakukan itu, Bie. Aku mohon." Pinta Kira.
"Kita tidak tahu kapan kamu akan mengalami menopause. Bisa saja kamu hamil lagi. Lagipula kamu sudah memberiku delapan malaikat yang menjadi sumber kebahagiaanku." Sahut Shaka.
"Kalau begitu biar aku yang melakukan steril. Itu hanya operasi ringan. Bahkan aku tidak perlu dirawat inap setelah operasi." Kata Kira tanpa ragu.
"Kamu mungkin merasa masih sanggup bertahan untuk kembali ke meja operasi. Tapi aku tidak sanggup melihatnya. Sudah cukup aku melihatmu kesakitan." Sahut Shaka sambil menempelkan kening mereka.
"Usiamu baru 33 tahun." Bisik Kira.
"Lalu..?? Toh aku tidak akan menikahi wanita lain. Hanya kamu satu-satunya yang aku inginkan untuk menjadi teman hidupku." Kata Shaka.
"Bagaimana kalau mereka gagal dan aku kembali sakit...??" Tanya Kira.
"Apa menurutmu aku akan meninggalkanmu..??" Shaka balik bertanya.
"Aku tidak akan pernah pergi. Bahkan jika kamu mengusirku dari hidupmu, aku akan tetap tinggal. Kamu tahu itu kan, sayang..??" Lanjut Shaka saat dilihatnya Kira hanya diam. Kira menjauhkan wajah mereka dan menatap ke dalam mata Shaka.
"Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu..??" Tanya Kira memastikan. Dia sangat berharap Shaka akan berubah pikiran.
"Aku yakin." Jawab Shaka tanpa ragu. Kira kembali memeluk tubuh Shaka erat.
"Aku mencintaimu, Bie." Gumam Kira dalam pelukan Shaka.
"Aku tahu. Dan aku tidak pernah meragukan itu." Kata Shaka sembari mengayun tubuh mereka.
*****
Shaka, Edo, dan keluarga Kira berjalan mengiringi brankar yang akan membawa Kira untuk menjalani tindakan. Hanya Yudhi yang tidak ada karena dia tengah berada di Belanda untuk menyusul istrinya bersama kedua anak mereka.
Kira tampak bersemangat karena dia begitu ingin untuk segera sembuh dan kembali mengurus keluarganya.
"Maaf. Keluarga harus menunggu di luar." Kata salah seorang perawat.
"Jangan kawatir. Aku akan berada di dalam untuk memastikan semua berjalan dengan baik." Kata Yudha menenangkan keluarganya. Tidak jauh dari mereka, dokter Joseph, dokter dari Jerman yang ikut menangani Kira, tampak tengah bersalaman dengan Darius dan Hans.
"Bie, tenanglah. Aku akan baik-baik saja." Kata Kira sambil mengelus tangan Shaka yang berada dalam genggamannya.
"Berjuanglah. Aku yakin setelah ini semua akan baik-baik saja." Kata Shaka lalu mengecup kening Kira. Yudha menepuk bahu Shaka untuk mengingatkan bahwa Kira harus segera masuk.
Shaka terus berjalan mondar-mandir di ruang tunggu. Sesekali dia duduk. Tidak lama. Karena setelah itu Shaka kembali berjalan dengan gelisah. Shaka terus memperhatikan pintu ruang tindakan. Tiba-tiba saja dia teringat begitu banyak kenangannya bersama Kira dan itu justru membuat perasaannya menjadi tidak enak.
Shaka langsung mendekat saat mendengar suara pintu dibuka. Dilihatnya Yudha keluar dengan wajah murung.
"Yudha, ada apa..?? Bagaimana Kira..??" Tanya Shaka. Yudha menggelengkan kepala pelan sebelum berbicara.
"Reaksi tubuh Kira begitu cepat. Sel-sel dalam tubuhnya langsung menolak sel punca yang ditanamkan hingga membuat kondisi Kira menurun." Jawab Yudha dengan wajah yang terlihat memucat.
"Apa maksudmu..?? Bukankah kamu bilang Kira akan baik-baik saja..??!!" Seru Shaka dengan suara menggelegar.
"Shaka, tenanglah. Biarkan Yudha menjelaskan semuanya sampai tuntas." Sela Rendra menengahi.
"Saat ini dokter Joseph tengah berusaha untuk menstabilkan kondisi Kira." Kata Yudha seraya menepuk bahu Shaka lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Edo menuntun Shaka agar kembali duduk. Shaka terpekur sejenak, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya dan mulai terisak. Shaka lalu menarik napas panjang beberapa kali, berusaha untuk menenangkan dirinya. Shaka terus merapalkan doa di dalam hatinya. Berharap Tuhan akan mendengar permintaannya untuk tidak merenggut Kira dari hidupnya.