(Family) Bound

(Family) Bound
Anak Itu Bukan Anakku



Justin terkejut saat melihat ketiga temannya dihempaskan begitu saja oleh anak buah Fabian. Dia kawatir saat melihat tangan ketiganya terikat dan dalam keadaan terluka.


"Shaka, Alex, Leo..!!" Panggil Justin.


"Apa-apaan ini..!! Cepat lepaskan mereka..!!" Raung Justin sambil berjalan mendekati ketiga temannya.


Baru dua langkah, dia sudah dihadang beberapa anak buah Fabian yang menodongnya dengan belati hingga membuatnya berhenti. Dilihatnya anak buah Fabian menyusuri seluruh rumah, mereka lalu kembali dengan menyeret para pelayan rumah itu dan petugas security yang sebelumnya telah berhasil dilumpuhkan. Fabian berjalan perlahan mendekati Justin dan berhenti kira-kira 3 langkah darinya lalu tersenyum sinis.


"Akhirnya kita bertemu juga, Justin." Sapa Fabian lalu menoleh ke arah Anindya.


"Aku datang. Ayah." Kata Fabian yang mengejutkan semua orang disana.


Anindya tetap terdiam dan terus menatap tajam pada Fabian.


"Anin..!! Cepat jelaskan kenapa orang ini memanggilmu ayah..??!!" Tanya Hendra begitu sadar dari rasa terkejutnya.


"Dia bukan anakku." Desis Anindya penuh amarah.


Rahang Fabian tampak mengeras. Untuk sesaat kekecewaan terpancar di matanya.


"Sejak kecil aku selalu memanggilmu ayah dan dulu kamu selalu memperlakukan aku seperti anakmu." Kata Fabian dengan senyum penuh luka.


"Tapi entah karena apa tiba-tiba ayah berubah. Ayah tidak lagi menyayangi aku." Lanjut Fabian.


"Aku melakukannya karena saat itu dengan begitu bodohnya percaya pada ibumu. Dan pikirmu aku tidak tahu kalau kamu menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa istri dan anak dalam kandungannya..??!!" Seru Anindya.


"Apa..??!! Jadi kecelakaan itu terjadi karena sebuah kesengajaan..??" Tanya Hendra terkejut dan Anindya mengangguk.


"Setelah kecelakaan aku menyuruh orang kita untuk menyelidiki. Dan hasilnya, seseorang telah merusak mesin mobil hingga membuatku kehilangan kendali mobil. Aku tahu itu ulahmu. Tapi karena ibumu terus memohon dan berjanji akan menjauhkanmu dari keluarga Wongsonegoro, aku akhirnya melepasmu. Apalagi mengingat saat itu usiamu masih 15 tahun. Meskipun aku marah, aku memilih untuk melepasmu. Tapi ternyata itu kesalahan terbesar yang aku lakukan." Kata Anindya saat mengingat tragedi 20 tahun lalu.


"Aku membenci istri dan anakmu karena mereka telah merebut kasih sayangmu dariku!! Dan Justin..?? Sejak dulu yang ayah bicarakan selalu saja Justin.. Justin.. Justin.. Dia bahkan tidak mengetahui keberadaanmu tapi ayah begitu menyayangi dia..!! Aku benci Justin karena itu..!!" Raung Fabian.


"Aku bilang berhenti memanggilku ayah, ke**rat..!!" Raung Anindya. Fabian kembali tertawa dengan wajah menyedihkan.


"Aku melakukan apapun agar ayah selalu menyayangiku. Bahkan dulu setiap kali ayah menceritakan tentang Justin dan tante Dita aku selalu berpura-pura senang. Aku melakukannya mesti hatiku sakit. Karena sebenarnya aku tidak suka berbagi kasih sayangmu dengan Justin." Kata Fabian sembari menatap Justin dengan wajah penuh amarah.


"Apa kamu tahu kenapa dulu Shaka dan teman-temannya menjadikanmu target bully..?? Mereka merasa iri padamu. Meskipun kamu hanya anak yatim yang miskin, ibumu selalu ada untukmu dan menyayangimu. Sesuatu yang dulu nyaris tidak pernah mereka dapatkan karena kesibukan orangtua mereka. Mereka sering membicarakanmu saat tengah mabuk di Orange Clock." Kata Fabian sambil menatap Justin dengan sinis.


Justin hanya terus diam dengan raut wajah dingin yang tidak bisa ditebak.


"Saat mengetahui bahwa Justin yang mereka maksud adalah kamu. Perlahan aku menghasut mereka hingga akhirnya mereka menjadikanmu target utama mereka. Dan mereka dengan bodohnya melakukan semua yang aku mau." Lanjut Fabian.


"Bre**sek..!! Jadi kamu sengaja memanfaatkan kami..!!" Seru Shaka marah.


Shaka berdiri untuk menyerang Fabian tapi langsung ditarik oleh salah satu anak buah Fabian hingga kembali terjatuh. Sementara kedua temannya langsung di pegangi oleh anak buah Fabian sebelum mereka sempat berdiri.


"Akhirnya aku sadar. Shaka bukan orang yang bisa aku kendalikan. Alex dan Leo menyakitimu karena termakan hasutanku, tapi Shaka melakukannya karena dia ingin. Itulah sebabnya terkadang Shaka hanya diam dan menonton saat Alex dan Leo menyakitimu. Awalnya aku ingin memanfaatkan Shaka untuk melenyapkanmu. Karena itu aku menyodorkan adik angkatku Farah kepada Shaka, agar aku bisa mengendalikan Shaka melalui dia. Tapi rupanya Shaka bukan tipe laki-laki hidung belang seperti kedua temannya. Rencanaku gagal dan aku semakin marah saat tahu Vino menghamili Farah dan membawanya kabur. Saat aku menangkap mereka, Vino terus memohon agar aku melepaskan Farah dan anak yang dikandungnya. Saat itu aku mempunyai rencana lain. Aku meminta Vino untuk menjebak Shaka dan mengambil foto-foto vulgarnya agar bisa aku gunakan untuk mengendalikan dia. Tentu saja, aku ingin dia membuatmu tersiksa hingga akhirnya mati. Aku ceroboh saat melenyapkan istri ayah dan anaknya. Karena itu aku tidak mau gegabah saat melenyapkanmu." Kata Fabian sembari tertawa terkikik.


"Sayangnya Vino terlalu bodoh untuk melakukannya. Dan akhirnya berkeras menolak karena menganggap Shaka sebagai temannya. Lagi-lagi dia mencoba menyelamatkan Farah. Kali ini dia berhasil, Farah berhasil kabur. Tapi tidak dengan Vino. Kebetulan setelah hari itu Shaka dan teman-temannya tidak pernah datang lagi. Dan karena kasus Vino, aku berusaha tidak menarik perhatian. Tapi aku selalu mengawasimu, Justin." Lanjut Fabian.


"Apa maksudmu..??" Tanya Justin tidak mengerti.


"Ba**ngan..!!" Umpat Justin sambil maju untuk menerjang Fabian.


"Lakukan saja. Dan kamu akan melihat mereka mati." Kata Fabian sambil melirik ke arah Shaka, Alex, dan Leo.


Justin berhenti saat melihat tiga anak buah Fabian telah mendekap tubuh ketiga temannya dengan belati yang terhunus ke leher mereka.


"Aaaaaargh..!!" Teriak Justin kesal.


"Aku tidak akan melepaskanmu kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka..!!" Raung Justin.


"Aku tahu. Karena itu aku membawa mereka kemari. Teman-temanmu sangat berarti bagimu. Mereka akan membuatmu tidak berdaya, Justin." Sahut Fabian santai.


"Kamu tahu apa yang membuatku membencimu, Justin..?? Sejak lahir aku hidup dengan cemoohan dari orang-orang di sekitarku. Karena aku lahir dari hubungan di luar nikah. Ibuku menyayangiku, tapi dia adalah wanita ja**ng yang hidup dengan mendekati para lelaki kaya, meski itu artinya dia harus merusak rumah tangga wanita lain. Tapi meskipun begitu, aku adalah keturunan Wongsonegoro. Aku berhak untuk mendapatkan limpahan kasih sayang dan juga materi. Saat ibu membawaku menemui ayah untuk pertama kalinya, aku begitu senang. Karena akhirnya aku memiliki ayah dan tentunya, akan hidup mewah. Tapi nyatanya, ayah justru menyembunyikan aku. Sedangkan kamu..?? Kamu adalah anak yang dihasilkan dari pernikahan yang tidak diinginkan oleh keluarga ini. Tapi mereka justru terus menjaga dan menyayangimu meski dari kejauhan. Bahkan meski kamu tidak mau mengakui mereka, tapi mereka langsung mengumumkan pada dunia bahwa kamu pewaris keluarga Wongsonegoro, padahal aku yang lebih tua. Tapi tetap saja mereka memilihmu. Kamu..!! Bukan aku..!! Katakan. Apakah menurutmu itu adil..??!!" Tanya Fabian pada Justin.


"Sebelum kamu sibuk merusak hidup orang lain karena pikiran konyol yang dijejalkan ibumu sejak kecil, seharusnya kamu cari tahu terlebih dulu tentang identitasmu yang sebenarnya." Sahut Anindya sengit setelah sedari tadi diam mendengarkan Fabian.


"Aku adalah keturunan Wongsonegoro. Aku anakmu..!!" Teriak Fabian nyaris putus asa. Anindya tertawa dengan raut wajah menyedihkan.


"Keturunan Wongsonegoro hanyalah Justin. Tidak ada setetespun darah Wongsonegoro yang mengalir ditubuhmu. Bahkan dalam tubuh bayi yang dikandung almarhumah istriku juga tidak mengalir darah Wongsonegoro." Kata Anindya dingin.


"ANINDYA..!! APA YANG KAMU BICARAKAN..??!! KENAPA BERBICARA BURIK TENTANG MENANTUKU..??!!" Tanya Hendra dengan suara menggelegar.


"Maafkan aku, ayah. Tapi memang itu yang sebenarnya. Apa ayah tidak pernah menyadari, bahwa selama ini aku tidak pernah menyebut jamin itu anakku..?? Aku selalu menyebutnya bayi itu. Baik Fabian ataupun bayi dalam kandungan Soraya bukanlah anakku." Kata Anindya dengan raut wajah penuh luka.


"Jangan membodohiku, ayah..!!" Seru Fabian.


"Sudah kubilang aku bukan ayahmu..!!" Teriak Anindya.


"Aku memang pernah beberapa kali berhubungan dengan ibumu saat kami masih SMA. Tapi tidak ada yang istimewa dalam hubungan kami. Itu semua terjadi hanya atas dasar mau sama mau. Aku akui, sebelum bertemu Soraya aku memang laki-laki bre**sek. Saat kelas tiga ibumu pindah keluar kota bersama keluarganya. Kami tidak lagi bertemu dan hidupku terus berlanjut seperti sebelumnya. Lima tahun kemudian kami bertemu di kampus. Aku mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Sedangkan dia adalah junior yang baru masuk kuliah. Ternyata setelah lulus SMA dia vakum terlebih dulu. Saat itulah dia memperkenalkan kamu sebagai anakku, saat itu usiamu 4 tahun dan dari caramu bicara tadi kamu pasti ingat hari itu." Kata Anindya pada Fabian dengan nada mencibir.


"Sejak awal aku memang sudah ragu kalau kamu bukan anakku. Karena setiap kali berhubungan dengan wanita manapun aku ingat untuk selalu berhati-hati dan tidak melepaskan benihku pada mereka, tentu saja kecuali istriku. Tapi kesalahan bisa saja terjadi bukan, itu yang aku pikirkan. Karena itu aku menerimamu. Untungnya keadaan saat itu tidak memungkinkan untuk aku membawamu ke hadapan ayah dan mengakuimu. Karena ayah saat itu tengah sibuk dengan masalah yang dibuat kak Dita. Saat itu ayahku semakin mengabaikanku karena sibuk mengurus kakak perempuanku yang kawin lari dengan Aksara, ayah Justin." Lanjut Anindya dengan wajah murung.


"Yaa Tuhan, Anin." Isak Anindhita lirih karena terkejut.


"Aku menyembunyikanmu karena tidak ingin nama baik keluarga Wongsonegoro tercoreng, tapi aku tetap memenuhi semua kebutuhanmu meski aku tahu pada akhirnya semua uang itu justru digunakan ibumu untuk bersenang-senang. Dan aku tidak pernah mau mengikuti keinginan ibumu untuk menikahinya karena aku tahu, kami tidak saling mencintai. Dia mendekatiku karena menginginkan harta keluargaku. Ibumu hanya menurut saja, selama uangku terus mengalir untuknya. Hingga saat usiamu 10 tahun, kamu sakit demam berdarah. Kamu ingat itu..?? Kamu membutuhkan donor darah, tapi tidak ada satupun dari kami yang cocok dengan golongan darahmu. Golongan darahku O dan ibumu A, sedangkan kamu AB. Saat itulah aku mulai curiga. Diam-diam aku melakukan tes DNA. Karena saat itu teknologi disini belum begitu maju dan juga untuk berjaga-jaga kalau ada orang di negara ini yang mengetahuinya, aku melakukan tes itu di luar negeri. Hasilnya, kamu bukan anakku." Geram Anindya dengan raut wajah penuh amarah.


"Tidak mungkin..!! Ayah boleh membenciku, tapi jangan pernah membohongiku dan mengatakan kalau aku bukan anakmu..!! Kamu adalah ayahku..!! Ayahku..!!" Teriak Fabian sambil mencengkeram kerah baju Anindya.


"Aku melakukan apapun demi mendapatkan kasih sayang ayah dan membuatmu bangga padaku. Aku menyadari kedudukan keluarga ayah yang terpandang. Karena itu setelah lulus SMP aku tidak melanjutkan sekolah dan memilih bekerja di Orange Clock. Aku melakukan semua pekerjaan kotor yang diberikan padaku hingga akhirnya pemilik club itu mempercayaiku. Dia menjadikan aku pengelola saat usiaku masih 18 tahun dan aku membuat club itu semakin maju. Aku memiliki banyak uang di usia mudaku. Tapi tetap saja ayah tidak mau menyayangi aku. Ayah justru lebih peduli kepada Justin..!! Karena itu aku semakin membenci Justin..!! Kenapa ayah tidak menyayangiku lagi..??!! Kenapa..!!" Kata Fabian sambil menggoncang bahu Anindya.


Semua orang di ruangan itu perlahan merasa iba melihat Fabian yang begitu putus asa mendamba kasih sayang seorang ayah dari Anindya. Kebencian dan kemarahan yang selama ini ditujukan pada Justin disebabkan oleh rasa iri atas setiap perhatian yang Anindya berikan pada Justin meski dari kejauhan.


"Karena kamu dan ibumu membunuh wanita yang aku cintai..!!" Seru Anindya.


"Aku mencintai Soraya meski dia telah mengkhianatiku." Kata Anindya lirih.


"Saat melakukan tes DNA aku tengah melakukan persiapan untuk pernikahanku dengan Soraya. Aku juga melakukan tes di waktu yang sama. Dan hasilnya, aku mandul. Aku tidak yakin dengan hasil pemeriksaan itu, jadi terus mengulangnya di 5 rumah sakit yang berbeda, di 5 negara. Dan hasilnya tetap sama. Kamu dengar itu..??!! Lima kali..!! Lima kali aku melakukan tes dan hasilnya aku mandul..!! Jadi bagaimana bisa kamu menjadi anakku..!!" Raung Anindya bagaikan singa yang terluka.


"Aku takut Soraya akan meninggalkanku, karena itu aku tetap diam. Kami hidup bahagia, tapi tetap terasa ada yang kurang. Soraya begitu mengharapkan seorang anak, yang aku tahu tidak akan pernah bisa aku berikan. Suatu hari aku bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak ingin dia terlalu berharap dan memikirkan berbagai cara untuk memiliki anak. Saat itu bahkan aku sempat terpikir untuk membawamu ke dalam rumah ini, meski aku tahu kamu bukan anakku. Tapi hari itu, aku pulang ke rumah disambut oleh Soraya yang terlihat begitu bahagia. Wajah cantiknya terlihat begitu bersinar. Saat itulah dia mengatakan kalau dia hamil. Meski aku terkejut dan terluka, aku tetap memperlihatkan kebahagiaanku. Bagaimana aku bisa meruntuhkan kebahagiaan dari wanita yang sangat aku cintai dengan mengatakan bahwa aku tidak sempurna. Aku kembali menjalani pemeriksaan. Mungkin Tuhan berbaik hati padaku dan akhirnya memberiku kesempatan. Tapi hasilnya tetap sama. Aku mandul. Anak itu bukan anakku." Kata Anindya yang mulai terisak.