
Luna menatap lelaki paruh baya di hadapannya dengan sedikit takut, sesekali dia mendongak dan mencuri pandang pada lelaki yang terlihat begitu mirip dengan Edo.
Ini pertama kalinya Luna bertemu dengan Hans. Meski sejak Hans datang dia sudah beberapa kali ke rumah Shaka, Luna belum pernah bertemu dengan ayah kandung Edo. Dan sekarang saat dia kembali menjenguk Kira di rumah sakit, secara kebetulan Hans juga datang.
Hans datang beberapa saat setelah Edo dan Luna masuk ke kamar president suite tempat Kira dirawat. Edo merasa senang akhirnya bisa mempertemukan kekasihnya dengan Hans. Beberapa kali dia ingin mempertemukan mereka tapi masih belum mendapatkan waktu yang tepat.
"Papa, kebetulan sekali papa kemari. Ini Aluna, gadis yang sering aku ceritakan. Dia kekasihku, pa." Kata Edo dengan wajah berbinar.
Hans hanya diam dan menatap Luna dengan wajah datar. Luna tampak menarik napas panjang sebelum memperkenalkan diri.
"Selamat siang, oom. Saya Aluna." Kata Luna sopan dengan mengulurkan tangannya.
Hans masih terdiam dan menatap lekat wajah Luna. Pandangannya seakan menelisik gadis muda dihadapannya.
"Hans." Jawab Hans dingin sambil menyambut uluran tangan Luna. Matanya menatap tajam pada kekasih putranya.
Kira dan Shaka saling memandang. Wajah Edo berubah pias. Suasana di ruangan itu pun mendadak tegang melihat reaksi Hans saat melihat Luna. Tiba-tiba Hans tersenyum dan tertawa keras saat melihat wajah-wajah tegang di hadapannya. Dia bahkan bisa merasakan tangan Luna yang tengah dia genggam begitu dingin.
"Kalian tenanglah. Aku tidak akan menggigit gadis ini." Kata Hans masih dengan tawa kecilnya. Semua orang di ruangan itu langsung menghela napas lega.
"Astaga. Papa bikin takut saja..!!" Seru Edo sewot.
"Aku kira kamu tidak akan menyetujui hubungan Edo dan Luna, Hans. Bikin jantungan saja kamu." Kata Shaka tidak kalah sewotnya. Kira hanya tertawa melihat Hans mengerjai mereka.
"Maaf membuatmu takut, nak. Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu." Kata Hans pada Luna dengan tersenyum hangat.
"Aku Hans, papa nya Edward. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Ternyata benar apa yang Edward bilang. Kamu memang cantik. Pantas saja anakku tergila-gila padamu." Lanjut Hans sambil terkekeh pelan. Luna tersenyum malu mendengar pujian Hans.
"Terima kasih, oom." Sahut Luna malu-malu.
"Kamu hampir saja membuatnya pingsan, Hans. Apa kamu tidak lihat bagaimana takutnya Luna..??" Kata Kira.
"Aku rasa dia tidak akan semudah itu roboh. Meski terlihat lemah, tapi dari genggaman tangannya aku bisa tahu dia gadis yang pemberani dan tangguh." Kata Hans kembali memuji Luna.
"Jadi papa merestui hubungan kami..??" Tanya Edo penuh harap.
"Tentu. Ini memang pertama kalinya papa bertemu Luna. Tapi papa tidak akan meragukan penilaian mommy dan daddy mu. Mereka pasti akan langsung tidak setuju kalau memang Luna bukan gadis yang baik untukmu." Jawab Hans.
"Terima kasih, pa." Kata Edo sambil memeluk tubuh ayahnya. Hans membalas pelukan Edo dan menepuk-nepuk pelan punggung putranya.
"Luna, oom titip Edward ya." Kata Hans.
"Baik, oom." Jawab Luna lagi.
Tak berapa lama mereka terlibat pembicaraan yang begitu akrab. Hans langsung menyukai Luna karena melihat gadis itu memiliki kepribadian baik.
"Kalian bertiga belum makan siang kan..?? Bagaimana kalau aku pesankan..??" Kata Shaka menawarkan.
"Tidak perlu repot-repot. Aku sudah makan saat perjalanan kemari. Terima kasih." Jawab Hans.
"Aku nanti turun ke food court bawah sama Aluna saja, dad." Jawab Edo.
"Kalau begitu kamu ajak Luna makan siang dulu, Ed. Kasian dia pasti sudah lapar. Ini sudah lewat jam makan siang." Kata Kira.
"Baik, mom." Sahut Edo.
"Ayo." Kata Edo pada Luna lalu menarik tangan gadis itu keluar dari ruangan.
"Oom.. Tante.. kami pergi makan siang dulu yaaa.." Pamit Luna sebelum mereka keluar dari ruangan.
Edo dan Luna datang ke food court yang ada di lantai dasar lalu menikmati makan siang. Mereka baru akan beranjak meninggalkan food court saat tiba-tiba terdengar suara Ratna memanggil Luna.
"Luna." Panggil Ratna.
Wanita itu tampak bahagia saat Luna menoleh kepadanya meski dengan raut wajah dingin. Edo yang melihat kedatangan Ratna ingin memberi waktu untuknya berbicara dengan Luna.
"Akhirnya kita bertemu lagi, nak. Setiap hari ibu datang kemari berharap bisa bertemu denganmu lagi." Kata Ratna tapi Luna hanya diam.
"Al, kalian bicaralah dulu. Aku akan kembali ke ruangan mommy terlebih dulu." Kata Edo sambil menggenggam erat kedua tangan Luna. Edo lalu menoleh ke arah Ratna dan tersenyum.
Luna terdengar mendengus kesal saat mendengar Edo mengatakan dia adalah putri Ratna.
"Terima kasih, nak. Nama tante Ratna Danuarta." Sahut Ratna ramah sambil menyambut uluran tangan Edo.
"Apa ada keluargamu yang sakit, nak..??" Tanya Ratna.
"Iya, tante. Mommy saya tengah dirawat disini." Jawab Edo.
"Semoga ibumu lekas sembuh, nak." Kata Ratna tulus.
"Dimana ibumu dirawat..?? Bolehkah nanti tante menjenguk..??" Tanya Ratna.
"Terima kasih, tante. Mommy dirawat di president suite. Tante silakan mampir kalau berkenan. Mommy pasti akan senang bisa bertemu tante." Jawab Edo.
"Ed..!! Kenapa kamu ijinkan dia menemui keluargamu..??!!" Seru Luna. Dia tidak suka karena Edo membiarkan Ratna menemui keluarganya.
"Karena dia ibumu, Al." Jawab Edo dingin. Luna langsung terdiam saat melihat perubahan wajah Edo.
Meski Edo menyadari kesalahan Ratna sangat besar. Tapi dia juga tidak suka melihat Luna memperlakukan Ratna dengan buruk. Apalagi Luna tidak pernah memberi kesempatan ada Ratna untuk menjelaskan. Pengalaman Edo yang sempat tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu membuatnya sangat menghargai sosok ibu.
"Tante, saya pamit dulu." Pamit Edo.
"Sekali lagi terima kasih, nak." Sahut Ratna.
Luna mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Edo mulai menghilang dari pandangannya dan Ratna.
"Luna." Panggil Ratna.
Luna masih diam dan berjalan menjauh. Ratna terus mengikuti Luna yang tampak mulai menyeberang jalan. Rupanya Luna membawa mereka ke cafe yang ada di seberang kompleks rumah sakit.
"Apa yang mau kamu bicarakan..??" Tanya Luna dingin setelah mereka duduk di cafe tersebut.
"Maaf. Tolong maafkan ibu." Kata Ratna dengan wajah penuh sesal. Dia mulai terisak karena hatinya terus dipenuhi rasa bersalah.
"Kenapa kamu meninggalkan aku..?? Meski kamu melakukan kesalahan karena meninggalkan ayahku. Aku tetap akan senang kalau kamu membawaku. Setidaknya aku akan merasa diinginkan." Tanya Luna dengan suara tercekat.
"Karena ayahmu mencegahku, nak. Aku sangat ingin membawamu. Tapi ayahmu yang sedang murka justru menelpon anak buahnya untuk menjemputmu dari sekolah dan menyembunyikanmu. Ibu kembali, nak. Ibu selalu kembali untuk menjemputmu. Tapi ayahmu terus mencegahku menemui kamu. Sampai akhirnya ibu dengar dia menikah lagi dan kalian pindah. Saat itulah ibu kehilangan jejakmu. Maafkan ibu, nak. Harusnya ibu mencarimu dengan lebih baik dan segera membawamu pergi hingga terhindar dari siksaan. Maaf." Jawab Ratna masih terisak.
"Apa kamu benar-benar tidak mencintai ayahku sampai-sampai kamu tega meninggalkan dia demi mantan kekasihmu..?? Ayah selalu memperlakukanmu dengan baik. Tapi kamu terus saja mengabaikannya." Tanya Luna lagi. Ratna tampak diam sejenak.
"Maaf ibu tidak bisa mengatakan apapun mengenai hubunganku dengan ayahmu. Karena kita disini untuk berbicara mengenai hubungan kita." Jawab Ratna.
"Ibu disini untuk meminta maaf padamu karena telah menyebabkan hidupmu menderita dan merasa tidak diinginkan. Maafkan ibu." Lanjut Ratna. Wanita itu tampak menghela napas panjang seolah berusaha melepaskan beban berat.
"Ciiiiihh.. sepertinya kamu memang tidak pernah menyesal telah meninggalkan ayahku. Jadi bagaimana bisa aku percaya kamu menyesal telah meninggalkan aku..?? Sedangkan kepergianmu yang menyebabkan semua penderitaanku." Cibir Luna.
Tak lama kemudian Luna berdiri dan meninggalkan beberapa lembar uang di meja lalu berjalan meninggalkan Ratna.
"Luna.. tolong jangan pergi dulu, nak. Kita belum selesai bicara." Seru Ratna sambil berjalan mengikuti Luna yang berjalan keluar dari cafe.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku sangat yakin kamu memang tidak pernah menyesal sedikit pun karena telah meninggalkan aku. Jadi sekarang pergilah dan berhenti menggangguku..!!" Kata Luna dengan suara tercekat. Airmatanya mulai mengalir membasahi pipinya.
"Waaaah.. waaaaaah.. tidak disangka aku akan melihat pertunjukan menarik di siang bolong." Kata seorang wanita ikut nimbrung pembicaraan Luna dan Ratna.
Ibu dan anak itu menoleh ke asal suara, lalu terkejut melihat siapa orang yang telah menyela pembicaraan mereka.
********************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza