(Family) Bound

(Family) Bound
Pertemuan



Edo benar-benar merasa tidak tenang. Dia berharap kelasnya segera berakhir karena ingin mencari Luna di gedung fakultas sastra. Selama libur semester dia tinggal di Jerman untuk membantu Peter. Sekarang sudah 2 minggu semester baru dimulai dan selama itu pula dia sama sekali tidak bertemu Luna. Artinya sudah 2 bulan lebih dia tidak bertemu Luna dan itu membuatnya sangat gelisah.


Setelah kelas selesai Edo bergegas keluar dari kelasnya dan berjalan menuju gedung fakultas sastra. Edo baru menyadari jarak antara gedung teknik dan sastra ternyata cukup jauh. Dia heran bagaimana Luna bisa begitu betah terus berjalan bolak-balik dari gedung sastra ke gedung teknik setiap harinya.


Edo mengabaikan tatapan orang-orang kepadanya. Dia sudah bertekat untuk menebalkan muka. Saat pertemuan terakhirnya dengan Luna, Edo memilih untuk membiarkan gadis itu pergi karena mementingkan egonya. Tapi sekarang Edo tidak peduli, dia ingin bertemu Luna. Sesampainya Edo di gedung fakultas sastra, dia terus berjalan dan memandang sekeliling. Berharap akan menemukan sosok yang dia cari. Saat tengah sibuk mencari, tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya pelan. Edo menoleh ke arah orang itu.


“Hai, kamu Edo kan..??” Tanya gadis yang tadi menepuk punggung Edo.


“Ya, benar.” Jawab Edo singkat lalu kembali mengedarkan pandangan mencari Luna.


“Kamu mencari Luna..??” Tanya gadis itu yang sukses membuat perhatian Edo tertuju padanya.


“Kamu kenal Aluna..??” Tanya Edo penuh harap.


“Namaku Raya. Aku sahabat Luna.” Sapa gadis itu.


“Katakan dimana Aluna.” Kata Edo lebih seperti perintah.


“Sudah kuduga dia pasti tidak mengatakannya padamu.” Sungut Raya kesal.


“Mulai semester ini Luna sudah tidak kuliah lagi. Dia keluar.” Jawab Raya.


“Apa maksudmu Aluna berhenti kuliah..?? Apa yang terjadi..?? kenapa dia tdak mengatakan apapun..??” Cecar Edo.


“Ayah Luna meninggal 3 bulan lalu. Dan saat ujian akhir semester lalu dia tidak datang. Waktu aku kerumahnya, rumah itu sudah dijual dan aku juga baru tahu kalau klinik milik keluarganya sudah diambil alih ibu tirinya.” Kata Raya.


Edo terkejut mendengar penuturan Raya. Dia memutar kembali ingatannya saat momen-momen terakhir bersama Luna. Pantas saja Luna terus menempel padanya, bisa jadi saat itu sebenarnya dia ingin Edo menemaninya. Luna juga terlihat begitu kurus dan pucat, mungkinkah karena dia begitu terpuruk dalam kesedihannya..?? Sekarang ini Edo merasa sebagai orang paling bodoh di dunia. Harusnya dulu dia mengejar Luna dan membuang egonya jauh-jauh.


“Terus terang aku kawatir pada Luna. Dia tidak mengatakan apapun lalu tiba-tiba menghilang. Dan aku curiga ibu tirinya melakukan sesuatu.” Kata Raya membuyarkan lamunan Edo.


“Kenapa..??”Tanya Edo.


“Jangan tertipu dengan wajah ceria yang selalu diperlihatkan oleh Luna. Di belakang ayahnya, ibu tirinya selalu memperlakukan dia dengan buruk. Wanita itu terus menguras harta keluarganya. Saat mendengar ayah Luna meninggal aku semakin kawatir, takut dia akan memperlakukan Luna dengan lebih buruk. Tapi Luna selalu mengatakan kalau dia baik-baik saja. Sekarang aku tidak tahu luna ada dimana.” Kata Raya lalu menghela napas panjang.


“Berikan alamat rumah dan klinik milik keluarga Luna, aku akan pergi menyelidikinya dan mencari dimana Luna.” Pinta Edo. Raya tampak berpikir sejenak lalu memberikan alamat Luna .


Edo berjalan gontai kembali ke gedung fakultasnya. Mendengar Luna menghilang membuatnya begitu sedih. Edo mengira saat Luna berhenti menemuinya dia akan merasa senang. Tapi nyatanya bahkan saat Luna mengucapkan selamat tinggal dia sudah merasa ada ruang kosong di hatinya. Bodohnya lagi dia justru tidak berusaha menghentikan Luna saat itu juga. Edo duduk termangu di salah satu bangku yang banyak tersedia di setiap sudut kampus itu. Hatinya mengatakan Luna tidak pergi jauh. Bukankah Luna tidak pernah bisa jauh darinya. Dia ingin mencari Luna tapi tidak tahu harus mencari kemana.


****


Sudah sebulan Edo mencari keberadaan Luna. Edo sudah mendatangi rumah Luna tapi berakhir dengan kekecewaan karena rumah itu sudah berganti pemilik. Bahkan dia sempat mengawasi rumah itu namun hasilnya nihil. Dia berangkat pagi dan pulang malam, bahkan akhir pekan pun dia habiskan untuk mencari Luna. Tubuhnya tampak mulai tidak terurus. Sebenarnya Edo bisa saja meminta pada keluarganya untuk mencari Luna. Tapi dia merasa sungkan, karena meski mereka sangat menyayangi dia tetap saja Edo harus tahu diri. Apalagi kalau meminta mereka mencari gadis yang dia minta untuk pergi. Mau ditaruh dimana mukanya. Sedangkan Kira dan Shaka yang melihat perubahan Edo mencoba bertanya tapi pemuda itu terus menutupi dan bersikap seolah semua baik-baik saja.


Sore itu Edo duduk di pinggir lapangan kecil untuk sedikit meredakan penatnya. Lapangan itu terletak di sebuah area perumahan sederhana. Di sekelilingnya banyak orang melakukan kegiatan meski hari mulai beranjak senja. Ada pasangan yang tengah memadu kasih, orangtua yang bermain bola dengan anak-anak mereka, sekelompok orang sedang berolah raga, dan berbagai kegiatan lainnya.


Edo meneguk minuman botol yang telah dia beli dan memandang ke arah lapangan yang tampak ramai. Dia telah menyusuri setiap sudut ibukota selama sebulan terakhir, bahkan hingga ke area perkampungan. Edo memang tidak tahu bagaimana kondisi Luna sekarang ini. Tapi dia tidak ingin melewatkan berbagai kemungkinan. Edo menghela napas panjang lalu bangkit dari duduknya. Dia harus melanjutkan pencariannya.


Sesaat Edo mengedarkan pandangannya dan terpaku pada sudut lain lapangan itu. Matanya mengerjap saat melihat sosok yang dia cari selama sebulan terakhir. Luna, gadis itu tampak tengah berjalan dengan membawa 2 keranjang makanan di kedua tangannya. Kelelahan menyelimuti wajah cantiknya, tapi tidak menghalangi gadis itu untuk terus tersenyum. Edo berlari mendekati Luna. Gadis itu tengah sibuk melayani pembeli hingga tidak menyadari kehadirannya.


“Mau beli jajannya, mas..??” Tanya Luna sambil menengadah. Matanya membulat sempurna saat melihat Edo berdiri di hadapannya.


“Aluna.” Panggil Edo lirih.


Mata Edo menatap lekat wajah Luna dengan penuh kerinduan. Sejenak pandangan mereka bertemu, hingga Luna terlebih dulu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Luna mengambil keranjang makanannya dan beranjak pergi. Kali ini Edo mengejar Luna, dia tidak ingin kehilangan gadis itu lagi.


“Aluna, tunggu.!!” Seru Edo memanggil Luna tapi gadis itu justru mempercepat langkahnya.


“Al, tunggu..!! Kita harus bicara.” Kata Edo setelah berhasil mengejar Luna. Ditariknya tangan Luna membuatnya menghentikan langkah.


“Apa maumu..??” Tanya Luna dingin membuat Edo terkejut karena selama ini Luna selalu berbicara dengan lembut dan senyum hangat.


“Al, kamu kemana saja..?? Aku mencarimu kemana-mana.” Tanya Edo.


“Mencariku..?? Untuk apa..?? Bukankah kamu sendiri yang selalu memintaku untuk pergi..?? Kenapa sekarang kamu mencariku..??” Tanya Luna dengan wajah dingin dan tatapan mata tajam.


“Maafkan aku, Al. Tapi aku menyesal.” Kata Edo.


“Aku memaafkanmu. Sekarang pergilah, aku sibuk.” Kata Luna sambil beranjak pergi meninggalkan Edo.


“Al, aku mohon. Biarkan aku bicara.” Pinta Edo.


Diambilnya keranjang makanan yang ada di tangan Luna lalu menuntunnya duduk di bangku terdekat.


“Maafkan aku, Al. Karena telah bersikap buruk padamu. Aku kira setelah kamu pergi aku akan merasa tenang. Tapi ternyata aku justru selalu merindukanmu, Al.”Kata Edo. Dilihatnya Luna menundukkan kepala.


“Aluna.” Panggil Edo dengan menggenggam erat tangan Luna.


Luna masih terdiam, lalu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah orang-orang yang ada di lapangan dengan tatapan menerawang. Edo berdiri lalu berjongkok di hadapan Luna, digenggamnya erat kedua tangan gadis itu dan menatap lekat wajah yang selalu dia rindukan. Hatinya tercubit melihat gadisnya. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Luna. Aluna yang dia kenal selalu ceria, senyumnya tidak pernah hilang, dia juga selalu hangat dan ramah pada siapapun. Tapi gadis yang ada di hadapannya sekarang terlihat begitu kurus dan pucat tanpa ada cahaya yang dulu selalu berbinar di wajahnya. Sebaliknya, kelelahan dan kesedihan tergambar begitu jelas di wajah cantiknya.


“Al, sebenarnya apa yang terjadi..??” Tanya Edo dengan menangkup wajah Luna, membuat pandangan mereka bertemu.


“Aku harus pergi, Ed. Banyak yang harus aku kerjakan dan aku juga harus pulang sebelum hari benar-benar gelap.” Kata Luna dengan menepis lembut kedua tangan Edo.


Luna tersenyum lembut, tampak menyembunyikan kelelahan dan kesedihannya.


“Apa sekarang kamu berjualan makanan kecil..??” Tanya Edo sambil bergantian melihat Luna dan keranjang yang terletak disampingnya. Luna mengangguk dan kembali menunduk malu.


“Kamu membuatnya sendiri..??” Tanya Edo lagi. Luna kembali mengangguk tanpa melihat pada Edo.


“Aku akan membeli semuanya lalu mengantarmu pulang.” Kata Edo.


“Tidak usah. Aku tidak mau dikasihani.” Sahut Luna dingin.


“Aku melakukannya karena memang aku selalu menyukai masakanmu, Al.” Kata Edo lagi.


“Apa..??” Kata Luna sambil menengadahkan kepalanya karena terkejut.


“Selama ini kamu selalu membawakanku makan siang dan kudapan kan. Aku memang tidak pernah mengatakannya tapi aku selalu menyukai masakanmu, Al.” Kata Edo bersungguh-sungguh.


Luna tersenyum tipis lalu membungkus semua makanan yang masih ada di keranjangnya.


“Ayo aku antar kamu pulang.” Kata Edo dengan menggandeng tangan Luna tapi dilihatnya gadis itu tampak ragu.


“Aku pulang sendiri saja.” Kata Luna.


“Tidak. Aku akan mengantarmu.” Kata Edo tegas dan tidak mau dibantah.


Ditariknya tangan Luna hingga membuat gadis itu terpaksa mengikuti langkahnya. Setelah membuka pintu mobil dan memastikan Luna duduk dengan nyaman, Edo berjalan ke bagian kemudi.


“Eeeeh.. mau apa..??” Tanya Luna panik saat tiba-tiba Edo mendekatkan tubuhnya.


“Memasang sabuk pengamanmu.” Kata Edo dengan menyimpulkan senyum.


Edo meraih sabuk pengaman dan memasangkannya untuk Luna. Wajah Luna memerah dan jantungnya berdegup kencang karena wajah Edo yang begitu dekat. Matanya terbelalak saat tiba-tiba Edo mengecup bibirnya dengan cepat.


“Kamu apa-apaan sich..??!!” Seru Luna tidak terima.


“Membalasmu. Dulu kamu 2 kali mencuri ciuman dariku kan.” Kata Edo sambil terkekeh.


Luna terdiam dengan wajah memerah karena teringat kenekatannya. Edo tertawa pelan melihat Luna salah tingkah.


“Aluna.” Panggil Edo lagi, membuat Luna menoleh hingga pandangan mereka kembali bertemu.


“Aku tidak akan melepasmu lagi. Kali ini aku yang akan mengejarmu, Al.” Kata Edo dengan menatap lekat wajah Luna.


Luna hanya terdiam dan membalas tatapan Edo dengan dingin. Membuat hati Edo kembali sakit karena dia merindukan senyum hangat Aluna. Tapi Edo sadar dia sering bersikap buruk pada Luna. Bryan benar, dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Luna tapi terus berusaha menepisnya hingga membuat Edo tanpa sadar justru sering menyakiti Luna. Dan saat Luna pergi, Edo menyesal karena tidak membiarkan Luna mengetahui perasaannya.


Edo mengantarkan Luna ke sebuah rumah kecil yang letaknya berada diluar perumahan. Mobil Edo berhenti di depan gang karena jalannya terlalu sempit. Dia memaksa menemani Luna berjalan sampai rumah meski gadis itu menolaknya. Rumah itu sangat kecil dan hanya terdiri dari 3 ruangan. Kamar tidur, dapur kecil, dan kamar mandi. Terlihat sekali kalau rumah itu sebenarnya hanyalah gudang yang diubah menjadi tempat tinggal, sedangkan rumah utama terletak tidak jauh dari rumah Luna. Hati Edo miris membayangkan setiap hari Luna berjalan kaki berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Terlebih lagi gadis ini ternyata tinggal sendirian di sebuah rumah yang begitu kecil.


“Terima kasih.” Kata Luna sebelum menutup pintu rumahnya.


“Aku pulang dulu, Al. Besok aku akan datang lagi.” Kata Edo.


“Tidak usah. Bukankah dulu sudah kukatakan jangan mencariku. Pertemuan kita hari ini hanya kebetulan saja. Besok tidak perlu bertemu lagi.” Kata Aluna dingin.


“Aku tidak peduli. Besok aku akan tetap datang.” Kata Edo lalu menarik tubuh Luna dan mengecup kening gadis itu lama.


Edo tersenyum melihat Luna terdiam kemudian pergi meninggalkan rumah itu. Setelah Edo pergi Luna menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya yang keras. Dia menangis terisak mengingat Edo yang datang untuknya. Rasa bahagia dan takut bercampur menjadi satu.


"Kenapa kamu justru datang di saat aku menyerah, Ed..?? Apa yang harus aku lakukan..?? Aku bukan lagi Luna yang dulu. Aku tidak pantas lagi berdampingan denganmu. Dan aku takut akan membuatmu celaka, Ed." Tangis Luna.


****


Edo sampai di rumahnya tepat saat makan malam hampir siap. Dilihatnya Kira tengah sibuk menyajikan makan malam sedang Shaka bercanda dengan Dit-dit. Edo yang tengah bahagia berlari kecil menghampiri Kira dan memeluk erat wanita yang sudah dia anggap ibunya.


"Eeeeh.. kamu kenapa, Ed..?? Tumben juga kamu sudah pulang." Kata Kira terkejut.


"Kangen sama mommy." Jawab Edo mengeratkan pelukannya.


"Salah sendiri kamu akhir-akhir ini sering keluar." Kata Kira sambil mengelus kepala Edo pelan.


"Maafin Edo, mom." Kata Edo lagi sambil mengecup lembut pipi Kira.


"Oh.. yaaa.. ini.." Lanjut Edo menyodorkan bungkusan plastik hitam kepada Kira.


"Apa ini..??" Tanya Kira keheranan.


"Makanan kecil." Jawab Edo tersenyum penuh arti.


"Banyak sekali, Ed..??!!" Tanya Kira terkejut sedang Edo hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya.


"Apa itu, sayang..??" Tanya Shaka sambil meraih bungkusan plastik di tangan Kira.


"Waaaah... ada kue lumpur kesukaanku." Kata Shaka dengan wajah berbinar. Shaka langsung mengambil dan menyantap makanan kesukaannya sejak kecil.


"Hmmm.. ini enak sekali. Sayang, kamu harus coba." Kata Shaka kepada Kira.


Kira mengambil kue talam yang ada dalam bungkusan itu dan mencobanya. Matanya langsung berbinar merasakan kelezatan kue itu. Adik-adik Edo yang melihat kedua orangtua mereka menyantap makanan kecil langsung datang untuk meminta jatah mereka.


"Benar, Bie. Ini enak sekali. Kamu beli dimana, Ed..??" Tanya Kira pada Edo.


"Ada dech, mom. Kalau mommy dan daddy suka, besok aku bawain lagi." Jawab Edo tersenyum penuh arti.


"Ini gorengannya juga enak, kak. Coba kalau masih hangat. Pasti lebih enak." Kata Radit menimpali.


"Besok bawa lagi ya, kak. Aku suka kroket kentangnya." Kata Rania tidak mau kalah.


"Iyaaaa.. besok kakak bawain lagi yang banyak. Sekarang makan dulu ya. Mommy sudah siapkan makan malam buat kita." Sahut Edo.


Kira menatap Edo dan menghela napas lega melihat pemuda itu kembali ceria. Dia sempat kawatir karena sebulan terakhir pemuda itu terus murung dan tampak menjauh dari keluarganya. Dan hari ini, entah karena apa Edo telah kembali seperti dulu.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza