(Family) Bound

(Family) Bound
Kepergian



Suasana di rumah keluarga Rahardian benar-benar riuh. Acara aqiqah Bara dan Dara diadakan bersamaan dengan tasyakuran atas diterimanya Radit di Universitas Charite, Jerman dan Adit di akademi militer. Acara ini juga sebagai pelepasan karena dalam dua hari Radit akan berangkat bersama Peter ke Jerman untuk memulai persiapan kuliah, dan Adit akan berangkat ke Magelang dua minggu kemudian dengan ditemani Rendra.


Kira terlihat lebih baik setelah menjalani dua kali kemoterapi. Meski sangat berat, tapi dukungan dari keluarganya membuat Kira mampu untuk terus bertahan. Dan kanker yang terdeteksi saat masih stadium dua juga membuat pengobatan Kira menjadi lebih mudah.


Saat ini keluarga Rahardian, Hardisiswo, dan Tanzil menaruh harapan besar pada sel punca yang didapat dari tali pusat si kembar. Mereka berharap penanaman sel punca tersebut bukan hanya menyembuhkan Leukemia yang diderita Kira, tapi juga kelainan darah yang disebabkan oleh obat yang diberikan Lucas 12 tahun lalu.


Kira duduk di ruang keluarga sambil menggendong Bara yang tengah tidur nyenyak dalam buaiannya. Kepala Kira terbungkus turban untuk menutupi kepalanya yang gundul. Efek kemoterapi menyebabkan rambut indah Kira rontok parah hingga akhirnya terpaksa dicukur habis.


"Ma. Mama beneran tidak apa-apa kita tinggal sekarang..?? Bulan depan kan operasi mama." Tanya Adit sambil bergelayut manja di lengan ibunya. Satu tangannya terus mengusik tidur nyenyak Bara.


"Mama tidak apa-apa, Dit. Kalian tenang saja. Kan ada papa sama eyang yang jagain mama. Nenek Hani juga bantuin mama." Kata Kira menenangkan kedua putranya.


Radit kesal melihat Adit terus mengusik Bara yang tengah tertidur, dia memukul keras bahu saudara kembarnya itu.


"Lo apaan sich..??!!" Protes Adit.


"Ga usah usil napa..?? Kasian mama kalo Bara sampe bangun." Tegur Radit.


"Bawel amat. Udah kayak kak Luna aja bawelnya." Sungut Adit.


"Aduuuuuh..!! Aduuuuuh..!!" Seru Adit saat tiba-tiba mendapatkan cubitan bertubi-tubi.


"Siapa yang kamu bilang bawel..??!!" Tanya Luna.


"Emang kenyataan." Sungut Adit sambil mengelus lengannya yang dicubit oleh Luna.


"Mana, Dara..??" Tanya Adit yang menyadari adik perempuannya tidak ada bersama ibunya.


"Itu lagi sama oom Hans sama tante Rianti." Jawab Kira sambil menunjuk ke arah dua orang yang dimaksud dengan dagunya.


Adit mengikuti arah pandangan Kira. Dilihatnya Rianti yang tengah menggendong Dara terlihat malu-malu karena Hans duduk disampingnya. Tidak jauh dari mereka, Ranu, anak bungsu Rianti tengah menatap tajam pada kedua orang dewasa di hadapannya. Tiba-tiba Adit menyeringai dengan wajah jahil, lalu berdiri dan berjalan menghampiri mereka.


"Adit..!! Jangan gangguin oom Hans dan tante Rianti..!!" Tegur Kira.


Perasaan Kira langsung tidak enak saat melihat wajah jahil Adit. Tapi putranya itu terlihat tidak peduli.


"Biarin saja, ma. Paling dia mau porotin oom Hans lagi." Cibir Radit.


"Lagi..??" Tanya Kira sambil menautkan kedua alisnya.


"Mommy belum tahu..?? Tempo hari Adit ajakin Ranu recokin papa sama tante Rianti. Dia baru berhenti dan ajak Ranu pergi setelah papa janji beliin XBox versi terbaru." Sahut Luna.


Sejak bertunangan dengan Edo, Luna memang diminta untuk mengikuti cara Edo dalam memanggil keluarganya.


"Jadi XBox baru yang ada dikamar kalian itu dari oom Hans..??" Tanya Kira terkejut. Radit dan Luna hanya mengangguk untuk mengiyakan.


"Astaga anak itu. Mama jadi was-was melepas dia di akademi." Sungut Kira kesal.


"Ya antara Adit yang jadi kapok, atau para pengajar disana yang semakin pusing gara-gara dia." Jawab Radit santai.


"Mommy, biar aku tidurkan Bara di kamar. Dia sudah tidur pulas sejak tadi. Nanti mommy capek kalau terus menggendong Bara." Kata Luna.


Kira tersenyum dan menyerahkan Bara kepada Luna. Gadis itu lalu membawa Bara ke kamar bayi yang letaknya berdampingan dengan kamar Kira dan Shaka.


Kira lalu menoleh ke arah Radit dan menatap lekat wajah putranya. Radit memang mewarisi banyak sifat Pierre. Meskipun sering membuat masalah bersama dengan Adit, tapi Radit cenderung lebih tenang dan sabar. Kalau Adit mudah meledak, maka Radit lebih bisa berkepala dingin. Meski tentu saja, Radit mewarisi sifat keras kepala Kira. Tidak mudah membujuk pemuda itu kalau sudah mengambil keputusan.


"Bagaimana persiapanmu..?? Apakah sudah beres semua..??" Tanya Kira dengan wajah sendu. Dua hari lagi dia harus melepaskan Radit untuk kuliah di Jerman.


"Sudah beres semua, ma. Aku juga sudah selesai packing." Jawab Radit. Pemuda itu meraih tangan Kira dan menggenggamnya erat.


"Selama disana jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai merepotkan Opa Peter. Setelah pindah ke apartment, kamu tetap harus menjaga opa Peter. Walaupun tinggal di kota yang berbeda, sering-seringlah datang dan menemani beliau." Pesan Kira.


"Iya, ma." Jawab Radit sambil mengembangkan senyumnya yang selalu terlihat menenangkan.


"Dan ingat..!! Sesibuk apapun kamu, jangan lupa ibadah. Jaga pergaulanmu dan ingat batasanmu. Pergaulan disana lebih bebas, dan kamu boleh berteman dengan siapapun asalkan kamu tidak terjerumus ke hal yang tidak baik. Dan tetap ingat adatmu sebagai orang timur." Pesan Kira pada Radit.


Radit tersenyum dan memeluk erat ibunya. Dia menenggelamkan wajahnya ke perut Kira, seolah tengah berusaha mengingat setiap momen saat dia dan Adit berada dalam kandungan ibunya selama sembilan bulan.


"Aku tidak akan mengecewakan mama dan papa. Aku janji akan membuat mama dan papa bangga." Janji Radit sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Kira.


"Mama sangat menyayangimu, nak. Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu." Kata Kira.


"Aku tahu, ma. Aku juga sangat menyayangi mama. Aku akan pulang setiap kali ada kesempatan. Tapi mama harus janji akan terus bertahan. Karena aku ingin setiap kali pulang ada mama yang akan menyambut kedatanganku." Pinta Radit dengan suara tercekat.


Meskipun Radit lebih banyak diam dibandingkan Adit, tapi sebenarnya dia pun tidak kalah kawatir dengan kondisi ibunya.


"Mama punya begitu banyak alasan untuk tetap bertahan. Dan kamu lihat sendiri kan, kondisi mama terus membaik. Sel punca dari tali pusat kedua adikmu juga memiliki kecocokan dengan mama. Mama yakin setelah operasi nanti mama pasti akan sembuh. Mungkin setelah itu mama yang akan sering datang mengunjungi kamu dan Adit untuk memastikan kalian tidak membuat masalah." Kata Kira menenangkan Radit.


"Setelah mama sembuh aku akan menabung untuk mengajak Bara dan Dara keliling dunia bersamaku setelah mereka besar." Kata Radit. Kira menatap Radit dengan wajah yang penuh tanda tanya.


"Karena mereka telah menyelamatkan mama. Kehadiran mereka membawa kesembuhan untuk mama." Lanjut Radit. Kira tertawa mendengar janji yang diucapkan Radit.


"Kalau begitu kamu harus mulai menabung dari sekarang." Sahut Kira yang disambut pelukan erat oleh Radit.


*****


Adit menghela napas panjang beberapa kali. Dilihatnya Radit yang tengah menurunkan beberapa koper dari bagasi mobil dengan dibantu Edo. Peter berdiri disamping Adit sambil sesekali menepuk pelan bahu cucunya.


Baik Radit maupun Adit tetap diam sejak mereka meninggalkan rumah menuju bandara. Hanya Edo dan Adit yang mengantar Radit, karena hari itu adalah jadwal kemoterapi terakhir Kira sebelum menjalani operasi.


"Dit, gue tahu di Jerman dingin. Tapi lo jangan tambah kaku. Gue takut ntar balik dari sana lo beneran kayak kulkas." Kata Adit memecah keheningan diantara keduanya.


"Lo juga sama. Ilangin kebiasaan lo godain cewek. Jangan suka berantem. Jangan usil. Awas aja kalo sampe gue denger lo ditendang dari akademi gara-gara kelakuan lo yang suka ga jelas." Ancam Radit.


"Gue bakalan kangen banget sama lo, Dit." Kata Adit sambil menundukkan kepala.


"Sama. Gue juga. Apalagi dari kecil kita bareng terus kemana-mana. Sampe-sampe banyak yang ngatain kita kembar siam." Sahut Radit.


Keduanya kembali terdiam. Selama hampir 18 tahun hidup mereka, Dit-dit memang nyaris tidak pernah berpisah. Kemana-mana mereka selalu bersama, bahkan selalu berada di sekolah yang sama dan kelas yang sama. Bisa dibilang mereka selalu saling mengandalkan satu sama lain.


"Lo ga akan lupain gue kan..??" Tanya Adit yang memang selalu lebih ekspresif tentang perasaannya.


"Gimana gue mau lupain lo, kalo tiap kali ngaca yang gue liat muka lo." Kata Radit mengingatkan Adit bahwa mereka kembar identik yang sangat mirip satu sama lain.


"Jaga diri lo baik-baik disana. Jangan sampe muka lo kusut gara-gara tugas kuliah yang menumpuk. Ntar bisa-bisa lo lupa sama wajah gue." Cibir Adit.


"Lo juga sama. Jangan sampe ntar pas kita ketemu lagi gue ga bisa kenalin lo gara-gara lo yang tambah item." Balas Radit.


"Radit, kita harus masuk sekarang." Ajak Peter.


Radit dan Adit saling memandang. Untuk pertama kalinya mereka akan berpisah, entah untuk berapa lama. Berat. Tapi mereka juga menyadari bahwa masing-masing memiliki jalan hidup yang berbeda.


Adit terkejut saat Radit memeluknya terlebih dulu. Seperti Kira, Radit bukanlah orang yang mudah mengungkapkan atau menunjukkan perasaannya. Adit membalas pelukan Radit dengan erat. Seolah itu benar-benar akan menjadi saat terakhir mereka bertemu.


"Jangan lupa untuk selalu kasi kabar, Dit. Hubungi gue kapanpun lo butuh. Seperti biasa, gue akan selalu ada buat lo." Kata Adit.


"Lo juga sama. Jangan pernah lupa kalo lo selalu bisa andalin gue setiap kali lo ada masalah." Sahut Radit.


"Gue sayang banget sama lo, Dit." Kata Radit sambil terisak dan mengeratkan pelukannya.


Tangis Adit pecah saat mendengar Radit mengungkapkan perasaannya untuk pertama kali selama hampir 18 tahun mereka tumbuh bersama.


"Gue juga sayang banget sama lo, Dit." Sahut Adit ditengah isakannya.


Edo menepuk pelan bahu Adit saat mendengar panggilan untuk keberangkatan Radit. Kedua saudara itu akhirnya melepaskan pelukan dan menghapus airmata mereka.


"Meski tidak setiap hari ataupun sering, tapi nantinya kalian masih punya banyak kesempatan untuk bertemu." Kata Edo menghibur kedua adiknya.


"Iya, kak." Jawab Dit-dit bersamaan. Radit lalu memeluk erat tubuh Edo.


"Jaga diri baik-baik, kak. Tolong jaga keluarga kita. Titip Adit juga. Kalau dia bandel jitak aja kepalanya." Kata Radit.


"Kamu tidak perlu kawatir, Dit. Kamu jaga diri baik-baik disana. Jangan lupa terus kirim kabar, terutama pada mommy, daddy, dan Adit." Sahut Edo sambil membalas pelukan Radit.


Adit menatap punggung Radit yang terus menjauh sampai hilang dari pandangannya. Dia menunggu hingga pesawat yang membawa Radit pergi benar-benar meninggalkan landasan. Edo merangkul erat bahu Adit. Untuk menenangkan adiknya yang sedang bersedih.