(Family) Bound

(Family) Bound
Aku Tulus Mencintainya



Setelah mendengar penjelasan suster Hani, Shaka menghubungi Justin, Leo, dan Alex. Leo dan Alex saat itu ada di tempat kejadian, jadi mereka pastinya tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.


Saat ini keempat sekawan itu tengah berkumpul di ruang kerja Shaka. Baik Justin, Leo, dan Alex juga telah mendengar penjelasan dari Shaka mengenai tragedi yang menimpa Vino dan keluarganya.


"Gila..!! Ini benar-benar gila..!! Gue berani sumpah demi apapun, waktu itu Vino baik-baik saja. Lo ga lukai dia segitu parahnya, Ka." Kata Alex tidak percaya.


"Kalau dibandingkan dengan lo hajar Justin waktu itu, Vino bisa dibilang cuma tergores sedikit saja." Sahut Leo mengingatkan awal hubungan mereka dengan Justin dulu.


"Yaaaa.. aku ingat bagaimana tingkah kalian saat menjadi penggemar nomer satuku." Cibir Justin.


Shaka memukul bahu Leo karena sudah mengingatkan masa lalu kelam mereka bersama Justin.


"Tapi kalo bukan karena kita bully Justin waktu itu, mana mungkin lo ketemu Kira." Kata Leo lagi.


"Maksudnya demi ketemuin jodoh mereka aku yang jadi umpan kan." Sungut Justin.


"Tau aja lo..!!" Sahut Alex sambil tertawa keras.


"Heeeeeh..!! Gue ajakin kalian kumpul disini buat bantu kumpulin bukti kalo bukan gue yang bunuh Vino. Bukan buat ungkit masa lalu." Seru Shaka kesal.


"Yaelaaaaaah.. ni orang ga sabaran amat..!! Lo santai aja napa, Ka. Kita pasti berhasil buktiin kalo lo ga salah." Kata Leo.


"Gue cuma ga mau kalo sampe anak-anak gue di cap sebagai anak pembunuh. Ga kebayang hidup mereka nantinya gimana." Sahut Shaka.


"Ka, kita sudah lama saling kenal. Kita sama-sama tahu baik dan buruk sifat masing-masing. Dan bahkan saat aku mengenalmu sebagai trouble maker, aku tetap yakin sosok kamu yang itu ga akan sampai membuat nyawa melayang." Kata Justin menenangkan Shaka.


"Denger. Gue udah suruh orang-orang gue buat cari rekaman CCTV di Orange Clock Club. Butuh waktu karena kejadiannya udah lama banget, tapi kita pasti dapat. Lo ga usah kawatir, Ka." Alex menimpali.


"Lo yakin..??" Tanya Shaka.


"Lo ga lupa kan kalo gue punya perusahaan yang bergerak di bidang IT..?? Orang-orang kepercayaan gue semuanya hacker berkualitas." Jawab Alex menyombongkan diri.


"Kenapa ga sekalian minta tolong ipar lo aja, Ka. Seinget gue kak Yudhi juga hacker hebat." Tanya Leo.


"Yudhi sibuk banget bantuin kak Adam. Sebisa mungkin gue ga mau gangguin mereka. Lo tau sendiri gimana susahnya urus perusahaan. Apalagi group sebesar Phoenix." Jawab Shaka.


"Okeee.. Kalo gitu kita jalan sendiri." Kata Alex penuh semangat.


Sebenarnya, sebagai pemilik perusahaan yang bergerak di bidang IT, Alex takut gengsi kalau orang-orang kepercayaannya sampai kalah cepat dari Yudhi. Dia sangat tahu bagaimana kemampuan Yudhi dalam hal meretas. Meski usianya sudah kepala empat, kemampuan Yudhi justru semakin berkembang.


"Dari informasi yang gue dapet, Orange Clock masih dikelola orang yang sama. Lo masih inget Fabian kan..??" Tanya Leo.


"Yaaaa.. dia memang selalu memperlakukan kita dengan istimewa. Tapi kalian sangat tahu sejak awal gue ga pernah suka sama tu orang." Sahut Shaka dingin.


"Seingat gue waktu itu dia ngebet banget sodorin adeknya ke lo. Tapi terus aja lo tolak." Kata Alex sambil terkekeh.


"Jadi.. dulu kalian juga sampe main cewek..??" Tanya Justin sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Mereka doang, gue enggak." Sahut Shaka cepat.


Shaka takut kalau Justin salah paham apalagi kalau sampai Kira tahu. Justin masih diam dan menatap tajam pada Shaka seolah tidak mempercayai teman baiknya itu.


"Astaga, Tin. Beneran gue ga pernah main cewek..!! Kira satu-satunya cewek yang pernah gue sentuh." Seru Shaka sementara kedua temannya justru mentertawakannya karena mereka tahu Justin dan Kira sangat dekat.


"Lo tenang, Tin. Shaka emang lempeng aja kalo sama cewek. Dulu dia kalo sama cewek dingin kayak balok es abadi di kutub selatan." Sahut Leo.


"Awas saja kalau kamu sampai berani macem-macem..!!" Ancam Justin.


"Bro..!! Gue ga bakalan macem-macem..!! Gue cuman cinta sama Kira..!!" Sungut Shaka kesal.


"Baguslah. Dan pastikan tetap seperti itu." Kata Justin lagi dengan nada mengancam.


"Okeee.. okeee.. berhenti bahas masalah cewek. Sekarang kita balik lagi ke masalah Orange Clock. Asal tahu saja, Fabian udah ga kayak dulu lagi. Dia sekarang susah ditemui dan udah punya banyak anak buah. Dari yang gue denger, sekarang dia juga menambah bisnis haramnya. Intinya sekarang dia punya organisasi mafia sendiri." Kata Leo.


"Bisa jadi, dengan kita melakukan ini justru seperti mengusik sarang lebah." Sahut Shaka.


"Tapi sekarang semua balik ke lo lagi, Ka. Apapun keputusan lo, kita bertiga bakal dukung sepenuhnya." Kata Alex menimpali.


Shaka memandang ketiga temannya satu persatu dan melihat kesungguhan di mata mereka.


"Kalian tahu resikonya..??" Tanya Shaka.


"Tentu. Tapi kamu juga harus ingat, masing-masing dari kita juga punya kekuatan. Jadi menurutku Fabian hanya masalah kecil." Jawab Justin dingin dan tenang.


Shaka, Leo, dan Alex tertegun melihat Justin. Meski tetap pendiam dan tenang seperti dulu. Tapi entah kenapa mereka merasa Justin bukan lagi orang yang sama. Seolah ada yang Justin tutupi dari semua orang, bahkan mereka.


"Jadi. Kita mulai dari mana..??" Tanya Justin memecah kesunyian yang tiba-tiba menyergap.


"Orange Clock. Tempat dimana semua kekisruhan ini berawal. Saat siang memang nyaris tidak ada kegiatan disana. Tapi bar mereka tetap buka dengan hanya sedikit pekerja. Dan yang paling penting, penjagaan tidak begitu ketat." Kata Leo.


"Kalau begitu kita harus segera mulai." Kata Shaka terlihat tidak sabar.


"Lo ga usah kawatir. Gue sama Leo udah kerahin orang buat awasi Orange Clock sama Fabian." Sahut Alex.


"Makasih, Lex." Jawab Shaka.


"Ya udah kalo gitu gue duluan. Gue ada kencan sama bini gue. Bisa gawat kalo gue sampe telat." Kata Alex lagi.


"Ciiiiieeeee.. yang mau date nite." Goda Justin.


"Napa..?? Lo pengen..?? Makanya buruan nikah..!!" Sahut Alex.


"Iyaaaa.. lagian lo lempeng bener jadi cowok. Padahal banyak cewek kejar-kejar lo. Dari artis, model, anak pejabat, pengusaha. Ga ada gitu yang lo taksir..??" Tanya Leo. Justin tersenyum mendengar perkataan para sahabatnya.


"Kenapa ga..?? Lagian lo mau nunggu sampai kapan lagi..??" Kali ini Shaka bertanya dengan semangat. Setelah sekian lama akhirnya Justin bisa move-on dari Kira.


"Setidaknya aku harus menunggu delapan atau sembilan tahun lagi. Jadi aku harus bersabar." Jawab Justin lagi.


"Kenapa lama sekali..??!! Lo ga takut tu cewek bakal disamber orang..??!!" Seru Leo dengan tidak sabar.


"Tentu saja aku takut. Apalagi dia begitu cantik. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Kalau ternyata saat waktunya tiba dia justru memilih pria lain, aku anggap itu sebagai kesialanku." Kata Justin sambil terkekeh.


"Siapa tu cewek..?? Apa dia sesama selebriti..??" Tanya Shaka penasaran. Justin terdiam sejenak dan memandang Shaka penuh arti.


"Bukan. Dia bukan selebriti ataupun anak pejabat. Dia anak seorang pengusaha sukses. Tapi dia gadis luar biasa yang selalu tampak sederhana dengan sikapnya yang baik dan manis. Dia juga mandiri dan tangguh. Meskipun dia juga keras kepala dan suka sekali merajuk." Jawab Justin sambil tersenyum dan tatapan penuh cinta.


Shaka, Leo, dan Alex tercengang melihat Justin. Untuk pertama kalinya Justin begitu terjerat pesona seorang gadis.


"Kalo gitu mendingan lo segera halalin tu cewek. Daripada ntar lo patah hati." Desak Shaka.


Justin kembali menatap lekat wajah Shaka dengan pandangan yang tidak bisa ditebak. Lalu menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


"Seperti yang sudah kubilang. Setidaknya aku baru bisa melamar dia sekitar delapan atau sembilan tahun lagi. Kamu juga nantinya perlu waktu dan menata hati untuk menyiapkan semuanya." Kata Justin.


"Apa hubungannya sama gue..??" Tanya Shaka keheranan.


"Karena nantinya kamu yang harus menyiapkan acara pernikahan itu." Jawab Justin dengan senyum penuh arti.


"Kalo gitu gue bakal siapin acara pernikahan terbaik buat lo, tin." Kata Shaka.


"Gue sama Leo gimana..?? Ga lo undang, tin..??" Tanya Alex.


"Kalau itu terserah kalian. Ga aku undang pun kalian pasti tetep datang kan." Jawab Justin sambil mengedikkan bahunya.


"Sialan lo..!!" Sungut Leo sambil melempar kaleng soda kosong ke arah Justin.


"Ya udah..!! Gue duluan..!! Keburu bini gue ngambek." Pamit Alex.


"Gue juga. Gue masih ada urusan lain. Ntar gue kabari kalo ada info dari orang gue." Leo ikut menimpali.


"Lo juga sekalian pamit, tin..??" Tanya Shaka. Justin tampak terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu.


"Ada yang harus aku bicarakan sama kamu." Jawab Justin dengan wajah serius, membuat Shaka mengerutkan dahinya.


"Ya udah. Kita duluan." Pamit Leo lagi.


"Ada apa..??" Tanya Shaka setelah Leo dan Alex pergi. Justin menghela napas panjang sebelum mulai bicara.


"Sebelumnya aku mau kamu mendengarkanku tanpa prasangka buruk. Apapun yang akan aku sampaikan, semuanya tulus dan sama sekali tidak ada niatan buruk padamu ataupun keluargamu." Kata Justin yang justru membuat Shaka semakin penasaran. Entah kenapa tiba-tiba perasaan Shaka menjadi tidak enak.


"Katakan saja. Jangan buat gue mati mendadak gara-gara penasaran." Sahut Shaka.


"Ini mengenai gadis yang tadi aku bicarakan." Lanjut Justin.


"Kenapa dengan gadis itu..??" Tanya Shaka. Justin kembali menghela napas panjang.


"Gadis itu Rania." Kata Justin.


"APA..!!" Teriak Shaka langsung berdiri karena terkejut.


"Aku tahu ini aneh. Tapi maafkan aku, Shaka. Aku serius mengenai hal ini." Kata Justin.


"BRE**SEK..!! SEJAK KAPAN LO JADI PEDOFIL..??!! DAN KENAPA ANAK GUE YANG LO JADIIN SASARAN..?? HAAAAHH..!!" Raung Shaka sambil merenggut kerah baju Justin hingga pria itu berdiri dari duduknya.


"Aku mencintai Rania. Dan aku serius dengan perasaanku, Ka." Kata Justin tetap tenang.


"Denger. Gue akui lo udah berkorban banyak demi gue sama Kira. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya bales ke anak gue..!!" Seru Shaka sambil menghempaskan tubuh Justin hingga pria itu terhuyung dan mundur beberapa langkah.


"Seburuk itukah pemikiranmu tentang aku, Shaka..?? Karena aku mencintai gadis kecilmu..?? Aku sama sekali tidak ada niat ke arah itu, Ka." Sahut Justin dengan tatapan kecewa.


"Aku tidak tahu sejak kapan perasaanku itu mulai tumbuh. Bahkan tadinya aku mengira itu hanya perasaan seorang paman pada keponakannya. Tapi setiap kali beredar gosip kedekatanku dengan seorang wanita, pikiranku selalu melayang pada Rania. Takut dia akan salah mengira kedekatan itu sebagai sebuah hubungan kekasih. Akhirnya aku sadar itu perasaan yang berbeda. Aku mencintai Rania. Dan aku benar-benar tulus." Lanjut Justin.


"SHIIITT..!!" Umpat Shaka lalu kembali menatap tajam kepada Justin.


"Apa maksudmu, Justin..??"


Shaka dan Justin refleks menoleh ke asal suara dan terkejut saat melihat Kira telah berdiri di ambang pintu ruang kerja Shaka.


"Sayang..!!"


"Kak Kira..!!"


Panggil Shaka dan Justin bersamaan.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza