(Family) Bound

(Family) Bound
Permintaan Peter



Peter tampak duduk di sebuah ruangan yang ada di penjara dengan pengamanan minimum. Dia datang untuk menjenguk Hans, anaknya. Wajah tuanya tampak begitu lelah dan sarat beban yang dia pikul selama puluhan tahun. Peter tersenyum saat melihat putranya datang. Laki-laki 43 tahun itu tampak sehat meski sedikit kurus. Wajah Hans juga menunjukkan ketenangan seolah menunjukkan bahwa dia telah berhasil berdamai dengan masa lalu dan juga hidupnya. Meski kejahatannya berat, tapi karena selama penyidikan Hans kooperatif dan selalu bersikap baik, dia akhirnya ditempatkan di penjara dengan keamanan minimum.


“Apa kabar, pa..??” Tanya Hans dengan mengulas senyum hangat.


“Papa baik, Hans. Bagaimana denganmu, nak..??” Jawab Peter.


“Hans juga baik, pa.” Jawab Hans.


“Ada apa papa kemari..?? Bukannya papa sudah mengunjungiku bulan ini. Apakah ada masalah, pa..??” Lanjut Hans.


“Hans, apakah papa tetap tidak boleh mengajak Edward tinggal bersama papa di Jerman..??” Tanya Peter.


“Kenapa papa tiba-tiba menanyakan masalah ini lagi..??” Tanya Hans penuh selidik.


“Papa ingin Edward belajar untuk mengelola perusahaan, Hans. Meskipun nanti setelah bebas kamu akan tetap mengambil alih perusahaan, papa tetap ingin Edward ikut meneruskan perusahaan itu bersamamu. Papa ingin dia bersiap untuk mengambil alih perusahaan, setidaknya sampai kamu keluar dari penjara.” Kata Peter.


“Edward masih terlalu muda, pa. Biar dia menikmati masa mudanya. Aku juga tidak ingin memaksa dia untuk meneruskan perusahaan keluarga kita. Dia bahagia bersama keluarga Kira, pa.” Sahut Hans.


“Papa sudah tua, nak. Papa ingin beristirahat. Tapi papa tidak tahu siapa yang bisa papa percaya untuk mengelola perusahaan selagi kamu tidak ada. Sedangkan Radit dan Adit masih terlalu muda. Lagipula orangtua mereka juga belum tentu bersedia.” Kata Peter dengan menghembuskan napas panjang.


Hans terdiam. Dia menyadari Peter memang sudah waktunya istirahat di usianya yang sudah lanjut. Tapi dia masih menjalani masa hukumannya setidaknya hingga satu tahun lagi. Sedangkan Edward putranya bahagia dan tumbuh dengan baik dalam asuhan Kira sekeluarga. Hans tidak ingin merenggut kebahagiaan putranya. Kira dan Shaka sering mengunjunginya, mereka selalu memberikan kabar tentang Edward dan perkembangannya. Sejak awal Hans melarang Edward untuk datang berkunjung karena dia tidak ingin putranya melihat dia dalam baju penjara.


“Aku serahkan keputusan pada Edward dan Kira, pa. Biar Edward memilih apa yang dia mau. Kira dan Shaka juga berhak untuk mengambil keputusan karena mereka yang merawat Edward sejak aku terkurung disini.” Sahut Hans.


“Kamu setuju kalau papa membicarakan masalah ini dengan mereka..??” Tanya Peter penuh harap.


“Aku setuju, pa. Tapi dengan satu syarat. Kalau mereka tidak setuju, papa tidak boleh memaksa. Bukan aku tidak peduli dengan perusahaan kita, pa. Tapi aku hanya ingin Edward bahagia.” Jawab Hans.


“Baiklah, Hans. Papa mengerti. Papa akan segera berbicara dengan mereka.” Kata Peter dengan wajah berbinar.


Hans menghela napas panjang. Dia tidak ingin ada keributan lagi di antara keluarga mereka. Hans benar-benar berharap hal ini tidak akan menimbulkan masalah baru.


***


Kira dan keluarganya menyambut kedatangan Peter dengan hangat. Anak-anak Kira juga sudah terbiasa dengan kedatangan Peter karena selama 10 tahun terakhir laki-laki itu datang setiap sebulan sekali untuk menjenguk Edo dan Dit-dit. Baik Rania, Satria, dan Nara sudah menganggap Peter seperti kakek mereka sendiri.


“Papa tumben bulan ini datang sampai 2 kali. Apa ada yang perlu dibicarakan..??” Tanya Kira pada Peter.


“Boleh papa bicara pada kamu, Shaka, dan Edward..??” Tanya Peter.


Tanpa diperintah, Dit-dit yang mendengar perkataan Peter segera mngejak ketiga adik mereka keluar dari ruang keluarga. Mereka tahu para orang dewasa pasti sedang ada pembicaraan penting.


“Ada apa, Oom..??” Tanya Shaka. Peter menghela napas panjang sebelum berbicara.


“Apakah boleh aku meminta Edward untuk tinggal di Jerman bersamaku..??” Tanya Peter hati-hati karena tidak ingin menyinggung Kira mupun Shaka. Baik Kira, Shaka, maupun Edo terdiam mendengar permintaan Peter.


“Opa sudah tua, Ed. Opa lelah dan ingin beristirahat. Tapi Opa tidak bisa begitu saja mempercayakan perusahaan pada orang lain, sedangkan papamu masih ada di dalam penjara. Hanya kamu satu-satunya harapan Opa, Ed. Karena Opa tidak mungkin meminta Radit dan Adit untuk melakukannya meski mereka juga punya hak atas perusahaan itu. Selain mereka masih terlalu muda, Opa juga tidak bisa memisahkan mereka begitu saja dari mommy dan daddy-mu. Opa ingin kamu mulai belajar untuk mengambil alih perusahaan. Ini juga hakmu. Kelak kamu pun akan mewarisi perusahaan itu menggantikan papamu.” Jawab Peter dengan suara berat.


“Bagaimana dengan Hans..?? Apa dia setuju..?? Mengingat dia sendiri yang tidak mengijinkan Edo untuk dirawat oleh Oom.” Tanya Shaka.


“Hans sebenarnya keberatan. Dia tidak ingin Edward menanggung beban berat diusianya yang masih sangat muda. Tapi dia tidak berani mengambil keputusan. Dia menyerahkan keputusan pada kalian bertiga, karena menurutnya kalianlah yang paling berhak.” Kata Peter jujur.


Kira tetap terdiam dan menggenggam erat tangan Shaka yang duduk disampingnya. Dia menatap lekat wajah Peter. Kira dapat melihat mata Peter sarat dengan beban juga rasa lelah. Dia tahu sebenarnya Peter merasa kesepian di usia senjanya. Istrinya sudah lama meninggal, satu-satunya anak yang masih hidup tengah berada dibalik jeruji penjara, dan Hans bahkan tidak mengijinkannya berkumpul dengan cucunya.


“Beri kami waktu, pa. Kami harus membicarakan ini terlebih dulu.” Jawab Kira tenang.


“Baiklah, Kira. Tolong kalian bicarakan dan pikirkan dulu baik-baik mengenai masalah ini. Maafkan aku karena telah kembali mengusik kalian. Aku tidak punya pilihan lain. Tapi aku tidak akan memaksakan keinginanku pada kalian. Apapun keputusan kalian nantinya, aku akan menerimanya.” Jawab Peter dengan pasrah.


Edo terus menatap Kira dan Shaka. Sebenarnya dia merasa kecewa. Dia berharap Kira dan Shaka akan langsung menolak dan mempertahankan keberadaannya dalam keluarga itu. Tapi Edo juga menyadari bahwa dia tetaplah bukan bagian dari keluarga mereka. Apalagi mengingat bagaimana dulu Hans hampir mencelakai Kira, Dit-dit, dan Rania demi menyelamatkan nyawanya. Meski kecewa, Edo menerima sikap Kira dan Shaka. Bagaimanapun mereka telah memberikan begitu banyak hal untuknya selama dia ada disana dan dia juga menyadari bahwa Peter juga punya hak atas dirinya.


Sepeninggal Peter, suasana di rumah itu tetap ramai seperti biasanya. Edo lebih banyak diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia menelan kekecewaannya seorang diri karena merasa Kira dan Shaka pasti akan menyerahkan dia kembali kepada Peter. Tengah malam Edo ke dapur karena air minum di kamarnya habis. Dari jendela dapur dia melihat dua orang tengah duduk di taman belakang rumah. Karena penasaran dia berjalan perlahan menghampiri 2 orang itu. Saat mendekat ternyata mereka adalah Kira dan Shaka yang tengah duduk di taman itu. Terdengar Kira tengah terisak dan Shaka terus membujuknya untuk masuk ke dalam rumah.


“Sayang, ayo masuk dulu. Aku takut nanti kamu sakit.” Bujuk Shaka tapi Kira tidak bergeming.


“Bie, apa yang harus kita lakukan. Aku sangat menyayangi Edo, Bie. Dia putraku, sampai kapanpun dia adalah putraku. Aku tidak mau kehilangan dia.” Kata Kira terdengar putus asa.


“Aku tahu, sayang. Tapi kita juga harus menghargai keinginan oom Peter. Dia juga berhak atas diri Edo karena oom Peter adalah kakeknya.” Jawab Shaka.


“Kenapa kamu bicara seperti itu, Bie..??!! Apa kamu rela kehilangan Edo..??!! Apa kamu tidak menganggap Edo putramu..??!!” Seru Kira tidak terima.


“Kira, apa yang kamu bicarakan..??!! Tentu saja aku menyayangi Edo. Bagiku dia adalah putraku, putra sulungku. Aku juga tidak ingin kehilangan dia, Ra. Tapi kita juga harus menghargai keputusan Edo dan juga keinginan oom Peter. Biarkan Edo yang memutuskan masalah ini. Kita harus mendukung apapun keputusannya, Ra.” Sahut Shaka menjelaskan.


“Bagaimana kalau Edo memutuskan untuk ikut papa Peter..?? Apa yang harus aku lakukan..?? Aku tidak mau kehilangan putraku, Bie. Aku tidak ingin jauh dari Edo.” Kata Kira semakin terisak dengan suara yang begitu putus asa.


“Hei, sayang.. jangan katakan itu. Edo sudah dewasa dan dia juga sudah bisa mengambil keputusan dengan baik. Aku yakin dia pasti akan mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan. Kita berdoa saja semoga Tuhan menuntunnya dalam mengambil keputusan.” Kata Shaka sambil memeluk erat Kira untuk menenangkannya.


Edo yang mendengar percakapan Kira dan Shaka menangis bahagia. Ternyata mereka sangat menyayanginya dan tidak pernah terpikir untuk menyingkirkannya. Dia sendirilah yang selama ini menjebak diri dengan pikiran buruknya. Edo terus menatap punggung Kira dan Shaka yang masih belum beranjak dari tempatnya. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menghampiri Kira dan Shaka meski rasanya dia begitu ingin menghambur dalam pelukan dua orang yang telah merawatnya selama sepuluh tahun.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza