
“Adit, ayo makan dulu..!!” Teriak Kira memanggil Adit yang belum bergabung untuk makan siang.
“Iya, ma..!!” Sahut Adit yang sejak tadi berdiri di depan rak foto.
Sejenak Adit kembali memandang foto Pierre sebelum bergabung bersama keluarganya di meja makan. Dilihatnya seluruh keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Edo tidak ikut bergabung karena dia berada di Jerman untuk membantu Peter selama libur semester. Adit segera menempatkan diri di samping Radit.
“Habis ini gue mau ngomong sama mama dan papa.” Bisik Radit cepat.
“Gue ikutan.” Sahut Adit tanpa berpikir dua kali.
“Ada apa lagi..??” Tanya Kira saat melihat kedua putranya berbisik.
‘Gapapa, ma.” Jawab Adit cepat.
“Ma.. pa.. habis ini bisa kita ngobrol sebentar..??” Tanya Radit.
“Masalah apa..??” Tanya Shaka lalu menyendokkan makanan ke mulutnya.
“Nanti saja ya, pa.” Jawab Radit.
Kira dan Shaka tampak saling memandang sejenak melihat wajah serius Radit dan Adit.
“Baiklah. Tapi jangan lupa setelah itu kalian segera bantuin kak Luna. Ingat.. kak Edo sudah berpesan pada kalian buat jagain kak Luna selagi dia pergi.” Kata Kira.
“Iya, maaa.. tapi jagain aja kan..?? Ga ikut jualan.” Sahut Adit.
“Sekalian napa..?? Memangnya kalian mau diem saja sambil awasin kak Luna gitu..??” Kata Kira mulai mengomel.
“Tapi kan capek, ma.” Protes Adit sambil memajukan bibirnya 5 senti.
“Itung-itung kalian belajar kerja dan cari duit. Ingat, sebentar lagi kalian ujian nasional. Sudah waktunya mulai memikirkan masa depan kalian.” Sahut Kira.
“Memang jualan bisa sambil mikir masa depan gitu, ma..?? Yang ada sampe rumah malah capek jadi ga bisa mikir.” Kata Adit asal.
“Kamu ini. Selalu saja bantah kata orang tua..!!” Kata Kira sambil mencubit gemas lengan Adit.
“Aduh, ma..!! Ampun..!! Heran dech. Kenapa sich cewek suka banget nyubit.” Sungut Adit sambil mengelus lengannya yang tadi dicubit Kira.
“Sudah.. sudaaaahh.. Ayo makan. Sayang, cepetan duduk sini. Ingat kata dokter, kamu tidak boleh terlalu capek.” Kata Shaka sambil menuntun Kira duduk di sampingnya.
Sejenak Shaka mengelus perut Kira yang sudah tampak membuncit diusia 17 minggu sebelum melanjutkan makan siangnya. Shaka lebih protective dengan kehamilan Kira kali ini, mengingat usia istrinya yang memang tidak lagi muda. Apalagi dilihatnya Kira sering terlihat kepayahan dan semakin kurus.
Setelah makan siang Shaka dan Kira tengah duduk di ruang kerja Shaka bersama Dit-dit. Kedua remaja itu tampak ragu dan gugup saat berhadapan dengan orangtua mereka.
“Jadi apa yang mau kalian bicarakan..??” Tanya Shaka serius. Sejenak Dit-dit saling memandang.
“Mengenai rencana kami setelah lulus, pa.” Kata Radit setelah memberanikan diri.
“Memangnya apa rencana kalian setelah lulus..??” Tanya Shaka lagi. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak.
“Aku ingin kuliah kedokteran lalu gabung dengan akademi polisi, pa.” Jawab Radit tanpa ragu.
“Dan aku ingin langsung masuk akademi militer.” Adit ikut menimpali.
Shaka dan Kira sama-sama terkejut mendengar keingingan Radit dan Adit.
“Tidak boleh..!! Mama tidak mengijinkan..!! Kalau Radit mau kuliah kedokteran, silakan saja. Tapi kamu tidak mama ijinkan untuk bergabung dengan akademi polisi. Dan kamu Adit, apa kamu lupa bagaimana ayahmu meninggal..??!! Ingat juga bagaimana oom Rendra nyaris tewas 4 tahun lalu..!!” Seru Kira pada kedua anaknya.
“Aku ingat, ma. Aku ga akan pernah lupa. Tapi ini sudah jadi keinginanku sejak kecil. Dan sekarang aku semakin yakin kalau memang ini yang aku inginkan, ma.” Kata Adit berusaha menjelaskan.
“Ini juga keinginanku, ma. Aku sama Adit tahu kalau memang jalan yang kami pilih penuh bahaya. Tapi bukan berarti kami akan mengalami hal yang sama dengan papa dan oom Rendra kan, ma.” Kata Radit menimpali.
“Pokoknya mama tidak setuju..!! Mama tidak mengijinkan kalian untuk bergabung dengan akademi manapun..!! Mengerti..!!” Raung Kira.
Napas Kira terengah-engah karena emosi yang memuncak, wajahnya mendadak pucat dan bibirnya berubah menjadi biru.
“Sayang.. sayang.. tenanglah dulu. Kamu jangan emosi seperti ini. Kita bicarakan dulu yaaa.. Masih ada waktu untuk memikirkan semuanya. Sekarang kamu tenang dulu, ok.” Kata Shaka yang kawatir saat melihat kondisi Kira yang mendadak terlihat menurun drastis. Laki-laki itu tampak berusaha menahan tubuh istrinya yang tampak limbung.
“Ma.. mama gapapa kan..??” Tanya Radit kawatir. Adit mendekat dan membantu Shaka memapah Kira untuk kembali duduk.
“Ma, maafin kita. Tapi tolong mama jangan seperti ini.” Kata Adit berusaha menenangkan ibunya. Kira tampak menangkupkan wajah dengan kedua tangannya dan menangis.
“Kalian tahu bagaimana hidup mama dulu setelah ayah kalian meninggal..?? Atau perasaan mama saat oom Rendra kritis..?? Bahkan sampai sekarang mama masih merasa tidak tenang setiap kali mendengar dia ditugaskan keluar. Dan sekarang hidup mama harus semakin tidak tenang karena setiap hari memikirkan kalian berdua yang hidup dalam bahaya..?? Katakan hidup seperti apa yang harus mama jalani nantinya..??!!” Seru Kira sambil terus terisak. Shaka terus memeluk Kira untuk menenangkan.
“Ssssshhh.. sayang, sudah tenangkan dirimu dulu ya. Sekarang kamu istirahat dulu. Aku akan mengantarmu ke kamar.” Kata Shaka lalu mengangkat tubuh Kira yang masih lemah dan membawanya ke kamar mereka.
“Kalian tunggu disini dulu. Setelah ini kita bicara lagi.” Kata Shaka dengan tenang.
Dit-dit tampak menunggu dengan gelisah. Mereka tahu akan mendapat tentangan dari Kira, tapi tidak menyangka reaksi ibu mereka akan seperti ini. Dit-dit tidak sadar bahwa kondisi kesehatan Kira terus menurun sejak kehamilannya ini, karena ibu mereka terlihat terus bersemangat dan tersenyum dihadapan keluarganya terutama Shaka. Setelah menunggu beberapa lama, Shaka kembali ke ruang kerjanya untuk berbicara dengan Dit-dit. Dia meminta Rania menemani ibunya dan menelpon Yudha untuk memeriksa Kira.
“Apa kalian sudah memikirkan baik-baik mengenai keinginan kalian..??” Tanya Shaka setelah menghela napas panjang.
“Sudah, pa. Sejak kecil memang aku ingin menjadi tentara. Itu impian dan cita-citaku, pa.” Kata Adit penuh keyakinan.
“Aku juga sama, pa. Keinginan untuk kuliah kedokteran dan bergabung dengan kepolisian sama besarnya. Setelah berpikir masak-masak dan mencari informasi, akhirnya aku putuskan untuk kuliah kedokteran dulu baru bergabung dengan kepolisian.” Jawab Radit ikut menimpali.
“Apa kalian tahu resiko dari jalan yang kalian pilih..??” Tanya Shaka lagi.
“Tahu, pa.” Jawab Dit-dit bersamaan.
“Siap, pa.” Dit-dit kembali menjawab bersamaan.
“Tapi mungkin papa dan mama tidak akan pernah siap, nak. Jalan yang kalian pilih bukan hanya membutuhkan kesiapan kalian, tapi juga keluarga kalian, terutama mama dan papa. Papa tidak tahu dengan kalian. Tapi meski kalian bukan anak kandungku, papa sangat menyayangi kalian, bahkan mungkin lebih dari kasih sayang papa untuk anak-anak kandung papa sendiri. Papa juga tidak akan sanggup kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian, apalagi kalau sampai kehilangan kalian.” Kata Shaka dengan suara tercekat. Shaka diam sejenak dan menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
“Tapi papa sadar tidak mungkin memaksa kalian untuk menjalani hidup seperti yang kami inginkan. Ini hidup kalian dan kalian juga yang menjalani. And I want to see you live to the fullest, with no remorse. Papa tidak ingin kaian menyesali hidup yang kalian jalani hanya karena menuruti keinginan kami.” Kata Shaka lalu kembali terdiam.
“Kalian masih ada waktu sampai ujian akhir untuk memikirkan keinginan kalian. Kalau sampai waktunya tiba keputusan kalian masih sama, papa tidak akan memaksa. Dan selama itu pula jangan bicarakan lagi masalah ini dengan mama kalian. Biar papa yang bicara dengan mama. Mengerti..??” Lanjut Shaka dengan tatapan penuh kasih sayang untuk Radit dan Adit.
“Pa, maafin Radit. Aku juga sayang banget sama papa. Buat kami papa adalah papa kami.” Kata Radit sembari memeluk Shaka dan terisak.
“Aku juga minta maaf, pa. Maaf kalau keinginan kami membuat papa dan mama sedih. Aku sayang banget sama papa dan mama.” Kata Adit ikut memeluk Shaka.
Shaka tersenyum mendengar perkataan Dit-dit. Kedua putranya saat ini tengah memeluknya bersamaan, membuat Shaka kembali teringat saat Dit-dit masih kecil. Dit-dit sering berebut minta digendong Shaka sampai akhirnya dia harus menggendong mereka bersamaan untuk menghindari keributan.
“Tugas kalian sekarang adalah belajar dengan baik untuk persiapan ujian akhir. Apapun keputusan kalian nanti, kalian tetap harus berusaha yang terbaik untuk lulus.” Kata Shaka sambil mengelus lembut kepala Dit-dit.
“Iya, pa.” Jawab Dit-dit bersamaan.
“Sekarang kalian bersiaplah. Kalian harus segera ke tempat kak Luna kan..?? Jangan lupa juga bawa makanan yang sudah disiapkan mama untuk kak Luna.” Kata Shaka mengingatkan.
“Baik, pa.” Jawab Dit-dit kembali bersamaan lalu keluar dari ruang kerja Shaka.
Untuk beberapa saat Shaka masih terduduk di kursinya. Dia masih merenungi tentang keinginan Dit-dit. Tidak bisa dipungkiri kalau Shaka sangat menyayangi Dit-dit, tapi dia juga menyadari kedua anak itu memang memiliki jalannya sendiri. Setelah beberapa lama Shaka keluar dari ruang kerjanya untuk melihat kondisi Kira. Sesampainya di kamar dia melihat Rania masih menemani ibunya dan mencoba menenangkannya. Yudha tengah memeriksa keadaan Kira yang masih belum berhenti menangis. Dilihatnya Yudha menyuntikkan sesuatu lalu tidak berapa lama Kira mulai tenang dan tertidur.
“Aku memberikan obat penenang untuk Kira. Tidak usah takut, itu dosis yang aman untuk wanita hamil.” Kata Yudha yang saat ini tengah duduk di ruang keluarga bersama Shaka.
“Terima kasih.” Sahut Shaka lirih lalu kembali menghela napas panjang.
“Sebenarnya apa yang terjadi..?? Apa kalian ada masalah..??” Tanya Yudha penuh selidik.
“Tidak ada. Hanya saja hari ini Dit-dit menyampaikan keinginan mereka setelah lulus SMA.” Jawab Shaka.
“Memang apa keinginan mereka..??” Tanya Yudha keheranan.
“Adit ingin masuk akademi militer dan Adit ke akademi polisi.” Jawab Shaka setelah kembali menghela napas panjang.
“Apa..?? Apa mereka benar-benar serius dengan keinginan mereka itu..??” Tanya Yudha terkejut. Shaka hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Yudha.
“Aku tebak Kira pasti tidak bisa menerima keinginan mereka.” Lanjut Yudha.
“Kira masih trauma dengan kematian Pierre, ditambah lagi dulu kak Rendra juga nyaris kehilangan nyawanya saat bertugas. Karena itu dia langsung menentang keras keinginan Dit-dit. Tapi mereka pun tampaknya benar-benar yakin dengan keputusan mereka.” Sahut Shaka.
“Aku bisa mengerti perasaan Kira. Bahkan aku pun sangat ketakutan waktu kak Rendra kritis dulu.” Kata Yudha menimpali.
Ngomong-ngomong, kapan jadwal kontrol Kira..??” Tanya Yudha.
“Dua minggu lagi. Saat ini dia hanya perlu kontrol sebulan sekali. Kenapa..??” Tanya Shaka yang heran dengan pertanyaan Yudha.
“Aku tidak tahu. Tapi aku lihat tadi kondisi Kira cukup mengkhawatirkan. Dia terlihat sangat kurus dan pucat. Tekanan darahnya juga terlalu rendah, berbahaya untuk orang yang sehat apalagi untuk wanita hamil seperti Kira.” Jawab Yudha.
“Aku rasa lebih baik kalian memajukan jadwal kontrol Kira dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dan kalau kamu tidak keberatan, malam ini aku akan menginap.” Lanjut Yudha.
“Aku akan segera membuat janji dengan dokter Mira. Tapi kenapa kamu ingin menginap..??” Tanya Shaka semakin kebingungan.
“Untuk memantau kondisi Kira. Tadi saat aku periksa tekanan darahnya 80/50. Aku juga sempat mengambil sampel darah Kira dan mengirimnya ke rumah sakit untuk diperiksa. Mereka baru saja mengirimkan hasilnya dan kadar hemoglobin Kira hanya di kisaran 9. Kalau malam ini tidak ada perkembangan, kita harus segera membawanya ke rumah sakit dan menyiapkan transfusi darah untuk Kira.” Kata Yudha menjelaskan.
“Yaa Tuhan, kenapa jadi begini..??” Kata Shaka sambil mencengkeram rambutnya.
“Perkiraanku ini sudah cukup lama terjadi. Apa Kira tidak pernah mengatakan sesuatu..??” Tanya Yudha.
“Kira tidak pernah mengatakan apapun. Aku menyadari tubuhnya yang tampak melemah selama kehamilan ini. Tapi dia selalu bilang baik-baik saja dan itu hanya efek usianya.” Jawab Shaka.
“Kehamilan untuk wanita seusia Kira memang beresiko, tapi selama tidak ada masalah sebenarnya semua akan baik-baik saja. Sama kehamilan pada umumnya. Hanya saja untuk melahirkan memang harus caesar. Karena itu melihat kondisi Kira sekarang, aku kawatir kalau sebenarnya ada masalah dengan kandungannya.” Kata Yudha.
“Kamu tidak perlu kawatir. Untuk sekarang aku akan tetap memantau Kira. Kabari aku saat kamu mengantar Kira untuk periksa kehamilan. Aku akan meyiapkan semuanya untuk memeriksa kondisi Kira.” Lanjut Yudha saat dilihatnya wajah Shaka yang tampak muram.
“Terima kasih.” Sahut Shaka.
“Baiklah. Sekarang aku akan pulang dulu untuk mengambil beberapa keperluanku, sekalian pamit pada Amanda. Aku juga akan menelpon kak Adam dan mama untuk sekedar berjaga-jaga.” Kata Yudha.
“Berjaga-jaga untuk apa..??” Tanya Shaka bingung.
“Berjaga-jaga seandainya Kira butuh transfusi darah. Sejauh ini, dari semua orang yang aku kenal hanya kak Adam dan mama yang golongan darahnya sama dengan Kira.” Jawab Yudha.
“Aku mengerti.” Sahut Shaka lalu mengantar kepergian Yudha sampai ke pintu depan.
********************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza