
"Oom Justin..!!" Seru Rania sambil berlari menghampiri Justin yang terlihat memasuki rumahnya.
"Hei, sayang." Sapa Justin dengan wajah berbinar.
Rania langsung memeluk tubuh Justin yang dibalas oleh laki-laki itu dengan sayang. Tubuh Rania yang lebih tinggi dari rata-rata anak seusianya membuat gadis kecil itu tampak lebih dewasa.
"Apa kabarmu, Ra. ??" Tanya Justin sambil mengelus lembut kepala Rania.
"Baik, oom. Oom Justin sudah makan..?? Tadi sepulang sekolah aku masak makan siang buat oom Justin." Tanya Rania sambil menarik tangan Justin agar mengikutinya.
"Hai, Shaka.. kak Kira.." Sapa Justin saat bertemu Shaka dan Kira.
Shaka terlihat sudah mengganti baju kerjanya dengan celana blue jeans panjang dan kaos polos berwarna dark grey. Meski kaos itu cukup longgar, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan otot-otot di tubuh Shaka.
Kira hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepala melihat putrinya yang begitu bersemangat bertemu dengan Justin. Sedangkan Shaka mendengus kesal karena merasa diabaikan putrinya setiap kali Justin datang.
"Makan siang dulu, tin. Tadi Rania sudah masak untukmu." Kata Kira tanpa melepaskan pandangannya dari tangan Rania dan Justin yang masih bergandengan.
"Eeeeh.. Iya, kak." Kata Justin canggung lalu perlahan melepaskan tautan tangan mereka.
Justin duduk di meja makan dan menikmati makanan yang disiapkan Rania dengan lahap. Semakin hari gadis itu semakin jago memasak. Justin baru saja selesai makan saat Leo dan Alex datang. Meski mulut kedua laki-laki itu sudah gatal ingin menggoda Justin, tapi akhirnya mereka memilih bungkam saat melihat tatapan tajam Kira yang terlihat mematikan.
"Kumpul di ruang kerja gue." Kata Shaka. Ketiga temannya pun mengikuti langkah Shaka ke ruang kerjanya.
"Dimana daftar itu..??" Tanya Shaka begitu mereka duduk.
"Ini daftar orang-orang yang bekerja di hari saat kejadian. Lengkap dengan bagian pekerjaan mereka saat itu." Jawab Justin sambil menyodorkan map berwarna biru.
Shaka menerima map itu dan mulai membaca tumpukan kertas yang cukup tebal. Leo dan Alex juga menerima copy dari kertas tersebut, mereka pun tengah membaca daftar itu dengan seksama.
"Totalnya ada 26 orang. Akan butuh waktu untuk mencari mereka satu persatu." Kata Justin.
"Lebih baik fokus ke orang-orang yang kerja di sekitaran room kita. Baru kita lanjut ke yang lain." Saran Shaka.
"Lo bener, Ka. Menurut gue juga itu lebih efisien." Sahut Alex.
"Kita pilih siapa orang-orang yang akan kita datangi. Sisanya biar orang-orang kita yang urus." Kata Shaka.
"Gue sama Alex datengin mereka." Kata Leo sambil menunjuk beberapa orang dalam daftar.
"Gimana menurut lo..??" Tanya Leo pada Alex.
"Ga masalah." Jawab Alex.
"Kalian gimana..??" Tanya Alex sambil bergantian melihat Shaka dan Justin.
"Ka..??" Panggil Leo karena Shaka terlihat fokus pada daftar di tangannya.
"Kalian lihat orang ini." Kata Shaka sambil menunjuk foto dan profil salah satu orang dalam daftar.
"Yang namanya Doni..?? Kenapa..??" Tanya Justin.
"Seingat gue. Dulu dia supervisor di Orange Clock. Dulu dia sering jadi perantara Fabian. Bener ga..??" Tanya Shaka memastikan.
Alex dan Leo mengamati foto itu. Mereka tampak berusaha mengingat tentang orang yang fotonya ditunjuk oleh Shaka.
"Lo bener. Dia atasan langsungnya Vino." Seru Leo sambil menjentikkan jarinya.
"Kalo gitu gue sama Justin urus dia. Feeling gue mengatakan kalo orang ini tahu kejadian sebenarnya." Kata Shaka sambil mengetukkan jarinya pada foto Doni.
"Gimana menurut lo..??" Tanya Shaka pada Justin.
"Tidak masalah. Kita langsung samperin dia sekarang." Jawab Justin.
"Aku hanya berharap semua cepat selesai. Setelah hari ini aku bakalan sibuk. Dan aku tidak bisa sewaktu-waktu mengosongkan jadwal seperti kalian. Aku takut tidak bisa banyak membantu." Jawab Justin dengan wajah muram.
"Lo ga usah kawatir. Selain kita ada orang lain yang juga ikut bantu. Kak Adam dan Hans sudah kerahkan orang-orang mereka. Dan menurutku mereka lebih ahli dalam mengorek keterangan." Kata Shaka.
"Weekend ini gue masih bisa jalan. Jadi mendingan hari ini kita barengan samperin Doni." Kata Alex yang diiyakan Leo.
"Menurut gue udah cukup gue berdua saja sama Justin." Kata Shaka.
"Doni mantan salah satu orang penting Fabian, Ka. Kita ga tahu sekarang dia seperti apa. Lagian lo baca sendiri kan sekarang kerjaan dia apa..?? Bandar judi dan rentenir. Itu artinya dia pasti punya orang yang bantu dia buat nagih hutang. Jadi mendingan kita bareng berempat buat jaga-jaga." Kata Alex lagi.
"Lo lupa sekarang ada yang diem-diem selalu buntutin Justin dari jauh..??" Cibir Shaka mengingatkan Justin tentang para pengawal yang dikirim kakeknya. Justin hanya mendengus kesal mendengar olokan Shaka.
"Tetep aja gue ga tenang lepasin lo berdua sendiri ketemu sama Doni." Desak Alex.
"Sama. Gue juga." Sahut Leo.
"Ya udah. Kita berempat ketemu sama Doni." Kata Shaka menyerah.
"Kalo ternyata hari ini belum kelar. Kita bisa lanjut weekend entar." Kata Leo.
"Tapi gue ga bisa. Sabtu besok Edo mau Lamar Luna. Jadi keluarga gue semuanya bakal sibuk siapin keperluan lamaran Edo." Sahut Shaka.
"Bentar lagi lo bakalan mantu, Ka..??" Tanya Alex terkejut dan dijawab anggukan oleh Shaka.
"Lo umur 33 udah mo mantu. Jangan-jangan tahun depan lo udah dipanggil kakek. Belom lagi kalo entar Rania jadi nikah sama Justin, jadi kakek muda donk lo..!!" Goda Leo sambil tertawa keras.
"Biarin. Yang pasti gue bakal jadi hot grandpa. Gue bakal jadi kakek paling ganteng dan seksi." Sergah Shaka tidak mau kalah.
"Iyaaa.. trus anak-anak lo yang masih bayi juga bakal jadi oom atau tante." Kata Alex terkekeh.
"Udah aaaah.. Jadi jalan sekarang ga nich..??" Tanya Shaka sewot karena terus digoda teman-temannya.
"Ya udah kita jalan sekarang. Mumpung masih jam segini." Jawab Justin sebelum kedua temannya mulai beralih dengan mengolok dia. Mereka berempat keluar dari ruang kerja Shaka.
"Sayang." Panggil Shaka sambil menghampiri istrinya untuk berpamitan.
Kira tampak tengah membaca buku sambil duduk berselonjor di sofa ruang keluarga dengan selimut yang menutup kakinya.
"Kalian mau pergi, Bie..??" Tanya Kira.
"Iya. Ada yang harus kami urus dan mungkin aku akan pulang malam." Jawab Shaka sambil mengecup lembut jemari Kira yang terasa dingin.
"Kamu baik-baik saja..??" Tanya Shaka karena melihat wajah Kira yang lebih pucat dari sebelumnya.
"Hei.. sayang-sayangnya papa. Kalian jaga mama baik-baik ya. Jangan terlalu bersemangat bermain. Kasian mama kalian." Kata Shaka seolah sedang menegur kedua anak dalam kandungan Kira.
Seolah mengerti apa yang dikatakan Shaka, anak-anak dalam kandungan Kira bergantian memberi tendangan pelan. Membuat Shaka dan Kira tertawa pelan.
"I love you, my babies." Bisik Shaka sebelum mengecup perut Kira beberapa kali.
"Aku pergi dulu. Jangan tunggu aku kalau ternyata pulang terlalu malam. Istirahatlah." Kata Shaka lalu mengecup kening Kira.
"Hati-hati, Bie. Maaf aku tidak bisa mengantar sampai depan." Sahut Kira lalu mencium tangan suaminya.
"Tidak apa-apa. Istirahatlah disini." Kata Shaka sambil mengelus kepala Kira.
"Titip suamiku ya." Kata Kira pada ketiga teman Shaka.
"Aku akan menjaganya, kak." Sahut Justin tanpa ragu yang diikuti anggukan oleh Alex dan Leo.
"Terima kasih. Kalian juga hati-hati." Pesan Kira.
"Baik, kak." Jawab ketiga teman Shaka hampir bersamaan.
"Rania, oom pergi dulu ya." Pamit Justin saat melihat Rania menghampiri dengan membawa buah potong dan air untuk Kira.
"Hati-hati, oom. Papa juga. Hati-hati." Sahut Rania seolah tahu kemana Justin dan ayahnya akan pergi.
Suasana hening menyelimuti perjalanan keempat sahabat itu. Baik Justin, Leo, dan Alex tahu pasti saat ini Shaka tengah diguncang banyak masalah. Mulai dari Kira yang sakit, perusahaan yang tengah terguncang, surat-surat ancaman yang masih terus berdatangan, masalah Edo dengan Luna, ditambah lagi kematian Vino yang ternyata juga menyeret Shaka. Diam-diam mereka bertiga salut pada Shaka yang terlihat tetap tenang menghadapi semua masalahnya.
Justin beberapa kali menoleh ke arah Shaka yang tampak fokus dengan kemudinya. Meski terlihat tenang, tapi dia bisa melihat beban berat dalam sorot mata sahabatnya itu.
"Berapa minggu usia kandungan kak Kira..??" Tanya Justin memecah keheningan.
"33 minggu." Jawab Shaka sambil menoleh sejenak ke arah Justin.
"Sudah tahu jenis kelamin si kembar..??" Tanya Justin.
"Ga..!! Seperti biasa, gue sama Kira ga pernah mau tahu jenis kelamin para bayi. Kami lebih suka menyimpannya sebagai kejutan " Jawab Shaka.
"Bagaimana kondisi Kak Kira..?? Apakah ada perkembangan...??" Tanya Justin lagi.
"Ya. Untungnya begitu. Dokter yang dibawa oom Peter dari Jerman sangat membantu. Kondisi Kira jauh lebih baik sejak dalam perawatannya." Jawab Shaka sambil tersenyum meski masih terlihat mendung diwajahnya.
"Trus bagaimana persiapan kelahiran Kira, Ka..??" Tanya Leo. Shaka terdiam sejenak.
"Kami masih berusaha mencari informasi orang-orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Kira. Untuk berjaga-jaga kalau nantinya Kira akan membutuhkan lebih banyak transfusi darah. Akan berbahaya buat mama Edna kalau hanya mengandalkan donor darah darinya. Sedangkan kak Adam tidak bisa mendonorkan darahnya. Karena setelah melahirkan dan kondisinya stabil, Kira akan menjalani cangkok sumsum tulang belakang dan kak Adam yang cocok untuk menjadi donor Kira." Jawab Shaka.
Shaka tampak mengeraskan rahangnya saat mengatakan Kira memerlukan cangkok sumsum tulang belakang.
"Kenapa bisa begitu..??" Tanya Justin tampak terkejut. Shaka menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Justin.
"Leukemia stadium dua. Kelainan darah yang dialami Kira menyebabkan dia menderita Leukemia." Jawab Shaka dengan suara dingin.
"Kami baru tahu mengenai penyakit itu setelah Kira mengalami pendarahan untuk ketiga kalinya. Tidak memungkinkan untuk Kira menjalani kemoterapi apalagi cangkok sumsum tulang belakang dengan kondisi dia yang tengah hamil besar. Tadinya dokter Mira sempat menyarankan agar anak-anak dilahirkan lebih cepat melalui operasi caesar. Tapi Kira tidak mau. Karena kondisi anak-anak dalam kandungan Kira baik dan tidak ada masalah. Dia ingin menunggu usia kandungan cukup saat operasi dilakukan. Selama tidak ada masalah dengan kandungannya Kira tidak ingin anak-anak dipaksa lahir sebelum waktunya demi dia. Jadi sekarang kami hanya bisa berharap kondisi Kira tidak akan memburuk dan dia akan bertahan sampai waktu melahirkan tiba." Lanjut Shaka sambil terus menatap ke jalanan.
"Tapi untunglah dokter Joseph bisa membuat Kira bertahan bahkan kondisinya menjadi lebih baik." Kali ini Shaka berbicara sambil tersenyum penuh harapan.
"Gue ikut prihatin, Ka. Tapi lo yang sabar ya. Ini cobaan buat lo dan keluarga lo. Gue akan bantu cari orang buat donor darah Kira. Lagian lo tahu sendiri kan bokap gue juga bule. Siapa tahu ada kerabat gue yang bisa donor darah buat Kira." Kata Alex sambil menepuk pelan bahu Shaka.
"Berhubung keluarga gue ga ada yang bule, jadi kemungkinan besar ga ada dari mereka yang bisa bantu. Tapi gue bakal tetap bantu lo cari orang yang bisa bantu buat donor darah, Ka." Sahut Leo.
"Aku juga akan membantu. Kita akan bersama-sama menghadapi ini, Ka. Kamu tidak sendirian." Kata Justin sambil menepuk pelan lengan Shaka yang duduk disampingnya.
"Terima kasih. Kalian memang teman-teman terbaik gue. Sahabat sejati gue." Kata Shaka pada ketiga temannya.
"Itu gunanya sahabat, bro. Apalagi kita kenal juga ga setahun dua tahun. Dulu kita sempat bejat bareng. Puji Tuhan akhirnya kita juga bisa bareng-bareng memperbaiki diri. Artinya kita memang ditakdirkan untuk terus bersahabat, Ka." Sahut Leo.
"Kayak lo udah beneran tobat aja." Cibir Alex.
"Ya emang gue masih nakal dikit sich. Tapi kan ga separah dulu. Dan yang penting gue tetep setia sama Sania, istri gue." Sergah Leo tidak terima.
"Mendingan kurangi kebiasaan lo ngamuk di kandang. Kena batunya baru tahu rasa lo..!!" Tegur Shaka.
"Kalian tahu sendiri kadang gue suka butuh pelampiasan." Sungut Leo.
"Terserah lo mau ngapain. Yang penting kita udah bolak balik kasi tahu. Tapi kalo lo udah mulai kelewatan, jangan salahin kita kalo akhirnya sampai ikut campur." Seru Shaka lagi.
Ketiga sahabat Leo sangat tahu kebiasaan Leo yang sejak lama dia geluti. Bertarung di sebuah fight club setiap hari Rabu malam. Pertarungan itu diadakan di sebuah lapangan indoor yang di saat di malam hari dipasang teralis melingkar di bagian pusat lapangan. Di dalam teralis yang ditata menyerupai kandang itu dilakukan pertarungan tangan kosong.
Leo yang sejak remaja bergabung dengan club itu sudah menjadi legenda di antara para petarung. Dia dikenal sebagai salah satu petarung terkuat. Leo akan bertarung seperti Singa kelaparan saat dia sedang frustasi dan butuh pelampiasan.
"Iyaaaa.. iyaaaa.. terima kasih udah ingetin gue terus. Seperti kata Shaka, kalian emang sahabat terbaik gue. Kecuali Justin. Dalam 6-8 tahun dia udah ga jadi sahabat Shaka lagi, tapi menantunya." Kata Alex mulai menggoda Justin dan Shaka.
Shaka tampak mendengus kesal mendengar celotehan Alex dan Leo yang semakin bersemangat mengolok-olok dia dan Justin. Sedangkan Justin sendiri lebih memilih mengabaikan kedua temannya.
"Mungkin sudah waktunya memanfaatkan fasilitas dari keluarga Wongsonegoro untuk membantu Kita." Kata Justin sambil mengedikkan bahunya.
"Demi gue, lo mau damai sama keluarga nyokap lo..??" Tanya Shaka tidak percaya.
"Ga usah GR..!!" Sahut Justin sambil mendorong pelan kepala Shaka.
"Aku memang sudah memikirkan perkataanmu tempo hari. Setelah aku pikirkan lagi, kamu ada benarnya juga. Aku sadar ibu sebenarnya menahan rindu pada keluarganya. Tapi ibu tetap diam karena menjaga perasaanku. Aku tidak ingin bersikap egois dengan terus menuruti egoku dan membiarkan ibu tersiksa. Toh sejauh ini, selain terus mendesakku untuk menerima warisan keluarga, mereka tidak pernah mengusikku." Lanjut Justin cuek.
"Dari dulu emang lo paling baik, tin. Lo ga salah pilih calon mantu, Ka." Kata Leo kembali menggoda kedua temannya untuk mencairkan suasana.
"Apaan sich lo..??!! Gue juga belum terima dia jadi calon mantu gue." Sahut Shaka sewot.
"Heeeeeh.. mulai lagi dech gengsinya." Kata Justin sambil membuang napas panjang.
"Terserah gue dong..!!" Sungut Shaka.
"Iya terserah lo. Orang Rania anak lo. Masa terserah gue. Kalo terserah gue sich ya udah gue kasi restu ke Justin. Secara dia ganteng, baik, kaya. Kurang apa coba..??" Sahut Alex ikut menimpali.
"Sialan lo pada. Sekarang demen banget olokin gue." Protes Shaka.
"Itu gunanya teman, Ka. Selain saling bantu juga buat bikin hidup temennya sengsara." Kata Leo lalu tertawa keras melihat Shaka yang terlihat semakin kesal.