
Justin menatap dingin pada dua pria dihadapannya. Seorang pria tua yang masih terlihat segar di usianya yang sudah mencapai 96 tahun dan seorang pria tampan 53 tahun yang usianya 2 tahun lebih muda dari ibunya. Justin terus mengamati wajah Hendra Wongsonegoro, kakeknya. Dan Anindya Wongsonegoro, pamannya. Tidak bisa dipungkiri dia mewarisi garis wajah dan mata kedua orang itu.
Meski dia dan teman-temannya sudah mendapatkan rekaman CCTV yang dibutuhkan dan masalah Shaka dengan keluarga Vino telah selesai, Justin memutuskan untuk menerima undangan makan malam dari keluarga ibunya.
"Anindhita, akhirnya kamu datang bersama putramu." Sapa Hendra pada Wahyuni.
"Nama ibuku Wahyuni. Bukankah kalian sudah membunuh Anindhita 30 tahun yang lalu..??" Sahut Justin sinis.
"Justin." Tegur Wahyuni.
"Putramu mewarisi lidah tajam keluarga Wongsonegoro." Kata Hendra sambil terkekeh pelan.
"Tidak perlu menjadi seorang Wongsonegoro hanya untuk berlidah tajam. Siapapun bisa belajar dengan cepat." Bantah Justin dengan tatapan mata yang tajam menusuk. Hendra justru tertawa semakin keras mendengar perkataan Justin.
"Bagus..!! Kamu bukan hanya tampan dan pandai bicara, tapi juga pemberani. Aku suka itu." Kata Hendra mengabaikan wajah kesal Justin.
"Apa kabarmu, kak." Sapa Anindya. Dia memeluk Wahyuni penuh kerinduan.
"Alhamdulillah kabarku baik, Anin. Bagaimana denganmu..??" Wahyuni balik bertanya.
"Baik. Meski harus bertahan dengan kecerewetan ayah setiap harinya." Jawab Anindya sambil terkekeh.
"Salahmu sendiri tidak mau membawa menantu untuk kuajak bertengkar." Sungut Hendra.
"Itulah alasannya. Aku yakin wanita-wanita itu akan kabur begitu bertemu dengan ayah. Aku rasa hanya ibu, kak Dita, dan Soraya yang bisa bersabar meladeni ayah untuk berdebat." Sahut Anindya tidak terima.
"Astaga..!! Sampai kapan kalian mau bertengkar..?? Aku sudah sangat lapar..!!" Seru Wahyuni menghentikan perdebatan ayah dan adiknya.
Justin memutar matanya jengah dan tersenyum sinis melihat perdebatan antara kakek dan pamannya, meskipun dia sedikit penasaran siapa sebenarnya Soraya.
"Soraya adalah mendiang istriku. Dia meninggal dalam kecelakaan bersama bayi dalam kandungannya." Kata Anindya seolah tahu isi kepala Justin.
"Bukan urusanku." Sahut Justin dingin kemudian berjalan menjauhi Wahyuni, Hendra, dan Anindya yang tampak menghela napas panjang melihat sikapnya.
"Anakmu keras kepala. Sepertimu." Kata Hendra pada Wahyuni.
"Dan aku mendapatkannya dari ayah." Sahut Wahyuni sambil mengelus pelan lengan ayahnya.
Mereka bertiga akhirnya berjalan menyusul Justin yang telah lebih dahulu duduk di meja makan. Wahyuni tersenyum melihat begitu banyak masakan yang disajikan. Semua hidangan itu adalah kesukaan dia dan Justin. Wahyuni memang memberitahu Hendra apa saja makanan kesukaan Justin saat ayahnya itu menanyakannya.
Makan malam yang awalnya berjalan dengan canggung perlahan mulai mencair seiring dengan berjalannya waktu. Wahyuni, Hendra, dan Anindya terus berbincang dan bertukar cerita seolah tidak pernah ada masalah di antara mereka di masa lalu. Sedangkan Justin hanya terus diam dan menikmati makan malamnya. Mengabaikan apapun yang dibicarakan oleh tiga orang yang ada dihadapannya.
"Justin, aku dengar kamu tengah membantu temanmu yang sedang terkena masalah..??" Tanya Anindya mencoba membuka percakapan dengan Justin.
"Benar. Dan terima kasih sudah membantu kami." Jawab Justin tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.
"Ayah yang membantumu. Ayah yang memerintahkan orang-orang kita untuk mencari tahu. Aku bahkan tidak akan tahu kalau ayah tidak memberitahuku." Kata Anindya yang masih ditanggapi Justin dengan dingin.
"Siapa orang yang mengganggu temanmu..??" Tanya Anindya lagi.
"Fabian. Pemilik Orange Clock Club." Jawab Justin sambil menoleh ke arah pamannya.
Dahi Justin berkerut saat melihat perubahan di wajah Anindya. Pria yang sejak tadi berwajah ramah tiba-tiba saja wajahnya berubah dingin dan gelap.
"Dia orang yang berbahaya. Lebih kamu tidak usah ikut campur urusan temanmu dan Fabian." Jawab Anindya dingin.
"Kamu kenal dia, Nin..??" Tanya Wahyuni.
"Kakak lupa kalau perusahaan kita bergerak di bidang keamanan..?? Kita bukan hanya menawarkan sistem keamanan tapi juga jasa keamanan dan detektif swasta. Salah satu klien kita pernah berurusan dengan Fabian. Percaya padaku, dia orang yang berbahaya." Jawab Anindya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kasus itu sudah dilimpahkan ke kepolisian. Lagipula sebenarnya bukan Shaka yang dia incar." Kata Justin.
"Shaka..??" Tanya Hendra.
"Shaka Rahardian. Putra dari Mahesa Rahardian, pemilik RHD Group. Dia juga pemilik travel agent Raven Adventure. Justin, Shaka, dan dua teman mereka yang lain bersahabat dekat sejak SMA. Aku bahkan sudah menganggap ketiga anak itu seperti anak-anakku sendiri. Karena itu begitu aku mendengar Shaka punya masalah, aku langsung menghubungi ayah untuk meminta bantuan." Jawab Wahyuni menerangkan.
"Lagipula ternyata bukan Shaka yang menjadi incaran Fabian." Sambung Justin.
"Lalu..??" Tanya Hendra ikut bertanya.
"Kami belum tahu. Hanya saja saksi yang memberatkan Fabian mengatakan bahwa sebenarnya salah satu teman Shaka yang menjadi target. Entah itu diantara kami bertiga atau temannya yang lain." Kata Justin.
"Sial..!!" Desis Anindya pelan tapi masih terdengar oleh keluarganya.
"Kamu kenapa..??" Tanya Hendra dengan tatapan penuh intimidasi.
"Aku akan menambah orang untuk mengawalmu. Kali ini dalam jarak dekat. Karena terakhir kali mereka lengah dan kamu sudah berurusan dengan Fabian." Kata Anindya tegas.
"Aku tidak mau..!! Aku bisa menjaga diri. Lagipula bukan berarti aku yang menjadi target Fabian." Bantah Justin.
"Dan aku tidak peduli. Mulai besok kamu tetap akan dikawal..!!" Anindya memaksa dan berbicara dengan tatapan dingin.
"Anin..!!" Tegur Wahyuni.
Setelah melakukan walk-out saat makan malam, Justin akhirnya memilih menunggu di halaman depan rumah kakeknya. Justin baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, dia tidak tahu seluk beluk rumah yang besarnya hampir menyamai sebuah mansion. Justin tersenyum sinis saat pandangannya terus menelusuri rumah itu dari luar. Rumah mewah itu terlihat suram dan dingin. Bagi Justin orang-orang di dalam rumah itu sangat konyol. Untuk apa memiliki rumah sebesar dan seluas itu kalau hanya ditinggali dua orang saja.
Justin membuang napas panjang. Sebenarnya dia sangat berharap ibunya akan menyusul dan mereka bisa segera pulang. Tapi setelah beberapa lama ternyata ibunya tidak kunjung keluar. Rupanya Wahyuni masih ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama keluarganya. Justin memilih duduk di salah satu anak tangga yang ada di depan pintu masuk, mengabaikan tatapan heran para petugas keamanan yang menjaga rumah besar itu. Tiba-tiba Justin tersenyum, ingatannya melayang pada Rania. Dia merindukan gadis kecil itu.
"Apa gadis itu begitu cantik..??" Tanya Hendra membuyarkan lamunan Justin.
Justin terkejut dan menoleh ke arah Hendra yang mengambil posisi untuk duduk di sampingnya. Seorang pria tampak datang dengan membawa kursi tapi Hendra menolak dengan menggunakan isyarat tangan.
"Ibumu sudah bercerita padaku. Kamu jatuh cinta dengan gadis kecil anak sahabatmu." Kata Hendra sambil terkekeh pelan.
Justin mendengus kesal saat mengetahui Wahyuni menceritakan masalah pribadinya kepada Hendra.
"Dulu aku juga sama sepertimu. Mencintai putri sahabatku sendiri. Saat itu aku sudah berpisah cukup lama dengan Robert, sahabatku sejak kecil karena kami sama-sama kuliah di luar negeri. Aku kuliah di Amerika sedangkan dia kuliah di Perancis. Bedanya, setelah lulus Robert memilih menikahi kekasihnya. Sedangkan aku terus berpetualang dari wanita satu ke wanita yang lain. Saat itu one night stand adalah kegiatan favoritku." Kata Hendra sambil melihat Justin yang menatapnya dengan jijik.
"Jangan melihatku seperti itu..!! Salah wanita-wanita itu yang terus mengejarku..!!" Sungut Hendra kesal.
"Kakek bisa saja menolak mereka. Memang dasarnya kakek yang mau." Sungut Justin tidak kalah kesal.
"Iya. Benar. Tapi saat itu tidak ada yang berusaha menghentikan aku. Meski aku menyukai semua wanita itu, tapi tidak ada yang bisa mengambil hatiku." Kata Hendra membela diri.
"Sampai akhirnya aku tanpa sengaja bertemu Robert dan keluarganya. Saat itu aku tengah pergi ke pantai bersama salah satu wanitaku. Robert tengah berlibur bersama keluarganya. Dan aku melihat Valerie, putri sulungnya. Usiaku 35 tahun sedangkan dia masih berumur 10 tahun dan tengah asik bermain pasir. Tidak tahu kenapa tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Aku langsung jatuh cinta pada gadis kecil itu." Kata Hendra dengan tatapan menerawang. Dia tampak tersenyum mengingat pertemuan pertama dengan mendiang istrinya.
"Sejak itu aku berhenti bermain wanita. Aku terus berusaha memperbaiki diri agar kelak dapat diterima oleh Robert dan istrinya saat melamar putri mereka. Dan aku terus menunggu hingga gadis kecilku dewasa. Saat usia Valerie 18 tahun aku mengungkapkan perasaanku padanya. Dan aku begitu bahagia karena ternyata dia menerimaku. Tapi sebaik apapun hubunganku dengan Robert, tetap saja dia menolak saat aku melamar Valerie. Dia bahkan memisahkan kami dan mengurung Valerie agar kami tidak dapat bertemu. Beruntung salah satu pelayan di rumah Valerie merasa iba dan membantu kami. Aku kalut saat mendengar Robert akan menikahkan Valerie dengan anak salah satu rekan kerjanya. Aku akhirnya nekat menyusup masuk ke rumah Robert dengan bantuan pelayan itu. Saat itulah aku memilikinya. Tanpa paksaan tentunya. Kami bahagia saat tahu ternyata hubungan kami malam itu membuahkan hasil. Nenekmu hamil. Dia mengandung ibumu. Robert murka dan menghajarku sampai nyaris tewas. Dia berhenti saat melihat Valerie berlutut dan memohon padanya untuk melepaskan aku. Akhirnya Robert luluh dan merestui hubungan kami, lalu aku dan Valerie menikah. Meski kami melakukannya dengan cara yang salah, tapi aku tidak pernah menyesal telah memperjuangkan cinta kami." Kata Hendra sambil menatap hangat pada cucu semata wayangnya.
Justin menatap lekat wajah Hendra. Dia tidak mengerti kenapa Hendra menceritakan masa lalunya. Tapi Justin dapat melihat wajah lelaki tuan itu berbinar saat membicarakan tentang istrinya.
"Lalu kenapa kakek justru mempersulit hubungan ibu dan ayah. Seharusnya kakek paling mengerti perasaan mereka." Tanya Justin ketus.
"Karena aku seorang ayah. Sayangnya aku juga suami yang larut dalam duka berkepanjangan." Jawab Hendra.
"Valerie meninggal saat Dita berusia 16 tahun dan aku terus larut dalam dukaku. Selama ini Valerie selalu mengurus semuanya sendiri sedangkan aku lebih sibuk dengan pekerjaanku. Setelah Valerie meninggal aku menjadi limbung. Selain berduka, aku tidak tahu bagaimana harus mengurus anak-anak. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus mengurus diriku sendiri. Ditambah lagi memiliki dua anak remaja yang tengah sibuk mencari jati dirinya dan terus memberontak. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi mereka. Saat Valerie masih hidup, dia yang selalu menghangatkan keluarga kami. Membuatku tetap dekat dengan kedua anakku meski aku sangat sibuk. Dia seperti lem yang menempelkan setiap kepingan yang pecah dengan sangat kuat. Dan setelah Valerie meninggal, perlahan hubungan dengan kedua anakku merenggang. Tapi satu hal yang pasti. Aku sangat menyayangi mereka." Kata Hendra sambil menghela napas panjang, seolah berusaha menepis beban berat di dadanya.
"Saat mengetahui Dita jatuh cinta dengan ayahmu, aku merasa kawatir. Bukan karena ayahmu orang yang buruk. Aksara adalah orang yang sangat baik. Tapi aku tidak bisa menepis kekawatiran akan kebahagiaan putriku. Aku takut Aksara tidak akan bisa memenuhi setiap kebutuhan Dita dan itu akan membuat putriku tidak bahagia. Ibumu hidup dalam kemewahan sejak dia lahir. Sedangkan ayahmu adalah guru honorer dengan penghasilan kecil. Ayahmu juga menolak saat aku menawarkan padanya untuk bekerja di perusahaanku karena dia lebih suka menjadi guru. Ayahmu adalah laki-laki dengan prinsip hidup yang kuat." Lanjut Hendra.
"Aku memisahkan mereka dan menjodohkan Dita dengan anak salah satu temanku. Tapi ternyata Dita memilih kabur dihari pertunangannya lalu tidak lama kemudian menikah dengan ayahmu. Aku sengaja menutup semua akses keuangan Dita untuk membuktikan bahwa selama ini aku benar. Tapi ternyata aku salah. Putriku tetap bahagia meski hidup sederhana bersama Aksara." Kata Hendra.
"Aku membuat kematian palsu Anindhita untuk melindunginya." Kata Hendra sambil menatap lekat wajah Justin.
"Apa..??!!" Seru Justin tidak percaya.
"Laki-laki yang aku jodohkan dengan Anindhita ternyata adalah laki-laki ambisius yang langsung jatuh cinta pada ibumu. Lebih tepatnya, dia terobsesi pada ibumu. Dia tidak terima begitu saja saat aku memutuskan perjodohan itu. Dan dia banyak melakukan hal gila demi mendapatkan ibumu kembali. Dia terus berusaha mencari ibumu. Aku terus berusaha menutupi jejak Dita, tapi aku takut suatu saat dia akan menemukan putriku dan merenggut kebahagiaannya. Hingga suatu hari, laki-laki itu kembali datang dengan membawa orang-orangnya. Dia menyandera salah satu pelayan dan mengancam akan membunuhnya kalau kami tidak memberitahu keberadaan ibumu. Aku berhasil menyelamatkan pelayan itu dan mengusirnya dari sini. Aku melaporkan dia pada polisi dan dia ditangkap. Tapi aku sadar, setelah keluar dari penjara bisa saja dia tetap mencari ibumu. Akhirnya aku membuat seolah terjadi kecelakaan dan Dita tewas dalam kecelakaan itu agar dia berhenti mencari ibumu. Awalnya dia memang tidak percaya karena jenazah Dita tidak ditemukan. Tapi kuatnya bukti yang aku berikan padanya membuat dia menyerah. Selama bertahun-tahun aku harus menahan rinduku pada putri dan cucuku karena tahu laki-laki itu diam-diam masih mencarinya. Saat ayahmu meninggal rasanya aku ingin datang menghampiri putri dan cucuku untuk memeluk kalian. Tapi aku urungkan niat itu karena tahu dia masih mengawasi gerak-gerik kami. laki-laki itu tetap terobsesi pada ibumu, meski dia telah berkeluarga." Kata Hendra dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu apa yang membuat kakek akhirnya mendatangi kami..??" Tanya Justin.
"Karena laki-laki itu telah meninggal. Dia meninggal 3 tahun lalu karena dibunuh oleh selingkuhan istrinya." Jawab Hendra.
"Tiga tahun. Dan kakek baru muncul setahun belakangan..??" Tanya Justin tidak percaya.
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak pernah tahu bagaimana menghadapi anak-anakku...?? Aku tidak tahu harus bicara apa pada ibumu saat kami bertemu. Dan sebagai orangtua egoku terlalu tinggi untuk meminta maaf padanya. Tapi pada akhirnya, orangtua ini tetap kalah dengan rasa rindu pada anak dan cucunya." Jawab Hendra.
"Sekarang kamu sudah mengetahui semuanya. Apakah kamu tetap pada pendirianmu..?? Tidak akan memaafkan dan menerima kami..??" Tanya Hendra dengan wajah sendu.
"Usiaku sudah sangat tua, nak. Bahkan hampir semua temanku telah berpulang. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup. Tapi yang aku inginkan adalah berkumpul bersama keluargaku di saat terakhir kehidupanku. Lagipula, aku tidak ingin menghadapi amarah Valerie saat kami bertemu nanti. Kamu tidak tahu bagaimana mengerikannya nenekmu saat dia marah." Kata Hendra tertawa kecil di tengah isakannya.
Justin menatap Hendra dengan hati yang tidak menentu. Kakeknya tiba-tiba terlihat begitu rapuh. Kebenaran yang diceritakan Hendra cukup menamparnya.
"Kakek." Panggil Justin, membuat Hendra menoleh ke arahnya.
"Terima kasih karena sudah menjaga kami selama ini. Tolong maafkan aku yang berusaha memisahkan kakek dengan ibu." Kata Justin sambil merangkul pundak Hendra.
Hendra tampak menghela napas lega saat mendengar perkataan Justin. Dia merengkuh tubuh cucu yang selama ini dirindukannya dan menangis dalam pelukan Justin.
"Apa kamu tahu Justin..?? Ayah adalah salah satu penggemar beratmu." Kata Anindya yang entah sejak kapan berada disana.
"Diamlah anak bodoh..!!" Seru Hendra.
"Dia memajang banyak postermu di dinding kamarnya. Dia juga anggota fandom Autumn River dan memiliki semua merchandise kalian, juga lightstick. Ayah mempunyai ruang khusus untuk menyimpan semua barang-barang yang berkaitan dengan Autumn River." Lanjut Anindya tanpa menghiraukan ayahnya. Justin menatap Hendra dan mengangkat sebelah alisnya.
"Apa kamu akan terus mengadu..??!! Haaaah..!!" Seru Hendra lagi.
"Ayah juga selalu mengikuti semua konser kalian, bahkan merekamnya. Sepanjang konser kalian ayah akan terus menyanyi di depan TV sambil mengayunkan lightstick kebanggaannya. Kalau bukan karena aku yang selalu melarang, pak tua ini pasti akan selalu hadir di setiap konsermu." Kata Anindya sambil menirukan gaya ayahnya saat mengayunkan lightstick Autumn River.
"Dasar anak nakal..!! Kamu mau cari ribut lagi denganku..??!!" Seru Hendra sambil melempar salah satu sandalnya ke arah Anindya yang langsung menghindar dengan sigap.
Justin tertawa keras melihat tingkah kedua laki-laki beda generasi itu yang seperti Tom and Jerry. Hendra dan Anindya terdiam dan terpaku melihat Justin. Ini pertama kalinya mereka melihat Justin tertawa begitu lepas saat bersama mereka.
"Eeeehhmm.. jadi apa boleh kakek mengakui dan memamerkan cucu kakek yang terkenal ini pada teman-teman kakek..?? Mereka selalu mengolok-olok kakek karena menjadi penggemarmu." Hendra berbicara seperti anak kecil yang tengah mengadu pada ayahnya.
"Aku akan ikut kakek saat berkumpul dengan teman-teman kakek. Biar mereka tahu dan percaya kalau penggemar terbesarku adalah kakekku sendiri." Kata Justin sambil merangkul erat pundak Hendra.
"Kamu lihat. Cucuku sangat menyayangiku." Cibir Hendra pada Anindya. Sedangkan putranya dan Justin hanya tertawa melihat tingkah Hendra.