(Family) Bound

(Family) Bound
I Love You, Oom



Shaka terus memandang Kira yang sedang sibuk memasangkan dasi untuknya. Sesekali dia mencium pipi atau mencubit hidung Kira gemas. Kira terus menepis tangan Shaka dengan kesal.


“Bie, jangan usil..!! Ini sudah siang, kamu bisa terlambat.” Kata Kira kesal.


“Memang kenapa..?? Kan aku bos-nya.” Sahut Shaka sambil mengecup pipi Kira.


“Tapi sebagai atasan kamu harus memberi contoh bagus, Bie.” Kata Kira sambil menepis tangan Shaka yang kembali mencubit hidungnya.


“Iya yang mulia ratuuuu..!!” Sahut Shaka sambil mendusel-dusel hidungnya ke rambut Kira.


“Bie..!!” Seru Kira kesal sambil mendorong tubuh suaminya. Shaka tertawa karena sepagian berhasil mengganggu Kira.


“Ngomong-ngomong besok anak-anak Autumn River akan kesini. Sepertinya kak Julian dan kak Pasha juga akan ikut.” Kata Shaka.


“Besok hari Sabtu kan..?? Biasanya jadwal mereka padat saat weekend.” Kata Kira.


“Iya. Tapi kata Justin kak Andrew memberi mereka libur selama 1 minggu.” Jawab Shaka.


“Baguslah. Jadi besok mereka bisa seharian disini. Aku sudah kangen sama mereka.” Kata Kira dengan wajah berbinar.


Memasang dasi yang harusnya membutuhkan waktu tidak sampai 5 menit akhirnya baru selesai setelah 15 menit karena Shaka terus mengganggu hingga Kira harus terus mengulangnya.


“Papaaaa..!! Mamaaaa..!!” Seru Rania sambil menggedor pintu kamar orang tuanya.


“Kenapa dia..??” Tanya Kira heran.


Shaka mengangkat bahunya dan berjalan ke arah pintu. Rania langsung menghambur masuk begitu pintu terbuka.


“Rania, kamu kenapa pagi-pagi sudah ribut begini..??” Tanya Kira keheranan. Rania tidak menyahut dan menyalakan TV yang ada di kamar orangtuanya.


“Papa..!! Mama..!! Apa ini benar..??!!” Tanya Rania sambil menunjuk ke arah TV yang sedang menayangkan gosip terbaru tentang Justin.


“Apa benar Oom Justin sudah punya pacar..??!!” Tanya Rania tegas.


Shaka menghembuskan napas panjang. Bukan hanya wajah Rania yang mirip Kira, sifatnya pun banyak mirip dengan ibunya.


“Sayang, papa tidak tahu karena belum bertanya dengan Oom Justin. Lagian bagus kan kalo Oom Justin punya pacar. Siapa tahu bentar lagi Rania punya tante baru” Kata Shaka.


“Ga boleh..!! Pokoknya Oom Justin ga boleh punya pacar..!!” Seru Rania dengan wajah yang hampir menangis.


“Sayang, kalau Oom Justin punya pacar dan menikah. Oom Justin pasti tetap sayang sama Rania.” Kata Kira mencoba memberi pengertian.


“Papa sama mama ga ngertiin Rania..!! Pokoknya Oom Justin ga boleh punya pacar. Titik..!!” Seru Rania sebelum berlari keluar kamar.


“Sayang.. Rania..” Panggil Shaka.


“Sudahlah, Bie. Biarkan dia sendiri dulu. Kamu tahu sendiri kan Rania sangat dekat dengan Justin. Bahkan lebih dekat dengan Justin daripada dengan saudara-saudaraku dan kak Adrian. Aku rasa dia takut kasih sayang Justin akan berkurang setelah dia punya pacar dan menikah.” Kata Kira.


“Kita akan memberi pengertian pada Rania pelan-pelan. Lagipula berita itu belum tentu benar juga kan.” Kata Shaka.


“Sudahlah, Bie. Kita pikirkan lagi nanti. Sekarang kita sarapan, nanti kamu terlambat.” Kata Kira.


****


Keesokan harinya 4 member Autumn River, Julian, dan Pasha datang mengunjungi keluarga Shaka. Mereka membawa keluarga masing-masing hingga rumah Shaka mendadak menjadi sangat ramai. Justin belum nampak karena masih ada urusan. Para orangtua tampak asik berbincang sedangkan anak-anak bermain di halaman rumah itu. Menjelang makan siang Justin datang bersama Ellen, model yang tengah digosipkan dekat dengannya. Gadis itu tampak begitu cantik dan elegan, tubuhnya tinggi semampai dengan kulit putih terawat. Rambut panjangnya yang di cat burgundi terlihat sesuai dengannya.


“Hai, aku Ellen.” Kata Ellen memperkenalkan diri.


Masing-masing memperkenalkan diri, tapi Andhika tampak tidak suka dengan Ellen. Gadis itu terlihat lembut tapi juga sedikit angkuh di waktu yang sama. Tidak tahu mana sifat dia yang sebenarnya.


“Oom Justin..!!” Seru Rania memanggil Justin.


Rania berlari menghambur ke arah Justin yang sudah mengembangkan kedua tangannya. Begitu dekat Justin langsung mengangkat tubuh Rania dalam gendongannya.


“Apa kabarmu, cantik..??” Tanya Justin sambil mencubit pipi Rania gemas.


“Baik, Oom. Rania kangen. Oom Justin lama ga kesini.” Kata Rania cemberut.


“Maafkan Oom ya, sayang. Oom Justin sibuk banget.” Sahut Justin lembut.


“Rania, turunlah. Kamu sudah besar. Kenapa masih minta gendong.” Kata Kira.


“Ga mau..!! Masih kangen oom Justin.” Sahut Rania sambil mengeratkan pelukannya.


“Biar saja, kak. Mumpung masih bisa gendong. Nanti kalau dia sudah besar aku ga bisa gendong dia lagi.” Sahut Justin terkekeh.


“Hai, cantik. Kenalan sama tante. Nama tante Ellen.” Sapa Ellen tampak berusaha mengambil hati Rania yang dekat dengan Justin. Rania hanya diam dan menatap Ellen dengan tatapan tidak suka.


“Sialan anak ini. Gue dikacangin.” Gumam Ellen dalam hati.


“Ciiiiih.. ada pelakor. Ga mau salim sama dia.” Gumam Rania dalam hati.


“Rania, salam sama tante Ellen.” Kata Kira saat melihat putrinya tidak menyambut Ellen.


Ellen semakin tidak suka melihat interaksi antara Justin dan Rania. Meski bukan kekasih Justin, tapi tidak dipungkiri dia memang jatuh cinta pada pemuda itu dan tengah mendekatinya. Justin tidak pernah menanggapi Ellen selain sebagai teman. Bahkan gosip yang sedang ramai beredar timbul karena Ellen sengaja menunjukkan kepada umum seolah terjalin hubungan khusus antara dia dan Justin. Dan sekarang ada gadis kecil yang membuat Justin tampak tersenyum hangat dan terus menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang. Rasanya Ellen tidak rela kalau harus kalah dengan gadis ingusan seperti Rania.


“Ayo kita makan siang sekarang. Semuanya sudah siap.” Kata Kira lalu membimbing para tamunya menuju ruang makan besar.


Ruangan itu khusus digunakan saat ada perjamuan makan atau keluarga besar Shaka dan Kira berkumpul.


Justin menurunkan Rania dan berjalan ke arah ruang makan. Ellen tampak berjalan disamping Justin. Saat Ellen akan mengalungkan tangannya ke lengan Justin, Rania menyelip diantara mereka dan meraih tangan Justin. Justin yang merasa seseorang menarik tangannya menoleh dan tersenyum pada Rania. Diraihnya tangan Rania lalu menggandeng tangan gadis kecil itu. Ellen kesal karena gagal mendekati Justin, apalagi saat Rania menoleh ke arahnya dan menjulurkan lidah untuk mengejeknya.


“Awas aja lo, Rania. Lo pikir gue bakal kalah sama gadis ingusan macem lo..!!” Rutuk Ellen dalam hati.


“Sukuriiiiinn..!! Jangan harap bisa deket-deket sama Oom Justin.” Ejek Rania dalam hati.


Saat di meja makan Ellen bergerak lebih cepat agar bisa duduk disamping Justin. Dia menoleh pada Rania dan mengembangkan senyum mengejek pada gadis kecil yang menjadi saingannya. Rania yang kesal tidak hilang akal. Dia langsung menangis keras dan menarik perhatian semua orang terutama Justin.


“Sayang, kenapa kamu menangis..??” Tanya Shaka panik.


“Mau duduk di sebelah Oom Justin.” Kata Rania terus menangis dan menatap Justin dengan wajah memelas.


Justin terkekeh lalu menggandeng Rania dan menuntunnya untuk duduk disampingnya.


“Ellen, maaf. Kamu tolong geser ya.” Pinta Justin.


Ellen terlihat kesal lalu menatap kursi di sebelahnya yang sudah diduduki oleh Andhika. Terpaksa Ellen pindah ke kursi seberang yang masih kosong. Andhika melakukan toss dengan Rania karena telah berhasil menjauhkan Ellen dari Justin.


“Siaaaall..!! Siaaaall..!! Siaaaall..!!” Tu bocah banyak banget akalnya.” Rutuk Ellen semakin kesal.


“Rasain..!! Emang enak diusir Oom Justin..??!!” Sorak Rania dalam hati.


Acara hari itu berjalan dengan menyenangkan. Masing-masing melepaskan rindu karena sulitnya meluangkan waktu untuk bertemu. Justin terus menjadi bulan-bulanan karena hanya dia yang sampai sekarang masih belum memiliki pasangan. Ellen sengaja duduk disamping Justin seolah menegaskan bahwa dialah pasangan Justin. Tapi di saat yang sama Rania duduk dipangkuan Justin dan bergelayut manja, membuat Ellen semakin meradang.


“Justin, sebenarnya kamu tunggu apa lagi..?? Usiamu sudah cukup dan kamu juga sudah mapan. Kenapa tidak segera menikah saja..??” Tanya Pasha yang sudah gatal ingin bertanya.


“Aku hanya belum menemukan gadis yang tepat.” Kata Justin tersenyum tipis.


“Bagaimana dengan Ellen. Bukannya kalian dekat..??” Tanya Kira tidak kalah kepo. Ellen baru akan bicara saat Justin terlebih dulu menjawab.


“Kami hanya teman, kak. Lebih tepatnya rekan kerja. Kami dekat karena kebetulan beberapa kali bekerja di proyek yang sama. Benar kan, El..??” Kata Justin memastikan. Ellen hanya tersenyum menjawab pertanyaan Justin.


Ellen terkejut mendengar jawaban Justin. Ternyata selama ini Justin sama sekali tidak pernah mempertimbangkan dia. Ellen merasa dadanya sesak. Dia menyadari sekeras apapun dia telah berusaha nyatanya tidak mampu meluluhkan hati Justin.


“Sebenarnya gadis seperti apa yang kamu cari..??” Tanya Andhika. Justin tertawa pelan.


“Aku tidak tahu. Mungkin baru akan tahu saat aku bertemu dengan gadis itu.” Kata Justin tersenyum lalu mengeratkan pelukannya pada Rania.


Shaka menatap Justin dengan tatapan sendu. Dia tahu pasti siapa wanita yang Justin cintai dan yakin wanita yang sama masih mengisi setiap sudut hati sahabatnya. Shaka akan memberikan apapun untuk kebahagiaan Justin. Tapi tidak yang satu ini. Karena dia tahu wanita yang dicintai Justin adalah Kirana, istrinya.


“Oom Justin, tunggu Rania besar yaaa.. nanti kalau Rania sudah besar, Rania mau menikah sama Oom Justin saja.” Kata Rania dengan wajah polos tapi terlihat bersungguh-sungguh.


Ruangan itu hening sejenak dan tak berapa lama suasana menjadi riuh karena pinangan seorang gadis kecil untuk Justin.


“I love you, Oom.” Kata Rania sebelum mengecup cepat pipi Justin tanpa mempedulikan suasana riuh di ruangan itu.


Shaka yang tengah minum langsung tersedak melihat kelakuan putrinya, sedangkan Kira menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan malu. Justin yang memang pipinya sering dicium Rania hanya tertawa mendengar pinangan gadis kecil di atas pangkuannya.


“Rania, kamu benar-benar mirip sama papa kamu. To the point kalau masalah hati.” Kelakar Keenan.


“Iya. Sifat dia yang satu itu memang benar-benar mirip papa-nya.” Sungut Kira kesal, sedangkan Shaka hanya nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Shaka, siap-siap ntar kamu jadi mertuanya Justin. Anak kamu udah duluan melamar calon suaminya.” Goda Julian.


“Kalo beneran jadi, bakal kayak kak Julian sama Nancy dong. Istilah sineronnya masuk ke jilid 2.” Sahut Nico yang langsung disambut tawa.


“Ya ga masalah sich kalau emak sama bapaknya bolehin.” Kelakar Justin yang langsung disusul lemparan bantal dari Shaka.


Wajah Rania berbinar mendengar perkataan Justin. Perkataan Justin yang sekedar candaan nyatanya telah mulai dipatri kuat dalam hatinya.


“Tunggu aku, Oom. Aku pasti akan menjadi gadis yang tepat untuk Oom Justin.” Janji Rania dalam hati.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza