(Family) Bound

(Family) Bound
Salahkan Kira..



Hoeeeeeekk..!!


Kira kembali memuntahkan isi perutnya untuk kesekian kalinya. Shaka dan Edna terus bersiaga di dekat Kira. Meski sudah tahu efek kemoterapi dan menyiapkan diri, tetap saja menyakitkan bagi mereka melihat Kira seperti ini.


Shaka mengelap wajah Kira yang basah oleh keringat dingin. Dilihatnya Kira berkali-kali mengetatkan rahangnya dan memejamkan mata, pertanda dia tengah menahan sakit. Kira tidak ingin membuat ibu dan suaminya kawatir.


Kira terus memejamkan mata dan berusaha mengatur napasnya. Badannya terasa lemah disertai rasa mual luar biasa dan terus menerus. Bahkan saat dia menggerakkan kepala sedikit saja, dia langsung merasa mau muntah. Kepalanya juga terasa terus berputar, hingga setiap kali membuka mata dia seakan langsung dihantam benda keras. Beruntung Luna dan Ratna datang untuk membantunya merawat si kembar.


"Sayang, kamu mau minum..??" Tanya Shaka pada Kira yang masih memejamkan mata. Kira hanya menjawab dengan mengangguk lemah.


"Ini minumlah." Kata Shaka sembari membantu Kira untuk minum.


Kira hanya meminum seteguk lalu menggelengkan kepalanya pelan. Dia kembali merasa mau muntah hanya karena merasakan air putih itu didalam mulutnya.


"Yudha, berapa lama Kira akan seperti ini..??!!" Tanya Edna dengan suara bergetar karena takut dan kawatir.


"Reaksi setiap orang berbeda, ma. Efeknya bisa hilang dalam hitungan beberapa jam. Tapi kadang ada yang sampai seharian. Mama tenang saja, dokter Cintya sudah memberikan obat untuk mengurangi efeknya. Kita tunggu sampai obatnya mulai bekerja." Jawab Yudha berusaha menenangkan ibunya.


"Sayang, sudahlah. Kalau kamu seperti ini Kira akan semakin kesakitan." Bujuk Darius.


Edna diam dan kembali menatap Kira dengan penuh kekawatiran. Sedangkan Shaka hanya diam. Dia terus menggenggam erat tangan Kira sembari mengelus kepala istrinya.


*****


Shaka menciumi tangan Kira yang ada dalam genggamannya. Dia sekarang merasa lebih tenang. Setelah obat yang diberikan dokter Cintya mulai bekerja, Kira mulai tenang dan akhirnya bisa beristirahat. Kedua anaknya pun seolah tahu bagaimana kondisi ibu mereka. Keduanya tidak rewel saat diasuh oleh para kakak dan bibi mereka.


Shaka menoleh saat merasa seseorang menepuk bahunya. Rupanya Darius telah menarik kursi dan duduk disampingnya.


"Istirahatlah. Seharian ini kamu bahkan tidak makan. Kira sudah baik-baik saja." Kata Darius.


"Nanti saja. Aku akan menunggu sampai Kira bangun." Sahut Shaka sambil mengelus tangan Kira.


"Cccckk.. dasar keras kepala." Sungut Darius kesal.


Darius berjalan ke arah kulkas yang ada di dalam ruangan dan kembali mendekati Shaka dengan membawa sekotak susu dingin dan dua potong kue talam pandan yang dibawa oleh Luna.


"Setidaknya makan ini. Aku tidak mau nanti dimusuhi putriku karena dianggap abai dengan kesehatanmu. Kamu tahu sendiri kan, dia lebih menyayangimu daripada aku." Perintah Darius tidak mau dibantah.


Shaka tertawa pelan mendengar keluhan ayah mertuanya lalu menerima susu dan kue yang dibawakan Darius.


"Terima kasih, pa." Kata Shaka. Dia lalu mulai meminum susunya sambil terus menatap Kira.


Darius terus menatap lekat wajah menantu laki-lakinya. Matanya seolah menelisik raut wajah laki-laki yang telah merebut tempatnya dan Pierre di hati Kira.


"Rasanya seperti baru kemarin aku melihatmu menerobos masuk ke dalam rumahku tanpa permisi, lalu meminta restuku untuk hubungan kalian." Kata Darius terkenang saat pertama bertemu Shaka.


"Saat itu kak Adam menipu aku untuk memancingku datang ke rumah. Dan sampai sekarang aku berterima kasih untuk itu." Jawab Shaka sambil terkekeh pelan.


"Maaf. Dulu aku selalu meragukanmu. Sampai harus membuatmu bekerja keras demi meyakinkan aku. Kamu bahkan sampai bertaruh nyawa demi Kira. Tapi bagaimana lagi. Aku hanya seorang ayah yang ingin melindungi putrinya." Kata Darius sambil menatap lekat mata Shaka.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, pa. Aku juga seorang ayah dan mempunyai tiga putri. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama pada setiap laki-laki yang mendekati mereka." Sahut Shaka dengan senyum mengembang.


"Aku sangat mencintainya." Sahut Shaka tanpa ragu.


"Kamu sangat gila untuk ukuran remaja berusia 18 tahun. Jatuh cinta pada janda beranak dua yang bahkan usianya sepuluh tahun lebih tua darimu. Lalu memilih untuk menikah di usia yang begitu muda." Ejek Darius.


"Salahkan Kira. Putri papa membuatku tergila-gila sejak pandangan pertama." Balas Shaka.


"Dulu banyak laki-laki yang tergila-gila pada Kira. Beberapa diantara mereka bahkan lebih baik darimu, dan pastinya dengan usia yang lebih matang. Tapi dia justru lebih memilihmu. Anak dari rivalku." Sungut Darius.


"Maaf, pa. Tapi aku memang tampan dan mempesona. Kira selalu memujiku dan mengatakan kalau aku adalah brondong paling tampan segalaksi bima sakti." Goda Shaka hingga membuat Darius semakin cemburu pada menantunya.


"Tapi tetap saja. Aku cinta pertama Kira, bahkan sampai sekarang." Balas Darius tidak mau kalah.


"Bukankah tadi papa sendiri yang bilang kalau Kira lebih menyayangi aku..??" Sahut Shaka penuh kemenangan. Darius hanya bisa menggerutu karena kalah berdebat dengan Shaka.


Darius dan Shaka langsung terdiam saat merasakan Kira menggeliat pelan karena merasa terusik oleh perbincangan absurd mereka. Keduanya menghela napas lega saat melihat Kira kembali tertidur pulas.


"Setelah Kira sembuh, aku akan menjalani vasektomi." Kata Shaka sambil menatap lekat wajah Kira yang begitu damai.


"Kamu masih sangat muda dan sehat. Aku rasa itu bukan pilihan yang baik untukmu." Tolak Darius. Shaka menoleh ke arah mertuanya.


"Lalu..?? Toh aku juga tidak akan menikah lagi. Dan aku sudah punya delapan anak. Bahkan seandainya aku hanya punya satu anak pun aku tetap akan mengambil keputusan yang sama." Balas Shaka tanpa keraguan.


"Apa kamu sudah membicarakannya dengan Kira..??" Tanya Darius.


"Belum. Aku akan membicarakannya setelah cangkok tulang sumsum dilakukan. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku akan melakukan vasektomi." Jawab Shaka.


"Kira masih belum mendapatkan menopause. Aku takut dia hamil lagi dan kembali kesakitan seperti sekarang. Lagipula di usianya sekarang sudah tidak aman untuk kembali hamil." Lanjut Shaka.


"Kenapa kamu tidak meminta Kira untuk steril..??" Tanya Darius lagi. Shaka kembali tersenyum.


"Dulu saat awal mengetahui Kira sakit, aku selalu berusaha menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Aku takut akan membuat Kira kelelahan atau menyakitinya. Tapi Kira justru merasa tidak percaya diri. Dia mengira aku melakukannya karena Kira tidak sempurna. Aku hanya takut kalau Kira melakukan steril dia akan kembali merasa tidak percaya diri. Jadi lebih baik aku saja yang melakukan vasektomi. Toh kami adalah pasangan sempurna, dengan delapan anak yang luar biasa. Aku tidak punya alasan apapun untuk tidak melakukannya." Jawab Shaka. Darius tertegun mendengar penjelasan Shaka.


"Kenapa kamu sangat mencintai putriku." Kata Darius.


"Entahlah. Pertama kali aku bertemu Kira, saat itu juga aku merasa dia akan menjadi tujuan hidupku. Aku melakukan apapun untuk mendapatkan tujuanku. Kira. Dulu aku orang yang begitu buruk. Tapi sejak bertemu Kira, perlahan berubah. Aku selalu merasa kecil dihadapan Kira. Karena itu aku ingin menjadi orang yang lebih baik, agar aku pantas bersamanya. Dan disinilah aku sekarang. Hidup bahagia bersama Kira dan keluarga kami." Jawab Shaka panjang lebar.


"Aku rasa menyerahkan putriku padamu adalah keputusan paling tepat yang aku ambil di seumur hidupku." Kata Darius.


"Terima kasih. Sampai sekarang hari pernikahan kami adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Dan setelah itu Kira memberiku banyak kebahagiaan. Lebih tepatnya delapan kebahagiaan. Edo dan Dit-dit memang bukan anak kandungku. Tapi aku sangat menyayangi mereka. Hari dimana Kira membawa mereka bertiga dalam hidupku adalah salah satu hari terbaik dalam hidupku. Semua itu tidak akan pernah terjadi kalau papa tidak menyerahkan Kira padaku." Sahut Shaka.


"Hmmm.. untung saja dulu Edna lebih memilih aku. Kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah punya menantu bucin sepertimu." Balas Darius pura-pura kesal.


"Jadi kamu akan tetap pada keputusanmu untuk melakukan vasektomi..??" Tanya Darius memastikan.


"Ya. Aku tidak akan merubah keputusanku." Jawab Shaka mantap.


Darius menatap Shaka yang kembali sibuk menciumi tangan Kira dan mengelus kepala putrinya dengan penuh cinta. Perasaan Darius menghangat sekarang tidak ada lagi kekawatiran dalam hatinya. Karena dia yakin Shaka akan selalu menjaga putrinya dan membuat Kira bahagia.