
Kira membuka matanya perlahan lalu mengedarkan pandangannya. Dia mengenali kamarnya meski dalam keremangan. Dilihatnya jam di dinding kamar, waktu menunjukkan jam 1 dini hari. Rupanya dia telah tertidur begitu lama. Perlahan Kira menyingkirkan lengan Shaka yang tengah memeluknya. Suaminya begitu terlelap sampai tidak terbangun saat dia mulai duduk di tepi ranjang mereka.
Kira menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Keinginan kedua putranya telah membuatnya kembali membuka ingatan lama yang menyakitkan. Tiba-tiba kenangannya bersama Pierre kembali berkelebat, juga dukanya saat pria itu tewas. Mendengar keinginan kedua putranya yang secara tidak langsung ingin mengikuti jejak ayah dan paman mereka membuatnya kembali dilanda ketakutan.
Dulu saat Pierre tewas butuh waktu bertahun-tahun untuk Kira kembali bangkit dan membuka hatinya. Bahkan saat beberapa waktu lalu Rendra juga nyaris bernasib sama, Kira sudah merasa begitu hancur. Kira tidak bisa membayangkan bila sampai terjadi hal buruk pada anak-anaknya.
Perlahan Kira bangkit dari duduknya. Tubuhnya memang masih terasa lemah, tapi dia memaksakan diri untuk ke dapur. Meski sebenarnya tidak berselera makan, tapi Kira sadar bahwa anak yang dikandungnya membutuhkan asupan.
Kira berhenti sejenak saat dilihatnya Adit tengah berdiri di depan rak foto yang ada di ruang keluarga. Adit tampak terpaku memandang foto Pierre dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Kira menatap lekat wajah Adit. Wajah Radit dan Adit selalu menjadi pelipur rindunya pada Pierre. Selain warna rambut dan kulit yang menurun dari Edna, juga hidung yang mereka warisi darinya, wajah kedua putranya begitu mirip dengan Pierre. Apalagi Radit yang sifatnya sedikit banyak juga mirip dengan ayahnya. Meski Kira sangat mencintai Shaka, tidak bisa dipungkiri bahwa Pierre tetap memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Kira menghela napas panjang saat dilihatnya Adit tampak tenggelam dalam dunianya sampai tidak menyadari kehadirannya.
“Adit.” Panggil Kira.
“Mama..??” Sahut Adit yang terkejut melihat Kira.
“Mama kenapa bangun..??” Tanya Adit kawatir.
“Mama lapar. Mau temani mama makan..??” Jawab Kira.
Adit mengangguk dan menuntun Kira berjalan menuju dapur. Dengan sigap remaja itu menyiapkan makan malam untuk ibunya. Kira dan Shaka membiasakan anak-anak mereka untuk tetap mengerjakan pekerjaan rumah setidaknya untuk urusan pribadi dan kebersihan kamar mereka. Begitu juga dengan urusan dapur. Karena itu anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
“Ini enak sekali. Terima kasih, sayang.” Kata Kira sambil mengacak pelan rambut Adit.
“Mama mau lagi..??” Kata Adit menawarkan.
“Tidak. Mama sudah kenyang.” Kata Kira sambil mengulas senyum hangat.
Adit senang melihat ibunya kembali tersenyum, tapi kemudian menundukkan kepalanya saat teringat kejadian siang sebelumnya.
“Adit, kenapa kamu ingin bergabung dengan militer..??” Tanya Kira. Adit tampak terdiam sejenak seolah tengah menimbang sesuatu.
“Karena sejak kecil aku memang menginginkannya, ma. Dan setiap kali melihat foto papa atau bertemu oom Rendra saat mengenakan seragam, keinginan itu semakin kuat hingga akhirnya menjadi tujuan hidupku. Dan terus terang, aku ingin tahu bagaimana kehidupan yang dulu dijalani papa. Kehidupan yang membuat papa bertemu dengan mama dan Oom Rendra.” Jawab Adit tanpa melepas pandangannya dari Kira.
"Jalan hidup yang juga merenggut papa dari kita." Kata Kira menimpali. Adit menunduk saat mendengar perkataan ibunya.
“Apa yang akan kamu lakukan kalau mama tetap tidak mengijinkanmu dan Radit untuk masuk akademi..?? Apa kalian akan bisa bahagia..??” Tanya Kira sambil menggenggam erat tangan Adit.
“Masih ada waktu sampai ujian akhir, ma. Sampai saat itu tiba aku dan Radit akan berusaha meyakinkan mama. Tapi kalau pada akhirnya mama tetap tidak mengijinkan, aku dan Radit sudah sepakat akan menuruti mama.” Jawab Adit dengan tatapan sendu lalu menundukkan kepalanya.
“Apa kamu tahu bagaimana perasaan mama, nak..?? Mama terus merasa ketakutan.” Kata Kira. Dia tidak tega saat melihat Adit putus asa dengan mengatakan akan menurutinya.
“Aku tahu, ma. Tapi bukankah mama sendiri yang sering mengatakan bahwa lebih baik mati tanpa membawa penyesalan daripada hidup dengan terus membawa beban penyesalan..?? Mama juga yang mengatakan bahwa hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan.” Sahut Adit.
Kira terus menatap lekat wajah Adit dan menghela napas panjang. Dielusnya wajah Adit dengan satu tangannya sembari mengukir senyum hangat di bibirnya.
“Seperti yang kamu bilang tadi, kalian memiliki waktu sampai ujian akhir untuk meyakinkan mama atas pilihan kalian.” Kata Kira.
Meski berat, Kira juga tidak ingin memaksakan keinginannya pada Dit-dit. Dia tidak ingin anak-anaknya akan menjalani hidup dengan rasa penyesalan.
“Jadi mama mengijinkan..??” Tanya Adit dengan wajah berbinar.
“Mama perlu waktu untuk memikirkannya, Dit. Beri mama waktu sampai nanti saat ujian akhir selesai.” Jawab Kira.
“Terima kasih, ma. Terima kasih.” Kata Adit senang sambil memeluk erat tubuh ibunya.
“Mama sangat menyayangi kalian.” Bisik Kira.
“Aku dan Radit juga sayang banget sama mama.” Sahut Adit sambil terisak.
Tiba-tiba rasa sayangnya pada Kira begitu meluap hingga membuat dadanya sesak. Rasanya seakan tidak akan pernah cukup meski setiap hari dia mengatakan rasa sayangnya pada ibunya.
“Ma..??” Panggil Adit saat Kira tiba-tiba terdiam.
“Mama.” Panggil Adit lagi karena merasa tidak mendapat tanggapan dari Kira.
Perlahan Adit melepas pelukannya dan menyadari tubuh Kira luruh dan hampir jatuh ke lantai kalau dia tidak sigap menahannya.
“MAMAAAA..!!” Seru Adit terkejut saat melihat Kira pingsan.
Dilihatnya wajah Kira yang begitu pucat dengan tubuh dingin dan bibir yang mulai berubah biru. Adit segera mengangkat tubuh Kira dan meletakkannya di atas sofa lalu bergegas ke kamar orangtuanya.
“Papa..!! Papa..!! Bangun, pa..!!” Panggil Adit sambil menggedor pintu kamar orangtuanya.
“Dit, mama pingsan. Aku lagi mau bangunin papa..!!” Kata Adit.
“APA..??!! Dimana mama sekarang..??” Seru Radit.
“Di sofa ruang keluarga.” Sahut Adit.
Tanpa mengatakan apapun Radit bergegas menuju ruang keluarga.
“PA..!! PAPA..!!” Teriak Adit lebih keras.
“Kamu kenapa, Dit..??” Tanya Shaka yang terlihat belum sadar sepenuhnya.
“Pa, mama pingsan. Mama di ruang keluarga.” Seru Adit panik.
Shaka terkejut lalu menoleh ke arah ranjangnya. Dia baru menyadari ternyata Kira sudah tidak ada disana.
“Bangunin oom Yudha sekarang..!!” Perintah Shaka lalu bergegas menyusul istrinya.
“Sayang.. sayang, bangun. Buka matamu.” Kata Shaka sembari menepuk pelan pipi Kira dengan tangan gemetar. Dia ketakutan saat merasakan tubuh Kira yang begitu dingin.
"Maafin aku, pa. Maafin aku. Tadi aku dan mama sedang membicarakan tentang keinginanku dan Radit masuk akademi lalu mama pingsan." Kata Adit dengan terisak.
Shaka hanya diam dan tidak mengatakan apapun, seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Adit. Lelaki itu terus memeluk Kira dengan perasaan kawatir.
"Tenanglah dulu, Dit. Yang penting sekarang menolong mama dulu." Kata Radit sambil meremas bahu Adit untuk menenangkannya.
“Shaka, minggirlah. Biar aku periksa Kira.” Kata Yudha yang sudah ada disana.
Yudha tampak berkonsentrasi untuk memeriksa Kira, matanya membulat saat melihat tekanan darah kakaknya.
“Shaka, kita harus bawa Kira ke rumah sakit sekarang juga.” Kata Yudha panik.
“Radit.. Adit.. kalian di rumah dan jaga adik-adik kalian.” Perintah Shaka lalu mengangkat tubuh Kira dan membawanya keluar menuju garasi mobil.
Yudha tampak mengikuti Shaka. Dia duduk di bangku belakang bersama Kira untuk terus memantau kondisinya. Yudha meraih ponselnya lalu tampak menghubungi seseorang.
“Haloooo..” Sapa Adam di seberang telpon dengan suara serak karena bangun tidur.
“Kak, cepat ke rumah sakit sekarang. Ajak mama juga. Kondisi Kira semakin menurun dan kemungkinan dia akan membutuhkan tranfusi darah.” Kata Yudha.
“Aku segera kesana..!!” Sahut Adam lalu langsung menutup telpon.
Setelah tiba di Orchid hospital Shaka segera mengangkat tubuh Kira memasuki ruang IGD. Dokter dan perawat telah menunggu mereka karena dalam perjalanan Yudha sudah menghubungi rumah sakit. Dua orang perawat tampak menghampiri dengan membawa drag bar. Setelah Shaka meletakkan tubuh Kira seorang dokter tampak memeriksa kondisi wanita itu lalu membantu kedua perawat mendorong drag bar yang membawa tubuh Kira. Saat tiba di ruang tindakan tampak Adam, Edna, dan Darius telah menunggu disana.
“Yudha, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kondisi Kira tiba-tiba seperti ini..??” Tanya Edna.
“Aku belum tahu, ma. Sekarang yang terpenting menolong Kira dulu, baru setelah itu akan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh.” Jawab Yudha.
“Mama dan kak Adam sudah mendonorkan darah..??” Lanjut Yudha.
“Sudah. Tadi begitu datang mereka langsung mengambil darah kami.” Sahut Adam.
“Shaka, tenanglah. Aku yakin Kira akan baik-baik saja.” Kata Darius sambil menepuk pelan bahu Shaka untuk menenangkannya.
“Maafkan aku, pa. Harusnya aku lebih berhati-hati. Jadi Kira tidak sampai hamil lagi di usianya sekarang.” Sahut Shaka dengan suara tercekat.
“Yudha sudah menjelaskan semuanya. Sebenarnya tidak masalah untuk Kira hamil. Hanya saja mungkin memang ada masalah dengan kehamilan Kira sekarang. Dan itu bisa saja terjadi pada wanita manapun tanpa memandang usia, Shaka.” Kata Darius lagi.
“Kita lihat nanti bagaimana hasil pemeriksaan Kira.” Sahut Adam.
Malam itu pun mereka terus menunggu di depan kamar tindakan dengan perasaan cemas tanpa berhenti berdoa untuk keselamatan Kira.
********************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza