(Family) Bound

(Family) Bound
Kabar Buruk



Setelah menunggu beberapa lama dokter yang menangani Kira keluar dan mengatakan bahwa kondisinya stabil. Shaka terus menunggui Kira yang telah dipindah ke ruang President Suite. Digenggamnya tangan Kira sambil sesekali menciumi tangan yang terlihat begitu kurus.


Matahari telah menyapa saat Kira terbangun. Dia mengenali ruang President Suite tempatnya dirawat, dlihatnya Shaka tertidur disamping ranjangnya dalam posisi terduduk dan menggenggam tangannya. Edna dan Darius juga tampak tertidur di ranjang tidak jauh dari tempatnya. Edna yang kebetulan juga terbangun bergegas menghampiri Kira.


“Sayang, kamu sudah bangun..??” Bisik Edna sembari mengelus lembut kepala putrinya.


“Maaf membuat mama dan papa kawatir.” Jawab Kira lirih.


“Jangan pikirkan itu, yang terpenting kamu dan cucu mama sehat. Suamimu juga sangat mengkawatirkanmu.” Sahut Edna.


Shaka terbangun karena mendengar suara orang yang tengah berbincang. Wajahnya yang semalam tampak muram kembali berbinar.


“Sayang, bagaimana perasaanmu. Apa kamu masih merasa sakit..??” Tanya Shaka kawatir.


“Aku merasa lebih baik, Bie. Tubuhku terasa lebih segar dari sebelumnya.” Jawab Kira.


“Bagaimana dengan anak-anak..??” Tanya Kira kawatir karena ingat Edo tidak ada untuk menjaga mereka.


“Bi Lastri dan pak Tarno akan mengurus mereka. Kak Maudy akan datang untuk membantu, sepertinya Luna juga akan datang. Kamu tidak perlu kawatir.” Jawab Shaka.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Bie..??” Tanya Kira lagi.


“Jangan kamu pikirkan. Fahri dan Rosi membantuku mengurus kantor.” Jawab Shaka.


“Maafkan aku.” Kata Shaka lalu mengecup lama kening Kira.


“Kenapa kamu minta maaf, Bie..??” Tanya Kira keheranan.


“Kalau saja aku tidak egois dan lebih berhati-hati, pasti kamu tidak sampai hamil lagi dan sakit seperti ini, sayang.” Jawab Shaka dengan wajah penuh penyesalan.


“Bie, aku baik-baik saja. Banyak temanku yang juga kesulitan saat hamil bahkan kondisi mereka jauh lebih buruk dariku. Ini memang kodrat kami para wanita, Bie.” Jawab Kira sambil mengelus lembut pipi Shaka.


“Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu.” Kata Shaka lalu mengecup lembut bibir Kira.


Hari itu Kira menjalani serangkaian tes untuk memeriksa kesehatan dan kandungannya. Darius dan Edna terus menemani Kira dan Shaka. Saat hari menjelang sore, ruang president suite tampak ramai karena anak-anak Kira datang untuk menjenguk.


BRAAAAAKK..!!


“Mommy..!!” Edo membuka pintu dengan keras lalu menghambur ke arah Kira.


“Ed..?? Kenapa kamu sudah kembali..??” Tanya Kira terkejut.


“Adit mengabari aku kalau kemarin mommy pingsan dua kali dan akhirnya masuk rumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi..??” Tanya Edo kawatir, dia memandang semua orang di ruangan itu seakan mencari jawaban.


“Mommy-mu tidak apa-apa, Ed.” Kata Edna menenangkan Edo.


“Lalu kenapa mommy bisa dirawat di rumah sakit, eyang..??” Tanya Edo belum puas dengan jawaban Edna.


“Tekanan darah dan HB mommy-mu terlalu rendah. Karena itu dia pingsan dan membutuhkan tranfusi darah.” Jawab Edna lagi.


“Hari ini oom Yudha sudah melakukan pemeriksaan kesehatan mommy-mu. Nanti malam hasilnya akan keluar.” Kata Shaka.


“Aku ingin tetap disini dan mendengar langsung mengenai hasilnya.” Kata Edo.


“Edo, kamu baru saja melakukan perjalanan panjang. Kamu pasti lelah.” Kira menimpali.


“Aku bisa beristirahat disini.” Kata Edo keras kepala.


“Baiklah. Terserah kamu saja.” Kata Kira menyerah.


Malamnya, setelah anak-anak Kira pulang dengan diantar Rendra dan Yudhi. Yudha tampak duduk bersama Adam, Edo, Darius, dan Edna. Shaka duduk di samping ranjang Kira dan terus menggenggam kuat tangannya. Raut wajah Yudha tampak sangat serius, membuat keluarganya terus bertanya-tanya dan kawatir.


“Sebelum menyampaikan hasil pemeriksaan aku ingin mengatakan bahwa Kira tengah hamil anak kembar. Lagi.” Kata Yudha tersenyum hangat.


“Benarkah..??” Kata Kira tidak percaya.


“Sebenarnya ini hal yang wajar. Wanita seusiamu memang seringkali hamil anak kembar.” Jawab Yudha.


“Aku tidak bisa membayangkan seramai apa rumah mereka nantinya.” Kata Adam yang disambut cubitan keras dari Edna.


“Lalu bagaimana hasil pemeriksaannya..??” Tanya Shaka cemas.


Yudha tampak menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Shaka.


“Kira mengalami Syok Hipovolemik.” Jawab Yudha dengan suara berat.


“Apa itu..??” Tanya Shaka dengan wajah pucat.


Shaka tidak mengerti apa yang dikatakan adik iparnya. Tapi melihat raut wajah Yudha, dia yakin ini pasti sesuatu yang buruk.


“Itu adalah kondisi yang disebabkan oleh hilangnya darah dan cairan tubuh dalam jumlah yang besar, sehingga jantung tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh.” Jawab Yudha.


“Tapi aku tidak terluka dan selalu sehat, Yud.” Kata Kira.


“Aku, dokter Mira, juga beberapa dokter lainnya sudah mempelajari riwayat medismu dan membicarakannya. Kami menyimpulkan bahwa ini efek jangka panjang dari kejadian 11 tahun tahun lalu.” Kata Yudha.


“Maksudmu..??” Tanya Darius.


“Saat Kira mengalami kecelakaan dan nyaris tewas, pa. Saat itu Kira kehilangan banyak darah. Ditambah lagi selama 2 hari dia terus diberi obat yang menyebabkan tekanan darah dan hemoglobin dalam tubuhnya menurun drastis. Obat itu yang secara tidak langsung membuat tubuh Kira melemah hingga tidak sadarkan diri selama dua hari. Sampai sekarang aku belum tahu obat apa yang diberikan Lucas kepada Kira. Bahkan Baskara pun tetap tutup mulut. Karena tidak tahu obat untuk menyembuhkannya, aku hanya bisa memantau kondisi kesehatan Kira. Tapi aku melihat kesehatan Kira yang baik-baik saja hingga akhirnya aku melupakannya. Mengira efek obat itu akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Ternyata obat itu memiliki efek jangka panjang yang secara perlahan terus membuat kadar HB dalam darah Kira terus menurun, begitu juga dengan tekanan darahnya. Saat ini pendarahan sekecil apapun akan berbahaya untuk Kira.” Kata Yudha menerangkan.


“Apakah kehamilan Kira yang memicunya..??” Tanya Shaka dengan suara tercekat. Yudha menggelengkan kepala.


“Bahkan jika Kira tidak hamil pun dia akan tetap dalam kondisi ini. Saat Kira mengalami menstruasi nyawanya juga akan dalam bahaya karena akan membuatnya kehilangan banyak darah. Kebetulan saja saat ini dia sedang hamil. Sebenarnya ini ada baiknya juga, karena artinya Kira tidak akan mengalami menstruasi dan kita punya waktu untuk mencari solusinya, setidaknya sampai tiba saatnya Kira melahirkan.” Kata Jawab Yudha.


“Apakah aku akan kehilangan anak-anakku..??” Tanya Kira mulai terisak.


“Kita akan berusaha untuk terus mengawasi dan menjaga kesehatanmu. Hanya itu satu-satunya cara. Masalahnya dengan bertambahnya usia kandungan kondisimu akan semakin menurun. Kamu akan semakin sering pingsan, tubuhmu akan terus merasa lemah, tangan dan kakimu akan terus terasa dingin karena suhu tubuhmu yang menurun, jantung berdebar-debar, dan yang paling berbahaya tekanan darahmu bisa saja terus menurun. Kita hanya bisa memberikan vitamin dan obat-obatan untuk menjaga tekanan darahmu, juga transfusi darah kalau kadar HB-mu sangat rendah. Selebihnya bergantung dengan seberapa kuat kondisi tubuhmu nantinya.” Kata Yudha.


“Apa tidak ada cara lain lagi..??” Tanya Shaka masih dengan suara tercekat.


“Untuk sekarang tidak ada. Bahkan bila kita menggugurkan kandungan Kira pun akan tetap membahayakan nyawanya karena pasti menyebabkan pendarahan.” Jawab Yudha.


“Bagaimana dengan kondisi mommy setelah melahirkan..??” Tanya Edo.


“Kalau tiba waktunya mommy-mu melahirkan dan kita masih belum menemukan solusinya, nyawa Kira akan dalam bahaya saat proses kelahiran juga selama masa nifas. Setelah itu pun kita masih harus terus berjaga setiap kali mommy-mu mengalami menstruasi.” Jawab Yudha.


Yudha tampak mengeraskan rahangnya, begitu berat untuknya menyampaikan berita buruk ini pada keluarganya sendiri, apalagi saat dilihatnya Edna terus menangis. Shaka dan Kira tampak berpelukan dan menangis bersama. Shaka terus mencium wajah Kira bertubi-tubi seolah takut itu akan menjadi saat terakhirnya mencium Kira.


“Mommy.. mommy harus bertahan.. mommy tidak boleh meninggalkan kami begitu cepat. Mommy harus janji untuk terus bertahan. Janji sama Edo, mom..!!” Kata Edo sembari menghambur dan menangis dalam pelukan Kira.


Kira tidak dapat mengatakan apapun dan hanya bisa membalas pelukan Edo begitu erat, membuat pemuda itu menangis semakin keras karena rasa takut kehilangan sosok ibu yang sangat dia sayangi.


“Setelah ini kamu harus mengurangi aktifitasmu, Kira. Karena kelelahan akan menyebabkan tekanan darahmu turun dengan cepat. Kamu juga bisa pingsan sewaktu-waktu, terutama saat kondisimu tengah lemah. Aku dan beberapa dokter akan membuat jadwal pemeriksaanmu juga menyiapkan cadangan darah bila sewaktu-waktu kamu membutuhkan transfusi.” Kata Yudha sembari melempar pandangan pada Adam dan Edna.


“Ambil darahku sebanyak yang kamu mau. Aku tidak peduli.” Kata Adam tegas, sementara Edna masih belum berhenti menangis.


“Aku akan mencari informasi mengenai orang-orang yang juga mempunyai golongan darah yang sama dengan Kira. Aku minta tolong mama dan kak Adam lebih menjaga kesehatan. Lakukan olahraga rutin, jaga pola makan, istirahat yang cukup, jangan stress, dan jangan terlalu lelah. Karena semua itu juga menentukan bisa tidaknya mama dan kak Adam mendonorkan darah untuk Kira.” Kata Yudha menjelaskan.


Edna hanya bisa mengangguk dalam pelukan Darius karena masih terus menangis.


“Aku akan menunjuk dokter spesialis hematologi untuk menangani Kira. Dokter Mira juga akan datang untuk terus memantau kandungan Kira. Juga seorang dokter spesialis jantung dan onkologi. Kami akan membuat jadwal untuk pemeriksaan Kira. Dan mereka akan melaporkan setiap perkembangan Kira padaku. Kami berlima akan bekerjasama mencari jalan untuk menyelamatkan Kira dan kedua anaknya.” Kata Yudha.


“Lakukanlah yang terbaik, Yudha. Papa percaya padamu.” Kata Darius. Yudha hanya mengangguk untuk menjawab perintah Darius.


"Siaaaall..!! Bahkan dari kuburnya pun Lucas masih bisa mengusik kami. TERK**UK KAU, LUCAS..!!" Geram Adam dalam hati.


********************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza