
Kira tertegun menatap amplop cantik yang ada di tangannya. Sebuah surat undangan. Perlahan dibukanya surat itu, senyumnya merekah saat membaca undangan reuni SMA untuk angkatannya. Selama ini dia tidak pernah menghadiri acara reuni sekolahnya karena selalu sibuk mengejar gelar juga tugas sebagai relawan. Terakhir dia mendapatkan undangan tidak lama setelah melahirkan Satria, dan kebetulan Edna lupa menyampaikan padanya karena selama ini undangan dialamatkan ke rumah utama.
"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum sendiri..??" Tanya Shaka yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Bie, aku mendapat undangan reuni SMA. Acaranya minggu depan." Jawab Kira sambil membantu Shaka yang sudah duduk di tepi ranjang untuk mengeringkan rambutnya.
"Reuni SMA..??" Gumam Shaka dengan tatapan was-was.
"Iya, Bie. Kamu kenapa..??" Tanya Kira kebingungan.
"Aku ingat dulu Yudhi dan Yudha sering cerita kalau kamu populer saat SMA. Banyak laki-laki yang mengejarmu." Jawab Shaka dengan wajah cemberut.
"Astaga, Bie. Itu waktu aku masih muda. Sekarang berapa umurku..?? Apalagi aku sudah punya 6 anak, dan perutku sudah mulai buncit gini karena mau punya baby lagi. Lagian orang-orang yang mengejarku pasti juga sudah menikah semua, Bie." Sahut Kira terkekeh pelan.
"Tapi kamu selalu terlihat cantik, sayang. Bagaimana kalau sampai ada salah satu teman SMA-mu yang rela jadi pebinor demi dapetin kamu..??" Sungut Shaka.
"Nyesel punya istri cantik..??" Goda Kira.
"Ga mungkinlah. Aku juga percaya istriku ini akan tetap setia. Tapi aku tidak percaya dengan setiap lelaki yang akan datang di acara itu. Lagian aku juga sering denger para mantan yang CLBK gara-gara reuni." Sahut Shaka dengan wajah yang semakin ditekuk.
"Uluuuh.. uluuuuuh.. ternyata suamiku ini sedang cemburu ya." Kata Kira sambil mencubit gemas kedua pipi Shaka seperti anak kecil.
"Ccckk.. namanya juga cinta, wajar kan kalau cemburu." Sungut Shaka lagi.
"Ayolah, Bie. Aku sudah lama sekali ga ketemu teman-temanku. Boleh yaaa.. yaaaa.. yaaaa.." Bujuk Kira sembari duduk di pangkuan Shaka dan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Laki-laki itu mendengus kesal mendengar permintaan istrinya, tapi merasa tidak berdaya untuk menolak.
"Oke. Tapi aku ikut. Ga usah dandan cantik untuk acara itu. Dan selama disana jangan deket-deket temen cowok apalagi mantan, ga usah tukeran nomer hp sama temen cowok, trus kalo aku ajak pulang harus mau. Ga pake ngeles bilang masih kangen atau apalah." Kata Shaka masih sewot. Kira menggelengkan kepala pelan melihat tingkah Shaka.
"Iyaaaa.. suamiku.. surgaku.. brondong paling cakep segalaksi bima sakti. Iiiiihhh.. ini makin cakep aja sich kalo lagi ngambek." Goda Kira sembari menciumi pipi Shaka bertubi-tubi, membuat wajah lelaki itu melunak.
"Sudah. Ayo buruan sholat Isya'. Anak-anak pasti udah nungguin untuk makan malam." Kata Kira sembari menarik tangan Shaka.
****
Hari diadakannya reuni SMA Kira akhirnya tiba. Seharian Shaka terus gelisah dan uring-uringan karena terngiang banyak cerita yang dia dengar mengenai CLBK yang sering muncul di acara reuni sekolah. Saat Kira bersiap, Shaka yang memilih sendiri busana yang harus dikenakan istrinya. Dia juga terus mengawasi saat Kira tengah memoleskan make-up di wajahnya, memastikan istrinya tidak terlihat terlalu menarik perhatian. Tapi mau bagaimana lagi, Kira tetap terlihat cantik meski hanya memoleskan make-up tipis dan natural dengan dress simple selutut berlengan panjang.
"Yakin tetap mau berangkat, yang..??" Tanya Shaka dengan wajah cemberut.
"Aku kan sudah konfirmasi kehadiran, Bie. Lagian ga enak bolak-balik diundang tapi ga pernah dateng. Kamu kan tempo hari juga sudah kasi ijin." Jawab Kira. Shaka mendengus kesal karena memang benar dia sudah memberi ijin kepada Kira.
"Tapi ingat yaaaa.. disana jangan deket-deket sama cowok terutama mantan." Kata Shaka memastikan.
"Iya, Bie.. iyaaaaaa.. lagian kamu kan juga ikut, Bie." Sahut Kira mulai kesal. Shaka hanya diam melihat Kira yang kesal.
Setelah siap Shaka dan Kira berangkat ke acara reuni yang diadakan di salah satu gedung pertemuan di ibukota. Banyak teman satu angkatan Kira yang senang dengan kedatangannya, mengingat selama 25 tahun setelah lulus nyaris tidak ada kabar dari wanita itu. Seperti dugaan Shaka sebelumnya, banyak teman pria Kira dari masa SMA yang masih mengagumi istrinya. Beberapa bahkan tanpa sungkan terang-terangan menunjukkan kekaguman mereka tanpa peduli dengan keberadaan Shaka yang selalu mengekori Kira selama acara.
"Kira..?? Kamu Kirana kan..??" Terdengar suara seorang pria memanggil Kira.
Wanita itu menoleh dan tampak terkejut melihat kehadiran seorang pria yang masih terlihat tampan dan gagah di usianya yang menginjak 43 tahun.
"Arian..??" Sahut Kira masih terkejut.
"Akhirnya kamu datang juga. Tadinya aku tidak percaya waktu Hasna bilang kalau kamu akan datang. Ternyata kamu benar-benar datang." Kata Arian dengan terus menatap lekat wajah Kira.
"Iyaaa.. Akhirnya aku bisa gabung acara ini. Kamu apa kabar, Rian..??" Sapa Kira ramah.
"Aku baik-baik saja. Kamu apa kabar..??" Tanya Arian lagi.
"Alhamdulillah baik juga. Ooooh.. iya.. kenalkan ini suamiku, Shaka." Kata Kira memperkenalkan suaminya.
"Shaka." Kata Shaka mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
"Arian." Sahut Arian dingin sembari menyambut uluran tangan Shaka.
Arian memandang Shaka dari atas ke bawah dengan tatapan tidak suka. Kedua pria itu tampak saling melempar tatapan tajam.
"Kamu semakin cantik saja, Kira. Berapa anakmu sekarang..??" Tanya Arian mengabaikan kehadiran Shaka.
"Terima kasih. Anakku sebentar lagi 7." Jawab Kira sambil terkekeh.
"Wooooww..!! Kamu benar-benar ingin membuat keluarga besar rupanya. Berarti sekarang kamu sedang hamil..??" Kata Arian takjub. Kira hanya tersenyum dan mengangguk.
"Pantas kamu terlihat begitu cantik. Yang aku tahu wanita hamil memang selalu terlihat bersinar." Puji Arian yang membuat Kira sungkan dan Shaka geram.
"Tentu saja. Bahkan saat tidak hamil pun Kira selalu bersinar. Karena dia bahagia." Sahut Shaka sembari merengkuh pinggang Kira. Arian tampak geram melihat pemandangan di depannya.
"Sayang sekali kamu tidak pernah datang di acara-acara sebelumnya. Padahal dulu aku benar-benar berniat untuk kembali mendekatimu dan melamarmu." Kata Arian tanpa menghiraukan Shaka.
"Berarti kita memang tidak berjodoh, Rian. Dan aku sudah menemukan jodohku. Seperti yang suamiku katakan, kami bahagia." Kata Kira membalas pelukan Shaka. Membuat suaminya tersenyum penuh kemenangan.
"Ngomong-ngomong, kamu datang dengan istrimu..??" Tanya Kira.
"Aku datang bersama keponakanku. Putri bungsu kakak sulungku. Aku bercerai sejak 8 tahun yang lalu. Alasannya sederhana, aku tidak mencintainya." Jawab Arian santai. Matanya terus menatap lekat pada Kira dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Oooh.. maaf." Kata Kira terlihat canggung.
"Tidak perlu sungkan." Sahut Arian.
"Oom Arian, ternyata Oom disini..??" Panggil seorang wanita.
Kira dan Shaka menoleh karena merasa familiar dengan suara itu. Mereka terkejut saat melihat siapa yang memanggil Arian.
"Kate..??" Panggil Kira lirih.
"Shaka." Panggil Kate dengan wajah berbinar tanpa menghiraukan keberadaan Kira dan Arian.
Kate senang akhirnya dapat bertemu Shaka setelah berbulan-bulan. Sedangkan Shaka hanya melengos dan mengabaikan panggilan gadis itu.
"Iya, Oom. Hotel papa bekerjasama dengan travel agent milik Shaka. Apa kabar, Shaka..??" Tanya Kate tanpa melepas pandangan dari Shaka.
Shaka hanya diam tanpa menoleh ke arah Kate. Kira yang melihat wajah kesal suaminya, menggenggam erat tangan Shaka seolah menenangkannya. Arian menatap tajam saat melihat sikap aneh Kira dan Shaka.
"Kami baik, Kate." Jawab Kira mewakili Shaka. Kate kesal karena Shaka mengabaikannya.
"Dia keponakanmu..??" Tanya Kira.
"Benar. Dia anak bungsu kakak perempuanku." Jawab Arian.
"Sayang, ayo kita pulang." Kata Shaka kembali merengkuh pinggang Kira dan memeluknya erat.
"Ayo." Kata Kira tanpa membantah. Kira tersenyum hangat pada suaminya.
"Maaf, kami pergi dulu." Pamit Kira.
"Kenapa begitu cepat..?? Bahkan belum ada 1 jam sejak dimulainya acara." Tanya Arian tampak tidak rela melepaskan Kira.
"Aku lelah, Rian. Bukankah sudah kukatakan aku sedang hamil, jadi aku mudah lelah. Lagipula anak-anak kami pasti sudah menunggu di rumah." Jawab Kira ramah kembali membalas pelukan Shaka.
"Baiklah. Boleh aku minta nomer HP-mu..??" Tanya Arian.
"Tidak boleh..!!" Sahut Shaka dingin.
"Aku tidak bertanya padamu." Kata Arian dingin. Sejak tadi ini pertama kalinya Arian menanggapi Shaka.
"Tapi aku suami Kira. Jangan lupa itu." Kata Shaka dengan senyum sinis.
"Kami pergi dulu." Pamit Kira sembari menarik pelan tangan Shaka untuk meninggalkan tempat itu.
Shaka menoleh ke arah Kira dan tersenyum, lalu menggandeng tangan istrinya, menuntunnya keluar dari tempat acara. Arian terus memandang Shaka dan Kira dengan wajah kesal. Kate yang melihat perubahan wajah Arian dapat menangkap apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi, dia wanita yang selama ini Oom Arian sering ceritakan..?? Gadis yang dulu saat SMA Oom Arian kejar tapi terus menolak cintamu..??" Tanya Kate.
"Bukan urusanmu." Jawab Arian kesal.
"Kirana memang cantik, bahkan di usianya sekarang. Karena itukah kamu terus mengejarnya..??" Kata Kate.
"Kirana cantik dan juga cukup populer. Tapi dia bukan gadis paling cantik dan populer di sekolah. Ada 2 gadis yang lebih populer dan lebih cantik dari Kira. Dan aku berhasil mendapatkan mereka. Sedangkan Kira, sampai sekarang dia adalah satu-satunya wanita yang belum bisa kudapatkan." Sahut Arian dingin.
"Aku menyukai suaminya, Shaka. Tapi dia terus menolakku. Dan keluargaku juga terus menekanku untuk berhenti mengejarnya." Kata Kate. Arian menaikkan sebelah alisnya, menunggu apa yang akan dikatakan keponakan kesayangannya.
"Bagaimana kalau kita bekerjasama..??" Tanya Kate.
"Kedengarannya menarik." Jawab Arian dengan seringai di wajahnya.
"Aku mendapatkan Shaka dan Oom mendapatkan Kirana. Bukankah itu adil..??" Kata Kate.
"Tentu. Tapi ingat. Meskipun sudah mendapatkan apa yang kita mau. Tidak ada yang berubah di antara kita. Jangan harap kamu akan lepas dariku, Kate." Desis Arian dengan mencengkeram erat dagu Kate. Mata Arian berkilat mengerikan, membuat tubuh Kate bergetar ketakutan.
"Pikirmu aku sebodoh itu sampai berani mengkhianatimu..??" Kate tersenyum untuk menyembunyikan ketakutannya.
"Gadis pintar. Bagaimana kalau nanti kamu mampir apartmentku dulu." Kata Arian dengan pandangan penuh arti.
"Kenapa tidak sekarang..??" Sahut Kate dengan mengerlingkan matanya.
Arian kembali menyeringai mendengar jawaban Kate. Mereka berdua meninggalkan tempat acara. Hanya Kate yang tahu dibalik wajah tampan Arian tersembunyi iblis yang begitu keji. Arian adik bungsu Vanessa, ibu Kate. Sejak kecil Arian sangat memanjakan Kate. Tapi saat beranjak remaja justru Arian yang merusak dan menghancurkan gadis itu hingga mengubahnya menjadi seperti sekarang. Tiba-tiba Kate merasa telah salah mengambil keputusan. Awalnya dia mengira kalau Arian mendapatkan Kirana, lelaki itu akan membebaskannya dan dia akan memiliki Shaka tanpa penghalang apapun. Tapi sekarang Kate sadar. Bukan hal mudah untuk lepas dari cengkeraman seorang Arian Hutama, putra dari Andreas Hutama dan Kayla Miller Hutama.
****
Shaka tampak fokus ke jalanan dengan wajah yang terlihat dingin. Entah kenapa perasaannya tidak enak saat bertemu Arian. Shaka dapat melihat bahwa Arian memiliki perasaan khusus pada Kira, sama seperti beberapa lelaki di acara reuni mereka. Tapi Arian berbeda. Shaka merasa lelaki itu akan melakukan apapun untuk mendapatkan Kira, meski dengan cara paling buruk sekalipun.
"Bie, kamu kenapa..?? Apa kamu marah..??" Tanya Kira karena sejak tadi Shaka terus diam.
"Apa hubunganmu dengan Arian dulu..?? Apa dia mantanmu..??" Tanya Shaka. Kira tertawa pelan mendengar pertanyaan Shaka.
"Bie, sebelum Pierre aku tidak pernah punya pacar. Selain karena aku waktu itu meyukai kak Andrew, juga karena ulah papa dan keempat saudaraku." Kata Kira.
"Kenapa bisa karena mereka..??" Tanya Shaka keheranan.
"Mereka berlima terlalu protective karena aku putri satu-satunya. Setiap kali ada pria yang mendekatiku mereka akan menyelidiki sampai hal terkecil sekalipun. Kalau mereka merasa ada yang salah dengan orang itu, mereka akan menciduknya untuk diinterogasi. Dan kalau menurut mereka lelaki itu tidak baik, mereka akan memastikan pria itu berhenti mendekatiku. Menurutmu kenapa aku sampai menyembunyikan hubunganku dengan Pierre..??" Jawab Kira kesal mengingat kelakuan keluarganya. Shaka tertawa mendengar keluhan Kira tentang ayah dan keempat saudaranya.
"Ya. Aku ingat dulu aku harus menghadapi ayah dan saudara-saudaramu demi untuk mendapatkanmu, terutama kak Adam." Kata Shaka.
"Jadi kamu tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Arian..??" Tanya Shaka.
"Tidak. Tapi aku akui Arian dulu menyukaiku dan terus mengejarku, tapi aku terus menolaknya. Dia memang selalu terlihat baik, tapi dia juga terkenal playboy. Entah kenapa firasatku selalu buruk bila terkait dengan Arian." Kata Kira sambil mengedikkan bahunya.
"Aku juga merasa seperti itu. Jadi jauhi dia. Jangan tanggapi kalau dia menghubungimu." Kata Shaka tegas.
"Aku tahu bagaimana menghadapinya, Bie. Lagian kan tadi aku tidak memberikan nomerku padanya." Sahut Kira dengan tersenyum.
"Tapi kamu harus tetap hati-hati, Ok..!!" Shaka memberikan perintah dengan tegas. Kira mengangguk dan tersenyum.
********************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza