
Rendy melepaskan pelukannya, tangan Rendy melingkar dipingang Yora. Wajah mereka saling berdekatan, dahi Rendy dan Yora saling menyatu dan mereka tersenyum manis dan ceria.
" Rendy. " Panggil Yora.
" Iya. " Jawab Rendy dengan dahi mereka yang masih saling bersatu.
" Apa kita akan menikah hari ini? " Tanya Yora.
" lya hari ini kita akan menikah, aku sudah tidak sanggup untuk menunda lagi. " Balas Rendy.
" Gaun pernikahan? " Tanya Yora.
" Tenang sayang, Mama mu ini sudah menyiapkan semuanya. " Celetuk Nanda dengan keras.
" Rendy, sebelum kita mengucapkan janji menikah. Buat surat perjanjian tentang syarat ku tadi. " Tutur Yora.
" Baiklah, aku akan memerintahkan seketarisku untuk mengurus segalanya. " Kata Rendy.
Nanda menarik tangan Yora dan membuat pasangan itu menjauh satu sama lain, Rendy menatap Aunty Nanda menarik dirinya yang lagi asik bersama Yora.
" Kau tidak ingin cepat menikah. " Ucap Nanda sambil menatap Rendy.
" Devon dan Liam bantu calon mantuku ini untuk bersiap. " Perintah Nanda.
" Siap. " Ucap mereka serempak.
Sedangkan Nanda dan Oliv membantu Yora untuk bersiap-siap karena acara akan segera dimulai.
Aula pernikahan, makan semuanya sudah siapkan hanya beberapa jam saja. Dengan kekuatan uang semua hal yang tidak bisa, akan bisa jika uang sudah berbicara.
Rendy sedang berada diruangan ganti pria, ia sedang duduk dengan wajah yang sedang dirias. Rendy menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di depannya ini. Bibir Rendy tersenyum karena dirinya akan menikah dengan gadis pujaan dirinya hari ini, hanya hal itu yang membuat dirinya merasa sangat senang dan bahagia.
Yora menatap tajam Mamanya yang dari tadi sangat sibuk sekali, bikin kepalanya sangat pusing. Dirinya yang nikah biasanya saja, yang ribet malah Mamanya itu. Dengan make up tipisnya, Yora sudah berganti pakaian dengan gaun mewah yang sudah disiapkan sama Mamanya.
Yora hanya mengetahui kalau gaun ini dibuat khusus sama Mamanya sudah sangat lama dan hari ini dirinya bisa mengenakan gaun indah dan yang pasti mewah.
Yora dibantu sama Oliv dan karyawan wanita yang mana adalah pegawai Mamanya, Mamanya juga sedang bersiap. Yora menatap dirinya dengan serius mengenakan gaun yang sangat indah dan mewah ini. Tanpa sadar air mata Yora keluar dari kelopak matanya, ia tidak tau akan menikah ditengah-tengah konflik.
" Kau sangat cantik dan luar biasa. " Ucap Oliv.
" Kau tidak salah pilih, Rendy yang terbaik untuk dirimu. " Ucap Oliv sambil menghapus jejak air mata sahabatnya yang keluar.
" Sekarang hanya ada kebahagian untuk Aunty Nanda dan kau Yora. " Ucap Oliv.
" Jadi sahabatku, mulailah hidup baru mu dan kau harus percaya kalau Rendy bukan pria yang akan membuatmu terluka. " Timpal Oliv sambil memegang ke dua bahu Yora.
" Iya, Oliv aku akan menikah. " Ucap Yora.
" Kau sudah cantik dan pasti Rendy akan semakin tergila-gila dengan dirimu. " Ucap Oliv.
" Bisa saja. " Balas Yora sambil terus menatap dirinya dipantulkan cermin besar ini.
" Ayo keluar Yora. " Kata Oliv sambil membantu Yora untuk keluar dari ruang ganti.
Yora sudah keluar dan Mamanya sedang berdiri untuk menunggu dirinya, Yora tersenyum karena Mamanya mengunakan gaun putih sederhana yang membuat Mamanya sangat cantik, tapi sangat elegan jika Mamanya yang memakainya.
" Kau sangat cantik, putriku memang yang paling cantik. " Kata Nanda dengan air mata yang keluar.
" Jangan menangis di hari bahagia ini Ma. " Ucap Yora dengan senyum tulusnya.
Yora mendekat ke arah Mamanya dan memeluknya dengan sangat erat. Air mata yang dari tadi mereka tahan akhirnya pecah dan keluar bersama.
" Yora, maaf Papa mu tidak bisa datang. Jadi Mama yang akan mengantarkan mu ke altar pernikahan. " Ucap Nanda sambil masih memeluk putri satu-satunya.
" Tidak masalah Ma. " Balas Yora.
" Maaf, karena Mama tidak bisa membuat impian mu menjadi kenyataan. " Kata Nanda.
" Tidak, impianku menjadi kenyataan karena orang yang mengantarkan ku menikah adalah orang yang kucintai dengan segenap hati. " Tutur Yora.
" Baiklah, ayo kita pergi menuju masa depan indah sayang. Rendy sudah menunggu sangat lama dan ini sudah waktunya. " Kata Nanda.
Nanda menggenggam telapak tangan putrinya itu dan mereka saling bertatapan satu sama lain. Dirinya tersenyum sangat bahagia.
......~THE END~......