
Prang...Prang.
Mendengar suara yang begitu berisik, hingga menganggu telinga. Rendy pun dengan sangat terpaksa bangkit dari sofa. Padahal ia baru memejamkan matanya jam 3 pagi. Rendy melangkah keluar, ia sangat terkejut melihat sosok Yora yang sudah terbangun dari tidurnya, dan sekarang ia sedang mengacaukan dapur bersih miliknya.
" Apa yang ingin kau lakukan? " tanya Rendy berjalan mendekati Yora.
Tubuh Yora menegang, ia memutar tubuhnya ke arah suara itu berasal dan ia lihat Rendy mendekat dengan mata yang menatap dirinya.
Yora hanya tertawa cangung dengan tangan mengaruk kepala yang tidak gatal saat Rendy menatapnya.
" Aku sangat lapar, jadi aku ingin memasak. " ucap Yora.
" Kenapa tidak pesan makanan? " tanya Rendy dengan mata yang melihat kekacauan didepannya.
" Sangat lama, aku sudah sangat lapar, " kata Yora.
" Wow kau sangat hebat Yora, memasak telur dengan minyak sebanyak ini. " gerutu Rendy penuh rasa kesal.
Yora tidak tau harus membalas apa ucapan Rendy, ia hanya terseyum dengan gigi yang ia perlihatkan.
" Jika kamu lapar, kenapa tidak membangunkanku? " tanya Rendy menatap Yora.
" Aku ingin, tapi melihat raut wajahmu yang sangat lelah, tidak jadi aku membangunkanmu, " ujar Yora dengan kepala yang tertunduk.
" Duduklah, aku akan memasak untukmu. "
Yora yang mendengar perkataan Rendy, tersenyum senang. la segera duduk diam ditempat, dengan mata yang terfokus melihat Rendy yang sedang memasak makanan untuk dirinya. Rendy sangat tampan dengan lengan kemeja yang la gulung, menambah suatu kesan saat ia memasak. Rasanya Yora ingin mengelus pundak dan punggung itu.
" Makanlah, " ucap Rendy membuyarkan hayalan Yora.
" Mie dan telur? " tanya Yora melihat panci kecil emas yang didepannya.
" Hanya itu bahan yang ada disini. " sahut Rendy.
Yang yang sangat lapar langsung segera memakannya hingga habis. Tanpa minat sekedar basa basi menawarkan makanan kepada Rendy.
" Tumben sekali kamu bangun pagi hari? " tanya Rendy.
" Kemarin aku tidur sangat awal dan aku sangat lapar, jadi aku terbangun. " jawab Yora.
Rendy bangkit dari kursi mengambil peralatan makan yang Yora gunakan, membawanya ke tempat cuci piring lalu membersihkan semua kekacauan yang terjadi didapur akibat ulah Yora. Dengan perut yang sudah terisi penuh, Yora berjalan pergi menuju ruang TV.
la memang tudak niat membantu Rendy karena takut merusak kuku cantik miliknya. Setelah selesai semua, Rendy menuju ruang yang mana Yora tempati. Rendy duduk disamping Yora, dengan tangan yang menggenggam secangkir kopi.
" Kapan kau akan kekantor? " tanya Yora melirik Rendy.
" Sebentar lagi " jawab Rendy dengan singkat.
" Aku Ingin ikut " ucap Yora menarik lengan Rendy.
" Pokoknya aku ingin ikut, aku kesepian disini. " perintah Yora tidak terbantahkan.
" Bermainlah dengan temanmu. " kata Rendy.
" Mereka sedang sibuk, aku ikut dengan mu. "
Rendy menganggukan kepalanya tanda menyetujui keinginan Yora. la terlalu malas berdebat dipagi hari dengan Yora, dan ditambah ia terlalu pusing dengan kerjaan yang menumpuk, akibat Om Alan yang selalu menunda pekerjaannya.
" Bersiaplah jam 9, aku harus segara berangkat. " berjalan pergi keruangannya.
Yang melihat jam, ia masih punya waktu untuk bersantai selama 2 jam. Sebelum dirinya bersiap-siap pergi kekantor, lebih tepatnya perusahaan Papanya. Rendy mengerjakan kembali berkas-berkas yang menumpuk, suara handphonenya berbunyi tertera nama Aunty Nanda.
" Hallo, Aunty. " ucap Rendy dengan tangan yang masih mengerjakan berkas-berkas.
" Kamu dan Yora, baik-baik saja kan? " tanya Nanda disambungan telepon.
" Iya Aunty, kami baik-baik saja "
" Baiklah Aunty tenang mendengar kalian baik-baik saja. Sudah dulu ya, Aunty harus segera bergegas pergi. bye Rendy. " tutup Nanda disambungan telepon.
Rendy kembali mengerjakan berkas yang tertumpuk. Hingga tidak terasa waktu sudah mulai mendekat ke arah jarum jam 9. Rendy bergegas mandi dan berpakaian, seperti biasa tanpa sarapan. Ia melihat Yora yang sudah rapi dengan dress pink selututnya. Mereka pun pergi mengunakan mobil yang dikendarai oleh Rendy.
Rendy dan Yora memasuki perusahaan Alan, dengan karyawan yang berlalu-lalang membungkuk hormat saat berpapasan dengan Rendy. Yora yang berjalan santal tiba-tiba langkahnya terhenti, saat Rendy menarik lengan Yora dan menatapnya. Yora dengan raut wajah yang bingung saat Rendy menghentikan langkah dirinya,
" Kamu yakin ingin kesini? " tanya Rendy.
" Memang aku dilarang kesini? " tanya balik Yora dengan bingung.
" Ini kantor Om Alan, yang berarti Papamu, " tegas Rendy mengingatkan Yora.
" Aku tau, lalu kenapa? " tanya Yora.
" Kau tudak masalah jika ketemu Papamu? " tanya Rendy lagi.
" Aku kesini ingin menemuimu, Bukan orang itu. " ujar Yora.
Rendy mengerti. Lalu ia menggenggam tangan Yora menuju ke lift. Tindakan yang dilakukan Rendy, membuat heboh para karyawan yang melihatnya. Mereka pun langsung saja bergosip, hingga menjadi tranding topik nomer 1 diperusahaan.
Staff yang melihat Rendy datang langsung membungkuk hormat. Para staff yang bekerja langsung dibawah pimpinannya, sangat terkejut. Tuan Rendy pacaran dengan anak pemilik perusahaan ini. Berarti gosip yang beredar tadi 100% sangat benar.
Rendy melepas genggaman mereka, ia pergi ke meja kerjanya yang mana penuh akan berkas-berkas perusahaan yang sangat penting. Yora duduk didepan Rendy, dengan tangan yang memainkan gadget. Yora melirik Rendy sekilas yang sangat fokus mengerjakan tugasnya, hingga dia terabaikan.
" Yora. " panggil seseorang.
Rendy dan Yora secara bersamaan melihat siapa yang memanggil Eva.