
Yora dan Rendy sedang berada diruang tamu, tidak ada satu pun yang buka suara. Suasana sangat hening. Yora hanya melirik Rendy yang sedang asik bersandar disofa dan memejamkan matanya, tanpa berbicara sedikit pun kepadanya.
" Rendy! " teriak Yora yang sudah muak dengan keheningan yang terjadi.
" Hm. " gumam Rendy.
" Bagaimana kamu bisa datang kesini? " tanya Yora yang menatap Rendy.
" Naik pesawat, " jawabnya yang membuat Yora rasanya ingin melemparkan vas bunga ke arah muka tenang Rendy.
" Kalau itu gue juga tau! " gerutu Yora yang sangat marah sekali.
" Kalau sudah tahu kenapa bertanya. " sahut Rendy yang masih saja memejamkan matanya.
" Masalah perusahaan sudah selesai? " tanya Yora yang berusaha mengendalikan amarahnya.
" Sudah. " jawabnya singkat yang masih saja memejamkan matanya, tanpa ingin membuka matanya untuk melihat Yora.
" Dah ah mending gue tidur, dari pada ngomong sama es batu. " gerutu Yora yang bangkit dari sofa, tapi langkahnya terhenti saat tangannya dipegang oleh Rendy.
" Apa! " jutek Yora.
Rendy menarik tangan Yora dan membuatnya duduk tepat dipangkuannya. Rendy memeluk Yora dengan erat, menyalurkan rasa kekhawatirannya selama ini. Yora tertegun saat apa yang terjadi, ia merasakan pelukan erat dari Rendy. Yora pun menopangkan kepalanya ke bahu Rendy, tapi Yora enggan untuk membalas pelukan Rendy karena dirinya sangat gengsi.
" Papa dan istri jeleknya itu sudah pergi dari Villa ini. " ujar Yora yang masih memeluk Rendy.
" Aku tahu. " balasnya.
" Aku sudah menjadi presdir. " kata Yora.
" Aku tahu. " ucap Rendy lagi.
" Bagimanan kau bisa tahu? " tanya Yora.
" Tidak tahu. " sahut Rendy tidak jelas.
Yora merasa Rendy masih mabuk setelah turun dari pesawat, mangkanya otaknya sepertinya sedikit masalah. Yora menyuruh Rendy untuk tidur dikamar Rendy dulu yang berada di Villa Florence. Rendy melonggarkan pelukannya hingga bisa menatap Yora secara tajam.
" Tidurlah. " perintah Yora.
" Hm. " balas Rendy.
Yora melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya, saat ia sudah menginjak anak tangga ke 7, Yora melirik Rendy yang masih saja berada disofa itu dan sedang bermain handphonenya, Yora yang melihat Rendy sibuk, hanya naik tangga karena tidak ingin menganggu pekerjaan penting Rendy.
Retha membanting sepatu hak tinggi miliknya dengan sangat keras ke apartement. Ia sangat marah dan cemburu saat mengetahui dari orang suruhannya, kalau Alan tidak pergi untuk mengurus aset tersisa milik suaminya itu, melainkan bertemu dengan wanita tua jelek itu.
Retha menunggu kedatangan suaminya untuk pulang, ia benar-benar akan mengamuk karena dirinya sudah dibohongi. Retha melihat jam yang sudah menujukan tengah malam, tapi suaminya masih saja belum pulang. Retha yang sudah sangat marah karena terbakar cemburu, masih saja menunggu suaminya pulang.
" Ada apa? " tanya Alan yang mendekat ke arah istrinya.
" Kau bertemu dengan wanita tua itukan! " marah Retha.
" Iya. " balas Alan.
" Kenapa? " teriak Retha dengan keras.
Alan melangkah mendekati istrinya yang sudah sangat marah kepada dirinya. Alan menarik tangan Retha, walaupun istrinya menolak ia tetap memaksa Retha hingga istrinya jatuh kepelukan miliknya, Alan menenangkan istrinya yang sudah berontak dengan sangat kasar, tapi Alan masih bisa untuk menahannya.
" Tenang sayang, aku hanya ingin dekat lagi dengan Nanda. " ucap Alan sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya.
" Maksudnya apa? " tanya Retha dengan suara nyaringnya.
" Kau bermain mata dibelakangku Alan! " kata Retha yang sudah mengeluarkan air mata.
" Kau sudah salah paham, aku hanya ingin kamu bisa hidup nyaman lagi. " tutur Alan tepat ditelinga Retha.
" Maksudmu apa, aku tidak mengerti. " bingung Retha.
" Aku ingin kita kembali lagi ke Villa Florence dan harta milikku akan kembali lagi. " ujar Alan sambil menatap Retha dengan raut wajah yang serius.
" Aku ingin mengembalikan semuanya ke tempat seperti semula, sebelum Yora merebut semuanya. Jadi dengan memggunakan cara aku mendekati Nanda lagi, aku bisa mendekati hak aku yang hilang. " tutur Alan meyakinkan Retha.
" Dengan seperti itu aku, kamu, ibu mu dan mungkin anak kita, bisa menempati Villa Florence bersama. " kata Alan lagi.
" Kau tidak berbohong kan? " tanya Retha yang sudah mulai luluh dengan perkataan suaminya.
" Tentu tidak, aku melakukan ini demi kita. " ucap Alan yang memeluk Retha kembali.
Alan tersenyum saat istrinya mempercayai perkataan miliknya. Alan mengelus rambut istrinya dengan lembut, tapi raut wajah Alan sangat puas karena Retha sangat mudah percaya akan dirinya.
" Jadi kau tidak berselingkuh dengan wanita tua itu kan? " tanya Retha dengan raut wajah yang cemberut.
" Tentu tidak sayang. " balas Alan.
" Awas jika kamu berpaling sama wanita keriput itu. " kata Retha sambil menatap suaminya.
" Tidak akan, karena denganmu saja aku sudah cukup. " kata Alan mengelus pipi lembut Retha.
Alan memeluk Retha lagi dengan erat, tapi pikiran Alan mengingat pertemuan tadi. la sangat yakin kalau Nanda pasti akan menyetujuinya, karena ia sangat tahu Nanda orangnya sangat tidak tegaan.
" Maaf, Retha. " batin Alan sambil mengusap rambut Retha.