
Setelah Alan merasa puas menatap Retha, ia keluar dari kamar Retha menuju ke ruang tamu. Mira yang selesai menyiapkan cemilan dan minuman untuk Alan, menaruhnya di meja dan mempersilahkan Alan untuk memakan dan meminum secangkir kopi hitam yang ia buat.
" Alan, kapan kamu akan menikahi Putriku? " tanya Mira sambil menatap Alan dengan tajam.
" Tidak tau. " jawab Alan seadanya.
" Kamu sama Retha itu sudah pacaran selama 5 tahun, jadi kamu harus menikahi Retha! " ucap Mira yang kesal melihat sikap Alan yang plin-plan akan hubungan asamaranya dengan Putrinya.
" Mengertilah, aku bahkan belum resmi bercerai dan anda sudah bertanya tentang pernikahan ku kembali. " ujar Alan dengan tegas.
Alan sangat kesal dengan Ibunya Retha, ia seperti tidak paham situasi hubungannya dengan Retha, yang sangat ditentang keluarga Florence terutama Putri tercintanya Yora.
" Aku akan menikahi Retha hanya jika Yora sudah menyetujui Retha menjadi istriku dan ibu tirinya. " ujar Alan.
" Kamu sangat mengetahui kalau Putrimu itu menolak dengan sangat keras hubungan kalian. " sahut Mira.
" Saya dan Retha akan berusaha meluluhkan hati Yora. Jadi tunggu saja. " jawab Alan.
" Jika kamu gagal meluluhkan hati Putrimu itu, apa kau akan putus dengan Putriku begitu saja! " ucap Mira.
Alan hanya terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ibunya Retha. Ia masih belum memikirkan jika Yora belum bisa menerima Retha sepenuh hatinya. Alan bertanya-tanya di hati dan isi kepalanya, apa yang akan ia lakukan jika Yora masih belum merestui hubungan Papanya dan Retha. Apakah Alan akan sanggup putus dengan Retha.
" Anda sebagai Ibu Retha doakan saja hubungan kami agar direstui oleh Yora dan pelaksanaan pernikahan akan segera dilaksanakan, jika Putriku sudah setuju, " kata Alan lalu bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju ke mobilnya.
Mira merasa sangat marah, ia ingin sekali mempercepat peresmian Retha menjadi Nyonya sah dari Keluarga Florence, agar semua orang yang menghina dirinya dulu karena miskin akan merasa iri. Putrinya yang hanya tamatan SMA menjadi orang kaya, istri sah dari pemilik Perusahaan Florence yang sangat besar. Tapi semua rencana harus tertunda, karena Putrinya Alan yang sangat murahan itu yang mempengaruhi Alan. Jika Yora tidak luluh juga dengan hubungan Putrinya, ia dengan sangat terpaksa mengunakan cara yang sangat kotor, untuk memuluskan dirinya dan Retha untuk menjadi orang kaya.
Alan memasuki Villa dengan sangat lesuh dan lelah, menapaki anak tangga dan melangkah masuk kekamar tidurnya. Ia melihat Nanda duduk dikasur, dengan tangan yang sedang melipat baju dan memasukkan ke dalam koper milik Nanda. Alan dan Nanda saling berpandangan sebentar. Alan melangkah mendekati Nanda.
" Kau sudah kembali, " ucap Alan yang duduk disamping Nanda.
" Hm, " gumam Nanda sambil terus melipat pakaianya.
" Hm, " gumam Nanda tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan baju-baju.
" Kau akan pergi? " tanya Alan.
" Hm. " balas Nanda.
" Nanda, Terimakasih untuk segalanya dan maaf untuk semua yang telah kulakukan, " ucap Alan dengan wajah yang tertunduk.
Nanda yang mendengar ucapan Alan, rasanya ia ingin sekali menangis. Tapi ia tahan, ia sudah terlalu banyak menangis dan ia tidak akan ingin menangis lagi hanya karena seorang pria. Nanda hanya berusah mengacuhkan keberadaan Alan.
" Nanda, bisakah kau memukul ku. " pinta Alan.
" Bisakah aku meracuni diri mu saja, " balas Nanda dengan senyum kecil yang ia tunjukan.
Alan yang mendengar perkataan Nanda sangat terkejut, tapi jika itu bisa membuat Nanda merasa sedikit bahagia dan puas, ia akan rela melakukannya.
" Lakukanlah. " sahut Alan.
" Aku hanya bercanda, Kau ini tidak bisa diajak bercanda sama sekali. Jika aku meracuni dirimu kasihan Putriku, akan kehilangan Papanya. " jawab Nanda menatap Alan sekilas.
Nanda menghentikan aktifitas melipat bajunya, ia menghadap Alan mereka saling berpandangan. Nanda tersenyum mengulurkan tangan kanannya. Alan mengerutkan keningnya karena bingung, ia menerima uluran tangan Nanda. Mereka bersalaman.
" Semoga kau bahagia, " ucap Nanda dengan senyum tulus.
Alan yang mendengar ucapan Nanda yang sangat tulus, tidak bisa menahan air mata yang keluar dari matanya. Dengan telapak tangan yang masih saling mengait, Alan menangis tersedu-sedu dengan kepala yang tertunduk.
Nanda yang melihat Alan menangis tersedu-sedu, air mata yang dari tadi ia tahan dengan sangat lancang keluar dari matanya. Nanda hanya menangis dalam diam, tidak seperti Alan yang menangis dengan dengan keras.