
Rendy mengejar Yora yang ingin memasuki lift. Rendy memegang lengan Yora dan memasuki lift bersama sambil menekan tombol paling atas. Yora mengerutkan keningnya bingung saat Rendy membawanya ke lantai paling atas, karena sudah sangat lelah Yora hanya diam saat Rendy menarik paksa dirinya.
Ting..
Rendy dan Yora keluar dari lift. Rendy menarik tangan Yora lalu berjalan menaiki anak tangga dan memasuki pintu atap Perusahaan Florence. Rendy menatap Yora yang juga menatap dirinya.
" Jika kau ingin menenangkan diri kemarilah, ke atap Perusahaan milik mu ini. " ujar Rendy sambik tersenyum tipis kepada Yora.
Yora menghirup udara dan menatap sekitar yang membuat hatinya sedikit tenang. Yora melamun sambil mengamati telapak tangannya yang masih digenggam oleh Rendy.
" Yora. " panggil Rendy yang membuat Yora mengangkat kepalanya menatap Rendy.
" Hm. " gumam Yora.
Rendy membawa Yora ke dalam pelukannya, ia menengelamkan kepalanya ke leher Yora menghirup dalam-dalam wangi tubuh milik Yora.
" Rendy. " sedikit merasa tidak nyaman akan perlakuan Rendy kepada dirinya.
" Tak bisakah kita menikah saja dan jangan balas rasa sakit hati mu dengan mengambil posisi milik Papamu. " ujar Rendy sambil mengelus puncak kepala Yora dengan lembut.
" Aku sudah sering memaafkan dan memberikan kesempatan kepada Papa, tapi nyatanya pria tua itu kembali lagi dengan wanita penggoda tersebut. " kata Yora yang masih nyaman dan tenang didalam dekapan Rendy.
" Hanya dengan cara mengambil seluruh aset milik keluarga Florence, mungkin impianku bisa saja tercapai. " ucap Yora yang penuh teka teki samb menenggelamkan kepalanya didada milik Rendy untuk mencari kenyamanan dan ketenangan.
Alan memasuki Villa Florence dengan raut wajah sangat lelah, ia sungguh dibuat pusing oleh kejadian hari ini yang sangat tidak di duga. Alan terduduk di sofa sambil memijatkan keningnya yang sangat pusing.
" Kamu sudah pulang sayang? " tanya Retha sambil menghampiri calon suaminya itu.
" Apa ada masalah? " tanya Retha lagi yang melihat Alan seperti orang kebingungan.
Alan hanya mengelengkan kepalanya saja, ia tidak ingin membuat calon istrinya merasa khawatir.
" Cerita saja, sebentar lagi kita akan menjadi suami istri kita harus saling terbuka Alan. " ujar Retha dengan suara yang lembut yang mampu membuat Alan luluh akan semua kelembutan yang dimiliki calon istrinya.
" Tadi ada rapat tentang pencalonan siapa yang menjadi presdir selanjutnya. " kata Alan sambil menatap calon istrinya.
" Terus? "
" Ada 2 kandidat. " lesuh Alan memikirkan Putrinya.
" Siapa orang itu? " tanya Retha yang masih setia menemani Alan.
" Kenapa dia bisa? " tanya Retha yang sangat tidak percaya dengan semua itu.
" Kau ingat Retha, Yora selalu pergi pagi padahal Yora sangat susah bangun pagi. Kau tau kenapa, karena Yora bekerja di Perusahaan Florence dan Yora berhasil dalam sebuah proyek Florence. " curhat Alan.
" Hanya karena itu dia bisa menjadi kandidat presdir. " kata Retha dengan raut wajah yang masih bingung.
" Tenang saja Alan kau pasti yang menang karena kau memiliki saham paling besar kan di Perusahaan Florence. " ucap Mira yang mendekat ke arah pasangan itu.
Alan hanya menganggukan kepalanya saja membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh calon ibu mertuanya itu.
" Tapi kenapa Yora melakukan itu semua? " tanya Retha.
" Karena dirimu. " jawab Alan menunjuk Retha.
" Mungkin Yora masih tidak bisa menerima ini semua, aku akan berbicara kepada Yora. Jangan khawatir sayang, Yora juga anakku kan. " ujar Retha dengan raut wajah yang tersenyum.
" Terima kasih karena telah sabar menghadapi Yora yang keras kepala, yang sampai sekarang tidak mau menerima kenyataan ini semua. " kata Alan sambil mengecup kening calon istrinya.
Mira hanya tersenyum melihat kemesraan pasangan itu dan tidak tau kenapa ia punya firasat kalau Putri Florence yang murahan itu akan melakukan sesuatu.
" Dasar wanita murahan yang licik. " batin Mira.
Nanda melepaskan dengan paksa cengkeraman tangannya dari Devon, la menatap Devon yang sudah sangat lancang mencampuri urusan pribadi miliknya. Nanda menatap tajam Devon.
" Dari mana kau mengetahui kehidupan pribadi ku? " tanya Nanda dengan sorot mata yang tajam menatap Devon.
" Siapa kau sebenarnya Tuan Devon? " tanya Nanda lagi.
" Itu tidak penting. Seharusnya aku yang bertanya kepada mu, siapa kau bagi Yora? " tanya Devon.
" Tentu saja aku ibu kandungnya dasar bodoh. " kesal Nanda.
" Jadilah ibu yang benar. " kata Devon.
Devon melangkah mendekati Nanda dengan mendekatkan bibirnya kepada Nanda.
" Sebelum Yora semakin melangkah menjauh dari mu, kau harus mengetuk kembali hati Putrimu yang sedang terluka akibat perselingkuhan Ayahnya bukan. " kata Devon lalu beranjak pergi meninggalkan Nanda yang berdiam ditempat karena bingung.
" Sebenarnya siapa kau, hingga mengetahui semuanya? " batin Nanda sambil melihat kepergian Devon.