
Alan minum kopi hitam untuk meredakan rasa pusing yang menyerang kepalanya. Ia benar-benar marah dan sangat marah karena dipermainkan oleh Nanda. Alan rasanya ingin membanting semua yang berada tepat dihadapannya. la duduk di cafe sambil menatap jalanan diluar sana, entah kenapa hatinya merasa sakit dan kecewa.
Saat mengingat perkataan yang Rendy lontarkan tadi, ia merasa tertampar kenyataan. Dirinya baru saja dibohongi oleh Nanda dan Yora sudah merasa sangat kecewa, tapi dirinya tidak pernah memikirkan dulu saat ia berbohong kepada kedua perempuan itu hanya untuk bertemu dengan Retha.
Alan sungguh menyesal saat sudah merasakan semuanya hari ini. Betapa sakitnya saat seseorang yang kita inginkan untuk datang, malah bertemu dengan orang lain. Alan mengehela nafasnya, ia meneguk kopinya lagi dan ia melihat jam yang berada dicafe, Alan bangkit dan berjalan keluar dari cafe karena sudah larut malam.
Alan mengendarai mobilnya untuk pulang ke apartement miliknya. Ia memakirkan mobilnya dibasement dan berjalan menuju lift. Saat sudah sampai dilantai apartementnya, Alan memandang pintu apartement miliknya tanpa berniat untuk cepat-cepat menekan tombol password pintu agar bisa masuk ke dalam.
Alan mengambil nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya. Alan segera menekan tombol password dan membukan pintunya. Ia melihat didalam apartement dengan lampu yang masih menyala. Alan menatap ruang makan yang sangat berantakan, dengan piring-piring berjatuhan berserta makanan yang berserakan dilantai. la sangat yakin kalau Retha yang melakukan ini semua.
Alan berjalan menuju kamarnya, tapi ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Retha didalam kamar.
" Kau mencariku? " ucap Retha yang datang dari ruang cucian.
Alan menoleh dan melihat istrinya, ia sedang bingung harus melakukan apa kepada Retha. Alan mulai mendekat ke arah Retha, memegang kedua bahu Rerta tapi sayang Retha menepisnya dengan kasar.
" Rupanya sudah pulang, dari bertemu orang yang sangat penting untukmu itu. " ucap Retha menatap Alan dengan dingin.
Retha melihat Alan yang hanya diam aja, tanpa berbicara sedikit pun.
" Lihat! " teriak Retha menunjukan Video yang dikirim oleh gadis murahan itu.
Alan mengambil handphone milik Retha, ia membuka video yang mana isinya perayaan ulang tahunnya bersama dengan Nanda, Yora dan Rendy. Alan melihat raut wajah Retha yang sudah menahan amarah.
" Kau meninggalkan aku sendiri, hanya karena mereka. " teriak Retha menatap tajam suaminya.
" Tapi kau berbohong kepadaku Alan! " ucap Retha sambil membanting vas yang berada didekatnya.
" Berbohong sepeti apa! " teriak Alan.
" Kau bertemu mereka tanpa sepengetahuan ku. " geram Retha.
" Aku dulu bertemu dengan kamu berkali-kali tanpa sepengetahuan Nanda, dan dia tidak semarah seperti yang kamu lakukan sekarang ini. " tutur Alan.
" Karena aku mencintaimu, bukan seperti wanita tua itu. " sahut Retha dengan perasaan yang sangat marah.
" Nanda percaya kepadaku, tidak sepertimu yang curiga saja karena hanya sekali aku bersama mereka. " kesal Alan lalu melangkah masuk ke kamarnya.
" Kenapa kau bicara wanita tua itu! " Retha masuk mengikuti suaminya.
" Sudahlah, aku pusing. Aku ingin mandi dan tidur. " ujar Alan yang masuk ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras.
Retha mengepalkan jemarinya dengan sangat kuat. la benci kepada kedua perempuan muarahan itu. Retha sungguh marah karena mereka selalu saja menganggu kehidupan bahagianya dengan Alan. Benar apa kata ibunya, dirinya harus bertindak sebelum kedua perempuan murahan itu, semakin bertindak jauh yang akan merugikan dirinya lagi.
Retha mengambil jaket miliknya, la menatap pintu kamar mandi yang mana terdapat suaminya sedang mandi. la mengambil tasnya lalu pergi mengunakan taxi yang la pesan.
" Lihat saja, aku akan membalas rasa marahku kepada kalian. " batin Retha.