Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋66≋



Alan melangkah pergi untuk menyegarkan pikirannya setelah mendengar perkataan yang Yora lontarkan kepada dirinya. Retha yang melihat kepergian suaminya pun hanya bisa mengehela nafas, ia menatap Yora yang selalu menjadi biang masalah dalam hidup ia dan Alan. Retha pun beranjak menuju kamar miliknya.


Setelah melihat Retha dan Alan pergi, Yora terjatuh lemas dilantai dapur. Yora memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan itu, matanya bening karena menahan air mata yang ingin keluar. Ia sunggu merasa sangat dendam dengan kelakuan Papanya yang sudah 2 kali menampar dirinya.


" Non, apa sebaiknya bibi memanggil Tuan Rendy dan Nyonya Nanda? " tanya salah satu pelayan yang melihat dan mendengar semua yang terjadi tadi.


" Tidak perlu, " balas Yora lalu bangkit dan melangkah pergi menuju ke kamar miliknya.


Pagi hari yang begitu cerah diwarnai dengan suara yang bising, yang membuat Retha mencari sumber suara dan ia mendengar suara keributan dari kamar ibunya, ia pun segera melangkah menuju kamar ibunya. Retha cukup terkejut dengan kehadiran para pelayan yang membersihkan pakaian ibunya. Retha berteriak marah-marah kepada semua pelayan yang sudah sangat lancang terhadap ibunya.


" Apa yang kalian lakukan! " teriak Mira.


" Berhenti! " perintah Retha yang tidak dihiraukan oleh para pelayan.


" Aku bilang berhenti, apa kalian semua tuli. Aku ini Nyonya di Villa ini! " kata Retha dengan suara yang sangat keras.


Retha mendorong para pelayan yang sudah membantah dirinya. Tapi para pelayan sepertinya tidak takut hingga masih saja membereskan seluruh barang ibunya.


" Kalian aku pecat, pergi dari Villa ini sekarang juga! " ucap Retha dengan tegas.


" Aku akan memanggil penjaga untuk mengusir kalian yang sangat lancang, " ujar Mira.


" Cepat bereskan barang-barang murahan itu!, lalu lempar keluar dari Villa ini, " tegas Yora yang membuat Retha dan Mira menatap Yora dengan raut wajah yang marah dan kesal.


" Apa maksud semua ini Yora? " tanya Mira berusaha menahan kesabaran.


" Wow, sepertinya Putri murahan mu itu belum memberitahumu ya, " ujar Yora dengan wajah sinis menatap ibu dan anak itu.


" Apa maksud mu gadis licik! " ucap Mira dengan suara yang keras.


" Villa ini atas namaku nenek tua, " ujar Yora dengan senyum manis yang ia tunjukan.


Perkataan Yora membuat Mira menatap putrinya dengan tajam, Mira seakan meminta jawaban atas ucapan yang dilontarkan oleh Yora itu benar atau tidak.


" Iya. " balas Retha yang membuat Mira terkejut.


" Karena ini Villa milikku, jadi aku ingin menyeleksi siapa saja yang boleh tinggal di Villa utama Florence ini, " ujar Yora dengan raut wajah puas menatap ibu dan anak itu.


" Dasar kau! " teriak Mira.


" Cepatlah, sebelum aku berangkat bekerja kalian harus sudah selesai, mengerti! " perintah Yora.


" Oh iya, kau Nyonya Villa ini jadi masaklah dengan lezat karena aku ingin masakan ibu tiriku. " perintah Yora.


" Siapa kau berani memperintahku, " balas Retha.


" Kau Nyonya Villa ini, Oh jika kau tidak mau aku juga bisa mengusir Nyonya Florence dari Villa Florence, " ujar Yora dengan santai.


" Aku tidak takut, " sahut Retha dengan sorot mata tajam menatap Yora.


" Aku tidak peduli, paling orang-orang akan membicarakan mu tentang Nyonya Florence yang baru, diusir dari kediaman Villa utama Florence hanya dalam semalam pernikahan, " ledek Yora yang membuat Retha mengenggam jari jemarinya dengan kuat.


" Masaklah, jika kau tidak ingin bernasib seperti nenek tua itu, " ketus Yora yang ingin beranjak pergi tapi terhenti saat Retha mengeluarkan suaranya.


" Apa kau perlu ditampar lagi oleh Papamu, supaya sadar kalau kau sudah bertindak lancang lagi. " kata Retha.


" Karena tamparan dia, aku jadi mengusir ibumu dan bilang sama suami mu itu jika dia menyentuhku lagi aku akan menghacurkan cafe milik kalian itu, " tegas Yora lalu melangkah pergi memasuki kamarnya karena ia ingin bersiap untuk bekerja.


Mira hanya lemas saat para pelayan memasukan semua barang-barangnya ke koper besar miliknya, jika ia keluar dari Villa ini para sahabat dan saudaranya sudah pasti akan mentertawakan dirinya karena sudah keluar dari Villa yang besar dan mewah ini.


" Retha, bagaimana pun aku tidak ingin keluar dari Villa ini. " tegas Mira.


" Pikirkan cara agar aku tetap berada di Villa yang mewah ini, " perintah Mira dengan tegas.


" Aku tidak bisa. " sahut Retha.


" Suamimu mungkin bisa, " kata Mira.


" Alan pergi dari semalam. " kata Retha.


" Hubungin suamimu itu, cepatlah! " kesal Mira.


" Baiklah. " balas Retha.


Yora sedang bersiap-siap untuk ke kantor, ia mendapatkan kabar kalau Oliv sudah tiba dan ia ingin mengetahui kelanjutan tentang keluarga si Liam yang mendukung siapa dipemilihan presdir nanti.


Yora menatap dirinya dari atas hingga bawah. Ia tersenyum sambil melihat pipinya yang masih sedikit kelihatan kemerahan walupun sudah ia tutupi dengan foundation dan bedak.


" Perlahan tapi pasti. " batin Yora sambil tersenyum menyemangati dirinya sendiri.