
Karena sudah beranjak sore, Nanda segera pulang menuju Villa. Ia sekarang tidak ingin terlalu sibuk hingga melupakan kalau ia punya seorang anak. Matanya melotot seketika saat Alan sedang berada tepat di pintu butik miliknya. Para karyawan yang lewat-lewat menatap bossnya dan mantan suaminya. Mereka berbisik-bisik.
" Ada yang ingin kubicarakan denganmu. " ucap Alan dengan raut wajah serius.
" Baiklah, masuklah. " balas Nanda yang ingin kembali memasuki butiknya tapi tangannya digenggam oleh Alan.
" Masuklah ke mobilku. " ujar Alan sambil menarik tangan mantan istrinya untuk memasuki mobil miliknya.
Nanda menatap sekilas mantan suaminya, ia tidak tahu dibawa kemana dirinya oleh Alan. Nanda hampir saja lupa untuk menghubungi Putrinya. Ia mengirim pesan kepada Putri satu-satunya.
" Nanda, apa Yora baik-baik saja? " tanya Alan sambil menatap sekilas Nanda.
" Tentu saja. " balas Nanda dengan singkat.
" Lalu kau? " tanya Alan dengan wajah tersenyum hangat.
" Aku dan Yora baik-baik saja. " kata Nanda tanpa melihat mantan suaminya.
" Kamu tidak bertanya tentangku? " tanya Alan sambil terkekeh.
" Dilihat dari wajahmu, kamu sepertinya baik-baik saja. " jawab Nanda.
" Hatiku tidak Nanda, rasa bersalah selalu menghantui diriku kepada kalian. " tutur Alan.
Nanda hanya mendengar apa yang Alan katakan, tanpa ada niat untuk membalasnya. Jika Alan berbicara seperti ini terus, bisa-bisa ia akan kembali mengingat masa sulitnya saat menjadi istrinya Alan.
Mobil Alan berhenti tepat ditempat pertama kali dirinya bertemu dengan Alan. Walapun ia sudah semakin tua, tapi ingatan masih sangat jelas, mengingat saat pertama kali bertemu dengan Alan direstauran mewah ini. Direstaurant ini ia bersama dengan orang tuanya, bertemu dengan keluarga Florence.
Tok..Tok...
Nanda menoleh saat Alan mengetuk kaca mobil dan mengisyaratkan untuk keluar dari mobil. Nanda keluar dengan menguatkan perasaan, ia sangat tidak mengira kalau Alan akan membawanya ke restaurant ini.
" Aku akan membawa mu kembali ke perasaan yang dulu. " batin Alan.
la dan Nanda memasuki restauran itu. Alan sangat bersyukur kalau restauran mewah ini tidak berubah, hanya ada sedikit berubah saja tapi masih seperti dulu. Alan membawa Nanda ke tempat duduk, dimana para keluarga berkumpul untuk membicarakan perjodohan yang dilakukan. Alan melihat Nanda yang hanya terdiam. Alan tersenyum puas karena ia akan mengulang kembali perasan Nanda kepada dirinya dengan cara kembali ke masa lalu.
" Sudah sangat lama pertemuan pertama kita ditempat ini. " kata Alan yang hanya dianggukin oleh Nanda.
" Kau mau bicara tentang apa? " tanya Nanda langsung ke intinya karena Nanda sangat ingin pergi dari tempat ini.
" Nanda, sebentar lagi aku ulang tahun." ujar Alan.
" Lalu? " bingung Nanda.
" Aku ingin makan malam bersama mu dan Yora, saat ulang tahunku nanti. " mohon Alan dengan wajah yang lesuh.
" Aku hanya ingin kita bertiga. " jawab Alan.
" Kau sudah meminta izin kepada istrimu itu? " tanya Nanda.
" Tentu saja aku sudah minta izin. Kalau belum mana mungkin, aku bisa berada disini bersama mu untuk membicarakan. " bohong Alan.
" Aku juga sekalian ingin memperbaiki hubungan ayah dan anak, jadi Nanda tolong bantu aku. " mohon Alan.
" Tanyalah kepada Yora, jika setuju aku akan ikut. " tegas Nanda.
" Kau juga harus bantu bicara kepada Putri kita. " ujar Alan yang dibalas anggukan kepala saja.
Yora merenggangkan tubuhnya yang sangat kaku, karena terus saja duduk didepan layar komputer. Yora keluar dari lift untuk menuju lobi perusahan. Saat ia menunggu di ruang masuk lobi utama, Yora merasa kalau ada seseorang yang memperihatikan dirinya. la berusaha tenang sambil menunggu karyawan mengambil mobil miliknya, ia mengambil handphone miliknya untuk melihat jam, ia sangat tidak sangka karena sudah semakin larut malam dan Yora membaca pesan dari Mamanya yang akan pulang terlambat karena urusan mendadak.
Yora sangat terkejut hingga handphone yang tadi digenggam terjatuh karena mulutnya ditutup dengan telapak tangan. Yora memukul telapak tangan orang itu dengan kasar agar terlepas.
" Lama tidak bertemu. " bisiknya hingga membuat Yora tertegun.
Yora memutarkan tubuhnya dan menatap Rendy yang sedang tersenyum menatap dirinya. Yora balas menatapnya dengan sinis dan kesal, mobilnya sudah datang ia segera memasuki mobil miliknya tanpa berbicara kepada Rendy.
" Beri aku tumpangan. " mohon Rendy yang masih saja tersenyum.
" Pergi saja sana, tidak usah kembali kesini, " tegas Yora.
" Baiklah aku akan pergi. " balas Rendy dengan santai sambil pergi meninggalkan Yora yang bingung.
Yora menatap kepergian Rendy, ia mengendari mobil miliknya hingga mengikuti Rendy dari belakang yang sedang berjalan saja. Yora mengklakson mobilnya, yang membuat Rendy menatap dirinya lagi.
" Kau sudah miskin ya? " tanya Yora yang diangukin Rendy.
" Masuklah ke mobilku, aku sangat tidak tega melihat pria pulang malam-malam dengan berjalan kaki, takutnya nanti ada orang jahat. " tutur Yora yang masih saja sinis.
Rendy hanya tersenyum geli dan masuk ke dalam mobil Yora dan pergi meninggalakan lingkungan perusahaan Florence.
...****************...
" Aku gagal. " kata orang itu disambungan telepon, ia melihat dari kejauhan kalau gadis itu bersama pria hingga tidak bisa membuatnya untuk mendekat
" Lakukan dengan benar! " marahnya disambungan telepon.
" Tentu saja. " langsung memastikan sambungan telepon dengan sepihak.