
Malam semakin larut Yora memasuki Villa dengan tubuh yang sangat lelah, ia sungguh lelah karena mendukung tentang pemilihan presdir yang akan diadakan 2 hari lagi. Yora langsung menuju kamar tidurnya, melemparkan tubuhnya ke kasur. la sangat menikmati tubuhnya yang sudah berbaring diranjang yang besar miliknya.
Lambat laun karena saking lelahnya Yora tertidur, dengan wajah yang masih bermakeup dan tubuhnya yang belum mandi.
Alan memasuki kamarnya dengan raut wajah seperti menahan kesabaran. Ia melihat istrinya yany sedang di meja rias, dengan langkah cepat Alan berjalan ke arah Retha dan menarik Retha agar berhadapan dengan dirinya.
" Retha. " panggil Alan dengan lumayan keras.
" Ada apa, " balas Retha yang lumayan terkejut dengan kedatangan suaminya.
" Lihat. " kata Alan dengan menyerahkan kertas ke Retha.
" Ini apa? " tanya Retha yang melihat isi kertas itu.
" Kau mengunakan terlalu banyak kredit dan debit milikku Retha! "
Matanya seperti ingin keluar saat melihat nominal tunggakan kredit, yang sangat tinggi hampir menembus setengah miliyar. la menatap Alan yang sepertinya sangat marah dengan dirinya.
" Kau gunakan uang sebanyak itu hanya untuk berfoya-foya? " tanya Alan yang berusaha menahan kesabaran miliknya.
" Aku hanya membeli perhiasan untuk aset juga. " bohong Retha.
" Tidak usah bohong Retha!, aku membaca sendiri pengeluaran gila yang kau lakukan itu. " tegas Alan.
" Aku istrimu, jadi aku ini juga berhak atas uangnya juga Alan! " Marah Retha.
" Kamu harusnya mengerti, aku butuh pengeluaran banyak karena aku ingin menang di pemilihan Presdir. " ujar Alan.
" Kamu bakal menang, jadi tidak usah takut, " balas Retha.
" Kau sangat tidak mengerti, Yora hampir memiliki seluruh aset milik Florence. " kata Alan.
" Lalu kenapa? " tanya Retha.
" Tenanglah sayang, dia hanya anak kecil dan manja yang masih belum mampu mengurus semua aset Florence, " ujar Retha berusaha menenangkan suaminya.
" Kendalikan pengeluaranmu itu atau aku bisa bangkrut karena dirimu, ingat Retha! " peringat Alan lalu beranjak pergi menuju ruang kerja pribadinya.
Retha sangat marah karena ulah Ibunya, ia harus menanggung amarah dari suaminya. Retha hanya membeli barang mewah sedikit saja, tapi Ibunya semua barang mahal diborong Ibunya hingga mengalami pembengkakan pengeluaran.
Retha keluar dari kamarnya menuju kamar tidur Ibunya, ia masuk tanpa mengetuk akibat terlalu kesal dengan Ibunya yang sangat gila belanja itu.
" Ibu kembalikan kartu kredit milikku, " minta Retha, Mira menatap Retha dengan tatapan yang sangat bingung.
" Kembalikan kartu kredit milikku! " kesal Retha.
" Kamu pelit banget sih. " sungut Mira.
" Karena kau aku jadi dimarahi oleh Alan. " balas Retha.
" Kenapa kamu dimarahin suami kamu? " tanya Mira sambil terus melihat cincin berlian yang masih berada di kotak cincin.
" Karena Ibu terlalu boros mengunakan kartu milikku. " ujar Retha.
" Dia kaya, jadi tidak usah pelit sama Ibu mertuanya sendiri, " balas Mira dengan raut wajah yang kesal karena Putrinya.
" Tapi Ibu tidak berhak mengunakan uang Alan dengan sangat banyak, karena hanya untuk membeli barang-barang mahal. " ujar Retha.
" Cih, baru segitu doang tapi sudah marah-marah. Kamu juga bodoh banget lagi Retha, mantan istri Alan saja selalu membeli barang mewah sedangkan kita hanya sedikit membeli barang mewah di sudah marah-marah. " sungut Mira dengan raut wajah yang sangat kesal.
" Sudahlah gunakan saja, tidak usah takut miskin. Alan adalah keluarga Florence yang tidak akan miskin. " ucap Mira lagi sambil menatap Putrinya dengan tajam.
Retha yang mendengar kata mantan istri Alan tiba-tiba kesal. Benar kata Ibunya, mantan istri Alan saja selalu berpakain mewah dan sedangkan ia hanya beli beberapa barang mewah, padahal tidak sampai Miliaran ia mengunkan uang Alan. la sangat yakin kalau mantan istri Alan juga selalu berfoya-foya, jadi ia tidak masalah mengunakan uang suaminya karena dirinya juga tidak mau kalah dengan ibu kandung Yora.
Mira benar-benar sangat kesal karena kebodohan Putrinya, ia seharusnya melawan jika suaminya melarangnya mengunakan uangnya terlalu banyak. Itu sudah kewajiban Alan memenuhi kebutuhan istrinya dan Retha berkewajiban juga memenuhi kebutuhan miliknya. Ia juga tidak habis pikir kenapa Alan sangat takut bangkrut, sedangkan dirinya itu adalah pewaris Florence. Walupun Yora ingin melengserkan Alan, tapi tetap saja Alan merupakan bagian dari Florence, hingga sangat tidak mungkin akan bangkrut.