Yora's Revenge

Yora's Revenge
Bab ≋37≋



Nanda menatap tajam pria yang memfitnahnya ingin bunuh diri, mana mungkin ia bunuh diri, apalagi ia masih punya seorang Putri cantik yang masih belum menikah. Serumit apapun masalah yang ia hadapi tudak akan mengambil jalur yang bodoh seperti itu.


" Aku bunuh diri? " tanya Nanda menunjuk diri sendiri sambil menatap pria yang tepat berada dihadapannya.


Pria tersebut menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan dari Nanda.


" Untuk apa diriku bunuh diri, tidak ada juga manfaatnya " ucap Nanda sambil melembutkan nada bicaranya.


" Oh berarti aku sudah salah paham, lagipula kamu melepas sepatu dan berada ditepi sungai seperti orang yang ingin bunuh diri, kalau begitu maaf ya aku sudah salah paham " ujar pria tersebut dengan santai.


Nanda mengacuhkan pria tersebut, ia lebih memilih bangkit dari kursi, tidak menanggapi perkataan pria asing tersebut. Nanda yang ingin berjalan keluar, dihentikan oleh pria asing tersebut dengan mengenggam pergelangan tangannya. Nanda yang merasa risih disentuh oleh pria lain, menepis tangan itu, dan menatap tajam pria lancang yang menyentuh dirinya.


" Namaku Devon " ucapnya sambil bangkit mensejajarkan tubuhnya ke Nanda dengan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


Nanda hanya menganggukan kepalanya, tidak menanggapi ucapan dan uluran tangan pria tersebut. Ia lebih memilih untuk melangkah keluar jika dia berlama-lama dengan pria ini, akan membuat dirinya menambah rasa stress. Nanda berjalan keluar, tapi ia merasa kalau pria tersebut masih mengikutinya. Nanda yang sudah emosi memutarkan tubuhnya, menatap pria tersebut yang juga menatap dirinya, melangkah mendekat ke arah pria tersebut.


" Kamu mengikuti saya? " tanya Nanda yang kesal melihat pria tidak tau malu itu.


Devon dengan sangat percaya diri dan santai menganggukan kepalanya kepada wanita yang dihadapannya.


" Berhentilah mengikuti saya! " perintah Nanda sambil berusahan menahan emosinya.


" Namamu siapa? " tanya Devon tidak mempedulikan perintah dari wanita dihadapannya.


Nanda tidak ingin menyebutkan namanya di depan pria asing. Saat ia melangkah pergi, lagi-lagi pria tersebut menghentikan langkahnya, dengan menarik pergelangan tangannya.


Devon melepaskan pergelangan tangan wanita itu, yang ia baru tau namanya Nanda. Nanda menatap pria tersebut dengan tajam, lalu pergi menuju butiknya untuk bekerja. Devon hanya tersenyum membalas tatapan tajam dari wanita tersebut. Devon berharap bisa lebih mengenal wanita yang baru hari ini ia kenal dan temui.


Dicafe, Alan melihat Putri satu-satunya datang dengan Rendy. Yora mendekat kepada dirinya, jantung Alan berdegup kencang saat Yora dengan raut wajah merah menahan kemarahannya, melangkah lebih dekat kepada dirinya.


Yora untuk pertama kalinya melihat pasangan murahan tersebut saling berdampingan, dengan tangan wanita murahan tersebut merangkul pergelangan tangan Papanya. Rasanya Yora sangat ingin murka, Yora sangat marah melihat Papanya yang baru dari pengadilan, pulangnya langsung menemui wanita rendahan tersebut. Seharusnya Papanya lebih sedikit menghargai hubungan yang pernah terjalin dengan Mamanya. Yora menepis rangkulan pasangan murahan tersebut dengan sangat kasar.


" Sayang, kamu disini " kata Alan.


" Kenapa, enggak boleh? " ketus Yora.


Alan hanya diam mendengar suara sinis dari Putrinya, ia lebih baik diam agar tidak menimbulkan keributan dicafe milik Retha.


" Papa pembohong! Papah tidak tau diri! " ucap Yora mengebu-ngebu.


" Tenangkan dirimu Yora, para pelanggan dicafe ini melihat kearah mu " kata Rendy sambil merangkul bahu Yora untuk menenangkannya.


" Lebih bagus, biar semua orang dicafe ini mengetahui bahwa pemilik cafe ini adalah wanita murahan yang menjual diri kepada pria tua dan menjadi sugar daddy pria tua tersebut " kata Yora dengan suara yang sangat keras.


Alan mendengar semua ucapan Putrinya yang begitu keras, ia melihat sekeliking berbisik-bisik tentang perdebatan mereka. Alan menarik tangan Yora memasuki ruangan kantor milik Retha, Rendy dan Retha mengikuti Ayah dan anak tersebut. Yora menepis keras cekalan Papanya, ia berjalan mendekat ke arah Rendy. Yora menatap tajam Retha dan Papanya secara bergantian.


" kenapa Papa langsung kesini, katanya mau ke perusahaan " ucap Yora yang meminta penjelasan kepada Papanya.


Alan mengarukan kepalanya yang tidak gatal, ia juga bingung kenapa harus pergi ke cafe milik Retha, ia tak mungkinkan bilang ke semuanya kalau dirinya datang ke cefe milik Retha, hanya karena merasa kesal kepada Nanda yang pulang terburu-buru dari pengadilan hanya untuk menemui pria yang ia tidak tau namanya.