
Alan dipagi yang cerah, ia bangkit dari atas ranjangnya. la melihat ke arah samping, Alan kira Retha akan pulang. Tapi Alan sudah tidak terlalu peduli, mau pulang atau tidak pulang itu urusan Retha. Alan juga sangat pusing, jika bertemu dengan Retha yang hanya bisa marah-marah tidak jelas. Lebih baik Retha tidak pulang dulu.
Alan segera mandi untuk bergeges pergi karena ada urusan tentang investasi. Setelah selesai mandi, ia bergegas untuk pergi menuju tempat yang sahabatnya bicarakan.
...----------------...
Yora sang bosan dengan beribu-ribu ceramahan dari Mamanya, tetang dirinya yang ingin melajang saja seumur hidup. Yora dihari libur ingin istirahat, karena tubuhnya sangat lelah karena rapat sana dan sini. Untung saja Rendy sudah kembali, jadi Rendy yang akan mengerjakan berkas yang berserakkan di meja kerjanya. Sedangkan dirinya akan beristirahat, dikasur empuknya.
Yora rasanya ingin menutup telinganya karena Mamanya masih saja mengoceh agar dirinya menikah. Yora tidak habis pikir, seharusnya Mamanya saja menikah dengan Om Devon. Dirinya akan sangat setuju, tapi Mamanya selalu saja beralasan dirinya sudah tua dan tidak pantas untuk menikah dan berakhir dirinya akan diceramahi untuk segera menikah karena umurnya sudah akan beranjak kepala tiga.
Yora sangat menyesal berbicara tentang pernikahan dengan Mamanya. Yora menatap jam sekilas, ia berganti pakaian olahraga, la turun dan bilang kepada Mamanya dia akan olahraga disekitar komplek. Yora mengelilingi sungai yang ada dekat Villa Florence, hanya orang kelas ataslah yang bisa memasuki daerah sini.
Yora berlari-lari kecil sambil menikmati udara segar. Suasana seperti ini akan menghilangkan rasa lelah otaknya, karena terus bekerja untuk membangun Perusahan Florence menjadi lebih baik. Tanpa sadar ada seseorang yang mengamati Yora dan suasana sekitar.
Saat suasana sudah lumaya sepi sebuah mobil melintas disamping Yora dan....hap. Yora memasuki mobil putih itu dan lambat-laun kesadaran Yora sudah mulai hilang.
...----------------...
Rendy dengan mobil mewahnya memasuki halaman Villa Florence, ia memangil Yora tapi kata para pelayan Yora sudah pergi dari tadi dan belum pulang sampai sekarang. Rendy menuju ke tempat Aunty Nanda yang mana sedang berada diruang keluarga karena sedang menonton film.
" Aunty, Yora kemana? " Ucap Rendy yang tidak ingin basa - basi.
" Olahraga. " jawab Nanda.
Nanda mendadak diam saat mengingat Putrinya yang tidak kunjung pulang, Nanda menatap Rendy dan menyuruhnya untuk segera menghubungi Yora, tapi hasilnya nihil. Nomornya tidak bisa dihubungi.
" Dimana Yora sebenarnya, ada berkas yang harus ditandatangani oleh Yora. " tutur Rendy sambil terus memainkan handphone karena ingin melacak keberadaan Yora.
" Club malam?! " bingung Rendy saat mengetahui lokasi Yora berada.
" Untuk apa dia kesana dengan pakaian olahraga? " Ucap Nanda dengan raut wajah bingung.
" Aku akan pergi menyusulnya. " kata Rendy lalu segera beranjak pergi meninggalkan Villa Florence.
...----------------...
Alan baru mengetahui hari ini bahwa sahabat yang ia percaya untuk mengelola asetnya yang tersisa malah membohongi dirinya. Alan sangat tergiur dengan investasi itu hingga ia mengikuti semua saran dari sahabatnya, ia percaya pasti tidak akan menipunya, tapi ia tertipu.
Alan akan menghajar habis sahabatnya itu karena telah mempermainkan dirinya. Alan menuju ke club malam yang mana sahabatnya sedang asik berpesta menikmati uangnya.
Alan harus mendapatkan uangnya kembali, jika tidak tamat sudah nasibnya. Alan mengendari mobilnya dengan sangat cepat, karena takut penipu itu akan pergi dari club nalam itu dan membawa pergi uangnya.
...----------------...
Mira tersenyum senang setelah mendengar apa yang ia dapatkan dari orang bayarannya. Jika saja Retha mengikuti rencananya dari dulu, gadis murahan itu pasti sudah tamat dan tidak akan menganggu Putrinya lagi. la sangat senang karena mantan istri Alan pasti akan sangat terkejut. Mira akan mengakhir kisah keluarga Florence yang lama dan dirinya akan menciptkan keluarga Florence yang baru.